
Untung saja sebelum Freya semakin dibuat emosi oleh mempelai laki-lakinya, mobil telah memasuki gerbang utama The Chambers, mengikuti jalan dari lantai dasar, naik setingkat demi setingkat hingga tiba di lantai 20, tempat ruang VVIP berada.
Perut Freya mual karena rasa gugup tiba-tiba meningkat hingga level maksimal. Ia hampir tersandung ketika turun dari mobil.
“Hati-hati.” Pramudya menahan pinggangnya dengan erat.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya.
Melihat rangkaian besar bunga di depan pintu masuk, Freya ingin berbalik dan melarikan diri. Apakah seharusnya ia memaafkan Yoga dan pergi bersama pria itu tiga hari lalu?
Seolah bisa membaca isi kepala Freya, Pramudya mengait lengan istrinya dengan kokoh dan berkata, “Sudah sampai di sini, tidak bisa kabur lagi. Aku tidak akan melepaskanmu kalau berbuat onar.”
Seulas senyum kaku terpampang di wajah Freya ketika mendengar ucapan itu. Apakah suaminya yang tampan dan kaya ini sedang mengancamnya?
Sudahlah. Lagi pula hanya enam bulan, jalani saja dengan baik.
Ia berusaha membuat senyuman di wajahnya terlihat sedikit lebih natural, lalu mengait lengan Pramudya dan berjalan bersama pria itu memasuki aula yang telah dipenuhi tamu undangan.
Hamparan kelopak mawar merah muda membentang dari pintu masuk hingga di bawah altar. Ratusan buket bunga menghiasi setiap sudut ruangan, bahkan langit-langit tertutup seluruhnya oleh rangkaian bunga yang menjuntai ke bawah.
Akan tetapi, Freya tidak sempat memperhatikan semua itu. Ia hampir tidak menyadari bagaimana ia berjalan masuk, bagaimana ia membalas sapaan para tamu yang sebagian besar adalah rekan bisnis Pramudya, tidak ia ingat bagaimana mengikrarkan janji pernikahan.
Ia bahkan hanya menatap kosong ketika Pramudya menunduk dan mencium sekilas bibirnya di hadapan semua orang setelah janji pernikahan diucapkan. Ia merasa dirinya beralih ke mode robot dan melakukan semuanya secara otomatis.
Pikiran bawah sadarnya masih sibuk membayangkan hal yang tidak-tidak.
Bagaimana kalau Yoga tahu dan datang mengacau? Atau, bagaimana jika Nona Carissa tiba-tiba berlari masuk dan mengaku bahwa telah dihamili oleh Pramudya? Apa yang harus ia lakukan jika salah satu dari dua kemungkinan itu terjadi? Haruskah ia terus berpura-pura menjadi Nyonya Muda Antasena yang bermartabat?
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tegur Pramudya ketika melihat istrinya yang melamun sepanjang waktu. Sejak awal sampai akhir, Freya terlihat seperti hanya memiliki separuh nyawa.
“Tidak ada.” Freya menjawab seraya berusaha melepaskan tangan Pramudya yang melingkar di pinggangnya.
Sekarang sudah acara bebas. Kedua mempelai boleh berkeliling untuk mengobrol santai dengan tamu, jadi Freya ingin pergi dan bersembunyi di ruang istirahat.
Pasti tidak akan ada yang menyadari jika mempelai wanita menghilang tiba-tiba. Atau, kalaupun ada yang melihatnya, itu adalah hal yang lumrah untuk pergi beristirahat sebentar.
Akan tetapi, tubuh Freya tersentak ketika Pramudya menarik tangannya dengan kuat hingga tubuhnya sedikit limbung, lalu jatuh ke arah suaminya itu.
__ADS_1
Pramudya menangkap tubuh Freya dengan sigap, tangan kirinya menahan tepat di pinggang gadis itu lagi.
Freya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Pak Pram. Ia sama sekali tidak menyangka pria itu akan merespons seperti ini. Tangan kanan Freya yang tidak sengaja mendarat tepat di dada Pramudya dapat merasakan debaran jantung pria itu dengan jelas.
Buru-buru ia mengangkat tangannya kembali. Rasanya seperti sedang memegang kentang panas.
“Ada apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Temani aku di sini.” Pramudya menekan pinggang ramping istrinya agar kembali duduk di sisinya.
“Ingin makan apa? Aku ambilkan,” imbuhnya lagi.
