Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Kamu di Mana?


__ADS_3

Sudah lima hari Freya tidak bertemu dengan Pramudya. Sejak insiden penculikannya di kampus waktu itu, suaminya tidak pernah datang menemuinya satu kali pun. Pria itu tidak bisa ditemukan di mana-mana.


Mulanya Freya kesal karena Pramudya tidak datang menolongnya. Kemudian ia mulai cemas ketika suaminya itu tidak pernah pulang, juga tidak dapat ditemui di kantor, atau di mana pun. Telepon darinya tidak diangkat. Pesan-pesannya tidak dibalas.


Ia sempat berpikir jangan-jangan suaminya diculik oleh orang yang sama yang menculiknya beberapa hari lalu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, rasanya tidak mungkin. Pak Bayu tidak mengatakan apa-apa. Bahkan pria itu dan Sekretaris Kikan pun mendadak menghilang seperti ditelan bumi. Ia tidak bisa menemui kedua orang itu di kantor Antasena Grup.


Nomor telepon mereka juga tidak aktif. Atau mungkin nomor teleponnya yang telah diblokir. Entahlah. Freya tidak mau memikirkannya lagi. Hal itu menegaskan dugaannya bahwa suaminya memang sengaja tidak ingin menemuinya.


Tapi kenapa?


Freya tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya sehingga tiba-tiba Pramudya menjauhinya seperti itu. Ia hampir dicelakai, tapi suaminya malah menghilang tanpa kabar berita.


Kenapa?


Padahal suaminya itu tahu dirinya trauma. Ia takut menghadapi kepergian tanpa ucapan selamat tinggal seperti ini, takut menghadapi perpisahan tanpa penjelasan apa pun.


Ada beribu tanya dalam benak Freya. Ada beribu dugaan dan prasangka yang membuatnya terpuruk semakin dalam. Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar membuatnya mengerti apa alasan Pramudya bersikap seperti ini.


Ia lalu memilih untuk menenggelamkan diri dalam kesibukan di kampus, mengejar semua ketertinggalannya sampai-sampai Lisa khawatir ia akan pingsan karena kehabisan tenaga, tapi ia tidak peduli.


Freya tidak ingin memiliki waktu luang, tidak boleh ... otaknya pasti akan menggila jika ia memiliki waktu luang. Jadi, selain pergi ke kampus, ia akan datang ke kafe dan bekerja di sana dari sore sampai menjelang tengah malam.


Kadang ia tidak ingin pulang. Kembali ke rumah yang sepi dan sunyi membuat dadanya terasa sesak. Berdiri di depan kamar suaminya yang selalu gelap membuat hatinya semakin sakit. Namun, ia tetap kembali dengan harapan bisa menemui suaminya dan meminta penjelasan. Sayangnya, sampai hari ini tidak ada tanda-tanda suaminya akan pulang.


Pada hari Minggu, karena tidak dapat pergi ke kampus, Freya memutuskan untuk pergi ke kafe sejak pagi. Ia mandi dengan cepat, berganti pakaian seadanya, mengikat rambut asal-asalan, mengambil tas ranselnya dan keluar dari kamar.


“Ruth, bukankah seharusnya kamu masih beristirahat?” tanya Freya ketika melihat Ruth sudah berdiri di depan pintu kamarnya seperti biasa.


Ruth baru saja keluar dari rumah sakit dua hari lalu. Dia diculik, dipukuli dan disekap dalam bagasi mobil tanpa plat nomor. Dia ditemukan setelah hampir tengah malam dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tubuh penuh luka.


“Saya baik-baik saja. Nyonya, Anda mau ke mana pagi-pagi begini?” balas Ruth dengan air muka yang terlihat sedih sekaligus cemas.


“Aku mau ke kafe.”

__ADS_1


“Saya temani, ya?”


“Tidak usah. Sudah ada Lisa. Kamu istirahat saja di rumah biar lekas pulih.” Freya mengulas sebuah senyum tipis, menepuk pundak Ruth dan berjalan melewatinya.


Ruth hanya bisa berdiri dan menatap kepergian Freya tanpa melakukan apa-apa. Ia tidak bisa meminta sang nyonya untuk tetap tinggal di rumah yang kosong ini.


