Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Sudah Tidak Marah Kepadaku?


__ADS_3

Jamuan makan malam dengan Pak Lie berjalan lancar. Nyonya Lie sangat menyukai Freya. Kedua wanita itu terus mengobrol sepanjang malam. Bahkan ketika Pramudya mengantar Pak Lie keluar dari restoran, pria itu berkali-kali mengingatkan agar ia dan Freya agar berkunjung ke Hongkong. Pak Lie berjanji akan menjamu mereka dengan baik. Mengenai kerja sama antar kedua perusahaan, dari isyarat Pak Lie tadi, kemungkinannya 90 persen berhasil.


Pramudya merasa sangat puas. Ia melirik gadis mungil di sampingnya dan diam-diam merasa kagum dalam hati. Gadis itu selalu mampu memikat hati siapa pun yang berinteraksi dengannya.


Ceria. Bersahabat. Ramah. Bisa melindungi diri dengan baik. Tidak bergantung kepada orang lain. Memiliki pendirian yang teguh. Berpikiran terbuka dan realistis. Pekerja keras.


hm. Sepertinya semua karakter yang baik dimiliki oleh istrinya.


Yah, meskipun kadang-kadang gadis itu memang keras kepala dan menjengkelkan, tapi itu bisa ditutupi oleh poin-poin plus yang dimilikinya.


Mungkin Bayu memang benar, ia telah menemukan permata yang langka ... permata keberuntungannya.


“Sayang, apakah kita sudah bisa pulang?” tanya Freya sambil mengulas senyum tipis. Masih ada banyak orang di sekitar mereka. Itu artinya masih harus berakting sampai akhir.


Pramudya baru menyadari ternyata kedua tangan Freya melingkar di lengan kanannya. Dalam jarak sedekat itu, sepasang mata istrinya terlihat berbinar indah. Pramudya hampir tersesat di dalamnya.


Freya menggoyang pelan lengan Pramudya.


“Sayang?” panggilnya sekali lagi.


Pramudya tersadar dari sihir yang datang entah dari mana, memikat hati dan jiwanya.


Ia berdeham dan menoleh ke depan. Semakin dilihat semakin membuatnya tidak tahan. Kalau terus begini ....


Tanpa mengatakan apa-apa, Pramudya melepaskan tangannya dan berjalan ke luar, meninggalkan Freya yang tercengang di tempatnya.


Apa-apaan itu?


Freya memutar bola matanya dengan kesal. Ia berusaha mengejar langkah kaki Pramudya yang panjang-panjang sambil memarahi suaminya itu dalam hati.


Pria sialan itu kenapa sangat suka mempermalukan istrinya di depan umum. Padahal ia sudah bersusah payah memasang senyum yang paling manis dan berbicara dengan intonasi suara yang paling merdu, tapi masih saja tetap tidak bisa membuat pria itu puas.


Memangnya ia harus melakukan apa lagi? Bersujud dan membuka karpet merah untuknya di atas lantai?


Benar-benar pria @#%&*!


.... arrrhg!


Lentera yang baru apanya?


Puih!


Ia tidak butuh lentera yang tidak konsisten seperti ini.


Sebentar terang sebentar redup.


Siram saja dengan seember air!


Lupakan saja wajah yang tampan dan otot perut yang kencang. Ia lebih suka perut berlemak tapi ramah dan perhatian. Untuk apa wajah tampan dan perut rata kalau selalu membuat emosinya tidak stabil? Bisa-bisa ia mati muda dengan percuma.


Huh. Kalau mau bersikap dingin dan angkuh begitu, ya, sudah. Siapa yang tidak bisa?

__ADS_1


Freya mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh dan melaju kencang menuju mobil yang sudah menunggu di depan lobi. Gaun malamnya yang berwarna hitam tampak serasi dengan sorot mata membara di wajah mungilnya, terlihat seperti seorang prajurit yang hendak pergi berperang.


Sopir yang membukakan pintu tidak berani berkomentar apa-apa. Tuan Pram sudah lebih dulu masuk dan duduk di depan. Itu artinya Nyonya akan duduk sendirian di belakang. Apakah kedua orang ini berkelahi lagi?


Ya, Tuhan ....


Sopir diam-diam menyeka keringat di dahi.


Tampaknya malam ini akan ada perang dingin lagi. Sungguh sangat sial. Bisa-bisa ia berubah menjadi patung es sebelum tiba di rumah. Aura Tuan Pram yang biasa saja sudah sangat dingin dan mengintimidasi. Dalam kondisi seperti ini, tekanannya meningkat puluhan kali lipat dalam sekejap. Ia benar-benar harus berdoa untuk keselamatannya.


