Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Kasmaran


__ADS_3

Setelah ditinggalkan begitu saja, Pramudya hanya bisa menatap tonjolan di balik celananya dengan pasrah.


Reaksi biologisnya cukup mengejutkan. Sejujurnya ia juga sedikit tidak menyangka tubuhnya akan merespons dan membuatnya hampir kehilangan kendali. Baru kali ini tubuhnya bereaksi seperti ini.


Sakit sekali.


Ia harus menyingkirkan gambaran sepasang bukit indah yang baru saja dilihatnya agar ketegangannya bisa mereda, tapi itu jelas merupakan pekerjaan yang sangat sulit.


Pramudya memejamkan mata. Seulas senyuman membayang di wajahnya. Ia tidak pernah melihat keindahan seperti itu. Ia tidak ingin melupakannya begitu saja meski itu harus membuatnya tersiksa lebih lama.


Bagaimana bisa ia melupakan keindahan itu begitu saja? Semuanya telah terekam di dalam memorinya dengan sangat baik.


Ia bisa mengingat dengan jelas ada sebuah tahi lalat kecil di atas tulang selangka sisi kanan. Ia bisa mengingat dengan jelas suara erangan yang membuatnya menggila. Bahkan aroma tubuh istrinya terendus semakin tajam di ujung hidungnya.


Pramudya mengerang. Semua tentang Freya membuatnya tergila-gila. Kilasan adegan ketika istrinya mabuk kembali terbayang di kepalanya.


Ia sangat menyukai ketika gadis itu memeluknya tanpa sungkan, menempel dan memanggilnya dengan sebutan “Sayangku” dan “Suamiku yang tampan”. Ia bisa mendengarkan keluh kesah istrinya tanpa penghalang, mengetahui isi hatinya yang terdalam, mengetahui ketakutan dan kekhawatiran yang menjadi ganjalan di antara mereka.


Istrinya tidak menyebutkan nama Yoga satu kali pun. Itu membuatnya semakin bahagia,


Gadis itu meracau sambil memandangnya dengan sepasang mata yang bulat dan berair, dengan wajah berkabut dan bibir merah yang merekah.


Malam itu, Pramudya harus mengerahkan seluruh kemampuan pengendalian dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang pasti akan disesalinya kemudian. Ia tidak ingin merusak hubungan yang baru terjalin hanya karena gairah sesaat.


Meski sangat menginginkannya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri. Akan ada masanya gadis itu menjadi miliknya seutuhnya, tanpa ada paksaan, terjadi karena mereka sama-sama menginginkannya.


Mengingat bagaimana istrinya berulang kali memeluknya dengan erat dan mengatakan bahwa dia takut kehilangan, meminta dirinya untuk tidak meninggalkan, Pramudya tidak bisa menahan sudut-sudut bibirnya yang terangkat naik. Senyuman itu membuat dirinya terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta.


Dalam keadaan sadar, hal itu jelas tidak akan mungkin terjadi. Ia tahu istrinya bisa sangat keras kepala dan penuh dengan harga diri yang sangat tinggi.


Mungkin ucapan-ucapan itu terlontar karena kepergian Yoga meninggalkan luka di hatinya. Istri kecilnya takut diterlantarkan tanpa penjelasan seperti itu lagi. Mungkin pengalaman itu menjadi trauma yang membuatnya sangat waspada untuk membuka hati kembali, trauma yang membuatnya selalu menghindar dan tidak ingin mengungkapkan perasaannya dengan jujur.


Akan tetapi, Pramudya sudah berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi, ia tidak akan meninggalkan istrinya seorang diri, apalagi pergi tanpa penjelasan dan menghilang begitu saja.


Tiba-tiba Pramudya teringat akan Bayu. Mungkin ia memang harus berterima kasih kepada sahabatnya itu. Ia belum sempat melakukannya karena terlalu sibuk menikmati status barunya sebagai “pacar”, bahkan beberapa kali menggoda sahabatnya itu dengan bertingkah menjengkelkan. Itu semua dilakukannya karena memiliki pacar ternyata rasanya sangat menyenangkan, membuatnya ingin bersikap sedikit kekanak-kanakan.


Pramudya mengambil ponsel dan mengetik pesan.

__ADS_1


[Terima kasih. Kamu mau apa sebagai kompensasi?]


