Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Balok Es Juga Bisa Gugup


__ADS_3

Pramudya terbangun dengan pengar yang luar biasa. Kepalanya seakan sedang ditekan oleh mesin kompresor dengan sangat kuat.


Langit-langit kamar terasa berputar-putar dan hendak menimpa dirinya. Spontan ia langsung mengelak dan berguling ke kiri, hanya untuk menimpa tubuh Bayu yang sedang berbaring miring, lalu tersangkut di pinggangnya.


Bayu terbangun karena terkejut.


Posisi ini ... benar-benar ambigu .....


“Bajingan!” Bayu mengumpat keras.


Ia semakin panik ketika melihat Pramudya yang merangkak di atas tubuhnya, mencoba untuk bangun.


Tanpa berpikir dua kali ia mengangkat kaki dan mendorong tubuh Pramudya dengan keras sehingga akhirnya benar-benar jatuh terguling di atas lantai.


Setelah otaknya telah bekerja sepenuhnya, Bayu menuding dan berteriak dengan marah, “Dasar brengsek! Apa yang ingin kamu lakukan kepadaku? Aku baru tahu ternyata kamu adalah tipe pria seperti itu. Pantas saja—“


“Tutup mulutmu!” Pramudya bangun dengan susah payah dan memelototi Bayu dengan sadis. Ia menahan dorongan yang sangat kuat untuk menampar sahabatnya yang tidak berguna itu sampai otaknya kembali lurus.


“Kamu ... kamu ....” Bayu tergagap dan buru-buru menutup dadanya yang terekspos.


Semalam, mungkin karena pengaruh alkohol, tubuhnya terasa sangat gerah sehingga ia melepaskan tiga kancing kemejanya meskipun suhu pendingin udara dalam ruangan itu telah berada di batas maksimal.


Pramudya terlalu sakit kepala untuk meladeni sahabatnya itu. Tertatih-tatih ia berjalan ke kamar mandi dan hendak membersihkan diri. Akan tetapi, ketika kakinya menginjak lantai, ia menyadari kalau sepatunya sudah dibuka, jasnya juga tersampir dengan rapi di gantungan yang ada di samping ranjang.


Ia menoleh dan menatap Bayu. Tidak mungkin manusia yang tidak berguna itu yang membantu dirinya semalam. Itu berarti ... apakah Freya yang melakukannya?


Pramudya beranjak ke kamar mandi dengan kepala yang semakin pusing. Mulanya ia pikir wine itu tidak akan berpengaruh apa-apa. Siapa yang tahu bahwa efeknya akan timbul belakangan. Ia juga tidak pernah minum-minum sebanyak itu sebelumnya. Semalam entah setan apa yang merasukinya sampai bertindak di luar batas seperti itu.


Hal terakhir yang ia ingat adalah ia mendekat dan memanggil nama istrinya ... lalu ... apa yang ia lakukan selanjutnya?


“Sial.” Pramudya mengumpat dan memijit pelipisnya.


Ia tidak dapat mengingat apa pun. Apakah ia melakukan hal yang memalukan? Atau mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia katakan?


Sudahlah. Yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi. Anggap saja ia sedang sial. Kalau nanti istrinya itu mengatakan sesuatu ... haish, pikirkan nanti saja ....


Pramudya berseru dari dalam kamar mandi, meminta tolong kepada Bayu untuk menghubungi Pak Anton dan meminta pria itu mengutus orang mengantarkan pakaian kerjanya ke The Chambers. Ia berencana untuk langsung pergi ke kantor.


Setelah itu, ia mengisi bathtub dengan air hangat dan berencana untuk berendam sebentar. Otot-ototnya terasa kaku dan kepalanya masih pengar. Ia menarik napas, lupa meminta Pak Anton untuk membawakan obat yang dapat meredakan sakit kepala karena mabuk.


Pramudya menyandarkan tubuh di sisi bathtub dan memejamkan mata, mencoba untuk relaks. Ia berharap pikirannya bisa tenang dan lebih segar setelah mandi nanti.


Sayangnya, baru beberapa detik menutup mata, suaranya yang jelas dan lantang terdengar di telinganya sendiri.

__ADS_1


“Kamu cukup lucu, kamu tahu itu? Sepertinya Bayu benar ... aku memang sedikit menyukaimu."


Pramudya tersentak bangun dengan cepat sehingga air memercik ke mana-mana. Pupil matanya yang biasanya selalu tajam dan dingin kini bergetar.


Ia ingat apa yang ia ucapkan semalam kepada istri kecilnya itu!


Aku memang sedikit menyukaimu.


Jangan ge'er.


Hanya 0,01 persen.


Kalimat-kalimat ini terlalu mengerikan. Bagaimana bisa ia mengucapkannya begitu saja dengan sembarangan?


Matilah.


Ia bahkan tidak pernah mengatakan kalimat memalukan seperti itu kepada Carissa.


Pramudya memukul-mukul sisi kepalanya dengan kepalan tangan, seolah-olah ingin mengeluarkan air dari dalam tempurung kepalanya.


Apakah otaknya bermasalah?


Kenapa bisa begitu ceroboh?