Freya menatap suaminya dengan heran. Ini akting atau bukan?
“Tidak lapar? Bukankah kamu tidak sempat sarapan tadi?” tegur Pramudya seraya menaikkan alisnya.
Mendengar pertanyaan itu, perut Freya mendadak keroncongan. Ia mengangguk dengan lemah. Tujuannya untuk pegi ke ruang istirahat adalah agar dapat makan banyak tanpa merasa sungkan. Tapi suaminya yang sangat “perhatian” ini justru menahannya di sini.
Bukankah itu artinya ia hanya bisa makan sedikit? Sudahlah, mau bagaimana lagi? Mereka masih tetap harus berakting di depan Pak Tua dan sang ibu tiri yang super kepo.
Hiks ... ingin menangis ....
Astaga, banyak sekali. Air liur Freya hampir menetes.
Pelayan meletakkan nampan itu di atas meja yang ada di hadapan Freya, kemudian menyingkir dan berdiri menunggu di samping.
Freya menunduk dan mendekatkan kepalanya ke arah Pramudya, lalu berbisik pelan, “Anda tidak malu?”
Pramudya menaikkan satu alisnya dan bertanya, “Kenapa harus malu?”
Freya tiba-tiba menyadari bahwa gerakan menaikkan alis itu sering dilakukan oleh Pramudya ketika merasa heran atau kesal ... atau ketika tidak alasan pun, pria itu sering melakukannya. Mungkin sudah kebiasaan.
Melihat Pramudya yang masih menanti jawabannya, Freya memberitahu dengan suara rendah, “Mengambilkan camilan sebanyak ini, nanti Anda akan ditertawakan oleh para tamu.”
Pramudya mendengkus. “Siapa yang berani menertawakanku? Hari ini akan aku buat bangkrut.”
Astaga. Sombong sekali! Freya merasa menyesal telah memedulikan imej pria itu. Huh. Buang-buang tenaga saja!
__ADS_1
Ia tidak memedulikan Parmudya lagi, segera mengambil satu piring mungil berisi lapis surabaya dan memakannya dengan tenang. Menyusul bolu gulung keju berikutnya ... lalu cupcake dengan frosting whipcream dan potongan stroberi ... lalu kue sus yang sangat lezat ....
Sialan. Kalau bukan karena sedang berada di depan tamu terhormat, ia sudah pasti akan menghabiskan semuanya.
“Tidak dihabiskan?” tegur Pramudya ketika melihat Freya membersihkan tangannya dengan tisu.
“Sudah cukup. Terima kasih.”
Pelayan segera membersihkan tempat itu dan pergi membawa nampan.
Pramudya menatap Freya dengan ekspresi serius. “Tahan sebentar. Kamu bisa makan sampai puas setelah pulang.”
“Hm.” Freya hanya bergumam sekilas. Tatapannya terpaku di pintu masuk. Mendadak ia merasa gugup.
Bukankah Pak Pram berjanji wanita itu tidak akan muncul dan berbuat onar?
Freya menoleh untuk menanyakan hal itu kepada suaminya. Akan tetapi, begitu ia berkedip, setengah lusin pria berseragam formal segera merangsek maju dan menyeret Carissa keluar sebelum sempat melakukan apa-apa.
Freya tidak jadi bertanya. Ia hanya menatap Pramudya dengan takjub. Pria itu menepati janjinya.
Dalam hati, Freya memberi 1 poin plus karena suaminya benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan.
Sayangnya, masih ada beberapa poin minus untuk ditebus: tidak ramah, sombong, keras kepala, tidak sopan, suka memerintah, suka memeras, suka menindas, cuek, kaku, dingin, menjengkelkan, bermulut tajam, dan masih banyak keburukan lainnya.
Untuk perhatian Pak Pram, ia tidak akan menghitungnya. Mereka hanya sedang berakting. Sandiwara untuk menjadi pasangan yang terlihat sempurna tidak termasuk dalam hitungan.
Tapi ... astaga, kekurangan suaminya cukup banyak.
Diam-diam Freya melirik Pramudya dan merasa kasihan dalam hati. Pria ini memiliki semua kriteria yang dibenci olehnya.
Sial sekali.
Tampaknya Pak Pram harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa dia bukanlah sejenis laki-laki bajingan yang hanya mengandalkan tampang dan kekayaan.
***
yuhuu, jangan lupa komen, like, dan vote yaa
__ADS_1
thank youu