
“Apa yang terjadi?” tanya Pramudya yang berpapasan dengan Lisa di depan pintu. Ia sangat terkejut ketika Bayu mengatakan ada situasi emergency. Istrinya tidak pingsan atau keracunan karena minuman tadi, kan?
“Itu ... Bapak lihat sendiri saja!” Setelah mengucapkan kalimat itu, Lisa segera melarikan diri tanpa menunggu respons bosnya. Kalau ia tetap berdiri di sana, rencana bisa gagal.
Ketika ia berjalan melewati ruang santai, seseorang tiba-tiba muncul dari balik tembok pemisah dan menarik tangannya.
Lisa membuka mulut dan hendak berteriak, tapi sebuah telapak tangan yang besar dan lebar langsung menutupi mulutnya.
“Shhht ... ini aku,” bisik Bayu. “Jangan berteriak, oke?”
Lisa mengangguk pelan. Jantungnya berdebar kencang karena sangat terkejut.
Pak Bayu, kenapa bertingkah seperti ingin menculik orang. Mengagetkan saja ....
Bayu melepaskan tangannya dengan hati-hati. “Di mana si balok es itu? Dia sudah ke kamar kalian?”
Lisa mengangguk cepat. “Barusan Pak Bos masuk.”
“Baguslah. Memangnya ada situasi emergency apa? Istrinya mabuk?” tebak Bayu.
Lisa mengangguk lagi, lalu menatap Bayu dengan sedikit kesal.
“Bapak nyuruh waitress tadi ngasih apa ke minuman Freya?” tuduhnya. Biar bagaimana pun, ia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Freya.
“Aku sudah menghubungi manajer klub, kata bartender minumannya diberi sedikit absinthe*,” jawab Bayu seraya menggosok ujung hidungnya dengan kikuk.
Ia juga tidak tahu akan jadi seperti ini, oke? Jangan marahi dirinya lagi. Tatapan mematikan dari Pramudya sudah cukup membuat jantungnya hampir copot.
“Perlukah menguhubungi dokter?” tanya Lisa. Sekarang ia merasa menyesal karena telah memberi ide untuk pergi ke bar, juga memberi saran agar minuman mereka dicampur alkohol. Bagaimana kalau sesuatu terjadi kepada Freya? Ia pasti akan merasa bersalah setengah mati.
“Ayo ke lobi, mungkin karyawan tahu tempat praktek dokter terdekat atau dokter yang bisa dipanggil ke sini.” Bayu menarik tangan Lisa dan mengajaknya pergi ke depan.
Di dalam kamar, Pramudya berjalan dengan sedikit tergesa menghampiri Freya yang sedang tengkurap di atas kasur. Rambut istrinya itu berantakan, terserak di atas bantal. Ia mendengar ada sedikit suara gumaman yang datang dari arah gadis itu.
Pramudya berdiri di sisi ranjang, sedikit membungkuk, mencoba mendengarkan apa yang sedang digumamkan oleh istrinya, tapi ia masih tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang diucapkan oleh gadis itu, jadi ia mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu istrinya, menariknya perlahan agar berbaring miring.
“Lisa ...?” panggilnya.
Pramudya diam. Sepertinya istrinya hanya mabuk. Haruskah ia berpura-pura menjadi Lisa?
“Lisa, kenapa diam? Kamu belum menjawab pertanyaanku. Pertanyaan itu, terlalu sulit, ya? Memang sulit, aku jadi sakit kepala kalau memikirkannya ....” Freya meracau lagi.
Kening Pramudya berkerut dalam. Apa yang membuat istrinya sakit kepala? Pertanyaan apa yang membuatnya kesulitan menjawab?
Apakah karena Yoga Pratama?
Dia merasa kesulitan karena tidak bisa kembali dengan mantan pacarnya itu?
Ada semacam arus yang berputar di perut Pramudya, arus yang melonjak naik dan menghantam jantungnya dengan keras.
Sakit.
Rasanya sangat sakit.
Freya bergumam dengan nada rendah lagi. Tangannya menggapai-gapai ke depan, seperti ingin mengambil sesuatu.
