
Untung saja luka bakar yang dialami Freya tidak terlalu berat. Luka di lehernya memang lebih serius karena terpapar secara langsung, tapi efeknya tidak terlalu parah karena ia langsung mengompresnya dengan air es.
Sedangkan luka bakar di dadanya tidak terlalu parah karena terhalang oleh bajunya sebelum menyentuh permukaan kulit.
Setelah diberi obat, rasa sakit dan panas tidak lagi terasa. Freya menghela napas lega. Ia duduk dengan tenang dan mendengarkan penjelasan dokter. Sedangkan Lisa yang duduk di sampingnya justru terlihat tidak tenang.
“Dokter, apakah luka ini akan meninggalkan bekas?” tanya Lisa cemas. Biar bagaimana pun, bekas luka di leher tidak akan terlihat menarik. Ia tidak mau temannya menderita karena luka bakar itu.
“Jangan cemas, karena langsung ditangani dengan baik, lukanya tidak akan melepuh dan meninggalkan bekas. Asal minum obat dan mengoleskan salep sesuai anjuran, maka semuanya akan baik-baik saja.” Dokter menjelaskan dengan tenang.
Akhirnya Lisa pun mengembuskan napas lega. Baguslah kalau begitu. Ia benar-benar khawatir Freya akan memiliki bekas luka yang jelek di lehernya.
Karena sudah diurus oleh Sekretaris Kikan, Freya tidak membayar sepeser pun ketika pergi ke bagian administrasi. Ia hanya menandatangi selembar formulir dan menyerahkannya kembali kepada petugas.
“Kamu ingin kembali ke kantor atau pulang?” tanya Lisa.
“Sebaiknya kembali ke kantor dulu,” jawab Freya.
“Oke. Ayo, kembali.”
Freya mengangguk dan berjalan bersisian dengan Lisa ke pintu masuk rumah sakit. Sebenarnya ia tidak mau pulang karena takut Lisa tahu ia telah tinggal bersama CEO mereka. Ia tidak ingin menambah masalah yang tidak perlu.Takutnya Lisa akan histeris dan membuat keributan.
Bukannya ia takut Lisa akan berubah dan ikut membencinya, hanya saja .... ia tidak bisa menahan kehebohan temannya itu.
Kedua gadis itu terkejut karena mobil yang tadi mengantar mereka masih berada di posisi semula.
“Apakah rumah sakit ini juga milik CEO? Kenapa tidak ada yang mengusir sopir itu?” bisik Lisa penasaran.
Freya menggedikkan bahunya. “Aku juga tidak tahu.”
Ketika mereka masih berbisik-bisik, sopir telah melihat mereka dan segera menghampiri.
Pria itu turun, membukakan pintu, lalu menunduk dengan sopan sambil berkata, “Silakan, Nyonya.”
Lisa mencubit pelan pinggang Freya dan terkikik puas. Ia benar-benar tidak sungkan ikut menikmati kemewahan yang didapatkan oleh teman barunya itu.
Ia mengempaskan bokongnya di atas kursi dan bersandar dengan nyaman. Karena luka Freya sudah ditangani, ia sudah tidak merasa terlalu cemas seperti ketika berangkat tadi.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menemaniku,” ucap Freya dengan tulus.
Lisa melambaikan tangannya di udara. “Tidak perlu sungkan. Kamu sudah bersedia memberiku tumpangan pulang waktu itu, tentu saja aku harus membalasnya. Tidak ada banyak orang yang bersedia memberikan tumpangan pada zaman ini, asal kamu tahu.”
Tawa Freya hampir menyembur. Teman barunya ini benar-benar sangat unik sampai-sampai ia tidak dapat mendeskripsikan karakternya dengan tepat. Rasanya dia sedikit mirip dengan seseorang ...
Freya mengerutkan keningnya dan berpikir keras. Tingkah laku dan cara berbicara Lisa mengingatkannya kepada ... wakil CEO! Ya, itu dia! Lisa sangat mirip dengan Pak Bayu!
Freya tidak dapat menahan tawanya lagi. Ia terbahak sampai hampir menangis. Mengapa kedua orang itu bisa terlihat sangat mirip. Apakah mungkin mereka berjodoh?
“Hei, apa yang kamu tertawakan? Kamu menertawaiku, ya?” tuduh Lisa sambil pura-pura memasang wajah galak.
