
Cahaya matahari pagi yang menerobos dari celah jendela, membuat Freya mengernyit. Sosok pria dalam mimpinya perlahan memudar, padahal pria itu belum menyelesaikan ucapannya.
“Yoga ... apa? Aku tidak dengar ....” Bibir Freya mengguman pelan.
Kelopak matanya bergetar. Keningnya berkerut-kerut. Ia berusaha menggerakkan tangan untuk menggapai pria dalam mimpinya itu, tapi justru terdengar suara “gedebuk” yang cukup keras.
“Ah!”
Freya memekik dan membuka mata dengan linglung. Kerutan di keningnya terlihat semakin dalam. Ruangan itu sangat asing. Ranjang besar di atas kepalanya terlihat seperti tempat tidur para bangsawan, sangat jauh berbeda dengan kasur lipat murahan yang biasa ia gunakan.
Freya mengelus pantatnya yang terhantam ke lantai, kemudian berpegangan pada sisi ranjang. Sepasang matanya yang bulat mengintip ke sekeliling dengan heran dan bertanya-tanya.
Kamar ini ....
Sepasang mata bulat itu membola.
Ia segera sadar bahwa dirinya dibawa pulang ke kediaman Pramudya Antasena. Kepala pelayan mengantarnya ke kamar ini. Tak lama kemudian, seorang pelayan datang dan menunjukkan walk in closet yang penuh dengan pakaian wanita. Semuanya berisi pakaian yang ukurannya sangat sesuai, hanya harganya yang jauh berbeda, mungkin ratusan kali lipat dari harga pakaian yang biasa ia pakai.
Freya tahu tidak ada gunanya protes, jadi ia hanya mengatakan terima kasih kepada pelayan itu. Lalu, setelah mandi dan berganti pakaian, ia langsung jatuh tertidur. Kemudian ... entah mengapa ia bermimpi tentang Yoga ....
Freya duduk di tepi ranjang dan termenung. Sudah sangat lama ia tidak mengingat atau memimpikan tentang Yoga. Mengapa kali ini tiba-tiba ... apakah karena ia akan segera menikah?
Rasa masam dan pahit berkumpul di kerongkongan Freya. Ia mendesah pelan dan bangkit berdiri untuk pergi ke kamar mandi. Yang sudah berlalu tidak perlu dipikirkan lagi. Sekarang saatnya menghadapi apa yang ada di depan mata.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Freya membuka pintu kamar. Pelayan yang tadi menyambutnya di depan pintu, membungkuk dan memberi hormat dengan sopan.
“Selamat pagi, Nyonya Muda. Tuan mengatakan untuk menunggu sebentar jika sudah lebih dulu siap. Sarapan telah disiapkan di bawah.”
Nyonya Muda ... sejak tiba di tempat ini, sapaan “Nyonya Muda” ini langsung membuat Freya sedikit merinding. Namun, adakah yang dapat ia lakukan untuk menolaknya? Tidak ada. Tentu saja tidak ada.
Oleh karena itu ia hanya dapat memaksakan seulas senyum dan berkata, “Baik. Aku segera turun.”
Pelayan itu membungkuk dan menyingkir, memberi jalan kepada Freya.
Freya mengamati lorong di depan kamarnya. Dinding di kanan dan kiri, semuanya dihiasi dengan benda-bena mahal. Bahkan Freya yakin karpet yang sedang diinjaknya itu pun harganya puluhan atau ratusan juta. Benar-benar rumah orang kaya.
__ADS_1
Ia menuruni anak tangga ke bawah, mengikuti arahan dari pelayan untuk menuju ruang makan. Akan tetapi, sebelum langkah kakinya mencapai pintu ruang makan, terdengar suara tajam dan penuh ejekan dari sisi kanan tubuhnya.
“Kucing liar dari mana yang dipungut oleh Pram?”
Tubuh Freya membeku. Tanpa menoleh pun ia tahu sindiran itu ditujukan kepadanya.
“Lihat, bahkan tidak punya sopan santun untuk menyapa orang tua.”
Freya menggertakkan giginya dan memutar kepalanya perlahan. Seringai di wajahnya bahkan terlihat kaku ketika menatap wanita tua beracun yang baru saja menyindirnya itu.
“Halo, selamat pagi, Bibi. Apakah kita saling mengenal?” sapanya.
Wanita tua yang menenteng tas LV keluaran terbaru itu mencebik, menatap Freya dari ujung rambut sampai ujung kaki, seolah sedang memberikan penilaian kepada seekor binatang peliharaan apakah patuh atau tidak.
“Seekor kucing liar, meskipun diberi pakaian mahal, tetap saja hanya kucing liar.” Wanita itu mencibir dan menoleh kepada pelayan di dekatnya. “Di mana Pram?”
“Tuan belum turun, Nyonya Besar.”
Ada kilatan keterkejutan di mata Freya.
Nyonya Besar?
“Jangan menakuti calon istriku, Bibi.” Pramudya berjalan turun dari anak tangga, menatap lurus ke arah wanita yang sedang berbicara dengan Freya.