Di sebuah apartemen yang berada di pusat kota, Bayu yang hampir tertidur kembali terjaga karena ponselnya bergetar di atas meja. Ia sangat lelah. Setelah kembali dari liburan, pekerjaan menumpuk hingga membuatnya sakit kepala. Ia sudah bergadang hingga hampir tengah malam, tapi masih belum menyelesaikan semua laporannya.


Dengan mata separuh terpejam, tangan Bayu menggapai-gapai dan berusaha menjangkau ponselnya.


Siapa yang mengirim pesan malam-malam begini?


Ia mengerang dan berguling mendekat ke tepian ranjang, mengulurkan tangan sekali lagi dan mengambil ponselnya. Ia mengusap permukaan layar ke atas dan membuka pesan WhatsApp.


Matanya yang menyipit tiba-tiba terbuka lebar.


Ia membaca pesan itu dua kali, kemudian memeriksa nama pengirim sekali lagi.


Tidak salah.


Pesan itu memang dikirim oleh Pramudya. Ada angin apa yang membuat sahabatnya itu tiba-tiba mengirim pesan seperti ini?


Apakah dia mengalami malam yang indah bersama istrinya?


Sudut-sudut bibir Bayu terangkat. Rasa kantuknya menghilang seketika. Ini gosip besar! Bos Besar akhirnya secara resmi melepas masa lajangnya!


[Kenapa tiba-tiba sangat baik kepadaku?]


[Apakah kamu sudah tidak perjaka lagi?]


[Bagus. Aku kira kamu bakal jadi perjaka selamanya]


[Kalau begitu aku minta libur tahunan ditambah satu minggu]


[Itu sudah cukup]


Setelah mengirimkan serentetan pesan itu, Bayu kembali ke atas ranjang masih dengan wajah yang dipenuhi seringai lebar. Ia ikut senang untuk sahabatnya yang norak itu. Baru punya istri sekaligus pacar saja sudah bertingkah seperti ini.


Tapi setidaknya ia tidak perlu menghadapi gosip miring tentang dirinya yang disukai oleh Pramudya lagi. Entah apa yang akan dilakukan oleh ayahnya jika sampai mendengar berita itu.


Di tempat yang berbeda, Pramudya membaca semua pesan itu dengan kening mengernyit. Berandalan kecil itu, kenapa bicara sembarangan seperti ini? Ditanya satu pertanyaan, jawabannya berputar-putar sampai di luar angkasa.

__ADS_1


Ia mengetik pesan balasan dan mengirimkannya.


[Minggu ini lembur sampai semua pekerjaan selesai]


Ia lalu meletakkan ponselnya di atas nakas, tidak peduli jika Bayu membalasnya lagi atau tidak.


Di dalam kamar mandi, Freya melihat pantulan dirinya yang acak-acakan di dalm cermin dan terpana. Semua tanda merah hasil karya suaminya itu ada di mana-mana. Ia seperti baru saja berkelahi dengan seekor kepiting jantan yang menyerang dan mencapitnya dengan ganas.


Bagaimana ia harus berpakaian besok?


Selain itu, suaranya tadi ... astaga, apakah suara ******* dan erangannya terdengar sampai ke luar?


Apa pendapat Ruth tentangnya?


Bagaimana bisa menemui Kakek dengan kepala tegak lagi?


Suaminya yang tidak tahu malu ini sudah menghancurkan citra diri yang dipertahankannya selama ini.


Huaaa ... tidaaak!


“Pramudya Antasena, kamu harus bertanggung jawab!” Ia mendesis sambil mengepalkan tangan di udara.


Sekarang mau melarikan diri ke luar pun tidak bisa. Ada Kakek. Ia tidak mungkin tidur terpisah dengan Pak Pram. Tapi kalau tetap tidur di sini, bisa-bisa sebelum pagi sudah terjadi sesuatu tanpa disadarinya. Lihat saja bagaimana tadi kemejanya dilucuti tanpa ia tahu.


Tangan Pak Pram sangat terampil. Ia tidak akan percaya jika suaminya itu mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya.


Hm.


Apakah dia pernah melakukannya dengan Carissa?


Lalu dengan siapa lagi?


Berapa banyak wanita yang telah disentuhnya?


Freya mendadak emosi.


Ia berderap keluar seperti akan pergi berkelahi.

__ADS_1


***


__ADS_2