Pramudya menghentikan pemikiran-pemikiran absurd di dalam kepalanya. Ia buru-buru mengambil bantal guling dan mendekatkannya ke tangan istrinya.
Freya memeluk bantal guling itu dan bersandar dengan nyaman. Matanya terpejam. Bibirnya tersenyum. Rasanya hangat dan nyaman. Juga ada sedikit aroma Pak Pram yang terendus oleh hidungnya. Apakah ia sedang bermimpi atau berhalusinasi?
__ADS_1
Kenapa aroma ini terasa begitu dekat?
Freya ingin membuka mata, tapi kepalanya terasa berubah lima kali lebih besar dari biasanya, juga sangat berat. Selain itu, berbaring dengan posisi ini terasa sangat nyaman. Ia terlalu malas untuk membuka mata.
“Lisa, apa ada Pak Pram di dekat sini?” tanyanya.
Pramudya tidak berani bergerak. Bagaimana gadis ini bisa tahu tanpa membalikkan badan ke arahnya? Ia belum bersuara sejak tadi.
Pramudya mendengar suara tawa sumbang datang dari atas ranjang, membuatnya penasaran: apa yang sedang ditertawakan oleh istrinya?
“Lisa, dia tidak mungkin datang, ‘kan? Aku yang sedang berkhayal. Siapa aku ini? Hanya seorang yatim piatu. Bahkan orang tuaku pun tidak menginginkanku. Aku tidak punya siapa-siapa, Lisa ... aku tidak punya apa-apa, hanya gelandangan ... seperti pengemis jika dibandingkan dengannya ....”
Freya bergerak, berusaha membalikkan tubuhnya ke arah yang berlawanan, tapi tubuhnya sama sekali tidak bertenaga. Terlalu lemas untuk mengangkat tangan, apalagi berbalik. Tapi ia penasaran, kenapa aroma tubuh Pak Pram semakin terasa menusuk hidungnya.
Seolah ia dikurung dalam sebuah ruangan, dan seluruh udara di dalamnya berubah menjadi aroma tubuh yang sangat khas itu.
Pramudya mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Hatinya terasa sakit mendengar ucapan itu. Kata-kata yang merendahkan diri sendiri seperti ini, sudah berapa lama istrinya menahan semua beban di hatinya seorang diri?
“Lisa ... aku takut ... kamu katakan kepadaku, aku harus bagaimana?”
“Apa yang kamu takutkan?”
Freya sedikit mengernyit. Kenapa suara Lisa terdengar dalam dan seksi? Telinganya tergelitik. Meski otaknya terasa berkabut, tapi ia masih mengenali suara itu.
“Pram ....” Freya menggeram pelan, berusaha menopang bobot tubuhnya dengan tangan kiri dan ingin berguling ke sisi kanan.
“Aku di sini.” Pramudya duduk di tepi ranjang dan membantu Freya berbaring dengan benar. Tanpa sengaja punggung tangannya menyentuh pipi istrinya.
Hangat.
Pramudya mengulurkan punggung tangan dan menempelkannya di kening Freya. Suhu tubuhnya sedikit melebihi batas normal.
Pramudya sedikit cemas melihat kondisi istrinya. Ia berputar dan turun dari ranjang, lalu mengirim pesan kepada Bayu, memintanya untuk mencarikan dokter.
Setelah itu, ia menghubungi karyawan villa dan meminta baskom dan handuk kecil, mengisinya dengan air panas dan kembali ke sisi ranjang. Semuanya dilakukan tidak lebih dari lima menit.
Freya masih berbaring dengan posisi yang sama.
Pramudya memasukkan handuk ke dalam baskom berisi air hangat, memerasnya sampai agak kering, lalu menyeka wajah dan leher Freya dengan hati-hati.
“Panas ....” Freya menggeliat dan melemparkan tangannya ke arah Pramudya.
“Sebentar lagi dokter datang ....”
“Um, panas ....” Freya berguling ke kanan, mendekati tepian ranjang tempat Pramudya berada. Kelopak matanya bergetar dan sedikit terbuka. Seraut wajah tampan terlihat berbayang di depannya.
