Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Suami Posesif


__ADS_3

Ketika memasuki kamar, Freya dan Lisa tercengang. Nuansa kamar villa itu benar-benar khusus untuk pengantin baru. Ada kelopak mawar berwarna merah cerah yang tersebar di atas lantai, mulai dari depan pintu masuk hingga di atas ranjang yang dialasi seprei putih bersih.


Freya kehabisan kata-kata ketika melihat kelopak-kelopak mawar itu dibentuk menyerupai hati yang sangat besar di atas kasur. Di tengah-tengahnya terdapat sepasang angsa yang dijalin dari handuk.


Ada sebuah lemari pakaian di sisi kiri ranjang. Sebuah nakas di sisi kanan. Dua buah sofa marun bersisian di dekat meja yang terletak di dekat jendela. Ada sebuah pintu di depan ranjang yang sepertinya merupakan pintu kamar mandi. Dan sebuah nampan berisi welcome drink dan snack tergeletak dengan manis di atas meja.


Lisa terkikik dan menggelitik pinggang Freya dengan bersemangat.


“Ini baru namanya kamar pengantin baru! Seharusnya Pak Bos tidur di sini bersamamu!” serunya dengan lantang.


“Kamu yang pergi tidur dengan Pak Bayu!” sergah Freya. Ia terlalu malas untuk meladeni omong kosong Lisa.


Lisa cemberut. Dasar pasangan balok es. Diajak bercanda pun tidak bisa!


Freya berjalan mendekat ke sisi ranjang, menarik gorden berwarna putih hingga terbuka. Tepat di depan jendela kamarnya, ujung dari infinity pool tampak seperti menyatu dengan deburan ombak menyapu pantai, meninggkan riak kecil dan buih yang berjejak ringan di atas pasir.


Hanya dengan melihat keindahan itu saja sudah membuatnya merasa sangat bersemangat. Ia berbalik dan mengambil kopernya, menyeret benda itu ke dekat lemari dan mulai membongkar isinya.


“Kamu ingin turun?” tanya Lisa.


“Hm.” Freya bergumam dan mengangguk. Ia ingin bermain air sampai puas.


“Aku ikut!” Lisa buru-buru menarik kopernya dan mengeluarkan isi di dalamnya.


Lemari pakaian yang disediakan cukup luas. Lemari berwarna cokelat tua itu dipenuhi ukiran unik yang dilapisi dengan pelitur yang mengilap, sangat kokoh sekaligus indah. Freya dan Lisa membaginya menjadi dua bagian untuk menyimpan barang-barang mereka. Milik Lisa berada di sisi kanan, sementara punya Freya ada di sisi kiri.


Setelah beres, keduanya berganti dengan pakaian santai. Lisa memilih hot pants biru muda dan tank top putih, sementara Freya memakai celana katun selutut dengan warna hijau tosca dan kaos merah muda dengan model lengan pendek.


Freya melepaskan ikatan rambutnya dan memakai kacamata hitam sebelum berjalan keluar kamar.


Lisa melakukan hal yang sama dan mengekor di belakang Freya.


Wohooo!


Ini saatnya para gadis bersenang-senang.


Begitu pintu terbuka, angin laut yang berembus mengibarkan rambut keduanya. Mereka tertawa lepas dan bergandengan tangan menuju anak tangga yang ada di ujung infinity pool.


Bayu yang baru saja berencana mengajak kedua gadis itu untuk pergi ke tempat wisata mendadak berhenti melangkah. Ia tertegun cukup lama sampai bayangan kedua gadis itu menghilang di ujung anak tangga. Barusan ia tidak salah lihat, kan?

__ADS_1


“Apa yang kamu lihat?”


Teguran itu membuat Bayu hampir melonjak karena terkejut. Ia menoleh ke belakang sambil melotot.


“Kenapa muncul tiba-tiba seperti hantu?” omelnya.


“Kamu berdiri seperti patung. Aku sudah memanggilmu dua kali.”


“Oh ....” Bayu mengangkat telunjuknya dan mengarahkannya ke ujung anak tangga. “Aku kira aku baru saja melihat istrimu dan gadis itu ... pergi ke arah sana ....”


“Lalu?”


“Aku ... seharusnya sebentar lagi kita harus ke lobi, mobil jemputan akan segera tiba ... tapi mereka ....” Bayu mengerjap dengan linglung. Bayangan dua orang gadis muda yang cantik dan bersinar tidak mau hilang dari kepalanya.


