
Bayu menawarkan diri untuk membawakan dua kantong belanja milik Freya dan Lisa. Secara resmi ia mengangkat dirinya sendiri menjadi asisten teladan terbaik tahun ini.
Lihatlah semua pengorbanannya agar Pramudya dapat berduaan dengan istrinya, semua saran dan idenya agar Pramudya bisa lebih dekat dengan gadis manis itu. Ia tidak masalah menjadi kacung pembawa barang, asal sahabatnya bahagia, ia ikut merasa senang.
Setelah mampir ke butik, tujuan mereka berikutnya adalah Sky Garden Pub and Bar. Menurut rekomendasi dari salah seorang kenalannya, bar itu cukup bagus dan terkenal di area Kuta.
Cahaya kelap-kelip lampu dan suara musik yang kencang menyambut mereka di pintu masuk. Satpam memindai tubuh mereka dengan metal detektor sebelum diperbolehkan masuk.
Suara ingar-bingar yang memekakkan telinga menyambut mereka begitu memasuki aula di lantai satu. Ada sekelompok turis Jepang yang sedang duduk di meja bar seraya tertawa dan bercakap-cakap dalam bahasa mereka. Di sisi lain, ada beberapa turis yang tampaknya berasal dari Eropa sedang bersantai dengan temannya.
Dari lorong sebelah kanan, keluar gadis-gadis tinggi besar dengan kulit sangat putih, memakai riasan warna-warni di wajah mereka. Ada sepasang sayap kupu-kupu yang menempel di punggung mereka.
Gadis-gadis itu sepertinya berbicara dalam bahasa Rusia, tertawa, terlihat sangat bersemangat beranjak ke lantai dansa.
Freya melirik ketika gadis-gadis itu berjalan melewatinya. Tingginya hanya sampai di dada gadis-gadis itu. Tiba-tiba ia merasa menjadi liliput di antara para peri.
Lisa memegang tangan Freya kuat-kuat. Rasanya sangat bersemangat sampai-sampai ia ingin melompat turun ke lantai dansa dan berjoget!
Ia belum pernah pergi ke tempat seperti ini sebelumnya. Paling jauh ia hanya pergi menonton biduan menyanyi ketika ada acara khitanan atau nikahan di dekat rumah. Itu pun suara organ lebih sering terdengar melengking tinggi seperti tukang kredit yang menagih cicilan mingguan. Panggungnya pun dibangun di tengah jalan, menghalangi jalur sepeda motor dan mobil sehingga sang pembuat hajatan kerap mendapat umpatan dan sumpah serapah karena para pengendara itu harus mengambil jalan memutar.
Freya tertawa melihat tingkah Lisa yang seperti anak kecil mendapat mainan kesukaannya. Ia yakin seratus persen, kalau tidak ada Pak Pram dan Pak Bayu saat itu, pastilah temannya yang super unik ini sudah pergi menebar pesona dengan bule yang ganteng dan bertebaran di mana-mana.
“Mau ke atas? Aku sudah memesan ruangan VIP. Kalian bisa melihat ke bawah dari sana,” tawar Bayu. Di sini terlalu bising. Ia bisa melihat wajah Pramudya semakin masam.
Freya dan Lisa mengangguk bersamaan. Sepertinya lebih aman menonton semua keramaian ini dari atas.
Seorang pelayan datang dan mengarahkan mereka menuju ruangan VIP yang berada di lantai tiga. Ruangan itu sangat luas. Ada sebuah sofa sudut, sebuah mini bar lengkap dengan barterder, juga seorang waitress dengan seragam super mini.
Lisa terpana untuk sesaat. Ia berusaha mengabaikan pakaian sang waitress yang hanya menutupi bagian tertentu dan berpaling ke arah jendela.
Ada sebuah ruang kecil mirip balkon di sana yang memungkinkan mereka untuk mengintip dari atas. Sepertinya memang semua pemandangan di lantai satu tadi bisa dilihat dengan jelas dari sana.
__ADS_1
“Selamat malam, Kakak-kakak, apakah ada yang ingin dipesan?” tanya sang waitress dengan suara yang sangat lembut dan menawan.
Lisa menatap Freya.
Freya menatap Pramudya.
Pramudya melirik Bayu.
“Oh, untuk sementara kami memesan jus dulu. Bawakan juga beberapa camilan terbaik di tempat ini,” ucap Bayu kepada sang waiter.
“Baik. Kakak-kakak ingin memesan jus apa?”
Lisa hampir menangis. Pergi ke bar untuk minum jus? Yang benar saja!