“Pram, panas ....” Freya merengek seraya menariki ujung kaosnya sehingga sedikit tersingkap. Rasanya ia seperti sedang berendam dalam uap panas. Gerah dan lengket.
“Ya, tahan sebentar.” Pramudya berusaha menahan gerakan Freya dengan satu tangan. Tiba-tiba ia ikut merasa panas.
Mungkin karena masih di bawah pengaruh alkohol, istrinya seolah tidak bertenaga sehingga ia tidak terlalu kesulitan menahan tangannya.
Untung saja, tak lama kemudian Lisa masuk bersama seorang wanita paruh baya yang terlihat seperti seorang dokter.
“Pak, ini Dokter Intan,” ucap Lisa dengan ekspresi bersalah di wajahnya.
Pramudya mengangguk kepada sang dokter. Ia berusaha melepaskan cekalan tangannya dari Freya dan hendak turun dari ranjang, tapi Freya menahan pergelangan tangannya sambil tersenyum manja.
“Sayang, jangan pergi ... temani aku ....”
__ADS_1
Semua orang terdiam.
Pramudya menelan ludah dengan susah payah.
“Suamiku yang tampan, jangan tinggalkan aku, ya. Aku mau dipeluk ....” Kali ini Freya menarik tangan Pramudya dan menempelkannya di pipi, membuat satu telapak tangan pria itu hampir menutupi seluruh wajahnya.
Pramudya berhenti bergerak. Katanya, ucapan orang yang mabuk berasal dari dalam hatinya.
Lisa terlihat sangat syok, tapi tidak bicara sepatah kata pun.
Rencananya berhasil!
Setelah tersadar, ia menunduk dan buru-buru berbalik untuk pergi. Ia tiba-tiba kehilangan arah, terseok-seok mencari pintu yang mendadak tidak terlihat oleh matanya. Sementara Dokter Intan hanya mengulum senyum dan menghampiri ranjang untuk memeriksa Freya yang masih bergelayut di tangan Pramudya.
Pramudya separuh berdiri, satu kakinya di atas lantai, satu lututnya bertumpu di atas kasur dengan tangan yang masih dipegangi oleh Freya.
Selama Dokter Intan memeriksa, Freya tidak mau melepaskan cekalan tangannya di lengan Pramudya. Beberapa kali kakinya bahkan terangkat naik dan hendak memeluk suaminya itu seperti bantal guling. Yang paling banyak adalah ia meracau. Ada ucapannya yang terdengar cukup jelas. Ada beberapa yang tidak bisa dimengerti sama sekali.
Tapi Pramudya tidak keberatan. Ia membiarkan istrinya bertingkah sambil mendengarkan penjelasan Dokter Intan dengan saksama.
Obat hanya bisa diberikan setelah pengaruh alkohol hilang. Untuk sekarang, hanya bisa mengompresnya untuk menurunkan suhu tubuhnya.
Pramudya mengangguk tanda mengerti. Ia tidak keberatan merawat istri kecil yang menempelinya seperti bayi koala ini.
Kemudian, setelah Dokter Intan pamit undur diri, ia mengurus Freya dengan hati-hati, menimpali semua ucapannya yang tidak jelas dan membujuknya agar melepaskan dirinya lebih dulu.
Akan tetapi, kalimat yang diucapkan oleh Freya membuat Pramudya tidak mau melepaskannya lagi.
“Pramudya Antasena, temani aku tidur ....”
Dengan penampilan yang berantakan, wajah yang memerah, dan suara yang serak, ucapan itu membuat Pramudya hampir tidak bisa menahan diri.
Jantungnya melonjak-lonjak dengan cepat.
Istri yang baik ... benar-benar baik ...
Lihat bagaimana ia akan mengajarinya ketika sadar nanti.
**
Catatan:
Absinthe terbuat dari berbagai macam daun dan tumbuhan. Minuman keras ini kerap dianggap sebagai halusinogen atau pemicu seseorang berhalusinasi dengan kadar alkohol 40-90%.
sumber: google
***
Kondisi:
Freya mabuk dan nge-*cosplay***🤣**
cie, yang ga sabar nunggu besok.
Jangan lupa like dan komen biar otor makin semangat, ya😁
thank you...💙
__ADS_1