Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Kondisi Statis


__ADS_3

Siaran langsung putri tunggal Keluarga Winata yang sedang “bersenang-senang” dengan pengawal pribadinya viral di media sosial. Publik mencibir dan mencemooh kelakuan putri orang kaya itu.


Polisi mencoba melacak siapa penyebar video asusila itu, tapi alamat IP yang terlacak berasal dari ponsel Carissa sendiri. Benda itu disita sebagai barang bukti. Di dalamnya, ada lebih banyak foto dan video yang bisa membuat orang tercengang.


Keluarga Winata mengeluarkan uang dalam jumlah yang sangat untuk menutupi kasus itu. Meski tak langsung hilang, berita yang menghebohkan itu berangsur mereda.


Carissa dijemput oleh tangan kanan ayahnya, dibawa pulang dan dirawat di rumah sakit milik keluarga. Tidak ada yang diperkenankan menjenguk. Para wartawan pun dilarang meliput berita sekecil apa pun.


Dalam ruangan perawatan VVIP sekelas hotel bintang lima itu, hanya ada Siska Winata yang mendampingi putrinya. Matanya sembap karena terlalu banyak menangis. Ia sama sekali tidak menyangka nasib putri semata wayangnya akan berakhir tragis seperti ini.


Masa depan putrinya telah hancur. Kelak, tidak mungkin ada pria dari keluarga baik-baik yang ingin mempersunting putrinya menjadi istri. Memikirkan hal itu membuat Siska tersedak dan menangis lagi.


Carissa mengerang pelan. Ia berusaha membuka matanya yang terasa berat. Seluruh tubuhnya terasa dingin dan ngilu, sakit sampai ke tulang. Otaknya dipenuhi kabut. Penggalan demi penggalan kejadian yang terjadi kepadanya datang satu demi satu, menghantam dan menghancurkannya hingga remuk redam.


“Carissa, putriku. Kamu sudah sadar?” Siska menekan tombol bantuan untuk memanggil dokter. Akhirnya Carissa siuman setelah tidak sadarkan diri selama hampir dua hari.


Tolong ... sakit ... aku tidak tahan ... tolong aku, Pram ....


Carissa berusaha untuk bersuara, tapi tidak bisa membuka mulutnya. Air mata menelusup dari antara kelopak matanya yang masih terpejam.


“Carissa, Honey, Mama di sini ... jangan takut. Ada Mama di sini,” gumam Siska seraya mengusap-usap lengan putrinya yang tidak dipasangi jarum infus.


"Pram ... Pramudya ... maafkan aku. Kembali, jangan pergi ... Pram ...."


Bibir Carissa yang kering dan pecah-pecah akhirnya bergerak ... meracau, memanggil-manggil nama Pramudya. Suaranya serak, seperti telah terdampar di padang pasir selama satu minggu penuh. Matanya masih terpejam erat.


“Dokter, tolong anak saya!” seru Siska ketika seorang wanita paruh baya yang memakai jas putih berjalan masuk ke ruangan itu.


“Baik, Nyonya. Tenang dulu, ya. Saya akan memeriksanya.” Dokter dengan name tag bertuliskan Jenn itu segera melakukan serangkaian pemeriksaan.

__ADS_1


Siska berdiri di seberang ranjang dengan harap-harap cemas. Kondisi Carissa benar-benar membuatnya khawatir. Tampaknya sekarang putrinya masih mengingau dan masih berada dalam pengaruh obat bius.


Siska bertnya-tanya dalam hati, apa yang akan terjadi jika Carissa bangun dan menyadari apa yang telah terjadi? Apakah dia masih akan memanggil nama Pramudya seperti itu?


“Nyonya Winata, kondisi Nona Carissa sudah cukup stabil. Tapi sepertinya alam bawah sadarnya menolak untuk kembali. Kondisi ini kerap terjadi kepada pasien yang mengalami trauma. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat,” ucap Dokter Jenn.


Bibir Siska gemetar. Isi kepalanya bertabrakan ketika mendengar informasi itu. Ia sudah hampir berlutut, memohon kepada sang dokter untuk meralat ucapan barusan.


“Jadi maksud Anda, putri saya dalam keadaan statis?” tanyanya.


