Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Permata yang Langka


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, pelayan sudah membangunkan Freya dan sibuk mondar-mandir di kamarnya.


Freya duduk di tepi ranjang, dengan linglung menatap kesibukan semua orang. Ia melirik ke jendela. Langit masih gelap.


Pukul berapa sekarang?


Freya memerika jam di ponselnya. Baru pukul empat pagi. Mengapa semua orang terlihat begitu terburu-buru?


“Nyonya, Anda harus segera bersiap. Orang yang akan merias Anda sudah menunggu di lantai bawah,” ucap Ruth yang hari itu terlihat bersemangat.


Kemarin malam Tuan Pram memintanya datang untuk menemani Nyonya. Tentu saja ia segera datang dengan senang hati.


Freya mengerjap-ngerjap beberapa kali. Otaknya yang belum sepenuhnya sadar, tertatih-tatih mengumpulkan informasi.


Karena kejadian kemarin, ia akhirnya terpaksa menginap lagi di kediaman Keluarga Antasena.


Pramudya pergi setelah menyuruhnya tetap tinggal di kamar, dan tidak pernah muncul lagi.


Lalu wanita itu, Nona Carissa ... dia dibawa pergi oleh Tommy dan Tari Antasena, entah mereka pergi ke mana.


Pak Tua beberapa kali datang ke kamar untuk meyakinkannya bahwa Pramudya tidak memiliki ikatan apa-apa lagi dengan Carissa, tapi itu tidak bisa menghilangkan rasa tidak nyaman di hati Freya. Lalu ....


Hari ini aku akan menikah, ya?


Freya langsung melompat turun dan hampir tersandung. Untung saja Ruth menahannya dengan sigap.


“Terima kasih,” ucapnya dengan kikuk. Sungguh memalukan.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Silakan.”


Freya mengangguk dan hendak berjalan ke kamar mandi, tapi tiba-tiba ia berputar dan bertanya, “Di mana Pak ... ehm, maksudku di mana suamiku?”


“Tuan Pram ada di ruang tamu. Tuan sudah pulang sejak kemarin malam, tapi tidak berani naik dan mengganggu Nyonya,” jawab Ruth dengan jujur.


“Oh ....” Freya tertegun sebentar. Mulutnya terbuka beberapa kali, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya tidak jadi. Ia hanya membalikkan tubuh dan masuk ke kamar mandi tanpa mengucapkan apa pun.

__ADS_1


Ruth menatap punggung sang Nyonya Muda dengan ekspresi yang rumit. Kalau saja Nyonya tahu bahwa Tuan Pram diam-diam mengawasi pintu kamar Nyonya sepanjang waktu, apakah Nyonya masih akan merasa sedih?


Hah ... sudahlah, ia hanya seorang pelayan, tidak boleh sembarangan ikut campur dalam urusan tuannya.


Freya mandi sambil melamun. Pikirannya berkelana ke mana-mana.


Sosok Yoga kembali muncul dalam mimpinya tadi malam. Pria itu menangis dan memohon agar ia tidak pergi, sama seperti Nona Carissa kemarin berlutut di kaki Pramudya. Perlahan-lahan, simpul di hati Freya saling membelit dan membuatnya merasa sesak.


“Nyonya, apakah Anda sudah selesai? Perias sudah menunggu.”


Suara Ruth terdengar dari balik pintu, membuyarkan semua kegelisahan di dalam hati Freya. Ia memakai handuk dan keluar. Sudah ada empat orang dengan penampilan profesional di dalam kamarnya. Mereka menyapanya dengan sopan.


Freya membalas sapaan mereka dan menjelaskan bagaimana jenis riasan wajah dan rambut yang ia inginkan, lalu duduk dan membiarkan orang-orang itu melakukan tugas mereka.


Mulai dari memakaikan gaun, merias wajah dan rambut, semuanya dilakukan dengan sangat profesional. Freya merasa cukup kagum dengan gerakan orang-orang itu yang cekatan dan terampil.


Tepat pukul 08.00, Freya sudah siap. Ia berdiri di depan cermin dan menatap pantulan dirinya.


Ia hampir tak mengenali dirinya sendiri. Gadis di dalam cermin itu terlihat sangat berbeda. Rambutnya dijalin dengan rangkaian bunga segar berwarna putih dan peach yang aromanya sangat wangi.


