Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Ingin Menyangkal?


__ADS_3

Freya berendam selama hampir setengah jam. Selama itu pula Pramudya bolak-balik mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil namanya sebanyak lima kali. Itu artinya setiap enam menit, pria itu akan datang untuk memastikan dirinya baik-baik saja. Freya merasa tersentuh, tapi ia masih terlalu malu untuk keluar.


Kenapa Pak Pram tidak pergi saja?


Di saat seperti ini, ia lebih menyukai Pak Pram yang tidak sabaran dan acuh tak acuh. Dengan begitu barulah ia bisa keluar dari kamar mandi dengan tenang.


Freya menghela napas ketika ketukan di pintu terdengar lagi. Kali ini bahkan seperti sebuah gedoran disertai suara Pak Pram yang mulai tidak sabar.


“Kalau kamu tidak segera keluar, aku akan membongkar pintunya.”


Freya memutar bola matanya ketika mendengar ancaman itu. Lihat, itu barulah suaminya, Pramudya Antasena yang tidak sabaran dan suka menindas.


Meski sambil menggerutu, ia buru-buru keluar dari bathtub sambil berseru, “Ya, aku segera keluar.”


Ia mengeringkan tubuh dan rambutnya, lalu menyadari bahwa ia tidak membawa pakaian ganti. Karena buru-buru, ia tidak membawa apa-apa, termasuk pakaian dalam.


Sial ... terpaksa memakai kembali pakaian yang tadi dipakainya.


Begitu membuka pintu dan hendak keluar, sebuah lengan terulur tepat ke depan wajah Freya.


“Gantilah,” ucap Pramudya dengan tangan terangkat ke depan.


Wajah Freya semerah tomat. Ada cela na dalam dan bra-nya di atas sebuah kaos biru tua dan celana katun putih.


Freya gemetar. Dari mana pria ini mendapatkan satu set pakaiannya, lengkap dengan pakaian dalam!


Ia merebut pakaian itu dari tangan Pramudya dan bergegas kembali ke dalam kamar mandi. Menutup pintu dengan keras, lalu mengunci pintu dengan tangan yang masih gemetar.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi?


Apakah ia sedang berhalusinasi karena menenggak alkohol terlalu banyak?


Tapi pakaian di tangannya terasa sangat nyata.


“Cepatlah. Setelah itu sarapan dan minum obat.”


Suara itu juga terdengar sangat nyata.


Freya mencubit tangannya sendiri.

__ADS_1


Sakit.


Ini bukan mimpi.


Jadi sebenarnya dirinya yang mabuk atau Pak Pram yang mabuk? Kenapa sikap pria itu berubah 180 derajat? Atau apakah tadi malam ia mengatakan hal-hal yang memalukan sehingga Pak Pram berubah sikap? Menyatakan cinta, misalnya.


Hu-hu-hu ... siapa pun, tolong aku ....


Freya mengganti bajunya dengan cepat, lalu memberanikan diri untuk membuka pintu dan melongok ke luar. Untung saja tidak terlihat bayangan Pak Pram di mana pun.


Ia melompat dan ingin melarikan diri, tapi berpapasan dengan Pak Pram masuk sambil membawa nampan di tangannya. Tampaknya dia juga sudah mandi. Wajahnya terlihat segar dan aroma harum yang khas menguar di udara ketika dia berjalan melewati Freya.


“Kenapa berdiri di situ? Cepat ke sini, sarapan ....”


Freya pulih dari rasa terkejutnya. Ia memutar tubuhnya dengan kaku dan menatap nampan berisi sarapan yang sudah diletakkan di atas meja.


“Kemari.” Pramudya melambaikan tangan dengan tidak sabar. Gadis konyol ini, setelah sadar malah bertingkah semakin aneh.


Alih-alih berjalan mendekat, Freya justru bertanya dengan suara sangat pelan. “Kenapa kamu bisa di sini?”


Pramudya mengangkat alisnya dan balik bertanya, “Memangnya kamu mengharapkan siapa yang ada di sini?”


Tidak mau!


