
Pemakaman Kakek diadakan hari itu juga, tepat pukul empat sore di pemakaman keluarga. Freya mengenakan terusan hitam lengan panjang, bersandar pada lengan Pramudya yang juga memakai setelan serba hitam. Keduanya berdiri di dekat liang lahat, menyaksikan ketika peti perlahan diturunkan ke dalam tanah.
Ruth menyodorkan keranjang bunga rampai kepada Freya.
“Nyonya,” tegur Ruth ketika melihat Freya hanya berdiri mematung.
Tadi Freya sempat pingsan dua kali sehingga membuat semua orang cemas, terutama Tuan Pram. Ruth khawatir sang majikan akan kembali pingsan ketika Tuan Besar disemayamkan, oleh sebab itulah ia berdiri dan berjaga di dekatnya.
Freya berkedip dengan linglung. Sebuah kacamata berbingkai lebar menutupi matanya yang merah dan sembap. Ia tidak berhenti menangis sejak pagi sampai matanya terlihat seperti biji kenari. Ia masih tidak menyangka jika saat ini ia sedang berdiri di acara pemakaman Kakek.
Membayangkan ia tidak akan bisa bertemu lagi dengan Kakek membuat air mata Freya kembali luruh bagai hujan. Tangannya yang gemetar meraup segenggam bunga, kemudian melemparkannya ke atas peti yang sudah berada di dalam tanah.
“Kakek ....” Freya memanggil dengan sangat sedih.
Kapan kita bertemu lagi?
Siapa yang akan membelaku?
Siapa yang akan menyayangiku?
Freya tersengut-sengut dan menyusut air matanya berkali-kali.
Pramudya mengetatkan pelukannya, menarik tubuh istrinya agar bersandar di dadanya. Ia tidak pandai membujuk wanita yang sedang menangis. Apalagi saat ini hatinya sendiri sedang remuk redam. Ia menjumput bunga dari keranjang yang disodorkan oleh Ruth, kemudian menaburkannya di atas peti.
Para petugas mulai menimbun tanah ke dalam makam. Sedikit demi sedikit tanah merah dan basah itu menutupi permukaan peti, naik setingkat demi setingkat hingga peti putih itu tidak terlihat lagi.
Freya sesenggukan. Ia mencengkeram lengan Pramudya erat-erat agar tidak kehilangan kesadaran. Rasa sakit yang sangat mendera leher dan kepalanya karena berusaha menahan tangisan.
__ADS_1
Ia tidak sanggup. Benar-benar tidak sanggup.
Satu barisan di belakang Freya, Lisa dan Bayu berdiri bersisian. Ketika mendapat kabar mengenai meninggalnya Pak Tua, Bayu segera berkendara untuk menjemput Lisa, kemudian mereka bersama-sama pergi ke rumah Pramudya.
Lisa menemani Freya yang terguncang dan syok, berusaha menghiburnya agar tidak terlalu bersedih, tapi semua itu sia-sia. Freya tidak mau mendengarkan ucapan siapa pun. Ia duduk melamun dan menangis dalam diam. Lisa hanya bisa terus mendampingi dan menemani di sisi Freya bersama Ruth.
Sementara itu, Bayu menemani Pramudya mengurus segala sesuatu yang dibutuhkan untuk prosesi penguburan, mulai dari menghubungi penjaga makam sampai mencari peti. Ia menghubungi semua koneksinya agar pemakaman kakek Pramudya tidak terhambat.
Menurut dokter yang dipanggil untuk memeriksa jenazah Pak Tua, pria itu meninggal karena faktor usia. Tidak ada tanda-tanda mencurigakan. Pak Tua meninggal dengan damai dalam tidurnya.
Timbunan tanah merah pada akhirnya membentuk gundukan yang terlihat seperti sebuah bukit kecil. Freya dan Pramudya menaburkan untaian bunga rampi sekali lagi, diiringi doa-doa terbaik bagi orang yang mereka kasihi yang baru saja pergi.
