Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Mengetahui Kebohongannya (2)


__ADS_3

Bayu berdiri dengan kedua tangan dimasukkan di dalam saku celana. Ia mengamati Pramudya yang sedang serius di depan laptopnya.


Sudah berjam-jam sahabatnya itu tidak berubah dari posisinya. Ia sendiri sudah bolak-balik dari kamar ke dapur, ke ruang tamu untuk nonton, main game di ponsel, rebahan lagi di kamar, tapi Pramudya masih belum selesai.


“Perlu kubantu?” tawarnya, tidak tega melihat Pramudya memaksakan diri seperti itu.


“Tidak usah. Yang kamu lakukan sudah cukup. Istirahatlah, kondisimu belum pulih sepenuhnya,” jawab Pramudya tanpa mendongak.


“Kata siapa? Lihat, aku sudah bisa mengangkat tangan,” bantah Bayu seraya menaikkan kedua tangannya di udara. Kondisinya sudah jauh membaik meski dokter masih menyarankannya untuk istirahat selama beberapa minggu lagi.


“Kamu yakin orang-orang suruhan Wisnu Aditama yang melakukan hal itu?” Pramudya mengalihkan topik pembicaraan.


“Ya. Dia pelakunya. Beberapa hari lalu orang-orangnya mengintai di sekitar apartemen. Sepertinya mereka mengikutimu ketika pergi ke sana, lalu berkeliaran di sekitar situ untuk mencari informasi.”


“Bagaimana dengan Tari?”


“Tidak ada pergerakan. Sepertinya dia sangat puas karena putranya berhasil mendapatkan Antasena Grup.”


Pramudya mendengkus. Wanita yang tamak akan harta kekayaan itu terlalu mudah berpuas diri.


“Kamu tidak bilang kepada istrimu kalau datang ke sini?” tanya Bayu seraya duduk di depan Pramudya.


“Tidak. Aku bilang kamu bangkrut. Mana mungkin masih punya apartemen.”


“Apa?! Kamu menyumpahiku? Dasar kamu bajingan! Aku benar-benar sial—”


“Aku membeli dua villa di Bali. Satu untuk istriku, satu untukmu.”


“... aaah ... maksudku aku benar-benar beruntung memiliki sahabat sepertimu. Pram, kamu jangan sungkan. Mana mungkin aku marah. Kita ‘kan teman. Tidak mungkin aku tega melihatmu diusir dari apartemen istrimu. Katakan saja kepadanya kalau aku sudah menjadi gembel, tidak punya apa-apa lagi ... aku tidak keberatan sama sekali.” Bayu bangun sambil melambai-lambaikan tangannya dengan bersemangat.


“Kamu mau minum apa? Kopi? Air dingin? Lapar tidak?” tanyanya.


Pramudya terlalu malas untuk meladeni berandalan yang plin-plan itu. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dan kembali sebelum Freya pulang.


Hari itu ia terpaksa menumpang di apartemen Bayu untuk melaksanakan satu langkah terakhir yang paling krusial, tidak boleh ada kesalahan.


Setelah ini, semua akan benar-benar selesai.


**


Ruang tamu masih gelap ketika Freya kembali ke apartemen. Ia menekan saklar di dekat pintu. Pramudya yang biasanya duduk menunggunya sambil berkutat dengan laptop tidak terlihat.


Apakah pria itu pergi?


Kunci yang biasa dipegang Lisa memang ia berikan kepada Pramudya. Ia khawatir Pram akan kesulitan ke mana-mana jika ia sedang ke kampus atau kafe.


Freya melepaskan sepatunya dan menyimpannya di rak, lalu berjalan ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Entah kenapa ucapan Yoga tentang Pram yang berbohong cukup mengganggunya seharian.


Apa kebohongan Pramudya?


Isi perutnya terasa seperti sedang diaduk karena terlalu banyak praduga yang ada dalam kepalanya.

__ADS_1


Bagaimana ia harus menghadapi pria itu jika dugaannya benar?


Bagaimana kalau ternyata dugaannya salah?


Apa yang harus dilakukannya terhadap Pramudya Antasena?


Di satu sisi ia masih marah karena pria itu mengusirnya pergi dengan semena-mena, lalu datang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Masalah ini, ia belum pernah membahasnya dengan Pramudya. Ia terlalu takut menghadapi kenyataan yang mungkin tidak dapat diterimanya.


Ia pernah memikirkan beribu alasan mengapa Pramudya bersikap seperti itu, tapi tidak ada satu pun yang membuatnya merasa cukup yakin.


Di sisi lain, ia tidak tega mengusir pria itu pergi. Atau mungkin karena ia masih punya rasa?


Freya menggigit bibir dan memejamkan mata.


Sekeras apa pun ia berusaha untuk membenci Pramudya Antasena, hatinya tidak pernah bisa.


“Freya?”


Panggilan dari luar membuyarkan lamunan Freya. Ia mengerjap dengan linglung dan menajamkan telinga.


“Kamu sudah pulang?”


Freya menghela napas. Itu memang suara pria yang sedang dipikirkannya.


Ia bangun dari ranjang dan pergi membuka pintu.


“Ada apa?” tanyanya.


“Kapan kamu pulang?”


“Kamu tidak ingin tahu aku dari mana?” tanya Pramudya seraya mengulas senyum menggoda.


“Untuk apa menanyakan sesuatu yang bukan urusanku.”


Senyuman Pramudya membeku mendengar jawaban itu.