Ia pergi ke dekat Pak Bayu, sedikit mencondongkan tubuhnya dan membisikkan sesuatu. Setelah itu, ia buru-buru kembali ke tempat semula dan bersikap seolah barusan tidak terjadi apa-apa.
Bayu berdeham, menegakkan tubuhnya seperti seorang pahlawan, lalu pergi mendekati sang waitress dan kembali membisikkan sesuatu.
Pramudya memicingkan matanya. Apa yang sedang direncanakan oleh sahabatnya itu?
Ia lalu melirik ke arah Lisa, tapi gadis itu sudah menyeret istrinya untuk pergi melihat keramaian dari balkon.
“Apa yang kamu katakan kepada pelayan itu?” tanya Pramudya ketika melihat sang waiter berjalan menuju mini bar.
Bayu cengengesan sebelum menjawab, “Aku hanya memesan beberapa gelas jus dan minuman ringan lainnya. Kamu tenang saja, aku tidak macam-macam, kok.”
Jawaban itu justru membuat Pramudya semakin curiga. Apalagi ketika melihat bartender mulai meracik minuman di sana. Sekilas pandang tidak ada yang mencurigakan.
Bartender yang memakai kemeja hitam dan dasi kupu-kupu itu hanya memasukkan sesuatu yang terlihat seperti jus semangka, ditambah perasan lemon, lalu dihias potongan buah stoberi ke tepi gelas.
Karena tidak menemukan kejanggalan, ia hanya bisa kembali menoleh ke arah Bayu dan mengancam, “Lihat saja kalau kamu berbuat yang aneh-aneh, aku pasti akan menghabisimu.”
__ADS_1
“Haish, kamu ini ... selalu berburuk sangka kepadaku. Lihat saja, kalau bukan karena saran dariku, memangnya kamu bisa berdekatan dengan istrimu itu karena—“
“Diam!” Pramudya menarik kerah Bayu dan membekap mulutnya dengan kuat.
“... mph! “ Bayu meronta, berusaha melepaskan diri dari kuncian Pramudya, tapi mulutnya justru ditekan semakin keras.
“Aku akan mematahkan lehermu kalau berani bicara lagi. Mengerti?”
Bayu mengangguk dengan cepat. Gila. Sahabatnya ini benar-benar tidak pandang bulu. Semua jasa-jasanya bahkan tidak boleh disebutkan. Benar-benar berhati beku.
Pramudya akhirnya melepaskan Bayu. Ia mengusap telapak tangannya dengan tisu sambil memasang ekspresi jijik.
Bayu kesal sampai hampir menangis.
Bro, siapa yang menyuruhmu membekap mulutku?
Meski begitu, ia juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Ia tidak mengerti, padahal selalu ditindas oleh Pramudya, tapi mengapa ia enggan pulang dan meneruskan bisnis keluarganya sendiri?
Ayahnya pasti akan memanjakan dirinya dan tidak akan pernah memarahinya barang sekali pun. Berbanding terbalik dengan preman yang ia sebut sahabat ini.
Bayu menghela napas dan mengingat kembali alasan ia bersumpah setia kepada Pramudya Antasena.
Mungkin karena berandalan ini adalah satu-satunya orang yang menolongnya ketika ia terjatuh. Satu-satunya orang yang jujur dan setia, tidak mengharapkan imbalan apa pun darinya. Satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkannya.
Di mata orang lain, Pramudya sangat dingin, suka menindas, kaku, arogan, kejam. Tidak banyak yang tahu bahwa di balik semua sifat menjengkelkan itu, Pramudya sangat loyal dan setia. Dia selalu menunjukkan perhatiannya dengan perbuatan nyata, bukan omong kosong yang dibalut kata-kata dan janji manis. Itulah yang membuat Bayu berjalan di sisi Pramudya sampai saat ini.
Yah, meskipun sifat menjengkelkan Pramudya itu kadang memang sedikit keterlaluan, tapi ia tahu hati sahabatnya tidak pernah bermaksud jahat. Dia hanya bersikap jahat dan kejam kepada orang-orang yang lebih dulu mencari masalah dengannya.
Oleh sebab itulah, Bayu telah bersumpah akan mengikuti Pramudya sampai kapan pun. Selain itu, utang budi yang dimilikinya kepada Pram tidak akan lunas meski ia berusaha membayar dengan sisa hidupnya.
**
__ADS_1
disclaimer: kesamaan nama tempat dan tokoh hanya kebetulan.