
Ketika tiba di rumah, pemandangan yang menyambutnya membuat Freya tertegun.
Pramudya sedang duduk dengan wajah serius menghadap laptop. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Pria itu bahkan tidak menyadari kalau ia sudah pulang.
Wajah Pramudya kuyu, terlihat sangat kelelahan.
Apakah dia bekerja siang dan malam selama ini?
Pantas saja flu dan batuknya tidak kunjung hilang. Bagaimana mau sembuh kalau tidak cukup istirahat?
Freya menghela napas. Tadinya ia sudah bertekad akan mengusir Pramudya jika masih ada di apartemennya ketika ia kembali. Akan tetapi, sekarang ia bahkan tidak tega untuk memarahi pria itu.
Beban seberat apa yang sudah ditanggungnya selama ini?
Perusahaan yang dibangunnya dengan susah payah direbut orang begitu saja. Pasti sangat sakit hati dan kecewa. Apalagi orang yang melakukannya adalah saudaranya sendiri. Meski hanya separuh darah, tapi Pramudya dan Tommy tetap berada dalam garis keturunan yang sama.
Freya tidak mengerti mengapa Tommy Antasena melakukan hal keji seperti ini. Menyakiti saudaranya hanya demi kekayaan yang bersifat semu. Bukankah seharusnya darah lebih kental daripada air?
Tiba-tiba Freya teringat ucapan Pramudya ketika baru tiba di apartemennya. Pria itu mengatakan bahwa dia tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Kepergian Kakek dan kehilangan Antasena Grup tentu menjadi pukulan besar bagi Pramudya. Hati Freya mendadak menjadi gamang. Ia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki apa-apa. Ia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki tempat bersandar. Tidak ada tempat untuk pulang.Tidak ada tempat untuk berkeluh kesah.
Freya menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
Sudahlah.
Anggap saja sedang beramal.
Pramudya mendongak karena merasa ada yang sedang memperhatikan. Ekspresi wajahnya yang serius berubah lebih lembut ketika melihat gadis mungil yang imut sedang menatapnya sambil melamun.
“Sudah pulang?” sapanya. Satu tangannya bergerak menutup laptop, tangan yang lain merapikan alat tulis yang berhamburan di atas meja.
“Hm.” Freya bergumam sambil berjalan ke arah dapur dengan kepala menunduk.
“Eng ... itu ... maaf, aku belum mendapatkan tempat tinggal dengan biaya sewa yang murah, jadi malam ini aku terpaksa menginap lagi,” ucap Pramudya sambil menatap punggung Freya yang menjauh. Ia sangat ingin berdiri dan pergi memeluk gadis itu, tapi ia takut Freya akan menendangnya keluar.
“Hm. Oke.”
Pramudya terbengong mendengar jawaban singkat itu. Tadinya ia sudah mempersiapkan diri untuk mendengarkan semua omelan istrinya dengan tabah. Ia bahkan sudah bersiap untuk berpura-pura pingsan lagi jika Freya bersikeras untuk menyeretnya keluar. Tapi sekarang ia tidak dapat berkata-kata. Gadis itu mengizinkan dirinya menginap lagi? Ada angin baik apa?
__ADS_1
Di dapur, Freya membuka kulkas dan memeriksa isinya. Tadi pagi ia sengaja tidak memasak sebelum pergi. Sekarang ia merasa sedikit bersalah. Hanya ada dua bungkus kosong mi instan di tempat sampah. Piring dan panci yang digunakan untuk memasak sudah bersih dan kembali ke tempat semula. Sepertinya mantan suaminya benar-benar berusaha keras agar tidak diusir pergi.
Freya mengeluarkan kotak berisi potongan ayam yang sudah dimarinasi sejak pagi. Tadinya ia sudah berniat untuk melakukan “pesta perpisahan” seorang diri ketika pulang hari ini, merayakan kembalinya kebebasannya setelah mantan suaminya yang brengsek itu pergi. Tapi sekarang ia malah akan memasak untuk makan malam mereka berdua.
Benar-benar di luar perkiraan BMKG.
Hah ... mau bagaimana lagi ... salahkan hatinya yang lemah.
Freya menertawai dirinya sendiri dan membawa kotak itu ke dekat kompor. Sambil menunggu daging tidak terlalu beku, ia menanak nasi, lalu mengeluarkan sayur kailan dari kulkas dan mencucinya sampai bersih.
Kupas bawang putih. Cincang kasar. Tumis sampai kecokelatan. Sisihkan. Oseng-oseng kailan sebentar dengan api besar. Tambahkan sedikit minyak wijen dan kuah maizena. Taruh di piring, taburi dengan bawang putih goreng. Menu pertama selesai.
Freya mengambil kotak ayam potong dan mempersiapkan menu berikutnya.
Dari ruang tamu, Pramudya hampir lupa untuk berkedip. Ia memperhatikan semua gerak-gerik istrinya tanpa ada yang terlewat. Gadis itu terlihat semakin cantik ketika sedang serius memasak. Meski nanti tidak diajak makan bersama, ia sudah cukup puas hanya dengan memandanginya seperti ini.
Seulas senyuman menghiasi wajah Pramudya. Semua kerja kerasnya terbayar sudah. Malam-malam penuh kesunyian yang membuatnya menderita telah berakhir. Melihat gadis yang ia cintai berada di dekatnya, meski gadis itu lebih sering memasang wajah kesal dan memarahinya, ia merasa wajah kesal dan marah itu tetap sangat menarik.
