Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Itu Kamarku?


__ADS_3

Freya membawa semangkuk bubur panas ke depan, meletakkannya di atas meja, lalu berkacak pinggang dan menatap pria yang masih berbaring dengan mata terpejam.


Ia menghela napas, berjalan ke dapur, mengambil wadah plastik dan mengisinya dengan air hangat, lalu mengambil handuk kecil di laci dan kembali ke depan.


Dosa apa yang telah dilakukannya sampai harus direpotkan oleh orang yang telah membuatnya patah hati dengan cara yang begitu kejam?


Kenapa pula ia tidak bisa menendang saja bajingan ini keluar, membiarkannya mati di jalanan.


Kenapa harus menyusahkan diri sendiri?


Sialan, Freya. Kamu memang bodoh.


Freya berjongkok. Tangannya sedikit gemetar ketika melepaskan dua kancing kemeja Pramudya. Ia mencelupkan handuk kecil kedalam wadah, memerasnya hingga tidak ada air yang menetes, lalu menyeka wajah dan leher mantan suaminya.


Freya mengernyit. Pria ini terlihat sangat kurus.


Apakah dia tidak makan dengan baik? Apakah tidak ada yang mengurusnya?


Ia teringat berita kecelakaan yang terjadi di Antasena Grup dan kerugian demi kerugian yang dialami perusahaan itu, lalu tanpa sadar memperhatikan Pramudya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Apakah dia terluka saat kejadian itu?


Lalu ia teringat ucapan Lisa waktu itu, setelah menunjukkan sebuah cerita konyol di aplikasi membaca online.


Benarkah pria ini sengaja membuatnya menjauh demi keselamatannya?


Freya menahan napas dan menggigit bibirnya. Pelupuk matanya terasa panas. Berapa banyak penderitaan yang ditanggung pria ini seorang diri?


Dasar bajingan bodoh. Kalau benar begitu, apakah dia tidak tahu perbuatannya itu justru membuat mereka sama-sama menderita?


Freya memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan air mata yang sudah hampir jatuh. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi pria ini saat ini. Benci sekaligus rindu. Ia harus bagaimana?


“Uhuk!”


Freya terkejut mendengar suara batuk yang datang dari pria di depannya. Ia buru-buru mengusap wajahnya dan bangkit berdiri, hendak mundur dan memberi jarak, tapi jari-jari yang ramping dan panas menahan pergelangan tangannya.


Dua pasang mata itu saling menatap sekali lagi. Ada emosi yang kompleks bertabrakan di udara.


Pramudya tidak melepaskan tangan Freya. Ia tidak berani berkedip, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia mengerjap satu kali saja.


Ia menumpu tubuh dengan sikunya, lalu bergeser dan duduk. Satu tangannya yang lain bergerak naik dan mengusap pipi Freya dengan hati-hati.


“Maaf ....”


Freya menepis tangan Pramudya dengan kasar.


Mengusirnya dengan kejam lalu tiba-tiba muncul di depan pintunya begitu saja. Memangnya dia pikir hatinya terbuat dari apa?

__ADS_1


“Makan dan minum obat, setelah itu pergi dari sini,” ucap Freya. Ia lalu berbalik dan berjalan ke kamarnya, tidak bisa terus berada satu ruangan dengan bajingan ini. Terlalu berbahaya. Hatinya tidak sekuat yang ia kira.


Akan tetapi, baru berjalan dua langkah, bunyi bel terdengar nyaring. Tubu Freya membeku. Itu pasti Yoga.


Sekarang bagaimana?


Ia memutar tubuhnya dan kembali berhadapan dengan Pramudya yang masih menatapnya.


“Sial.” Freya mengumpat dan menghampiri pria itu.


“Cepat bangun.” Ia menarik tangan Pramudya, menyeretnya ke kamar yang biasa dipakai Lisa. Lalu kembali untuk mengambilkan mangkuk bubur dan dua koper besar yang ada di ruang tamu.


Pramudya hanya menaikkan alisnya sambil memperhatikan istrinya yang panik.


“Diam di sini. Jangan bersuara. Jangan keluar. Mengerti?” Freya mendelik kesal. Kenapa rasanya seperti sedang menyembunyikan selingkuhan?


Bel berbunyi lagi.


Freya menutup pintu, lalu segera pergi ke depan.


