Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
PT.Permata Buana


__ADS_3

Pramudya mengangkat ektension dan menghubungi Kikan, meminta sekretarisnya itu membawakan obat oles untuk kaki Bayu. Ia tahu telah menendang dengan cukup keras tadi.


Bayu duduk di depan Pramudya dan menatap sahabatnya itu tanpa berkedip. Ini benar-benar sebuah kemajuan besar. Sepertinya menikah memang dapat mengubah karakter seseorang.


“Melihatmu begini, aku jadi ingin menikah juga,” gumamnya sambil masih terus menatap Pramudya.


“Aku akan menghubungi Paman dan—“


“Jangan!” Bayu melompat bangun dengan panik.


“Ah! Sial!” Ia memekik keras, kakinya terantuk tepian meja. Rasanya ingin menyumpahi seluruh leluhur Pramudya Antasena si berandalan yang suka menindas orang ini. Ayahnya pasti akan menggila kalau tahu ia ingin menikah.


“Wakil CEO, Anda tidak apa-apa?” Kikan yang baru masuk sedikit terkejut melihat kekacauan itu.


Ia tidak pernah terbiasa melihat tingkah Wakil CEO yang sedikit kekanak-kanakan itu. Tapi jangan salah, sikap Wakil CEO yang seperti itu sangat bertolak belakang dengan penampilannya ketika sedang bernegosiasi dengan rekan bisnis mereka. Hasil pekerjaannya tidak pernah mengecewakan. Itulah sebabnya Kikan merasa segan dan hormat kepadanya, sama seperti kepada CEO Pramudya.


“Kakiku sudah hampir patah.” Bayu terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu karena kalah berebut mainan.


Kikan hanya bisa menggeleng tak berdaya dan menghampiri pria itu.


“Ini obatnya, Tuan. Silakan oleskan ke bagian yang memar,” ucapnya seraya menyodorkan sebuah kotak obat berbentuk silinder berwarna hijau tua.


“Apa ini?” tanya Bayu seraya membuka tutup obat itu.


“Itu obat Cina, sangat manjur untuk mengobati memar.”


Bentuk obat itu seperti balsem dengan warna yang sama dengan wadahnya. Bayu mendekatkan obat itu dan mengendus. Ia mengernyit. Baunya seperti perpaduan mint dan minyak kayu putih.


Sudahlah. Salahnya sendiri berani menggoda si beruang kutub itu. Meski meragukan khasiat obat yang diberikan oleh Kikan, Bayu tetap menggulung kaki celananya, mencolek sedikit obat dan mengoleskannya ke tulang keringnya yang sedikit membiru.


Pramudya menunggu dengan sabar sampai Bayu selesai mengobati kakinya. Ia berdeham dua kali sebelum mengajukan pertanyaan, “Informasi apa saja yang kamu dapatkan mengenai PT.Permata Buana?”


Ekspresi wajah Bayu berubah serius. Ia menegakkan tubuhnya menghadap Pramudya dan menjawab, “Pemilik perusahaannya sangat misterius. Selama ini hanya asistennya yang muncul di acara-acara sosial. Proposal tawaran kerja sama yang kita kirimkan selalu ditolak dengan berbagai alasan, tapi anehnya dia menggaet perusahaan-perusahaan yang lebih besar.”


“Tidakkah menurutmu itu sedikit mencurigakan?”


“Sangat mencurigakan. Selain itu, baru-baru ini kudengar Perusahaan Wijaya Kusuma dan Pratama bergabung dalam kerja sama intern. Belum rilis, tapi sepertinya akan segera dipublikasikan dalam waktu dekat.”

__ADS_1


“Wijaya Kusuma sudah berkolaborasi dengan perusahaan itu. Baru saja diberitakan setengah jam lalu.”


“Benarkah? Aku belum melihatnya.”


“Hm.”


“Pram ....” Bayu terlihat ragu-ragu mengutarakan pendapatnya. Biar bagaimana pun, rasanya sedikit tidak mungkin jika perasaan terlibat di dalam perjanjian bisnis, kan?