Otaknya pasti benar-benar sudah korslet.
Aroma masakan yang harum membuat perut Pramudya berbunyi nyaring. Ia berdeham dan terbatuk pelan untuk menutupi rasa malu. Untung saja jarak dari dapur ke ruang tamu cukup jauh. Kalau tidak, sisa-sisa harga dirinya pasti akan menguap bersama suara yang memalukan yang datang dari perutnya itu.
Ia menelan air ludah dan membuka kembali laptopnya. Lebih baik bekerja untuk mengalihkan perhatian. Toh, gadis konyol itu sekarang berada dalam jarak jangkauannya. Ia tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi.
Gadis itu berdiri di depan kulkas beberapa detik, mempertimbangkan dalam hati sebelum akhirnya membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah botol anggur merah yang isinya tinggal setengah. Ia menuangkan isinya ke dalam gelas, lalu membawanya ke meja.
“Pramudya Antasena, cepat ke sini.”
Pramudya terkejut mendengar panggilan itu. Ia mendongak dan menatap penuh tanya ke arah istrinya yang berdiri di sisi meja dapur. Ia sudah takut akan diusir pergi, tapi lalu ingat tadi sudah diberi izin untuk menginap lagi. Jadi apakah sekarang mereka akan makan bersama?
Dengan wajah semringah Pramudya bangun dan berjalan ke dapur.
“Duduk,” kata Freya sambil menunjuk kursi di depannya.
Pramudya duduk dan menunggu perintah selanjutnya dengan patuh.
“Ambil sendiri.”
Pramudya tersenyum lebar sampai sudut bibirnya hampir menyentuh daun telinga. Meski hanya sepatah dua patah kata yang sangat dingin, ia sudah sangat senang.
__ADS_1
Tuhan, rasanya ia sanggup hidup ratusan tahun bersama gadis imut ini.
“Lihat apa? Cepat makan.” Freya melotot kesal. Ia mengambil piring, mengisinya dengan sayur dan ayam, lalu makan tanpa menoleh ke arah Pramudya lagi. Bisa-bisa ia mati karena tersedak karena menanggapi pria tidak masuk akal itu.
“Terima kasih,” ucap Pramudya dengan tulus. Ia tahu Freya masih marah, tapi gadis itu tetap menampungnya dan merawatnya tanpa pamrih, bahkan masih memberinya makan. Sangat imut dan menggemaskan. Rasanya ia ingin menekan gadis itu di atas meja makan dan mencium bibirnya sampai bengkak.
Pemikiran itu membuat wajah Pramudya memerah. Napasnya mulai tidak beraturan. Ia baru menyadari, ada hal-hal yang jika ditahan terlalu lama, akibatnya akan sangat tidak baik.
Ia lalu memaksakan diri untuk menunduk dan makan dengan tenang. Jangan sampai membuat masalah.
Untung saja makan malam yang sederhana itu berlalu tanpa terjadi insiden yang tidak diinginkan. Pramudya berhasil menahan diri dari awal sampai akhir meski melihat Freya yang mengikat tinggi rambutnya dan mencuci piring membuatnya ingin mencium tengkuknya yang jenjang.
“Um ... wine ini ....” gumam Pramudya sambil menatap gelas berisi cairan merah di atas meja. Ia harus mengalihkan perhatian.
“Minum saja.”
“Oh. Apa ada perayaan?”
“Ya. Tadinya aku ingin merayakan kebebasanku setelah kamu pergi. Tapi setelah kembali, kamu masih di sini, jadi ....” Freya mengangkat bahunya asal-asalan dan menyusun piring di rak.
Pramudya terdiam. Jadi sebenarnya gadis ini masih menginginkan dirinya untuk pergi?
Rasa bahagia yang sempat muncul tadi perlahan menguap di udara.
Freya tidak memedulikan ekspresi Pramudya yang menjadi murung setelah mendengar ucapannya. Ia mengambil tasnya, mencari-cari sesuatu di dalam dompetnya.
Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna kuning emas dari sana.
Ia lalu menghampiri Pramudya, menyodorkan kartu ATM itu sambil berkata, “Jumlahnya tidak banyak, tapi mungkin bisa membantu. Aku yakin kamu bisa membangun bisnis baru yang lebih baik. Anggap saja aku memberimu modal, nanti hitung bagi hasilnya setelah kamu berhasil.”
Setelah mengatakan itu, Freya berbalik dan masuk ke kamarnya, meninggalkan Pramudya yang masih terpana dengan kartu ATM di tangannya. Ia sudah mempertimbangkan hal ini sejak tadi. Lagipula, semua uang yang ia miliki saat ini, pada mulanya berasal dari pemberian Pramudya Antasena. Anggap saja ia sedang membalas budi.
Di samping meja dapur, Pramudya menatap kartu bank di tangannya seolah-olah benda itu adalah permata yang sangat langka dan berharga.
Istrinya masih peduli padanya. Bukankah itu berarti masih ada harapan?
Rasa bahagia yang sempat menguap kini kembali tiba-tiba, bahkan berlipat kali ganda sampai Pramudya merasa jantungnya akan meledak karena terlalu bahagia.
***
__ADS_1
Paman, makan jangan sambil melamun🤣