
“Sayang, aku sudah selesai,” ucap Freya setelah menghabiskan segelas susu cokelat hangat dan sepiring croffle.
Ia sangat puas. Croffle-nya enak, garing di luar dan rasa manis dari gula halusnya pas. Susunya harum dan gurih, juga rasanya tidak terlalu manis. Semuanya sangat cocok dengan seleranya.
Harus ia akui, setelah terbiasa sarapan dengan nasi uduk dan gorengan yang dijual abang-abang dalam gerobak di pinggir jalan, pembaruan menu makanan di kediaman Pak Pram telah membuat lidahnya sedikit manja. Ia tidak pernah bisa menemukan rasa gorengan yang pas lagi setelah semua hidangan yang ia santap naik level.
Sebenarnya hal itulah yang mendorongnya untuk sesekali tetap memasak sendiri di dapur. Ia tidak ingin perut dan lidahnya terbiasa manja, lalu terkejut ketika kehidupannya kembali ekosistem awal di tempat kumuh yang tidak pernah didatangi para orang kaya.
Pramudya melihat perubahan emosi di wajah Freya yang melintas dan berkelebat cepat, berganti dari senang menjadi sedih, lalu muram dan seperti tidak ada harapan. Ia bahkan bisa mendengar dengan jelas ketika gadis itu menghela napas dan mengembuskannya seperti sedang menanggung beban yang sangat berat.
Rasanya ia juga ingin menghela napas melihat kelakuan istrinya. Apalagi yang sedang dipikirkannya sekarang? Kenapa gadis itu sangat suka berpikir sembarangan?
Pramudya melihat jam tangannya. Sudah hampir pukul tujuh. Ia bangun dan berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa. Berinteraksi dengan gadis itu telah menguras tenaganya. Ia tidak ingin tiba di kantor dengan kondisi hanya separuh bernyawa. Masih ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehnya.
Freya yang masih melamun langsung terkejut. Ia melompat bangun dan mengejar suaminya yang sudah hampir mencapai pintu sambil mencibir dalam hati.
Pria ini, sebentar baik ... sebentar jutek ... sebenarnya maunya apa?
Tidak bisakah lebih konsisten?
Kenapa berubah-ubah sepanjang waktu?
Huh!
Dengan langkah kakinya yang panjang-panjang, Pramudya lebih dulu tiba di samping Audi hitam keluaran terbaru yang terparkir di depan. Ia memutar ke kursi pengemudi, membuka pintu, masuk, duduk, lalu memasang sabuk pengaman.
Freya yang baru berhasil menyusul berhenti mendadak. Ia tidak salah lihat, kan?
Ke mana perginya sopir?
Hari ini Pak Pram yang akan mengemudi sendiri dan mengantarkannya ke kafe?
Ada banyak pertanyaan yang tumpang tindih di dalam kepala Freya, tapi Pramudya tidak memberinya kesempatan untuk berpikir sembarangan lagi.
Ia menurunkan kaca jendela mobil di kursi penumpang dan memberi perintah, “Masuk, aku sudah hampir terlambat.”
“Oh ....” Freya buru-buru membuka pintu dan duduk di samping Pramudya.
Kalau begitu kenapa tidak suruh sopir saja yang mengantarkanku?
Tentu saja pertanyaan itu hanya dilontarkan Freya di dalam hati.
Bercanda, ya. Siapa yang berani mengatakannya langsung? Ia masih menginginkan kehidupan yang lumayan enak ini.
Freya memakai sabuk pengaman dan berusaha untuk duduk dengan tenang. Jarak ini bahkan lebih dekat daripada saat di ruang makan tadi. Tiba-tiba ia merasa udara mencekik paru-parunya, memenuhinya dengan aroma Pak Pram yang memabukkan, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap kalem.
Tahan dirimu, Freya ... jangan sampai mimisan di samping Pak Pram.
Freya mencubit pahanya dan mengingatkan dirinya sendiri berkali-kali. Akan sangat memalukan kalau hal itu sampai terjadi.
__ADS_1
Karena sudah sepakat untuk tidak membahas masalah pribadi dan tidak ada masalah pekerjaan yang perlu dibicarakan, sepasang suami istri itu hanya diam di sepanjang perjalanan menuju kafe.