“Ada apa?” tanya Pramudya.


“Apakah ini karena kamu menolak Carissa? Lalu ... Yoga Pratama itu ... dia benar-benar berani. Padahal baru datang ke Indonesia, tapi langsung mengambil langkah besar seperti itu. Apa tidak takut dibodohi orang?”


“Apa menurutmu kita mengenal pemilik PT.Permata Buana?” Pramudya balik bertanya.


“Hah?” Bayu terkejut. Ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Menurutnya, yang paling masuk akal adalah sang pemilik perusahaan adalah musuh bebuyutan Pramudya, atau orang yang mungkin pernah sakit hati karena Antasena Grup.


“Mereka jelas-jelas sedang berkongsi dan merencanakan sesuatu.” Pramudya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan jari telunjuknya. Ia memiliki tebakan dalam hati mengenai siapa pemilik perusahaan PT.Permata Buana, tapi ia memerlukan bukti untuk memvalidasi kecurigaannya itu.


“Kamu yakin bukan karena Carissa patah hati dan ingin membalasmu?” Bayu bersikeras. Ia tahu Wisnu Aditama, sang pemilik Perusahaan Wijaya Kusuma tidak pernah main-main, apalagi lagi terlibat dalam urusan remeh temeh kecuali putri semata wayangnya yang merengek dan memohon kepadanya.


Tommy.


Yoga Pratama.


Kedua pria itu ....


Ingin bermain-main dengannya?


Baik. Mari bermain.


“Pergi selidiki aktivitas Tommy selama dua tahun terakhir. Periksa aset apa saja yang dimiliki olehnya, juga rekaman kamera pengawas di seluruh lantai gedung Direktur Utama.”


“Baik. Aku akan segera melaporkan hasilnya kepadamu.”


Suara ketukan di pintu menjeda percakapan kedua pria itu. Sekretaris Kikan masuk sambil membawa dokumen dalam map berwarna biru tua di tangan kanannya.


“Tuan, lima belas menit lagi rapat akan segera dimulai. Perwakilan dari PT.Sejahtera Bersama sudah tiba,” lapornya.

__ADS_1


“Oke.” Pramudya bangkit dan merapikan kemejanya. Ia mengambil jas di gantungan dan memakainya, lalu tatapannya turun ke ponsel di atas meja. Ia belum sempat mengirim pesan.


“Persiapan untuk nanti malam sudah siap?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di atas meja.


Haruskah ia mengirim pesan sekarang?


“Sudah, Tuan. Utusan Nona Valentina akan mengantarkan gaun untuk Nyonya sebelum pukul lima. Ruth yang akan merias Nyonya,” jawab Kikan.


Bayu mengangkat alisnya dan memberi tatapan penuh rasa ingin tahu.


“Kamu mengajak istrimu kencan?” tanyanya.


“Hanya makan malam biasa dengan klien.”


“Oh, benarkah? Bukan kencan?”


Pramudya malas menanggapi mulut usil Bayu. Ia meraih ponsel di atas meja, mengetik di papan keyboard dalam kolom chat yang sejak tadi masih terbuka.


[Aku akan menjemputmu pukul 06.00 untuk makan malam]


Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum mengirimnya, lalu menambahkan keterangan di bawahnya.


[Hanya makan malam biasa dengan klien]


Jangan sampai gadis konyol itu salah paham dan berpikir yang tidak-tidak.


Setelah mengirim pesan, Pramudya mengaktifkan mode hening dan berjalan keluar. Kikan menyusul di belakangnya.


Bayu mencibir. Sombong sekali. Mentang-mentang sudah punya istri yang bisa diajak ke sana kemari, sahabat pun dilupakan.


Lihat saja nanti kalau ia juga sudah punya kekasih, ia akan bersikap sangat mesra dan romantis, memamerkannya di hadapan Pramudya setiap hari agar balok es itu tahu bagaimana cara memperlakukan wanita.


***


Haii, jangan lupa vote, komen dan like yaa.. Biar otor makin semangat.


thank you💙

__ADS_1


__ADS_2