Freya mengangguk tanpa ragu.
“Aku memang sedang menertawaimu,” jawabnya di sela tawanya.
Lisa membalasnya dengan kesal. Ia berpura-pura merajuk dan tidak mau berbicara dengan Freya lagi.
Kedua gadis itu terus mengobrol dan bercanda hingga mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan pintu utama Antasena Grup. Sang sopir segera turun dan membukakan pintu mobil.
“Nyonya, silakan.”
“Tidak bisa, Nyonya. Ini perintah dari Tuan. Anda akan membuat saya dalam kesulitan jika bersikeras membuka pintu mobil sendiri.”
Freya terdiam. Mengerutkan bibirnya. Lalu mendesah tak berdaya. Sudahlah ... tidak perlu meributkannya. Orang-orang ini juga hanya menjalankan pekerjaan mereka.
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih,” ucap Freya sebelum berbalik dan melangkah menuju pintu masuk.
“Kamu sangat dimanjakan oleh suamimu. Aku mulai iri.” Suara Lisa terdengar seperti sedang merajuk.
Freya menyodoknya dan membalas, “Kalau begitu cepatlah menikah. Siapa tahu kamu juga bisa disiram air panas sepertiku.”
Lisa tertegun sejenak, lalu tertawa keras-keras karena sindiran itu.
“Sial. Kalau untuk menjadi Nyonya Muda itu harus disiram air panas dan dibenci semua orang, aku lebih baik jadi orang miskin saja,” ejeknya.
Freya memutar bola matanya dengan bosan. “Maka diamlah. Berhenti mengeluh.”
__ADS_1
“Baik. Aku sudah tahu aku salah. Tapi—” Lisa tidak menyelesaikan ucapannya. Langkah kakinya pun berhenti tiba-tiba ketika melihat keramaian di aula utama, tepat di depan pintu masuk.
“Ada apa ini?” tanya Lisa kepada salah seorang resepsionis yang berada di dekatnya.
“CEO Pram mengamuk,” bisik gadis itu takut-takut. Ia tidak berani menatap ke arah Freya.
“Hah?” Freya dan Lisa menoleh ke arah sekelompok orang yang sedang membuat keributan di aula itu.
Siapa yang mengamuk?
Dari jauh, Freya melihat Sekretaris Kikan sedang berjalan menghampirinya.
“Nyonya, Anda sudah kembali,” sapa Kikan dengan hormat.
“Ya,” jawab Freya singkat. Ia sungguh bimbang menghadapinya.
Freya tidak terbiasa dengan Sekretaris Kikan yang bersikap sangat hormat. Tiga hari yang lalu, dirinyalah yang selalu menunduk dan menyapa wanita itu dengan sangat sopan dan segan.
“Bagaimana kondisi Anda?” tanya Kikan lagi.
“Sudah lebih baik. Dokter sudah memberikan antibiotik, pereda nyeri dan salep untuk luka bakar.”
“Syukurlah kalau begitu ....” Kikan tersenyum sopan dan menyodorkan botol silver ke arah Freya. “CEO meminta Anda untuk menuangkan ini kepada orang-orang yang ada di sana. Jika tidak ada yang mau mengaku, siramkan saja kepada mereka semua secara merata. Jangan khawatir, kalau kurang, aku akan membawakan termos yang lain.”
Freya terbengong menatap botol di tangannya. Rupanya itu adalah termos air panas? CEO Pram menyuruhnya menyirami orang-orang itu dengan air panas?
Gila!
Apakah pria itu tidak takut dituntut?
Bukan hanya Freya, bahkan Lisa pun merasa merinding. CEO mereka ternyata sangat kejam!
Akan tetapi, diam-diam Lisa bertepuk tangan dalam hati dan mengacungi empat jempol untuk bosnya. Menjadi seorang pria harusnya seperti itu, harus bisa menjaga dan membela istri, itu baru benar.
Ia bersumpah dalam hati, mulai sekarang ia adalah penggemar nomor satu CEO Pram yang kejam itu. Ia akan meminta Freya untuk menjadi istri yang baik dan berbakti!
Sayang sekali Freya tidak mengetahui isi kepala temannya itu. Kalau dia tahu, mungkin orang pertama yang disiram air panas adalah Lisa!
__ADS_1
Biarkan saja otaknya melepuh!
***