Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Curiga


__ADS_3

Lisa duduk menopang dagu di atas meja kasir. Sore itu butik tidak terlalu ramai. Pengunjung kafe pun hanya segelintir orang saja.


Ia sesekali mencuri pandang melalui kaca pembatas ketika Doni lewat. Meski sudah tidak berusaha mencari perhatian, ia diam-diam tetap mengagumi ketampanan dan ketenangan pria itu. Pria yang dewasa dan tidak penuh intrik seperti itu yang ingin ia nikahi.


Tanpa sadar Lisa menghela napas panjang. Pasti rasanya sangat menyenangkan, diam di rumah dan mengurus anak, menunggu suami pulang. Membuatkannya teh atau kopi, lalu duduk dan saling bertukar cerita tentang apa saja yang terjadi sepanjang hari itu.


“Air liurmu sudah hampir menetes." Freya tertawa dan menyentil kening Lisa. Ia sudah tidak tahan melihat tingkah konyol sahabatnya sejak tadi.


Lisa mendesis dan melotot kesal. Ia mengusap-usap keningnya yang sakit sambil menggerutu, “Kenapa, sih, tidak bisa membiarkan aku mengkhayal dengan tenang?”


Tawa Freya semakin keras. Ia tidak menyangka si cerewet ini benar-benar terpesona oleh Doni.


“Kalau kamu terus menatapnya seperti itu, dia pasti akan lari karena ketakutan, bukannya jatuh cinta kepadamu,” ucpnya di sela tawa.


Lisa mencibir dan membalas dengan lantang, “Biarin. Dari pada kamu, sudah dibuat patah hati tapi masih menampung mantan suami di apartemen.”


Tawa Freya mendadak berhenti. Ucapan itu menohok jantungnya dengan presisi.


Lisa langsung memukul mulutnya sendiri.


Sial. Mulutnya memang benar-benar pembawa bencana.


“A-ha-ha-ha ... aku hanya bercanda. Freya, jangan dimasukkan ke hati, ya,” ucap Lisa seraya memegang dan menggoyang lengan Freya dengan panik.


Mampus. Benar-benar cari mati. Bagaimana kalau Freya melaporkannya kepada Pak Bos?


Freya menyeringai kaku. “Aku tidak sebodoh itu, Lisa. Aku sudah menyuruhnya pergi sebelum berangkat tadi. Aku tidak mau melihat wajahnya ketika kembali ke apartemen. Kali ini aku tidak peduli apa pun alasannya.”


Tiga hari ia membiarkan Pramudya menginap di apartemennya karena merasa kasihan. Tiga hari itu sudah lebih dari cukup. Ia merasa sudah sangat bermurah hati karena bersedia menampung mantan suami brengsek yang bangkrut, bahkan memasak untuknya dan mengobatinya pula.


“Um ... tapi bukankah kamu bilang dia masih sakit? Dia juga tidak punya tempat tinggal. Bagaimana kalau dia mati di jalanan? Kasihan sekali.”


“Jadi kamu mau aku mengusirnya atau tidak?” tanya Freya sambil berkacak pinggang dan melotot.


Tadi mengatainya karena menampung mantan suami yang brengsek. Sekarang membela bajingan itu. Dasar plin-plan!


“E-he-he-he ... lupakan saja. Biarkan dia menginap beberapa hari lagi. Anggap saja balas budi karena dia sudah memberimu cukup banyak uang sebelum bangkrut.” Lisa melambaikan tangannya di udara dan pergi duduk di sofa, agak jauh dari Freya.


Semakin bicara semakin melantur. Lebih baik mencari kesibukan lain saja.


Ia membuka ponsel dan masuk ke forum berita bisnis, mengabaikan Freya yang masih memberinya boombastic side eyes. Ia lalu memasang earphone dan sengaja memasang ekspresi serius.


Jangan mengajaknya bicara lagi, oke?

__ADS_1


Mulutnya ini tidak bisa menyaring apa yang harus diucapkan dan apa yang tidak boleh diungkapkan.


“Dasar tidak bertanggung jawab.” Freya menggerutu dan melanjutkan sketsanya. Ia sedang membuat sepasang cincin couple dengan model yang sederhana tapi berkelas.


Baru separuh gambar dasarnya yang jadi. Konsepnya datang dari orang-orang zaman dahulu yang menggunakan rasi bintang sebagai penunjuk arah, cincin pria dan wanita yang dibuatnya itu saling melengkapi dan dapat disatukan menjadi cincin yang utuh.


“Freya! Cepat kemari! Lihat ini!”


Teriakan Lisa mengejutkan Freya. Pensilnya bergerak spontan dan menggores permukaan kertas. Untung saja tidak mengenai desain gambar yang belum jadi.