“Kami harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikannya. Saya permisi dulu.”


Siska sudah hampir tumbang. Ia bertumpu pada tepi ranjang, menggunakan seluruh kekuatan tangannya untuk menopang agar tidak jatuh ke lantai. Hampir lima menit ia bertahan dengan posisi itu sambil menatap nanar ke wajah putrinya yang pias.


Dosa apa yang telah dilakukannya sehingga semua musibah ini menimpa putrinya?


Dosa ....


“Sayang.”


Pintu yang terbuka disusul suara panggilan itu mengalihkan perhatian Siska. Ia menoleh dan segera terseok-seok menghampiri sosok jangkung yang baru saja masuk.


“Suamiku, kamu lihatlah putri kita. Dia dihina sampai seperti ini. Kamu tidak boleh membiarkan Pramudya si bajingan itu begitu saja. Kamu harus membalaskan dendam putri kita!” Siska bergayut di lengan suaminya dan menangis dengan sangat sedih.


Pria paruh baya yang parlente itu mengusap pundak istrinya dan mengecup puncak kepalanya. Meski tidak seheboh tangisan istrinya, jelas pria itu mengalami rasa sakit yang sama.


Siapa yang tidak sakit hati melihat putri yang dibesarkan dengan susah payah dihancurkan seperti ini?


Ia baru datang menjenguk putrinya karena terlalu sibuk mengurus kasus ini di Indonesia. Sayangnya, hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Ia sama sekali tidak menyangka seorang bocah ingusan seperti Pramudya Antasena bisa memblokir semuanya rapat-rapat, tidak ada celah untuk menyerang balik.

__ADS_1


“Sayang, jangan diam saja. Katakan sesuatu,” ucap Siska seraya menggoyang lengan suaminya.


Wisnu Aditama mendesah pelan sebelum menjawab ucapan istrinya, “Aku sudah meminta pihak kepolisian Indonesia untuk mengusut tuntas kasus ini, tapi semua bukti mengarah kembali kepada Carissa. Begitu juga para berandalan yang melakukan hal ini kepada putri kita. Mereka sepakat satu suara menyatakan bahwa apa yang terjadi adalah atas dasar suka sama suka. Carissa lah yang meminta mereka melakukan hal itu untuk bersenang-senang. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Kita harus menunggu Carissa sadar untuk mendapatkan keterangan darinya.”


Siska menggeleng keras-keras.


Tidak.


Tidak mungkin ia membiarkan Carissa diinterogasi oleh siapa pun. Itu pasti akan membuat putrinya sangat tersiksa. Belum lagi berita yang akan kembali mencuat ke permukaan. Cibiran dan komentar-komentar pedas di media online. Ia saja tidak bisa menerimanya, apa lagi putrinya.


“Lupakan, tidak perlu menyiksa putri kita lagi,” gumam Siska dengan mata berkaca-kaca. “Tapi Sayang, kamu harus membuat Pramudya Antasena menderita. Bajungan itu harus lebih menderita dibandingkan putri kita. Berjanjilah ....”


Wisnu Aditama mengetatkan kepalan tangannya. “Aku akan menghancurkannya sampai tak bersisa.”


Di atas ranjang, kelopak mata Carissa begetar hebat. Dalam ingatannya, Pramudya yang berjalan menjauh dan meninggalkannya bersama lebih dari satu lusin pria brutal meninggalkan kesan yang dalam. Bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi psikisnya juga.


“Akh! Sakit! Pramudya ... Pramudya ... maafkan aku, kumohon maafkan aku ....”


Erangan yang menyayat hati terdengar dalam ruangan itu. Tubuh Carissa kejang dan bergetar hebat. Rasa sakit yang sangat seolah mengoyak setiap jaringan dalam tubuhnya.


Siska dan Wisnu berteriak memanggil dokter dan perawat dengan panik.


Telinga Carissa berdengung. Suara-suara samar yang semula didengarnya perlahan menghilang. Ia seperti melayang di ruang hampa yang begitu luas.


Sunyi.


Sepi.


Hanya seorang diri dalam kegelapan bersama rasa sakit yang sangat menyiksa.

__ADS_1


***


__ADS_2