Wanita tua itu menoleh dengan sedikit terkejut. Sepasang matanya tampak tidak percaya ketika bertanya, “Calon istri? Jadi benar dia calon istrimu? Pram, apa kamu tidak salah? Bibi akan mengenalkan perempuan yang lebih cantik dengan status sosial yang sama dengan kita. Untuk apa merendahkan martabat dengan wanita rendahan seperti ini?”
Air muka Pramudya berubah keruh. Dengan langkah yang tenang dan stabil, dalam sekejap ia telah tiba di samping Freya.
“Bibi tidak perlu repot. Aku tidak akan salah memilih seperti ayah.”
Ucapan itu membuat wajah di wanita tua itu memucat. Meski berusaha tampak kuat, Freya bisa melihat jari-jarinya gemetar karena menahan amarah dan rasa malu.
Freya menatap wajah Pram dan wanita itu bergantian. Ia tidak mengerti. Pelayan memanggil wanita itu dengan sebutan “Nyonya Besar”, bukankah itu artinya dia adalah ibu dari Pramudya Antasena? Lalu mengapa Pram memanggilnya dengan sebutan “Bibi”? Ataukah hubungan mereka hanya bibi dan keponakan?
“Pram, Bibi tidak bermaksud buruk. Hanya saja, wanita seperti ini ... sangat tidak pantas menjadi istrimu. Apakah kamu tidak curiga kalau dia hanya ingin mengincar hartamu saja? Bagaimana kalau dia sudah pernah melakukan hal ini sebelumnya? Menjerat para pria kaya dengan tubuh dan wajahnya yang sok polos itu!” Wanita tua itu mengepalkan kedua tangannya dengan penuh emosi. Karena tidak bisa membalas ucapan Pramudya, ia hanya dapat melampiaskannya kepada calon istrinya yang kampungan itu!
__ADS_1
Mendadak seisi ruangan menjadi hening. Suara detak jam antik yang menempel di tembok bahkan dapat terdengar dengan jelas. Freya gemetaran karena marah. Ia tidak pernah dipermalukan sampai seperti ini sebelumnya. Semiskin dan serendah apa pun ia di mata para orang kaya ini, ia tetap masih memiliki harga diri. Namun, karena menyadari posisinya saat ini, ia hanya bisa menahan semua hinaan itu di dalam hati.
Merasakan perubahan pada diri Freya, Pramudya mengulurkan tangan dan menggengam jemari gadis itu dengan hati-hati.
Freya berusaha melepaskan genggaman tangan Pramudya, tapi pria itu justru menarik tangannya hingga tubuh Freya menempel di pinggangnya.
“Aku yang meminta dia untuk menikah denganku,” ujar Pramudya. “Dia sudah bersedia, dan aku sangat bersyukur. Jika dia menginginkan semua hartaku, ambil saja. Aku tidak keberatan. Selain itu, pernikahan ini tidak ada hubungannya dengan Anda. Sebagai orang luar, Anda tidak memiliki hak untuk mengatur apa yang bisa dan tidak bisa aku lakukan.”
Wanita tua itu membuka dan menutup mulutnya tanpa suara. Perubahan sapaan dari “Bibi” menjadi “Anda” jelas untuk menunjukkan statusnya di Keluarga Antasena. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu membulat sempurna. Dengan sedikit gemetar, jari telunjuknya teracung di udara.
“Kamu ... kamu ...!” Meskipun sangat marah, ia tidak bisa mengatakan apa pun dengan lantang sebab posisinya tidak lebih tinggi dari Pramudya Antasena. Pada akhirnya, ia hanya bisa menahan semua kekesalan itu dalam hatinya.
Tadinya ia datang untuk menghina calon istri Pramudya dan membuatnya angkat kaki dari rumah itu. Namun, ucapan Pramudya membuatnya mati kutu. Wanita tua itu terlihat ingin membantah, tapi tak menemukan kalimat yang cocok. Akhirnya, ia mengentakkan kaki dengan kesal lalu membalikkan tubuh dan pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi.
“Jangan pedulikan ucapannya, dia bukan siapa-siapa,” ujar Pramudya setelah wanita itu tidak terlihat lagi.
Ia lalu menoleh kepada pelayan dan berkata, “Kelak tidak boleh membiarkan orang asing masuk ke kediaman ini dengan sembarangan.”
“Baik, Tuan.” Para pelayan menjawab serentak.
“Ayo, pergi sarapan.” Pramudya melepaskan cekalan pada tangan Freya dan memberi isyarat untuk mengikutinya.
Ia menggertakkan gigi karena amarah. Tampaknya ada mata-mata di antara para pelayannya. Bagaimana bisa ibu tirinya mengetahui informasi mengenai calon istrinya dengan begitu cepat?
“Pak Anton, cari tahu siapa yang membocorkan informasi. Pecat dia. Pastikan tidak ada tempat lain yang menerimanya lagi,” perintah Pramudya seraya duduk di kursi.
“Baik, Tuan.”
Freya yang masih kebingungan hanya dapat duduk tanpa tanpa bersuara. Masalah ini ... akan ia tanyakan nanti kepada Pak Anton.
***
Hai, Kesayangan. Otor mo nebar racun khusus utk yang kemarin minta spill tokoh.
coba tebak, mana Pramudya, Yoga, Bayu, Tommy, dan Doni?
__ADS_1
😁