Freya membanting pintu mobil dengan keras dan duduk bersandar di kursi. Ia tidak menoleh ke depan atau bertanya kenapa Pak Pram meninggalkannya begitu saja. Ia mengeluarkan ponsel dari tas tangannya dan membaca pesan dari Yoga.


[Selamat malam, Freya. Aku merindukanmu]


[Tidak masalah kalau kamu masih marah]


[Aku masih akan tetap menunggu sampai kamu tidak marah lagi]


Ada belasan pesan dengan bunyi serupa. Semuanya dikirim sejak sore. Itu artinya pesan-pesan itu dikirimkan setelah Yoga meninggalkan kafe. Freya memang sengaja tidak membacanya. Tapi dengan situasi seperti sekarang, rasanya lebih menyenangkan membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh Yoga daripada duduk diam dan melihat pria yang duduk di depannya itu.


Freya sedikit kesal kepada dirinya yang membela Pak Pram tanpa berpikir dua kali tadi siang. Ia sangat tersinggung ketika Yoga memberikan tawaran untuk mengembalikan uang yang didapatkannya dari kontrak perjanjian dengan Pak Pram. Tapi sekarang sepertinya semua sikap pahlawannya itu sia-sia belaka. Semua usahanya tidak ada yang dihargai.


Apa reaksi Pak Pram kalau mengetahui ia menolak tawaran Yoga dan membelanya tanpa ragu?


Sudah pasti pria itu akan mencibir dan menertawainya habis-habisan.


Benar-benar bodoh!


Sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, dengan sikap Pak Pram yang selalu tidak bisa ditebak dan berubah-ubah tanpa alasan, Freya merasa Yoga masih ribuan kali jauh lebih baik.


Freya mencibir suaminya sambil membalas pesan Yoga.


[Aku baru pulang dari jamuan makan malam]


[Sangat membosankan]


[Temani aku mengobrol]


Dalam sekejap pesan itu berubah menjadi dua centang hijau, kemudian ada tulisan “mengetik” di bawah nama Yoga.


[Benarkah?]


[Kamu sudah tidak marah kepadaku?]


Freya membacanya dan mengangguk pelan. Berbicara dengan Yoga memang lebih menyenangkan. Setidaknya pria itu tahu bagaimana cara menghargainya dan berbicara dengan sopan. Suasana hati Freya dalam sekejap berubah menjadi lebih baik. Ia mengetik pesan balasan dengan cepat.


[Masih marah]


[Tapi aku bosan]


Freya tidak tahu jika pesannya itu telah membuat Yoga jungkir balik di atas kasurnya, terguling dan jatuh. Pantatnya menghantam lantai dengan keras, tapi ia tidak sempat mengaduh. Ia segera bangun dan kembali berguling di atas kasur, lalu mengirim pesan balasan.

__ADS_1


[Masih marah pun oke]


[Aku akan temani mengobrol]


[Besok mau sarapan apa?]


Freya membaca pesan itu dan terdiam sebentar. Sebenarnya bukan pembicaraan seperti ini yang diinginkan olehnya, tapi ... sudahlah ....


[Aku mau risol mayo]


[Bakpao isi ayam cincang]


[Susu kacang]


Yoga membalas tanpa berpikir dua kali.


[Oke. Besok aku antarkan ke rumahmu]


“Jangan!” Freya berseru tanpa sadar, lalu buru-buru menutup mulutnya tanpa sadar.


[Jangan ke rumah]


[Aku berangkat ke kampus jam 7]


Yoga melihat kesempatan yang datang dan tidak membiarkannya begitu saja.


[Aku jemput, ya?]


Freya menggigit bibirnya dan berpikir sebentar.


Seharusnya tidak masalah, kan?


Toh, Pak Pram telah menyetujui permintaannya tempo hari untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadinya.


Ia segera mengirim pesan balasan untuk Yoga.


[Oke. Jangan terlambat]


“Yes!” Yoga melompat dan meninju udara.


[Oke. Siap, Bos]


Setelah mengirimkan pesan itu, Yoga menggila. Kamarnya hampir saja hancur berantakan karena antusiasmenya yang berlebihan, melompat ke sana kemari dan berlari keliling ruangan dengan penuh semangat.


“Pramudya Antasena, teruslah membuat dia kesal agar lekas dia kembali kepadaku!” serunya seraya meninju udara sekali lagi.


Lebih sering membuat Freya marah lebih baik. Dengan begitu kesempatannya menjadi lebih besar untuk mendapatkan kembali kekasih hatinya itu.


**


eit, sabar, jangan protes dulu.

__ADS_1


Abis ini otw bucin😁


Cerita ini emang lebih sengaja dibuat lebih nyantai ketimbang Alex-Kinara dan Lorie-Raymond, *so ... hope you enjoy it***😊**


__ADS_2