Untuk pertama kalinya, Pramudya Antasena merasa sangat gelisah sampai rasanya ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun, terutama istrinya yang hanya berjarak beberapa langkah di depan pintu kamarnya.


Lebih cepat kabur lebih baik.


Sisa mabuk semalam mendadak hilang begitu saja. Otaknya secara bertahap menjadi lebih segar dan pikirannya lebih jernih. Ia tidak ingin menunggu pakaian yang dikirimkan oleh Pak Anton lagi.


Pramudya memakai handuk dan berjalan keluar, mengabaikan Bayu yang sedang menikmati sarapan di ruang depan. Sepertinya petugas hotel baru saja mengantarkannya. Dan tampaknya sahabatnya sudah tidak bertingkah gila lagi. Baguslah. Ia tidak sanggup menghadapi kegilaan yang lain.


Melihat aneka hidangan yang disajikan dengan baik, Pramudya sama sekali tidak tertarik. Yang ia inginkan saat ini adalah menghilang secepatnya. Jangan sampai bertemu dengan istrinya di tempat itu. Terlalu memalukan. Ia tidak sanggup memikirkannya.


“Kamu tidak makan dulu?” tanya Bayu dengan kening berkerut.


Kenapa sahabatnya terlihat seperti ingin melarikan diri? Ia sampai lupa kalau telah berniat memarahi Pramudya ketika keluar dari kamar mandi.


“Habiskan saja,” jawab Pramudya singkat. Ia sedang sibuk mengancingkan kemeja yang kemarin dipakainya di acara pernikahan.


Bayu semakin heran melihat Pramudya keluar dengan pakaian pernikahannya.


“Kenapa buru-buru begitu? Tidak menunggu pakaian yang dikirimkan oleh Pak Anton?” tanyanya.

__ADS_1


“Tidak perlu. Tolong kamu tunggu saja, antarkan ke kantor nanti.”


Bayu tidak menjawab. Sendok berisi sup asparagus yang berada di depan mulutnya ia kembalikan ke mangkuk. Benar-benar ada yang salah dengan sahabatnya. Ia mengikuti setiap gerak-gerik Pramudya dengan tatapan curiga. Apakah semalam terjadi sesuatu antara balok es ini dan istrinya?


Mata Bayu tiba-tiba membulat sempurna. Ia menepuk pahanya dengan keras dan melompat bangun dengan bersemangat. Apakah sahabatnya ini ingin melarikan diri setelah mengambil kesucian istrinya?


Tidak bisa dibiarkan!


“Pramudya! Berhenti! Tunggu aku!” Bayu berseru seraya mengejar sahabatnya yang sudah berjalan menuju pintu.


Pramudya mengacuhkan Bayu, memutar gagang pintu dan menariknya hingga terbuka. Tepat ketika ia hendak melangkah keluar, pintu di depannya pun terbuka lebar. Sepersekian detik kemudian, Freya, Ruth, dan Lisa berjalan keluar secara berurutan.


Tangan dan kaki Pramudya membeku. Ia bersitatap dengan Freya tidak sampai satu detik, lalu membuang muka dan bersikap lebih dingin dari biasanya.


Freya tertegun di depan pintu cukup lama. Kenapa Pak Pram terlihat sangat marah? Bukankah ia sudah merawatnya dengan baik sebelum meninggalkannya dengan Pak Bayu?


“Selamat pagi, Tuan,” sapa Ruth dengan sopan.


Lisa menimpali, “Pagi, Bos.”


“Hm.” Pramudya bergumam sekilas, masih tidak tahu apakah harus lanjut keluar atau kembali ke dalam kamar saja.


Freya membuka mulut dan ingin menyapa Pramudya juga, tapi tiba-tiba pintu di depannya dibanting dengan keras.


Pramudya Antasena menghilang dari hadapannya tanpa mengatakan apa-apa, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk menyapa.


Dasar bajingan tidak berperasaan! Setidaknya hargai istrimu di depan orang lain!


Freya membanting kakinya dengan kesal dan berderap pergi.


“Freya, tunggu aku!” Lisa berseru dan mengejar Freya dari belakang.


Bayu yang sejak tadi hanya terbengong akhirnya dapat bersuara. “Ke mana Nyonya Muda pergi?”


“Ingin mendaftar kuliah, Tuan Bayu,” jawab Ruth dengan sopan. Ia sedikit membungkuk dan berpamitan, “Saya menyusul Nyonya dulu.”


Bayu berdiri di pintu dan tidak tahu harus melakukan apa.


Pada malam pertama, kedua mempelai tidur terpisah. Kemudian, pada hari pertama sang pengantin pria langsung pergi bekerja ke kantor, sedangkan sang pengantin wanita langsung pergi kuliah ... tapi mereka masih bisa berkolaborasi dan bekerja sama dengan sangat baik untuk mengelabui Pak Tua setiap kali diperlukan.


Hebat ... sungguh hebat ...


Ia sangat ingin memuji kedua manusia itu dan meminta mereka untuk mengajarinya bagaimana cara untuk berpura-pura!

__ADS_1


***


__ADS_2