Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Jika Jatuh


__ADS_3

Freya berjalan menghampiri meja kerja dan duduk di kursi beludru berwarna biru tua. Sangat empuk. Meja kaca di depannya mengilap. Pengharum ruangan otomatis berbunyi seperti suara orang yang sedang berbisik, lalu aroma cherry blossom menguar di dalam ruangan itu.


Aaah ... sangat nyaman ....


Freya merentangkan tangannya dan bersandar di kursi.


Rupanya seperti ini rasanya menjadi bos. Lumayan juga ... ia merasa cukup senang menjadi bos.


Ia mengambil pena dan buku, lalu membuka halaman paling depan dan membubuhkan tanda tangan di sana.


Kedua alisnya tertaut di tengah kening. Matanya menyipit. Ekspresi wajahnya terlihat sangat serius, lalu ia membuka mulut dan mengeluarkan suara yang terdengar berat dan dalam.


“Sekretaris Kikan, apakah aku ada jadwal rapat hari ini? Tidak ada? Oh, kalau begitu suruh office girl itu buatkan kopi! Ingat, jangan pakai gula!”


Freya menegakkan tubuhnya, menatap dengan serius ke depan, seolah-olah sedang berhadapan dengan seseorang yang membuatnya kesal.


Suaranya terdengar lebih dalam dan berat ketika berkata, “Kamu office girl baru? Kikan tidak mengajarimu? Aku minta kopi tanpa gula! Gajimu dipotong 70 persen!”


Keheningan yang panjang terjeda di udara.


Bibir Freya bergetar. Tak lama kemudian, ia terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.


Kalau diingat-ingat, pertemuan pertamanya dengan Pak Pram sangat menjengkelkan. Pria tidak berperasaan itu memotong gajinya dengan semena-mena hanya karena secangkir kopi.


Lihatlah apa yang ia dapatkan sekarang sebagai gantinya?


“Pffft ... ha-ha-ha ....” Freya tidak bisa menahan dan kembali tertawa.


Betapa takdir sungguh di luar dugaan.


Mungkin ini yang disebut pepatah dengan roda kehidupan terus berputar, kadang di atas, kadang di bawah.


Kadang ditindas, kadang mendapatkan rejeki nomplok setelah ditindas.


Nikmati saja.


Jalani saja ....


Freya menarik napas dan bersandar lagi ke kursi. Entah karena apa sudut-sudut bibirnya berkedut. Matanya terpejam dan senyuman lembut berbayang di wajahnya.


Harus ia akui, meski kadang menyebalkan, kaku, dan sangat sulit didekati, tapi suaminya cukup murah hati dan perhatian.


Baiklah ... sekarang Pak Pram memiliki 3 poin plus di hatinya: menepati ucapannya, murah hati, dan perhatian.


Tampaknya tidak cukup sulit mengimbangi poin minus yang dimiliki pria itu.

__ADS_1


Mungkin karena itulah Freya tersenyum.


Atau karena wajah tampan suaminya yang terus terngiang-ngiang.


Atau karena aroma maskulinnya yang membuat otak Freya seperti kemasukan air.


Atau karena mendadak ia teringat ucapan Pak Anton; Tuan sebenarnya berhati lembut, dia hanya tidak tahu bagaimana cara menyampaikan apa yang dia pikirkan.


“Oh, astaga Freya, kamu semakin mirip dengannya. Tidak konsisten, berubah-ubah sepanjang waktu!” Freya membuka matanya tiba-tiba dan mengacak rambutnya dengan kesal.


Ia menekan dadanya dengan kuat dan bergumam kepada dirinya sendiri, “Jaga hatimu baik-baik. Jangan sampai menjadi bodoh dan terluka untuk yang kedua kalinya. Ingatlah saat kamu hampir mati karena putus cinta. Jangan bodoh! Oke?”


Oke!


Mari bekerja!


Ia membuka tas dan mengambil ponsel, hendak meminta Lisa untuk menyusul ke kafe. Akan tetapi, ketika membuka WhatsApp, yang dilihatnya adalah 53 panggilan tak terjawab dan 77 pesan baru.


Semuanya dari Yoga.


