
“Bagaimana persiapan untuk besok?” tanya Pramudya. Ia sedang duduk di ruang kerja, memeriksa beberapa dokumen di layar komputernya.
“Ya. Seratus persen sudah siap.” Bayu mengangguk dengan mantap. Ia datang untuk mengantarkan gaun pengantin sahabatnya.
Sebenarnya ia sedikit heran, mengapa bukan Pramudya sendiri yang pergi untuk mencoba gaun di tempat Valentina. Akan tetapi, ketika Pramudya mengatakan untuk mengantarkan gaun itu ke kediaman utama Keluarga Antasena, Bayu tidak banyak tanya dan langsung pergi mengambilkannya di tempat Valentina.
Kini, ia sudah mengerti mengapa Pramudya tidak masuk kantor dan tidak pergi ke tempat Valentina. Rupanya ada Pak Tua yang menahannya di rumah ini. Ia menggaruk dagunya dengan penasaran. Apakah semalam sahabatnya ini menginap bersama istrinya? Apakah mereka tidur sekamar?
Ya, pasti begitu. Dengan adanya Pak Tua, mereka tidak mungkin tidur terpisah.
Pramudya mengetuk-ngetuk permukaan meja kerjanya dengan tempo beraturan.
“Mengenai pelaku peledakan di jalan tol itu, apakah sudah ada informasi terbaru?” tanyanya.
Bayu mendesah pelan dan menggeleng. “Maaf, aku sudah berusaha, tapi semuanya menemui jalan buntu. Harus kuakui, kakak tirimu itu semakin lihai dan licik. Kamu harus lebih berhati-hati ke depannya.”
“Begitu, ya ....” Gerakan tangan Pramudya berhenti.
Ia tampak ragu sejenak, sebelum akhirnya bertanya, “Bagaimana dengan Yoga Pratama?”
“Dia menggila dan mencari istrimu ke mana-mana sejak kemarin. Dia bahkan mengerahkan seluruh kekuatan keluarganya untuk mencari informasi, juga membuat keributan di depan perusahaan. Tapi tenang saja, aku sudah memblokir semuanya,” jawab Bayu dengan ekspresi minta dipuji.
Suara ketukan di pintu menjeda percakapan keduanya.
“Masuk,” ucap Pramudya.
Tak lama kemudian, kepala Freya menyembul dari balik pintu. Bayu terkejut ketika Freya melangkah masuk. Ia bisa melihat dua lingkaran hitam yang besar di bawah kelopak mata gadis itu.
Jelas gadis itu tidak tidur dengan baik semalam. Apakah Pramudya tidak membiarkannya beristirahat? Sial. Otak Bayu langsung berkelana memikirkan berbagai macam kemungkinan.
Freya menyapa Bayu dengan sopan, lalu menoleh dan menatap Pramudya sambil berkata, “Kakek menunggumu untuk sarapan bersama.”
“Baik. Katakan aku akan turun sebentar lagi.”
Freya mengangguk dan berbalik, tampak akan pergi. Tapi satu detik kemudian ia kembali menghadap ke arah Pramudya dengan ekspresi rumit.
“Ada apa?” tanya Pram.
__ADS_1
“Um, itu ... ada seseorang di bawah, seorang wanita, katanya ingin bertemu denganmu.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Pramudya hanya mengangguk sekilas. Freya pun berbalik dan pergi.
Bayu yang perubahan sikap sepasang suami istri itu langsung kepo. Bagaimana bisa berubah hanya dalam satu malam? Apa karena ternyata gadis itu adalah penyelamatnya sehingga sikap Pramudya melunak?
“Kulihat hubungan kalian semakin ‘hangat’, apakah benar-benar ‘hangat’ atau karena ada Pak Tua? Atau karena dia adalah gadis yang kamu cari sejak lima bulan lalu?” tanyanya seraya membuat tanda kutip dengan jari telunjuk dan jari tengah di udara.
Pramudya mengabaikan Bayu. Ia terlalu malas meladeni mulut kepo sahabatnya itu. Ia menunduk dan lanjut memeriksa dokumen yang dikirimkan oleh Kikan.
“Kenapa diam saja? Kamu bukan mendadak jatuh cinta kepada istrimu, ‘kan?” usik Bayu ketika melihat Pramudya mengabaikannya dengan sengaja.
“Ya,” jawab Pramudya dengan santai.
Bayu yang tadinya hanya bercanda sudah hampir terpeleset. “Kamu beneran tertarik kepadanya?”
“Hm. Ada masalah?”
“Tutup mulutmu!” Urat-urat di pelipis Pramudya mencuat. Ia melemparkan botol minum di atas meja ke arah Bayu, tapi sahabatnya itu menghindar sebelum botol menghantam wajahnya. Sayang sekali.