Kalau bukan karena keteledorannya waktu itu, mempercayai salah seorang pelayan yang "kebetulan mau pergi" dan setuju untuk “diantar” ke kampus membawakan baju ganti untuk Freya, bukannya pergi dengan sopir seperti rencana semula, mungkin semua kekacauan ini tidak akan terjadi.


Pelayan itu lalu menghilang, tidak pernah muncul lagi di kediaman Tuan Pram. Sama seperti sang tuan yang tak pernah lagi terlihat batang hidungnya, membuat wajah sang nyonya murung sepanjang waktu. Hal itu membuat Ruth tertekan dan merasa sangat bersalah.


Meski Freya tidak pernah menyalahkannya, ia tetap merasa ini semua disebabkan oleh kelalaiannya. Ia sudah meminta maaf berulang kali, tapi masih saja merasa itu tidak cukup.


Ruth menghela napas dan berbalik, lalu bersitatap dengan Pak Anton yang sepertinya sejak tadi bersembunyi di balik tembok di ujung lorong yang berlawanan arah.


Pria tua itu berjalan dengan langkah gontai menghampirinya.


“Bagaimana kondisi Nyonya?” tanya Pak Anton.


Ruth mengeleng pelan. Bagaimana menjelaskan kepada Pak Anton bahwa Nyonya patah hati? Wajah Nyonya tak lagi bercahaya seperti dulu. Ada lingkaran hitam besar di kelopak matanya. Di wajah Nyonya memang masih ada senyum, tapi tak lagi datang dari hatinya, hanya sebuah formalitas untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja, padahal kenyataannya tidak.


Di gerbang depan kediaman Pramudya Antasena, sebuah Audi hitam keluaran terbaru sudah menunggu.


Langkah Freya melambat. Entah sejak kapan mobil itu ada di sana. Meski tidak terlihat dari luar, ia tahu dengan jelas siapa yang duduk di balik kemudi.


Kaca jendela mobil diturunkan. Seulas senyuman yang menawan disertai lambaian tangan menyambut Freya.


Yoga Pratama.


Freya tidak tahu apakah harus membalas sapaan itu atau berputar dan kembali masuk ke dalam rumah. Biar bagaimana pun, karena bantuan pria itu lah ia masih bisa berdiri dengan kepala tegak, tanpa kekurangan apa-apa. Jasa Yoga Pratama tidak bisa ia balas dengan uang atau emas sekali pun.


Sejak insiden itu, Yoga lah yang selalu menjemput dan mengantarnya ke mana-mana dengan alasan keamanan. Sekali lagi Freya berterima kasih dan merasa berutang budi kepada pria itu, tapi ia merasa sekarang semuanya sudah cukup. Ia bisa meminta sopir untuk mengantarnya ke kafe, atau ke kampus, atau ke mana pun.


Seringai kaku muncul di wajah Freya ketika pintu di kursi penumpang dibukakan oleh Yoga sebelum ia menolak. Sepertinya saat ini ia tidak punya pilihan lain selain masuk ke mobil. Ia akan berbicara dengan Yoga mengenai masalah antar jemput ini.

__ADS_1


“Pagi,” sapa Yoga ketika Freya duduk di sebelahnya.


“Pagi,” balas Freya. “Sejak kapan kamu datang?”


“Belum lama,” jawab Yoga seraya tersenyum lebar.


“Dari mana kamu tahu aku akan pergi? Bagaimana kalau aku tidak ke luar seharian?”


“Tidak mungkin kamu tidak ke luar.” Yoga terdengar sangat percaya diri. Ia menyalakan mobil dan mulai mengemudi.


“Ke mana?” tanyanya.


“Kafe.”


“Oke.”


“Yoga?”


“Hm?”


“Mulai besok tidak usah datang lagi.”


Jemari Yoga mencengkeram setir mobil dengan erat, tapi ia tetap memaksakan diri untuk tersenyum.


“Aku tidak keberatan menjadi sopir pribadimu,” balasnya.


“Aku keberatan. Aku masih punya suami. Tidak baik kalau kita terlihat bersama setiap hari.”


“Oh, ya? Lalu di mana suamimu sekarang?”


Freya terdiam. Pertanyaan Yoga membuat hatinya terasa pahit dan masam. Ia pun tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


Pramudya Antasena, kamu di mana?

__ADS_1


***


__ADS_2