Ia tadi langsung teralihkan oleh Doni sehingga melupakan berandalan satu ini.


Eng, ralat. Sebenarnya Pak Pram juga membuat pikirannya teralihkan, tapi ia tidak ingin menyalahkan suaminya itu. Ia memikirkannya dengan sukarela, bukan karena terpaksa. Sedangkan Doni, itu memang sebuah distraksi. Ia tidak menginginkannya.


Ponsel Freya menyala lagi. Lampu notifikasi berkedip-kedip biru muda. Freya menimbang-nimbang dalam hati, apakah perlu mengangkat telepon Yoga atau tidak.


Sekarang Freya mempertimbangkan apakah ia harus ganti nomor telepon saja. Yoga terlalu bising, mengejarnya ke mana-mana. Berisik sekali.


Pop up pesan baru yang masuk mengambang di layar ponsel.


[Freya, hatiku sakit sekali karena kamu mengabaikanku]


[Apakah hatimu juga sakit seperti ini ketika aku pergi?]


[Maafkan aku ....]


Freya menatap ponselnya dan terdiam. Otaknya tiba-tiba berkelana ke malam-malam suram ketika Yoga tak lagi ada di sisinya, malam-malam panjang yang terasa seperti neraka. Yoga adalah belahan jiwanya, satu-satunya orang yang memahami dirinya luar dalam. Mereka selalu bersama dalam suka dan duka.


Sejak kecil mereka hampir tidak pernah terpisahkan.


Yoga tahu apa yang ia sukai, apa yang ia benci.


Yoga dapat menebak isi pikirannya hanya dengan membaca ekspresi wajahnya.


Tidak terhitung berapa kali pria itu pergi membelikannya pembalut, atau merawatnya ketika kesakitan karena tamu bulanannya datang.

__ADS_1


Tidak terhitung berapa kali ia merawat luka-luka di tubuh Yoga setelah berkelahi dengan preman di jalanan. Entah berapa kali ia menangis ketika melihat tubuh Yoga babak belur karena bersikeras melindungi uang hasil bekerja serabutan.


Mereka pernah bertengkar. Berbaikan. Salah paham. Berdamai. Saling kompromi. Saling mengisi kekosongan jiwa masing-masing ....


Mereka pernah menggelandang dan tidur di emperan toko karena tidak punya uang untuk membayar kontrakan. Mereka pernah bekerja paruh waktu di beberapa restoran cepat saji untuk mengumpulkan modal, siang dan malam. Mereka pernah makan satu bungkus indomie yang hanya direndam air panas untuk mengirit pengeluaran.


Lalu ketika ia merasa semuanya sedikit membaik, Yoga menghilang.


Separuh jiwanya tercerabut. Hatinya berdarah. Ia sekarat. Tidak ada yang datang menolong.


Saat itu rasanya ia ingin mati saja. Entah berapa kali ia berpikir untuk menabrakkan diri ke mobil yang sedang melaju kencang. Hanya Tuhan yang tahu betapa ia sangat ingin mati.


Putus asa.


Sendirian.


Kesepian.


Kebingungan.


Tidak tahu kesalahan apa yang ia perbuat sehingga Yoga pergi.


Ia sempat berpikir Yoga sudah muak dengan kehidupan mereka yang menyedihkan. Atau karena Yoga menemukan perempuan kaya yang bersedia menghidupinya.


Dengan pemikiran itu, Freya berusaha merelakan. Ia move on dan menjalani kehidupannya sendiri.


Lalu sekarang bajingan ini kembali dan bertanya apakah hatinya terasa sakit?


Tangan Freya gemetar ketika ia mengetik pesan balasan untuk Yoga.


[Kamu sudah sampai tahap ingin mati belum?]


[Kalau belum, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan yang aku rasakan]


Freya mengerjap. Dua bulir air mata berkejaran menuruni pipinya. Dadanya terasa sesak. Ia tidak bisa membayangkan, jika harus jatuh untuk yang kedua kali ... jika mencintai dan ditinggalkan lagi ... ia tidak akan sanggup.


Ia pasti mati ... dirinya pasti akan mati ....


***


memories...



__ADS_1



__ADS_2