
Di kamar sebelah, Freya berdiri di dalam kamar mandi sambil memegangi dadanya yang masih berdetak tak beraturan. Ia sudah mengganti bajunya dengan kaos over size dan celana santai yang panjangnya di bawah lutut. Seharusnya Pak Pram tidak akan menyuruhnya untuk ganti baju lagi, kan?
Wajah Freya secara bertahap memerah. Ia mengabaikan Lisa yang sedang menggedor pintu dan memintanya untuk segera keluar.
Astaga ... rasanya sangat malu untuk bertemu dengan Pak Pram lagi.
Mengapa tadi mulutnya mengatakan begitu banyak omong kosong dengan sangat lancar?
Apa-apaan itu tadi?
Untuk apa menyuruh pria itu berganti dengan pakaian yang lebih nyaman?
Masih sempat mengatakan untuk pergi jalan-jalan bersama.
Arrrgh!
Rasanya Freya ingin menggali lubang dan masuk bersembunyi di dalamnya.
Apa yang sedang dipikirkannya tadi?
Mengapa dirinya menjalankan peran sebagai istri yang baik?
“Freya! Cepat sedikit. Pak Bayu dan Pak Pram sudah menunggu di depan!” teriak Lisa dari balik pintu.
Lisa mengetuk pintu kamar mandi sekali lagi ketika masih tidak mendapatkan jawaban dari Freya.
“Freya, apakah kamu sakit? Aku akan memberitahukan kepada Pak Bayu kalau—“
“Tidak perlu! Sebentar lagi aku keluar!” sela Freya. Ia meremas jemarinya dengan gugup. Ia sangat malu, tapi juga tidak ingin merusak suasana dengan bertingkah tidak masuk akal.
Sudahlah, berpura-pura seperti biasa saja. Anggap saja tidak ada yang salah dengan sikap dan ucapannya tadi. Semoga Pak Pram juga tidak menganggapnya aneh atau berlebihan karena sudah mengucapkan kata-kata seperti tadi.
Freya menarik napas dan mengembuskannya beberapa kali sebelum membuka pintu dan berjalan ke luar.
“Ada apa? Kenapa lama sekali?” tanya Lisa seraya menghampiri Freya. Ia benar-benar sudah mulai cemas. Kalau tadi Freya masih tidak merespons, ia sudah berniat akan melaporkannya kepada Pak Bos.
“Aku sakit perut,” jawab Freya seraya menyeringai kikuk. Alasan itu yang paling masuk akal. Tidak mungkin ia mengatakan kepada Lisa bahwa ia takut keluar dan bertemu Pak Pram karena tadi sudah mengatakan hal-hal yang hanya akan dikatakan oleh seorang kekasih kepada pasangannya.
“Memangnya kamu makan apa sebelum berangkat?” tanya Lisa keheranan.
“Um, roti lapis dan susu. Sudahlah, jangan dibahas lagi. Mungkin karena perubahan cuaca yang tiba-tiba.” Freya berusaha mengalihkan perhatian Lisa dan menarik tangannya, berjalan ke arah pintu.
Untung saja Lisa sangat mudah teralihkan. Dalam sekejap kecemasan dan rasa herannya sudah lenyap, berganti dengan antusiasme yang menggebu-gebu.
Begitu pintu terbuka, Freya tidak berani mendongak untuk menatap Pak Pram, sementara Lisa tidak bisa menutupi rasa semangatnya dan bertanya tanpa malu.
“Kita akan pergi ke mana?” tanyanya.
__ADS_1
“Tanjung Benoa, bermain waterport,” jawab Bayu. Ia yang menyarankan ide itu kepada Pramudya.
Dengan bermain watersport, ada kemungkinan yang lebih besar bagi Pramudya untuk berinteraksi dengan istrinya. Tentu saja Pramudya menyetujui usul itu tanpa banyak tanya.
Wajah Freya dan Lisa tiba-tiba berubah muram.
“Aku tidak bisa berenang,” ucap keduanya hampir bersamaan.
Bayu tertegun sejenak, lalu mengangkat tangan dan menutupi mulutnya yang hampir menyemburkan tawa. Seorang gadis petarung yang “gila” tidak bisa berenang. Itu sangat tidak diduga.
Pramudya menjitak kepala Bayu dengan santai. “Tertawa apa? Kamu bukannya takut kecoak?”
