
Freya mendongak dan memelototi suaminya dengan kesal. Sekarang Lisa dan Pak Bayu jadi salah paham gara-gara Paman Tua yang entah kenapa berubah menjadi mesum ini.
Apa-apaan mendekat seperti itu, menunduk dan berbisik seperti itu ... dan masih tidak mau menyingkir meski Lisa dan Pak Bayu telah lama pergi.
Freya mendorong dada Pramudya sekuat tenaga, tapi tampaknya sepasang telapak tangannya yang kecil tidak berpengaruh apa-apa terhadap dada bidang suaminya.
“Menyingkir.” Freya mendesis dari sela giginya yang terkatup.
Pramudya memasang ekspresi tak berdaya dan mengeluh, “Aku belum meminta bayaran karena sudah menemanimu sepanjang malam, kamu malah memukulku dan menyuruhku menyingkir.”
Freya terbengong. Jangan-jangan Pak Pram memang ikut minum minuman beralkohol tadi malam. Kenapa pagi ini dia bertingkah aneh sekali? Suaminya tidak pernah berkata-kata manja seperti ini, apalagi memasang wajah memelas seperti ini.
Atau jangan-jangan ada yang telah menukar suaminya dengan alien?
Melihat Freya yang terperangah dan menatapnya dengan sepasang mata bulat yang linglung, Pramudya semakin ingin menggodanya.
Oh, terima kasih kepada Bayu yang telah menemaninya dalam beberapa sesi "konseling”, juga memaksanya menonton potongan adegan romantis dalam drama romantis yang ada di ponsel.
Meski ia merasa sedikit jijik ketika melihat pemeran utama pria merayu dan membujuk kekasihnya, tapi sekarang ia merasa sekarang trik-trik itu sedikit berguna.
Ia semakin menunduk dan berbicara tepat di depan wajah Freya, “Kenapa istriku kejam sekali? Semalam siapa yang menempeli aku dan tidak ingin aku pergi? Ke mana perginya gadis nakal dan manja itu?”
Freya terlalu terkejut untuk memberikan reaksi.
Siapa yang gadis manja dan nakal?
Ini terlalu menakutkan.
Bagaimana cara melepaskan diri dari pria tua yang tiba-tiba kehilangan kepribadiannya ini?
Tuhan, tolong kembalikan suaminya yang dulu. Pria yang ada di depannnya ini lebih menakutkan dibanding suaminya yang kaku dan tidak bisa diajak bercanda.
Meski sangat ingin menghilang dari muka bumi, Freya tetap memberanikan diri untuk membuka mulut dan bertanya, “Kamu ... kamu kenapa jadi aneh begini?”
Bicara saja harus saling menempel seperti ini. Mereka bahkan bisa mencium aroma tubuh masing-masing. Ia sangat yakin, jika Pak Pram menunduk sedikit lagi, maka suaminya itu pasti akan bisa mendengar detak jantungnya yang tak beraturan.
“Freya ... kamu yang membuatku jadi aneh begini ....” Pramudya bergumam dengan suara rendah dan serak.
Sepanjang malam gadis ini mengoceh dan menempel seperti anak koala di tubuhnya, mengatakan rahasia-rahasia yang tersembunyi dan memanggil namanya dengan penuh kasih sayang ... aneh kalau hatinya tidak tergerak.
“Itu ... aku hanya sedang mabuk ... kamu jangan memasukkannya ke dalam hati. Apa pun yang aku katakan, itu semua tidak benar.” Freya menyangkal dengan suara yang sangat pelan.
Sial. Ia mengumpat dalam hati. Ia sendiri hampir tidak mempercayai ucapannya barusan, bagaimana mungkin ia bisa meyakinkan Pak Pram?
“Benarkah?” tanya Pramudya seraya menaikkan alisnya. Bibirnya seperti sedang tersenyum. Sebuah senyuman main-main dan terlihat seperti sedang menggoda.
Freya menelan ludah dengan susah payah. Dengan penampilan seperti ini, suaminya terlihat benar-benar sangat berbeda dengan pria tampan yang dingin dan menjaga jarak dengan semua orang.
Pria seperti ini ... sangat mudah untuk membuat orang jatuh cinta kepadanya.
__ADS_1
“Pram ....” Bibir Freya bergumam tanpa sadar. Ia bernapas dengan sangat pelan dan hati-hati. Jarak mereka terlalu dekat.
“Hm.”
“Kamu menyingkir dulu. Aku tidak bisa bernapas.” Suara Freya hampir terdengar seperti bisikan yang sangat pelan, tapi karena wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari ujung hidung Pramudya, suaminya itu masih bisa mendengar ucapannya dengan sangat jelas.
Pramudya tertawa sampai wajahnya mendongak.
Menyingkir?
Jelas tidak mungkin.
Setelah semua perasaannya semakin jelas. Setelah semua rahasia yang terungkap. Semua panggilan manja yang membuat hatinya bergetar. Sudah tidak mungkin untuk menyingkir dari kehidupan gadis ini.