“Astaga, Lisa. Tidak bisa bicara pelan-pelan, ya?” tegur Freya sambil cemberut. Ada saja ulahnya.


“Kamu harus melihat ini.” Lisa menghampiri Freya yang masih duduk, mengabaikan kekesalan di wajah Freya dan menyodorkan ponsel ke depannya.


Freya mengernyit, memperhatikan video apa yang membuat Lisa seperti kerasukan.


Judul berita tertulis tidak terlalu besar, tapi terasa menusuk mata.


Antasena Grup Diakusisi Oleh Permata Buana.


“Kenapa bisa begini?” Freya tidak jadi marah. Ia merebut ponsel dari tangan Lisa dan menonton video itu dengan saksama.


Ia tidak berkedip mengikuti jalannya berita dari awal sampai akhir, lalu mengklik tautan berita berikutnya.


Tommy mengatakan bahwa sebagai saudara, sudah sepatutnya ia membantu Pramudya yang sedang mengalami masa sulit dengan mengakusisi Antasena Grup yang sudah seperti cangkang kosong. Ia juga berjanji akan membawa kembali kejayaan Keluarga Antasena melalui Permata Buana.


“Jadi perusahaan itu miliknya? Dasar bajingan! Tidak tahu malu!” Sumpah serapah keluar dari mulut Lisa. Bagaimana bisa ada orang yang bermuka tebal seperti itu?


“Kapan berita ini dirilis?” tanya Freya yang fokus menatap layar, mencari tanggal dipostingnya berita itu.


Lisa mendekatkan wajahnya dan ikut memeriksa.


“Pagi ini, pukul delapan,” ucap kedua gadis itu bersamaan.


Keduanya lalu saling menatap dalam diam, tidak tahu harus mengatakan apa.


Lisa benar-benar merasa kasihan kepada Pak Bos, sedangkan Freya merasa bersalah karena telah menuduh Pramudya hanya berpura-pura agar bisa tetap menginap di tempatnya.


Freya mengklik tautan berita terakhir, lanjutan dari wawancara terhadap Tommy Antasena.


Pada menit ke 12:05, jarinya dengan cepat menyentuh layar sehingga rekaman itu terhenti.


“Ada apa?” tanya Lisa.

__ADS_1


“Eng ... tidak ada apa-apa.” Freya menyentuh layar ponsel lagi sehingga video kembali diputar, tapi kali itu ia tidak lagi fokus menonton berita sampai akhir.


“Aku pulang duluan.” Freya tiba-tiba bangun dan menyerahkan ponsel Lisa kembali.


“Hei, ada apa? Kamu sakit?” tanya Lisa kebingungan.


“Tidak. Aku titip Butik, ya. Terima kasih.” Freya membereskan buku sketsa dan memasukkannya ke dalam tas.


“Hati-hati, kabari aku kalau ada apa-apa.” Lisa mengantarkan Freya sampai di pintu meski masih belum paham apa yang sedang terjadi.


“Oke. Sampai ketemu besok.” Freya melambaikan tangannya, lalu berjalan ke luar sambil memesan ojek online.


Ketika sudah tiba di pinggir jalan, ia membuka kontak dan mencari nama Yoga.


“Halo, Freya. Ada apa?” Suara Yoga terdengar bersemangat. Itu pertama kalinya Freya menghubunginya lebih dulu. Biasanya dirinyalah yang selalu mengambil inisiatif.


“Tadi pagi setelah mengantar aku ke kampus, kamu ke mana?” tanya Freya.


“Aku langsung ke kantor. Kenapa?”


“Benarkah? Sekitar jam delapan sampai sembilan pagi, kamu di kantor?”


“Ya. Ada apa?”


Freya terdiam. Ia bisa merasakan suara Yoga mulai terdengar sedikit ragu-ragu, tidak sama seperti saat ia baru mengangkat telepon tadi.


“Freya?”


“Hm. Tidak apa-apa. Aku salah orang. Sudah dulu, ya.” Freya memutuskan panggilan telepon dan termenung.


Ia yakin tidak salah mengenali orang. Pakaian yang dikenakan pria dalam video barusan sama dengan yang dipakai oleh Yoga tadi pagi.


Meski hanya sekilas sosoknya terekam ketika berjalan di samping podium, tapi Freya sangat yakin itu adalah Yoga.


Lalu kenapa dia bilang sedang di kantor?


Untuk apa dia berada di konferensi pers yang diadakan oleh Tommy Antasena?


Apakah mereka bekerja sama untuk menjatuhkan Pramudya?


Tangan Freya terkepal erat. Ia menatap lurus ke depan. Ada banyak dugaan bertabrakan di dalam kepalanya, dan ia harus memilah semuanya dengan sangat hati-hati.


***

__ADS_1


__ADS_2