Tanpa sadar Freya mendesah ketika melihat bayangan dirinya yang terlihat seksi tapi tidak murahan. Selama ini ia lebih sering memakai pakaian over size sehingga lekuk tubuhnya tidak pernah tereskpos dengan jelas. Akan tetapi, saat ini ia sendiri hampir tidak percaya menyadari ada beberapa bagian yang padat dan berisi yang terlihat cukup menonjol.


Set perhiasan yang dicobanya pun terlihat sangat cocok dikenakan dengan gaun ini. Freya memuji Valentina dalam hati. Idolanya itu benar-benar menepati janji untuk membuatnya tidak terlihat memalukan.


“Bagaimana, Nyonya? Apakah Anda puas?” tanya seorang wanita yang bertugas mendandani wajah Freya.


“Ya, sangat bagus. Rambutnya pun sangat bagus. Terima kasih.”


“Sama-sama, Nyonya. Itu sudah menjadi tugas kami. Kalau begitu kami permisi dulu. Kami akan menunggu Anda di gedung untuk retouch sebelum jamuan makan malam.”


“Baik. Sampai jumpa lagi nanti.”


Wanita yang tampaknya merupakan pemimpin dari para perias itu memberi isyarat kepada rekan kerjanya untuk keluar dari kamar.


“Nyonya, Anda sangat cantik. Tuan Pram sangat beruntung memiliki istri seperti Anda,” puji Ruth dengan mata berbinar kagum. Pujian itu tulus dari lubuk hatinya.

__ADS_1


Para pelayan yang ada di kamar itu mengangguk setuju. Nyonya Muda mereka, selain cantik, juga sangat rendah hati dan bersahaja. Mereka pasti akan hidup aman dan tenang jika memiliki Nyonya seperti ini.


Freya hanya tersenyum dan membalas, “Mulutmu semakin manis. Aku akan memberimu bonus dari amlop pernikahan yang kudapatkan nanti.”


Ruth langsung panik. Ia melambaikan tangan dengan gelisah. “Nyonya, kenapa Anda selalu berkata seperti ini? Saya benar-benar tulus memuji Anda.”


“Kenapa dengan selalu begini? Aku juga senang memberimu hadiah. Anggap saja bonus.” Freya mengerling jenaka dan tertawa.


“Kalau begitu saya tidak akan memuji Anda lagi.”


“Kalau begitu aku tidak akan berteman denganmu lagi.”


Ruth kehabisan kata-kata. Ia sangat ingin berbalik dan melarikan diri. Jangan sampai Nyonya benar-benar menyodorkan setumpuk uang ke depan wajahnya.


Freya tertawa melihat wajah Ruth yang kasihan. Ia hanya menggodanya saja, tapi gadis itu menanggapinya dengan serius.


“Aku hanya bercanda. Terima kasih atas pujianmu. Sekarang, bisakah tolong bantu aku turun?”


“Baik. Silakan, Nyonya.” Ruth berputar ke belakang Freya dan membantu mengangkat ekor gaunnya yang sepanjang tiga meter.


Freya melangkah dengan sangat hati-hati. Dua orang pelayan lainnya membantu memapahnya dari sisi kanan dan kiri.


Dari lantai bawah, kegiatan semua orang terhenti ketika sang mempelai wanita berjalan turun. Bahkan Tommy yang sejak tadi hanya duduk dengan acuh tak acuh pun tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Freya.


Gadis itu terlihat seperti peri yang keluar dari negeri dongeng. Dengan semua kesederhanaan itu, dia justru terlihat sangat bersinar, benar-benar berubah menjadi tokoh utama pada hari ini.


Bayu menyikut pinggang Pramudya dan berbisik, “Bro, kamu sangat beruntung. Istrimu adalah permata yang langka, sebaiknya kamu jaga baik-baik. Serigala di sudut sana sedang mengincarnya. Lihat, air liurnya yang hampir menetes itu.”


Sepasang mata Pramudya berubah kelam, menatap ke arah Tommy yang seolah-olah tidak menyadari kehadiran orang lain di ruangan itu. Jelas semua perhatiannya hanya tertuju kepada Freya, si gadis konyol itu, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya yang sah di hadapan hukum dan agama.


Pramudya mendengkus dan mencibir dalam hati.


Ingin merebut istrinya?


Mimpi saja!

__ADS_1


***


__ADS_2