
Setelah selesai membuatkan secangkir kopi untuk Pramudya, Freya menahan nampan dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya terulur untuk mendorong pintu. Ia sedikit memiringkan tubuhnya agar nampan bisa lewat, lalu menarik daun pintu itu hingga kembali tertutup.
Tepat ketika ia hendak berputar dan kembali ke kantor, terdengar suara teriakan yang sangat kencang datang dari arah depan.
Freya belum sempat merespon, seseorang telah menabraknya dengan sangat keras. Nampan di tangannya terbalik. Cangkir berisi kopi panas tergelincir. Separuh isinya menyiprat ke leher Freya dan membasahi dadanya, sisanya tumpah mengenai punggung kakinya.
Sepersekian detik kemudian, rasa panas dan perih yang menyengat membuat Freya mendesis. Ia tidak sempat melihat siapa yang baru saja menabraknya. Otaknya merespon dengan cepat, memikirkan penanganan pertama untuk luka bakarnya.
Ia buru-buru berlari kembali ke pantri, membuka kulkas dan mencari botol berisi air es. Untung saja masih ada satu botol yang terisi penuh. Ia membawa botol air es itu bersama sebuah serbet bersih dari lemari perabotan.
Para wanita di dalam pantri hanya menatap ketika ia bergegas ke toilet. Tidak ada satu pun yang datang untuk membantu, atau sekadar bertanya apa yang terjadi kepadanya. Beberapa justru tampak mencibir, bahkan ada yang diam-diam menyeringai puas.
Freya menggertakkan giginya dan mengabaikan mereka semua. Manusia yang hatinya dipenuhi iri dan dengki seperti itu tidak layak menjadi temannya.
Ia mendorong pintu kamar mandi khusus karyawan wanita dan berdiri di depan cermin. Blus kuning aprikot yang ia kenakan dipenuhi bercak hitam. Ia melonggarkan dua kancing, menatap permukaan kulitnya yang semakin merah.
Ia menuangkan air es ke permukaan serbet sampai basah seluruhnya, lalu menempelkannya ke leher dan dadanya. Hawa dingin meredakan sensasi terbakar di permukaan kulitnya. Ia mendongak dan mendesah pelan. Ia menuangkan air es ke serbet lagi ketika rasa dinginnya mulai berkurang.
Akan tetapi, setelah mengulangi hal itu beberapa kali, rona merah di permukaan kulitnya semakin jelas. Sepertinya harus pergi ke rumah sakit.
Freya sangat ingin mengumpat. Sekarang bagaimana caranya menyampaikan hal ini kepada Pak Pram? Apakah pria itu akan berpikir bahwa dirinya sangat lemah dan ceroboh?
Sial. Benar-benar sial. Seharusnya tadi ia lebih berhati-hati. Ada begitu banyak orang yang mendadak membencinya karena status barunya sebagai “Nyonya Muda”. Mulai sekarang ia harus meningkatkan kewaspadaan.
Brak!
Freya terkejut karena pintu toilet terempas hingga terbuka lebar.
“Freya!” Lisa menghambur masuk dengan cemas. “Apa yang terjadi? Kudengar tadi seeorang menabrakmu di depan pantri. Apakah kamu terluka? Coba aku periksa.”
Freya masih tercengang ketika Lisa menerjang ke arahnya seperti angin puyuh. Teman barunya itu bahkan tidak menunggu jawabannya, langsung mengambil serbet yang masih menempel di dada dan memeriksa dengan serius.
“Sialan. Perempuan-perempuan itu memang cari mati. Luka ini terlihat serius. Kenapa kamu masih di sini? Ayo, aku antar ke rumah sakit.” Lisa mengomel panjang lebar sambil membantu mengancingkan blus Freya.
__ADS_1
“Em ... aku belum izin ke Pak Pram,” gumam Freya.
“Ck! Kamu pesan taksi online dulu, aku pergi izin untukmu.”
“Tapi—“
“Kamu mau kulitmu melepuh dan meninggalkan bekas luka?”
“Ponselku di kantor.”
“Ya, sudah. Tunggu apa lagi? Cepat pergi ambil sekalian izin!” Lisa melotot dengan ganas. Kalau tadi bukan karena ia kebetulan ingin ke pantri dan membuat teh, ia tidak akan tahu kalau teman barunya yang bodoh ini baru saja dibully oleh sekelompok perempuan tak berotak.
Freya terpaksa menyetujui perkataan Lisa karena ia merasa luka bakar akibat siraman kopi panas itu semakin perih, masuk selapis demi selapis lebih dalam di bawah permukaan kulitnya.
Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju kantor CEO. Lisa mengetuk pintu dengan kuat, hampir menggunakan seluruh tenaganya.