Pramudya fokus mengemudi, sementara Freya mengalihkan pandangan dan mengamati gedung-gedung tinggi yang seolah berkejaran di luar sana. Jalanan sudah cukup padat, tapi masih dalam batas normal. Setidaknya arus kendaraan dari kanan dan kiri masih dapat melaju ketika lampu merah berganti hijau, tidak memadat dan menyebabkan kemacetan.
Ding.
Suara pesan yang masuk mengejutkan Freya. Suasana di dalam mobil terlalu sunyi sehingga nada deringnya terdengar dua kali lebih keras dari biasanya.
Ia mengambil ponsel dari dalam tas. Pop up pesan yang mengambang di layar ponselnya membuatnya sedikit panik.
[Kata pelayan kamu pergi bersama Pramudya. Sudah sampai di mana?]
Tanpa membuka dan membaca pesan itu, Freya mengusap permukaan layar ponsel sehingga pesan itu menghilang.
Yoga si gila itu ... apa yang dilakukannya?
Ding.
[Aku masih di depan rumah Pramudya.]
Ding.
[Kamu di mana?]
Ding.
Ding.
[Aku bawain bubur ayam kesukaan kamu]
Ding.
[Nanti keburu dingin]
Pramudya menahan diri untuk tidak melirik dan mengintip. Siapa yang mengirimi istrinya pesan bertubi-tubi seperti itu?
Dengan gugup Freya mengalihkan setelan suara ke mode getar. Meskipun Pak Pram terlihat tidak peduli, ia tidak mau memancing macan yang sedang tidur.
Siapa yang bisa menebak isi hati pria itu? Pendiriannya selalu berubah-ubah. Tidak konsisten. Dan tidak rasional.
Pria yang sangat berbahaya. Lebih baik menjaga situasi tetap aman.
Freya sudah memutuskan akan membalas pesan dari Yoga setelah Pak Pram menurunkannya di kafe.
Akan tetapi, tampaknya Yoga memang sengaja mempersulit dirinya.
Freya memaki dalam hati ketika ponselnya tidak berhenti bergetar di dalam tasnya.
Lampu ponsel berkedip-kedip biru muda, pertanda ada panggilan masuk.
__ADS_1
Bedebah ini ....
“Angkat saja.” Pramudya akhirnya tidak tahan dan bersuara.
“Eng, tidak penting. Nanti saja.”
“Oh.” Pramudya mengangkat alisnya, melirik sekilas ke samping, lalu kembali menghadap ke depan dengan serius.
Freya menggigit bibirnya karena gugup. Ia merasa seperti sedang menjadi seorang istri tidak tahu diri yang terpergok berselingkuh oleh suami.
“Sial!” Freya mengumpat keras ketika ponselnya bergetar lagi.
Pramudya sedikit terkejut karena itu adalah pertama kalinya Freya mengumpat secara terang-terangan dengan suara yang sangat keras.
“Maaf ... keceplosan ....” Freya menyeringai kikuk, mengambil ponselnya sekali lagi dan menggantinya ke mode senyap.
Akhirnya hening.
Diam-diam Freya mengembuskan napas lega, tidak lupa bersumpah dalam hati akan menghajar Yoga ketika bertemu nanti.
Di saat yang bersamaan, akhirnya mobil berbelok memasuki pelataran kafe. Freya memegang tasnya erat-erat dan membuka pintu mobil.
“Um ... terima kasih,” ucapnya sebelum turun dari mobil. Ia bahkan tidak berani menatap mata suaminya. Benar-benar seperti istri yang sudah berbuat salah dan tertangkap basah.
Pramudya mengamati istri kecilnya yang melompat turun dan melarikan diri dengan cepat.
Hanya begitu saja?
Apakah dia sudah sangat tidak sabar membalas pesan dari pacarnya? Atau sudah sangat ingin mengirimkan lokasi terkini agar pacarnya datang menjemput?
Pramudya mencibir dan menginjak pedal gas dalam-dalam.
Peduli setan gadis itu ingin bertemu dengan siapa, atau berkencan dengan siapa.
Itu sama sekali bukan urusannya.
Pramudya berusaha meyakinkan dirinya bahwa itu memang bukan urusannya.
Ya, ia harus yakin bahwa itu bukanlah urusannya.
Kalau tidak, takutnya ia akan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.
Mengurung istrinya di rumah dan melarangnya bertemu dengan Yoga Pratama, misalnya.
Atau ....
Sudahlah. Lupakan saja.
**
__ADS_1