Setelah tawanya mereda, ia menahan ujung dagu istrinya hingga mendongak.
Wajah mereka berhadapan.
Pramudya mengunci tatapannya dalam sepasang mata jernih istrinya dan berkata, “Freya, aku sangat ingin menciummu sejak semalam. Bukan karena Kakek, bukan karena harus berpura-pura, tapi aku ingin menunggumu sadar sebelum melakukannya.”
“A ... apa?” Sepasang mata Freya membola. Ia tidak salah dengar, ‘kan?
“Kamu bilang, aku boleh menciummu kalau aku memang benar-benar menginginkannya, bukan karena Kakek atau karena harus berpura-pura. Sekarang aku menginginkannya.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Pramudya menunduk tanpa ragu dan melahap bibir merah muda yang merekah di hadapannya. Ia sudah menahan diri sejak tadi malam. Tidak bisa menahan lebih lama lagi.
Rasanya manis dan dingin, seperti sedang mengulum es loli yang manis. Menjilat dan membujuknya untuk membalas.
Mata pria itu terpejam. Lidahnya berkeliaran ke mana-mana. Lembap dan basah, dengan perpaduan rasa mint yang segar.
Ini ....
Freya memejamkan mata. Tangannya yang tergantung kaku perlahan terangkat dan menekan pinggang Pramudya. Ia membutuhkan pegangan sebelum tubuhnya tumbang karena serangan mematikan ini.
Reaksi Freya membuat Pramudya menggeram. Ia mengigit dan menyesap sudut bibir istrinya dengan kuat.
Sialan.
Kenapa tidak ada yang memberitahukan kepadanya kalau berciuman itu ternyata bisa terasa sangat nikmat?
Freya mengaduh. Ia ingin menjauhkan wajahnya dan memarahi Pramudya, tapi pria itu menekan lehernya. Lidah suaminya menelusup melalui celah bibirnya dan membelit lidahnya dengan kuat.
Freya sedikit gemetar. Rasanya seperti baru saja tersengat arus listrik. Ia meremang dan merinding, mengetatkan cekalan tangannya di pinggang suaminya agar tidak kehilangan keseimbangan.
Kepalanya pusing. Ciuman ini terlalu intens. Ia hampir tidak bisa menahannya lebih lama lagi, tapi Pramudya sepertinya masih belum mau berhenti, terus menjarah bibir dan lidahnya dengan semena-mena.
Udara panas menguap dari tubuh mereka.
Titik-titik keringat mulai berkumpul di kening dan ujung hidung Freya. Dadanya hampir meledak karena terlalu lama menahan napas.
__ADS_1
Di saat Freya benar-benar hampir kehabisan napas, Pramudya akhirnya menjauhkan wajahnya. Napasnya berat dan cepat. Rambutnya sedikit acak-acakan. Tapi penampilan itu justru membuatnya terlihat semakin seksi dan menawan. Tanpa sadar Freya menjilat bibirnya.
Pramudya menaikkan alisnya. “Kamu sedang menggodaku?”
Freya tercengang. Ia bahkan belum sempat marah karena ciuman yang tiba-tiba, lalu sekarang dituduh sedang menggoda?
Ia membuka mulut dan ingin memarahi Pramudya, tapi pada akhirnya tidak dapat mengatakan apa-apa.
“Kamu ... tadi ... itu ... barusan ....” Freya terbata-bata, kehilangan kemampuan untuk merangkai kalimat dengan baik dan benar. Ketika menatap sepasang mata yang hitam dan berkilau itu, otaknya tiba-tiba tidak bisa diajak kerja sama.
Freya bukannya tidak pernah berciuman dengan Yoga, tapi bukan jenis ciuman seperti ini. Selain berpegangan tangan, Yoga pernah menciumnya di pipi dan kening. Ciuman barusan ... terlalu menggairahkan. Mengingatnya saja sudah membuatnya merasakan pipinya kembali memanas dan jantungnya kembali berdegup tak terkendali.
Pramudya tersenyum. Senyum yang sangat lebar dan memikat. Ia mengangkat tangan dan mengusap bibir yang merah dan dan bengkak itu dengan perasaan puas.
“Freya, ayo pacaran.”
Apa?
Freya mendongak dan ternganga.
Barusan Pak Pram bilang apa?
***
Udah puas kelen?
Hah?
Udah puas, belum?
🤣🤣🤣
Kalau udah puas, jangan lupa dukung otor, ya 😊
Kalian bisa dukung otor dengan cara:
- like setiap bab yang kalian baca
- jangan nabung bab
- komen yang banyak biar otor makin semangat nulisnya
- memberi rate bintang 5 untuk novel ini di sini
- tanpa bunga/kopi, kalian tetap bisa mendukung otor dengan nonton iklan di sini
__ADS_1
Terima kasih banyak untuk dukungan dalam bentuk apa pun yang kalian berikan.
Semoga kalian terhibur 💙