Kali itu giliran wajah Bayu yang memucat, sedangkan Lisa dan Freya berpandang-pandangan dengan air muka yang berubah-ubah.
Wakil CEO takut kecoak? Astaga ... ini gosip besar!
Bayu gemetar karena amarah. Bedebah ini bisa-bisanya membongkar aibnya di depan dua orang gadis cantik.
Benar-benar ....
Sahabat apaan?!
“Kamu ... dasar @#*&!” Bayu terlalu emosi sampai hampir muncul asap di atas kepalanya.
Pramudya mengacuhkannya dan menatap Freya. “Ayo, mobil jemputan sudah menunggu di depan.”
Hanya dalam sekilas pandang, ia melihat Pak Pram terlihat lebih tampan ketika memakai pakaian santai.
Benar-benar tampan.
Suaminya itu juga terlihat jauh lebih muda dengan balutan kaos oblong biru tua dan celana santai selutut. Tidak ada sepatu kulit yang mahal dan berkelas, hanya sepasang sepatu vans berwarna senada dengan kaosnya.
Astaga ... pria ini benar-benar tampan dan menawan ....
Jantungnya kehilangan ritme lagi.
Langkahnya hampir tersandung-sandung lagi.
Otaknya mendadak kosong lagi.
Kalau terus begini, mungkin sebelum kembali ke Jakarta ia sudah melemparkan diri ke dalam pelukan suaminya dengan tidak tahu malu.
Sial. Godaan pria tampan memang sangat berat.
Ada banyak emot menangis di atas kepala Freya.
Kenapa ia begitu mudah terpana karena ketampanan suaminya?
__ADS_1
Padahal ada begitu banyak pria tampan lainnya, kenapa hatinya hanya bergetar ketika melihat Pramudya Antasena?
Ini benar-benar ujian yang sangat berat.
Lisa menyejajarkan langkah kakinya dengan Freya, sedangkan Pramudya mengikuti dari belakang.
Bayu memutar bola matanya dengan kesal.
Bro, dirinya yang telah menyiapkan semua akomodasi dan transportasi, tapi sahabatnya yang bajingan itu bersikap seolah-olah dialah yang menyediakan semuanya.
Dasar bermulut manis!
Penjilat!
Di depan istrinya sudah pandai mencari muka. Huh!
Bayu mengomel dalam hati, tapi tetap mengikuti ketiga orang itu berjalan ke depan. Salahkan dirinya yang bernyali besar, berani menertawakan istri Pramudya yang tidak bisa berenang. Sial sekali ....
Freya berjalan tanpa berani menoleh ke belakang. Meski tidak melihat, ia tahu Pak Pram hanya berjarak beberapa langkah saja darinya. Ia juga bisa merasakan tatapan intens yang datang dari belakang, membuat langkah kakinya hampir tidak sinkron.
Kenapa akhir-akhir ini Pak Pram sangat sering menatap dirinya?
Untung saja perasaan gamang dan gelisah itu memudar ketika mereka tiba di depan lobi utama. Sebuah mobil keluarga yang ukurannya lebih kecil dari mobil jemputan sudah menunggu.
Petugas villa yang berjaga di depan segera membukakan pintu dan mempersilakan para tamu untuk naik.
Keempat orang itu duduk dengan format yang sama seperti saat duduk di mobil jemputan tadi. Bayu dan Pram di tengah, sedangkan Lisa dan Freya di belakang.
Bedanya kali ini Lisa yang duduk di belakang kursi Pak Pram, sedangkan Freya duduk di belakang kursi Pak Bayu. Setelah semuanya siap, sopir segera mengemudikan mobil keluar dari pelataran villa.
Lisa terlihat sangat bersemangat. Meskipun ia tidak bisa berenang, setidaknya ia akan mencoba permainan air yang tidak mengharuskannya berenang. Pokoknya nikmati saja apa yang ada sebisa mungkin.
Di sebelahnya, Freya diam-diam mencuri pandang ke arah suaminya. Ia memang sengaja memilih duduk di belakang Pak Bayu agar Pak Pram tidak menatapnya melalu cermin di atas dasbor lagi.
Ia pasti akan pingsan karena sesak napas sebelum tiba di tempat tujuan jika Pak Pram menatapnya lagi.
Kali ini, ia akan mengambil kesempatan untuk menghela napas dan mengatur debaran di dadanya agar tidak semakin menggila.
***
Bonusss
jangan lupa komen, like dan vote yaa...
thank youuu
__ADS_1