“Maaf lama, tempat parkir hampir penuh, aku harus memutar dan mencari yang kosong,” ucap Yoga begitu pintu terbuka. Di tangannya ada banyak bungkusan makanan.


“Lain kali tidak usah begini. Kalau malam aku tidak banyak makan. Sekarang juga sudah ingin tidur,” ucap Freya tanpa menyingkir dari pintu.


“Tidak baik tidur tanpa makan, nanti kamu sakit lagi. Ini, cicipi sedikit juga tidak apa-apa,” ucap Yoga sambil melirik ke dalam beberapa kali, tapi sepertinya Freya tidak berniat mengundangnya masuk.


“Um, ada Lisa di dalam?” tanya Yoga.


“Ya.”


“Oh ... kalau begitu aku pulang ....”


“Ya.”


“Baiklah, sampai jumpa”


“Oke.”


Freya menutup pintu dan menguncinya. Ketika memutar tubuhnya, ia hampir melompat karena terkejut. Pramudya sedang berdiri di belakangnya, menatapnya dengan ... ekpresi macam apa itu?


“Apa yang kamu lakukan? Aku bilang diam di kamar!” seru Freya sambil melotot. Ia benar-benar terkejut.


“Dia sering datang ke sini?” tanya Pramudya. Sepertinya laporan Lisa memang benar. Yoga Pratama semakin berani.


“Apa urusanmu? Menyingkir!” sergah Freya.


Ia membawa bungkusan makanan ke dapur dan meletakkannya di atas meja, membuka plastik pembungkusnya, lalu memasukkan satu per satu makanan itu ke dalam kulkas. Sekarang ia benar-benar tidak merasa lapar dengan kehadiran mantan suaminya yang tidak tahu malu ini.

__ADS_1


Pramudya mengikuti dari belakang, berdiri diam dan mengamati semua gerak-gerik istrinya tanpa ada yang terlewatkan.


Setelah beberapa saat, Freya menghela napas dan mengepalkan tangannya.


“Jangan menatapku seperti itu,” geramnya.


“Kenapa?”


“Aku tidak suka.” Bagaimana bisa bergerak kalau tatapan itu membuatnya salah tingkah?


“Itu kamarku?” tanya Pramudya, beralih topik pembahasan dengan tiba-tiba.


“Apa?!” Freya berputar dengan cepat, memandangi Pramudya seolah pria itu tidak normal.


“Tadi itu kamarku?” tanya Pramudya dengan wajah polos yang membuat Freya ingin meninjunya sekuat tenaga.


“Aku bilang kamu makan, minum obat, lalu pergi dari sini. Bagian mana dari perkataan itu yang tidak jelas?”


“Aku tidak punya tempat tinggal lagi.” Pramudya menggosok ujung hidungnya dengan canggung. Ia tidak terbiasa berbohong.


“Rumah yang kamu berikan sebagai hadiah pernikahan untukku?”


“Disita bank.” Pramudya mengalihkan pandangannya dari wajah Freya. Ia tidak bisa berbohong sambil menatap wajah istrinya.


“Pak Bayu?”


“Dia juga bangkrut.” Pramudya diam-diam meminta maaf kepada Bayu di dalam hati.


Freya mendesis tidak percaya, tapi lalu tiba-tiba sepasang matanya membola.


“Dari mana kamu tahu alamatku?”


Pramudya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pertanyaannya semakin sulit.


“Eng ... aku mengikutimu dari kafe, naik taksi,” gumamnya pelan.


Freya mengangkat wajah dan kedua tangannya, terlihat seperti sedang berdoa. “Tuhan, kenapa Kau berikan cobaan ini kepadaku?”


“Pffft.” Pramudya buru-buru terbatuk kecil untuk menutupi tawanya. Kenapa istrinya bisa sangat menggemaskan.


Freya mengembuskan napas dan menoleh ke arah Pramudya. “Malam ini boleh tidur di sini. Besok, saat aku pulang, aku tidak ingin melihatmu masih di sini.”


Setelah mengucapkan kalimat itu, Freya berbalik dan pergi. Ia tidak sempat melihat senyuman tipis yang perlahan mengambang di wajah Pramudya Antasena.


***


Jangan lupaa komen, like ,dan votee yaa💙

__ADS_1



__ADS_2