“Kamu salah makan?” tegur Pramudya seraya menaikkan alisnya.


Bayu memang sering bertingkah aneh, tapi belum pernah seaneh ini. Tidak mungkin di keracunan makanan, kan?


“Pramudya, kamu harus melihatnya.” Bayu menarik tangan Pramudya ke arah anak tangga.


“Ada apa?” Pramudya berusaha melepaskan tangannya dari cekalan Bayu, tapi sahabatnya itu justru memegangnya semakin erat dan berjalan semakin cepat.


“Bayu, kamu kerasukan?”


“Kalau begitu katakan, ada apa? Berhenti menarikku seperti ini.”


“Gawat. Istrimu ....” Bayu kesulitan menemukan kata-kata untuk menjelaskan apa yang baru saja dilihat olehnya.


Ia pernah melihat Freya dalam balutan seragam kerja sebagai office girl di kantor. Pernah melihatnya dalam balutan gaun pengantin yang membuatnya terlihat anggun dan menawan. Pernah juga melihatnya memakai pakaian rumahan yang sederhana. Hal yang sama berlaku untuk Lisa.


Tapi baru kali ini ia melihat istri Pramudya dan temannya itu memakai kaos dan celana pendek seperti tadi. Dengan gaya seperti itu, mereka terlihat seperti gadis remaja yang ... tidak, dengan penampilan seperti itu, mereka terlihat seperti kuntum bunga yang baru akan mekar, menyebarkan semerbak nektar yang akan mengundang lebah dan kumbang.


Benar-benar gawat.


“Bayu, pelan sedikit,” tegur Pramudya ketika melihat Bayu hampir melompati dua anak tangga sekaligus.


“Tidak bisa! Bahaya kalau mereka bertemu lebah dan kumbang yang agresif!”


Pramudya mengernyitkan keningnya. Sepertinya Bayu memang salah makan atau kerasukan. Apanya yang lebah dan kumbang agresif?

__ADS_1


Ia hendak membuka mulut untuk bertanya, tapi samar-samar suara tawa yang terbawa angin mengurungkan niatnya itu. Ia menatap ke depan. Di kejauhan, tampak dua orang gadis sedang berlarian di pantai, bercanda dan tertawa lepas.


Pramudya memicingkan matanya. Itu ... sosok itu terlihat familier ....


Tanpa sadar ia mempercepat langkah kakinya seperti Bayu. Ia juga berhenti bertanya dan mengusik Bayu. Tatapannya terkunci pada gadis yang memakai kaos merah muda dan topi jerami lebar.


Gadis itu ....


“Freya!”


Lisa dan Freya menoleh bersamaan ketika mendengar suara yang dalam dan magnetis itu, lalu sama-sama tertegun pada detik berikutnya.


Apa yang dilakukan Pak Pram dan Pak Bayu di sini?


Dalam sekejap kedua pria itu telah berada di depan Freya dan Lisa.


“Halo, Pak,” sapa Lisa sambil tersenyum kikuk. Ia sama sekali tidak menyangka kedua pria itu akan menyusul mereka ke bawah. Ia mengusap lengannya yang terekspos dengan canggung.


Sial. Kalau tahu begini tadi ia tidak akan berpakaian terlalu terbuka.


Pramudya hanya mengangguk sekilas, sementara Bayu menatap Lisa dengan sudut pandang yang baru. Ternyata tubuh gadis itu tidak serata yang ia kira. Ia lalu berdeham dan berpaling untuk mencegah pikirannya berkelana ke mana-mana.


“Ada apa?” tanya Freya ketika Pramudya hanya berdiri dan menatapnya dengan ekspresi yang tak terbaca.


“Kenapa berpakaian seperti itu?” tanya Pramudya. Sekarang ia mengerti mengapa Bayu bertingkah aneh dan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.


Hah?


Bukan hanya Freya, bahkan Lisa pun sedikit tercengang.


Bro, ini pantai.


Kalau tidak berpakaian seperti ini, lalu mereka harus memakai apa?


Jas hujan?


Piyama?


Freya menduga otak Pak Pram koslet karena kepanasan.

__ADS_1


Yah, cuaca pagi itu memang terbilang cukup terik. Mungkin karena lokasi mereka yang berada di tepi pantai.


Hawanya memang lebih panas dan gerah ketimbang cuaca di dataran tinggi, jadi ia berusaha untuk memahami keanehan suaminya.


__ADS_2