Ia memilin ujung jarinya dengan gugup sambil berusaha menjelaskan, “Itu ... bukan itu ... maksudku kenapa kita bisa ... kenapa kamu ... tadi ... aku ....”


Pramudya mengulum senyum ketika melihat istrinya yang cerewet, suka membantah dan pemarah itu akhirnya kehabisan kata-kata dan berusaha menjelaskan dengan canggung. Dengan ekspresi seperti itu, wajahnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.


“Kamu yang memelukku dan tidak mau melepaskan. Aku tidak bisa pergi ke mana-mana,” jawabnya dengan memasang berpura-pura teraniaya di wajahnya.


"A ... aku ...?" gumam Freya sambil menunjuk dirinya sendiri. Tidak mungkin, ‘kan ia bertingkah sememalukan itu?


Pramudya mengangguk kuat.


“Ingin menyangkal? Ada Lisa dsn Dokter Intan sebagai saksinya,” balasnya.


Tadi malam ia memang sempat meminta bantuan Lisa untuk mengganti pakaian Freya yang kotor, tapi gadis itu tetap tidak ingin melepaskan tangannya. Terpaksa ia harus berpaling dengan susah payah ketika Lisa menggantikan pakaian istrinya. Setelah itu, Lisa malah memberitahukan kepadanya di mana pakaian Freya disimpan.


"Kenapa aku tidak ingat?" Freya menggigit bibirnya. Ia merasa sangat frustasi karena sadar hal memalukan seperti itu bukannya tidak mungkin ia lakukan ketika mabuk.

__ADS_1


Pramudya memasukkan tangannya ke dalam saku celana dan perlahan-lahan berjalan mendekati Freya.


"Tidak ingat? Kamu bahkan bilang ingin memelukku setiap hari, memintaku untuk jangan melepaskan ... memintaku untuk jangan pergi ... memohon agar aku—"


“Cukup!” Freya mengangkat tangannya dan menahan di udara.


Jangan mendekat lagi.


Jangan bicara lagi.


Ini terlalu memalukan!


Sepasang mata Pramudya berkilat. Ia tetap melangkah maju, membuat Freya mundur perlahan sambil menatapnya dengan sepasang mata bulat yang terlihat kebingungan. Ia merasa penampilan istri kecilnya ini sangat imut.


Pramudya tidak tahan. Ia terus mendekat hingga tubuh Freya tertahan oleh tembok.


Ketika tubuh mereka hanya tersisa jarak beberapa jengkal, Pramudya mengurung sisi kiri dan kanan Freya dengan kedua tangannya, lalu menunduk dan berbisik di telinganya.


“Kamu bilang ‘Suamiku yang tampan, jangan pergi ... peluk aku. Sayangku, aku—“


“Diam!” Freya mengangkat tangannya dan menutupi mulut Pramudya. Bibir yang lembap dan kenyal itu terasa menggelitik telapak tangannya, tapi ia tidak ingin melepaskan. Ia tidak mau mendengar ucapan-ucapan mengerikan yang terlontar dari mulutnya sendiri tadi malam.


Ia mendongak dengan marah dan berseru, “Aku sedang mabuk, itu tidak bisa dihitung sebagai—“


"Selamat pagi! Apakah kalian tidur nyenyak semalam?"


Freya berjengkit ketika ketika mendengar derit pintu terbuka, disusul siluet Pak Bayu dan Lisa yang berderap masuk ke kamar. Barusan itu adalah suara Pak Bayu.


Keempat pasang mata saling menatap untuk beberapa saat. Keheningan yang panjang tercipta di udara.


Situasi ini ... benar-benar sulit dijelaskan.


“Kami tidak melihat apa-apa! Kalian lanjutkan saja!” Lisa yang lebih dulu bereaksi. Ia berpaling, lalu menarik tangan Bayu dan menyeretnya keluar dari kamar.


“Aku tidak lihat! Aku tidak lihat!” Bayu tersandung-sandung mengikuti Lisa.


Gawat, kalau Pramudya sampai kesal karena “hal baiknya” diganggu, bisa-bisa bonus akhir tahunnya hangus sia-sia!


***

__ADS_1


__ADS_2