Freya menggigit bibirnya agar tidak kembali terisak. Ucapan Pak Tua tadi malam yang memintanya untuk menjaga dan mendampingi Pramudya, apakah itu adalah kata-kata perpisahan? Pria tua itu pasti merasa tugasnya telah selesai, oleh sebab itulah ia pun pergi dengan damai.
“Kakek, jangan khawatir. Aku akan merawat Pramudya dengan baik. Sekarang Kakek bisa beristirahat dengan tenang. Cucu Kakek ini, aku akan menjaga dan mendampinginya seumur hidup,” gumam Freya di atas pusara yang masih basah.
Pramudya menggenggam tangan Freya erat-erat.
Kakek, terima kasih telah memilih malaikat ini untuk menemaniku. Dalam hari-hari yang berat, akhirnya aku memiliki tempat untuk pulang, rumah untuk kembali, seseorang yang akan menemaniku melewati hujan dan badai.
“Kakek, selamat jalan.”
Suara yang dalam dan parau itu membuat Freya dan Pramudya menoleh bersamaan. Di sisi kanan mereka, tampak Tommy mengenakan setelan gelap dan kacamata hitam, berdiri dengan segenggam bunga rampai di tangannya.
Tommy menyebarkan bunga itu di atas pusara, kemudian menunduk dan melantunkan doa.
Tak lama kemudian, Tari muncul entah dari mana sambil menangis tersedu-sedu sehingga menarik perhatian para pelayat yang kebanyakan merupakan rekan bisnis Pak Tua.
__ADS_1
“Ayah, kenapa Ayah sangat cepat meninggalkan kami? Sekarang siapa yang akan memberikan nasihat dan menjadi penengah jika ada masalah?” Tari mengoceh, lalu menangis tersedu-sedu lagi. Entah dari mana datangnya air mata yang sangat banyak itu, padahal jelas-jelas tidak ada ekspresi kesedihan sama sekali di wajahnya.
Pramudya terlalu malas untuk meladeni ibu dan anak itu. Ia menuntun Freya menyingkir dari sedikit ke belakang, seolah-olah sedang menghindari wabah mematikan.
Gerakan itu tidak luput dari perhatian para pelayat. Mereka bukannya tidak tahu perselisihan antar ahli waris Antasena Grup. Anak haram yang menjadi kakak tertua selalu berusaha menjatuhkan dan merebut hak waris anak asli dari Keluarga Antasena. Tentu saja semua orang mengetahui hal itu, tapi selalu berpura-pura menutup mata. Mereka tidak mau terlalu ambil pusing selama hal itu tidak mempengaruhi kerja sama dengan Antasena Grup.
Tari menunduk di atas nisan. Topi rami bulat menutupi wajahnya yang dipenuhi seringai licik. Tidak ada yang mendengar ketika ia berbisik pelan.
“Pak Tua, sekarang tidak ada lagi yang melindungi cucumu yang berharga itu. Aku akan menghancurkannya berkeping-keping dan membuatmu tidak bisa beristirahat dengan tenang.”
Ketika ia berdiri, air mukanya telah berubah sepenuhnya. Ia lalu menangis dengan sangat kencang, seolah-olah yang meninggal adalah ayah kandungnya.
“Singkirkan wanita itu,” ucap Pramudya kesal. Sangat mengganggu.
Empat orang pria bertubuh kekar segera maju dan bersiap menyeret Tari pergi, tapi Tommy menghalangi mereka dan meminta maaf kepada semua orang sebelum membawa ibunya pergi.
“Lepaskan aku!” desis Tari setelah mereka berada cukup jauh dari lokasi pemakaman. Ia mengentakkan tangannya dengan keras sehingga cekalan Tommy terlepas.
“Ibu, sudah kukatakan jangan membuat masalah. Kenapa Ibu—“
“Diam! Kamu tahu apa?” Tari mendelik kesal. Semua yang dilakukannya itu pasti ada tujuannya.
Tommy hanya bisa bungkam dan menahan semua keluhan dalam hatinya. Yang meninggal adalah kakeknya, mereka berbagi garis darah yang sama. Tapi wanita di depannya ini adalah orang yang melahirkannya.
Ia merasa sangat dilema.
***
__ADS_1