"Kalau tidak ada hal penting, aku mau tidur." Freya sudah ingin menutup pintu, tapi Pramudya menahannya.


“Boleh bicara sebentar?” tanya pria itu.


Freya menaikkan alisnya. Tadi Yoga yang ingin bicara, sekarang pria ini juga ingin bicara. Apakah mereka janjian?


“Bicara apa?” tanya Freya, masih memasang ekspresi datar di wajahnya.


“Kudengar butik sedang sepi, banyak pelanggan yang komplain dan meminta retur,” ujar Pramudya dengan hati-hati.


Mata Freya memicing. “Dari mana kamu tahu?”


“Um, Lisa memberitahukannya kepada Bayu, lalu Bayu mengatakannya kepadaku.”


“Lisa masih berhubungan dengan Pak Bayu?” tanya Freya. Kenapa si cerewet itu tidak pernah mengatakan hal ini kepadanya?


“Ya. Mereka masih saling bertukar kabar. Aku dan Bayu juga.”

__ADS_1


“Oh.” Kecurigaan di hati Freya semakin besar, tapi ia masih menahannya. Ia ingin melihat sampai sejauh mana Pramudya Antasena bermain-main dengannya.


Pramudya mengeluarkan sebuah black card dari dompetnya dan menyerahkan benda itu kepada Freya.


“Password-nya tanggal ulang tahunmu,” ucapnya.


Freya menatap kartu itu dan wajah Pramudya bergantian. Sebagai pelaku bisnis, ia tahu pemegang kartu ini harus memiliki penghasilan minimal 1 juta USD per tahun. Itu setara dengan Rp 14,3 miliar.


Tangannya terkepal erat. Jadi ini kebohongan yang dimaksudkan oleh Yoga? Atau ada berapa banyak kebohongan lainnya?


Lucu sekali. Ia memberikan kartu emas yang isinya tak seberapa kepada bajingan ini karena merasa kasihan. Sekarang lihat siapa yang harus dikasihani? Dirinya benar-benar buta karena masih menyukai pria brengsek ini.


“Aku pikir kamu bangkrut. ATM ini, kamu tidak keluar hari ini untuk pergi merampok bank, 'kan?” tanyanya dengan nada mencemooh. Ia tidak berniat menerima kartu itu.


“Freya ... aku ... aku bisa menjelaskannya. Aku tidak bermaksud untuk menipumu.” Pramudya berhenti bicara sebentar, mengatur debaran di dadanya yang semakin menggila. Tatapan istrinya sangat menakutkan, membuat semua keberanian yang tadi dikumpulkannya dengan susah payah sekarang menyusut perlahan.


Freya bersedekap dan menunggu Pramudya melanjutkan ucapannya.


“Sebenarnya masih ada perusahaan di luar negri. Antasena Grup memang bangkrut, tapi ... um, itu ... aku ....” Suara Pramudya perlahan melemah. Tangannya yang sejak tadi terjulur di udara tanpa sambutan akhirnya terkulai.


“Aku tahu aku salah. Tidak ada pembelaan untuk itu. Maaf ....”


Freya setengah mati menahan agar matanya tidak basah. Kelemahannya yang sialan. Emosi yang ditahan lebih sering membuatnya menangis. Ia tidak mau menangis di depan bajingan ini.


“Menyenangkan bukan? Mempermainkan aku seperti ini?” tanyanya dengan suara gemetar.


“Freya, aku tidak—“


“Kamu pasti sangat senang, ‘kan? Sudah puas? Senang melihatku seperti orang bodoh? Senang melihatku menderita? Kamu bajingan! Pramudya Antasena, aku membencimu! Aku membencimu! Bawa barang-barangmu dan pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu! Cepat pergi dari sini!”


Pramudya maju dan memeluk Freya. Ia menekan bibir istrinya dan menjarah dengan kuat. Dalam ciuman itu ada beragam emosi yang bercampur menjadi satu. Ia sudah menahan semua keinginan ini terlalu lama. Ia sudah hampir mati karena rasa rindu yang menyiksa. Ia juga takut Freya akan benar-benar mengusirnya pergi dan tidak menerimanya kembali.


Freya menggeram marah. Ia meronta sekuat tenaga, menendang dan memukuli Pramudya tanpa ampun.


Pramudya berusaha menahan kedua tangan Freya sambil terus menciumi bibir yang sangat manis itu. Ia tidak menyangka istrinya akan mengamuk seperti ini.


Tiba-tiba ia mengerang ketika tendangan Freya mengenai tulang keringnya dengan keras. Rasa ngilu menjalar sampai ke kepalanya. Ia terbungkuk ketika satu pukulan mendarat lagi di perutnya. Ia meringis kesakitan. Sepertinya istri kecilnya benar-benar marah.


“Kamu bajingan! Brengsek! Sialan! Kita sudah bercerai! Jangan lupa itu! Aku akan melaporkan hal ini dengan tuduhan pe le cehan!” Freya berteriak penuh amarah, masih berusaha melepaskan pelukan Pramudya yang sangat ketat.


Pramudya menangkap tangan Freya yang hendak meninju dadanya lagi.


“Freya, sebenarnya ... kita masih suami istri,” ucapnya pelan.


Ia tidak bisa menahan rahasia itu lebih lama lagi.


***


yuhuu, apa yang terjadi selanjutnya? 😁


jangan lupa komen dan like dulu, ya


thank you😍

__ADS_1



__ADS_2