Bayu terbahak hingga air matanya berderai ketika melihat semburat merah menjalar di wajah sahabatnya. Entah karena marah atau malu, tapi ia merasa sangat puas karena berhasil menggoda si balok es itu.
“Tertawalah sampai puas.” Pramudya menggeram dengan nada mengancam. “Aku akan mengirimkan lokasimu kepada paman.”
Sial. Sontak Bayu terdiam dengan wajah kesal. Ia tahu Pramudya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Jika dia mengatakan akan mengirimkan lokasinya kepada ayahnya, itu berarti dia akan melakukannya.
Tidak. Wajah Bayu memucat. Ia tidak sanggup menanggung akibatnya.
Kali ini giliran Pramudya yang menyeringai puas karena berhasil membungkam mulut sahabatnya itu. Si bodoh itu terlalu cerewet, membuatnya sakit kepala.
Diam-diam Pramudya melirik ke arah pintu yang masih sedikit terbuka. Bayangan yang tadi mengintip dari sana sudah tidak ada. Sudut bibirnya berkedut. Meski bodoh, mulut Bayu kadang cukup berguna untuk memancing orang yang penasaran. Dengan begini, keyakinan kakeknya pasti akan semakin bertambah dan tidak akan meragukannya lagi.
“Sudahlah, aku mau pulang sebelum kau benar-benar mengirimkan lokasiku,” gerutu Bayu.
__ADS_1
“Padahal aku sudah begitu lelah mengurusi dirimu, boro-boro diajak makan, huh," imbuhnya dengan bibir mengerucut.
Alih-alih merasa kasihan, seringai di wajah Pramudya semakin lebar. “Pergilah, sebelum aku berubah pikiran.”
Bayu semakin cemberut. Ia berbalik dan hendak berjalan keluar. Akan tetapi,sebelum tangannya mencapai gagang pintu, kepala pelayan muncul dengan tergesa-gesa.
“Permisi, Tuan.” Suara kepala pelayan terdengar cukup cemas.
Bayu membuka pintu lebih lebar dan bertanya, “Ada apa?”
“Nyonya Muda, Tuan,” jawab Kepala Pelayan, “Nona Carissa tidak sengaja menumpahkan teh panas ke tangan Nonya Muda.”
“Apa?” Sepasang mata obsidian Pramudya menyipit. Carissa ... untuk apa wanita itu datang?
“Nyonya Muda tersiram teh panas. Tuan Besar sudah meminta pelayan untuk memanggil dokter keluarga, tapi Nyonya Muda menolak dan bersikeras mengobatinya sendiri,” jelas Kepala Pelayan lagi.
Pramudya bangun dari kursinya tanpa mengatakan apa-apa dan berjalan keluar. Bayu yang berdiri di depan pintu terlihat seperti ingin melihat pertunjukan bagus.
Pramudya malas menanggapi si kepo itu. Ia berjalan mengikuti Kepala Pelayan yang tergesa-gesa menuruni anak tangga.
Dari jauh, suara seorang wanita yang lemah lembut dan penuh penyesalan sudah terdengar dengan jelas.
“Kakek, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Mungkin karena perjalanan ke sini memakan waktu hampir sepuluh jam sehingga sedikit jetlag, tanganku jadi tidak stabil.”
Ketika semakin dekat, Pramudya dapat melihat seorang wanita berkulit putih dengan rambut pirang keemasan sedang berdiri dan memegang tangan Pak Tua dengan air muka yang sangat menyedihkan, seolah-olah ia akan menangis jika tidak dimaafkan.
Pak Tua pun tampak serba salah. Jika tidak memaafkan gadis yang memegangi lengannya itu, takutnya ia akan dibilang terlalu pelit. Tapi, cucu menantunya terluka sampai seperti itu, ia juga tidak ingin memaafkan dengan mudah!
“Apa yang terjadi?”
Begitu mendengar suara Pramudya, wanita itu berbalik dan langsung menghambur ke arahnya.
“Pram! Aku bersumpah aku tidak sengaja. Pelayan baru saja memberikan secangkir teh, aku ingin meniup dan meminumnya, tapi tanganku tidak sengaja tergelincir dan ... dan ... mengenai tangan pelayan baru itu. Aku sudah minta maaf, tapi sepertinya Kakek sangat marah.” Wanita itu menjelaskan dengan tubuh hampir menempel di lengan Pramudya. Sepasang matanya yang bulat terlihat berair. Pria normal mana pun akan tergerak melihat penampilan seperti itu.
Bayu terbatuk dua kali untuk memperingatkan Pramudya.
Bro, istrimu sedang melihat dari atas. Jangan sampai malam penuh cinta tidak akan pernah kamu rasakan lagi.
__ADS_1
***