“Masuk.”
Lisa langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar ketika mendengar suara CEO Pram.
Pramudya yang sedang berbicara dengan Kikan langsung menoleh. Kedua orang itu terlihat terkejut melihat penampilan Freya.
“Apa yang terjadi?” tanya mereka bersamaan.
“Ada seseorang yang sengaja menabrak Freya ketika sedang membawakan kopi Anda,” jawab Lisa dengan intonasi suara yang diturunkan, tapi tetap terdengar tegas.
Meskipun kesal karena Freya ditindas, ia masih berusaha menahan diri agar tetap sopan di depan CEO mereka. Ia sengaja mengatakannya dengan lantang agar pria itu memberikan keadilan untuk Freya. Kalau tidak, ia akan membujuk Freya agar meninggalkan pria tidak berguna seperti itu.
“Kikan, atur orang untuk mengantar mereka ke rumah sakit,” perintah Pramudya sembari mengamati penampilan Freya yang menyedihkan. Hanya disuruh membuatkan kopi, kenapa bisa jadi seperti ini?
“Baik, Tuan.” Kikan meninggalkan berkas laporan di atas meja dan bergegas menghubungi anak buahnya. Ia mengkoordinasikan dengan cepat sehingga tidak sampai lima menit kemudian, Freya dan Lisa sudah berada di dalam mobil mengantarkan mereka ke rumah sakit.
“Sial. Aku akan mematahkan kaki dan tangan jal*ng yang melakukan hal ini kepadamu,” umpat Lisa emosi. “Apakah kamu melihatnya? Siapa yang melakukannya?”
__ADS_1
Freya menggeleng. Tadi ada segerombolan wanita yang menerjang ke arahnya. Mereka tampaknya sedang bercanda sambil berjalan, lalu entah sengaja atau tidak menabrak dirinya yang baru keluar. Setelah itu, gerombolan itu langsung membaur sehingga ia tidak sempat melihat siapa yang menabraknya.
“Pasti bisa dicek lewat rekaman CCTV.” Lisa mengepalkan jemarinya dengan bersemangat.
Ia menatap Freya dengan sungguh-sungguh dan berkata, “Minta saja CEO untuk memeriksa rekaman CCTV di lorong depan pantri. Tidak mungkin pelakunya tidak terlihat.”
“Sudahlah. Lupakan. Jangan membuat masalah. Aku sudah cukup dibenci, jangan membuat mereka memiliki alasan untuk semakin membenciku.” Freya menggumam pelan. Ia merasa tidak berdaya. Kenapa ada banyak orang yang berpikiran begitu sempit? Sangat menyedihkan.
Tiba-tiba bibir Lisa mengerucut. Ia menatap Freya seperti sedang merajuk. Ia mengangkat tangan dan menusuk lengan Freya dengan telunjuknya.
“Kamu menghilang dua hari tanpa kabar, lalu kembali dengan status Nyonya Muda, tentu saja semua orang terkejut,” gerutunya.
Freya tidak bisa tidak tertawa. “Kamu juga sudah mendengarnya? Gila. Kabar itu menyebar dengan sangat cepat.”
“Tentu saja, wakil CEO memanggilmu Nyonya Muda di depan semua orang, bagaimana bisa tidak menyebar? Kalau tidak menyebar, itu baru aneh.”
Freya tertawa lagi. Ia menatap Lisa dan merasa sangat berterima kasih. Untung saja teman barunya ini tidak berubah.
“Kamu tidak marah padaku?” tanyanya.
Sepasang mata Lisa membola. “Untuk apa marah?” tanyanya.
“Aku justru senang kamu menjadi Nyonya Muda dari Keluarga Antasena. Siapa tahu kamu akan memeliharaku dan mengangkatmu menjadi asistenmu, lalu aku tidak perlu bekerja keras lagi untuk mendapatkan uang. Bukankah itu terlalu menyenangkan?” imbuhnya lagi.
Freya hanya bisa menggelengkan kepala dan balik menusuk pipi Lisa dengan telunjuknya. “Dasar mata duitan! Kamu ingin memanfaatkanku, ya?”
“Punya teman yang bisa dimanfaatkan, kenapa diam saja? Bodoh kalau aku hanya diam saja ....” Lisa tertawa dan menjulurkan lidahnya.
Freya tertawa untuk yang ketiga kalinya. Rasa sakit di leher dan dadanya tidak lagi terasa.
Kali itu, ia tidak lupa meminta nomor telepon Lisa dan menyimpannya di kontak dengan nama “Bestie”.
Ada seorang teman di sisinya, rasanya cukup menenangkan ....
__ADS_1
****