
Mungkin karena melihat mobil yang hampir menabraknya itu merupakan edisi terbatas, atau mungkin karena melihat penampilan Pramudya yang parlente, si pengendara sepeda motor tidak mau melepaskan mereka begitu saja.
Ia bersikeras meminta ganti rugi dengan nominal tidak masuk akal. Akhirnya, setelah Freya turun tangan dan membongkar kedok si pengendara motor yang ingin mengambil keuntungan lebih, mereka baru bisa melepaskan diri dan melanjutkan perjalanan.
Setengah jam kemudian, mereka tiba di depan gang sempit yang menjadi jalan utama menuju kontrakan Freya. Mobil mahal Pram tidak bisa melewati gang itu, oleh sebab itu sang sopir hanya dapat parkir di pinggir jalan dan menunggu.
Freya melompat turun dengan sedikit terburu-buru, berlari memasuki gang itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Ia merasa sedikit malu ketika hendak turun tadi karena ia sempat melihat Pak Pram sedang menatap keluar sambil mengernyit.
Apakah pria itu merasa jijik dengan area tempat tinggalnya yang kumuh?
Sudahlah ... toh, dia sendiri yang mengajukan pernikahan ini, bukan aku yang tergila-gila dan mengejarnya.
Freya mencoba menghibur dirinya sendiri. Ia melompati jalanan berlubang dan pedagang asongan yang mangkal di sepanjang trotoar, juga sesekali menghindari pengendara motor dan sopir bajaj yang melintas dengan ugal-ugalan.
Akhirnya setelah berjalan sejauh kurang lebih 500 meter, ia berbelok masuk ke dalam gang yang lebih sempit lagi. Gang itu hanya dapat dilewati oleh dua orang atau satu buah sepeda motor saja.
Jika ada pengendara motor yang berpapasan, maka salah satunya harus mengalah dan mundur. Untung saja saat itu tidak ada orang lain yang lewat sehingga tidak perlu saling bersenggolan ketika berpapasan, juga tidak ada sepeda motor yang lewat.
Freya berhenti di depan sederet kontrakan yang dicat warna hijau muda. Ia menghampiri kamar paling ujung, merogoh ke dalam tas slempangnya dan mengeluarkan anak kunci yang terjalin dengan gantungan kunci doraemon.
Ia membuka pintu dan bergegas masuk. Map berisi surat-surat penting ia simpan di bagian dasar kontainer plastik yang berfungsi sebagai tempat menyimpan pakaian.
Seulas senyum yang penuh ironi tersungging di bibir Freya.
Lihatlah tempat tinggalnya ini ... jika dibandingkan dengan kediaman Keluarga Antasena, tempat ini lebih terlihat seperti kandang ayam.
Apalagi lemari bajunya ... jika disandingkan dengan walk in closet yang luasnya hampir sepuluh kali kamar petakan yang menjadi tempat beristirahatnya ini ... benar-benar tidak sebanding dengan tempat sampah otomatis yang berada di teras depan kediaman Pak Pram.
__ADS_1
Freya mengambil map yang diperlukan, lalu berdiri di depan kasur lipatnya dan termenung. Kehidupannya dan Pak Pram bagaikan langit dan bumi. Berapa lama mereka bisa bertahan untuk hidup bersama?
Sudahlah ... jalani saja ...
Gadis itu buru-buru keluar dan mengunci pintu. Ia tidak ingin membiarkan Pak Pram menunggu terlalu lama.
Freya hampir setengah berlari menyusuri kembali jalanan kumuh tadi, bergegas menuju mobil mewah yang terlihat sangat mencolok di antara deretan bajaj yang sedang mangkal.
Ia mengusap peluhnya sebelum membuka pintu mobil, jangan sampai keringatnya mengotori interior mobil mewah itu.
“Maaf membuat kalian menunggu lama, jarak masuknya lumayan.” Freya meminta maaf dengan canggung. Ekspresi wajah Pak Pram sangat tidak enak dilihat. Apakah pria itu kesal karena harus menunggu di tempat kumuh ini?
Freya melirik pria di sampingnya sekilas. Sayangnya, ia tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran pria itu.
Pramudya menatap lurus ke depan dengan wajah masam. Gadis bodoh ini ... luka di kaki dan kepalanya belum sembuh total. Kenapa dia tidak bilang kalau masih jauh untuk masuk ke dalam? Setidaknya sopir bisa membawa mobil sedan yang lebih minimalis.
“Jalan,” perintah Pramudya kepada sopir.
Mereka tiba di kantor catatan sipil setelah hampir pukul 10.00.
Freya pasrah. Sial. Sepertinya ia benar-benar akan dipecat dari Antasena Group.
Belum lagi kafe ... Doni mengatakan bahwa bos telah menanyakan ketidakhadirannya. Ia sudah berusaha menghubungi bosnya untuk menjelaskan, tapi tidak ada respon.
Mau bagaimana lagi? Hadapi saja semuanya nanti ... apa yang akan terjadi, maka terjadilah ....
Pramudya sedikit tergesa-gesa keluar dari mobil. Ia langsung berjalan menuju pintu masuk tanpa mengatakan apa-apa.
__ADS_1
Freya buru-buru mengikutinya sebelum tertinggal jauh. Sejujurnya, situasi mereka terlihat sangat mirip seperti pasangan yang akan bercerai, bukannya ingin mengurus akta nikah.
Ia terus mengikuti Pramudya dan melakukan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Tanda tangan di sini. Cap jari di sana. Lebih banyak tanda tangan, lembar demi lembar kertas yang tak ada habisnya. Foto berdua (mereka belum sempat mengambil foto untuk latar belakang buku nikah).
Untung saja kantor catatan sipil menyediakan semuanya dengan sangat baik.
Mungkin karena Pak Pram yang memintanya, begitu pikir Freya.
Ia tidak mengatakan apa-apa dan menuruti semua yang diperintahkan tanpa banyak tanya.
Sejujurnya, ia juga tidak terlalu peduli. Ia hanya ingin agar semua proses itu lekas selesai.
Ia ingin segera pergi ke Antasena Group untuk memberikan surat keterangan sakit yang dimintanya dari dokter dua hari lalu. Semoga saja HRD berbaik hati dan tidak memecatnya dengan semena-mena.
Setelah semuanya selesai, Freya menyimpan buku nikah miliknya di dalam map berisi kartu keluarga dan dokumen penting lainnya.
Tidak ada antusiasme atau kegembiraan yang berlebihan. Rasanya datar ... biasa-biasa saja ... seolah-olah ia baru keluar dari tempat fotocopy untuk menduplikat berkas, bukannya membuat akta nikah.
Ia menatap Pramudya yang melangkah panjang-panjang di depannya. Tampaknya pria itu juga tidak kalah terburu-buru.
Tentu saja, dia pasti memiliki banyak hal untuk dikerjakan ....
Freya mempercepat langkah kakinya untuk mengejar Pak Pram. Jangan sampai pria itu semakin merugi karena harus menunggu dirinya.
Ia masuk ke mobil tepat setelah Pak Pram menutup pintu di sisinya. Freya mengembuskan napas lega dan menutup pintu dengan hati-hati.
__ADS_1
Suasana ini ... benar-benar canggung ....
***