Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Patah Hati


__ADS_3

Lisa menatap wajah kuyu di depannya dengan ekspresi sedih. Hanya dalam waktu kurang dari satu minggu, seluruh sinar kehidupan seolah-olah telah diserap habis dari diri Freya.


Teman baiknya itu terlihat seperti zombie, berjalan ke sana kemari tanpa semangat hidup, tidak bernyawa, separuh jiwanya menghilang entah ke mana.


Ia merasa semakin frustasi karena apa pun yang ia katakan untuk menghibur Freya tetap tidak bisa mengembalikan senyum lebar yang biasa terpatri di wajah ayu itu.


Lisa menarik napas panjang dan sengaja mengembuskannya keras-keras. Ternyata Pak Bos sama saja seperti pria kaya brengsek lainnya, datang dan pergi sesuka hati, mempermainkan perasaan seorang gadis dengan semena-mena.


Huh.


Lisa menarik semua pujian yang pernah ia berikan kepada Pak Bos. Dulu ia pikir hanya pria itu yang layak mendampingi Freya, tapi sekarang tampaknya bocah tengik bernama Yoga itu lumayan juga. Selain memang tampan, sepertinya dia juga sedikit bisa diandalkan.


Yah, meski pun sang waiter yang memakai apron itu lebih tampan di mata Lisa, tapi menurutnya Yoga Pratama juga cukup serasi dengan Freya.


“Ada apa?” Freya mengangkat wajahnya ketika mendengar embusan napas Lisa entah yang ke berapa kalinya.


Bibir Lisa mengerucut. Akhirnya Freya bersuara juga. Ia sudah hampir kehabisan cara untuk menarik perhatian teman baiknya itu.


“Aku lapar,” gumamnya dengan wajah cemberut.


“Turun ke bawah, minta Doni buatkan sesuatu.”


“Aku tidak mau makan kalau kamu tidak ikut makan.”


Freya mengangkat alisnya. Si konyol di depannya ini sengaja bersikap centil seperti itu hanya agar dirinya ikut makan?


Bibir Freya melengkung. Itu adalah senyum paling tulus yang muncul setelah beberapa hari yang suram ini. Ia merasa sedikit tersentuh dengan sikap Lisa. Ia tahu temannya yang cerewet itu sedang mengkhawatirkan dirinya, tapi ia benar-benar tidak lapar.


“Aku masih kenyang. Kamu makan saja. Nanti aku—“


“Kenyang apanya? Dari tadi siang kamu belum makan apa-apa, hanya segelas milkshake stroberi yang masuk ke perutmu! Kalau kamu sakit bagaimana? Kamu harus kuat agar bisa menghajar suamimu yang brengsek itu!” Lisa mendesis kesal sambil berkacak pinggang.


Hal itu membuat Freya tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia menutup mulut agar tawanya tidak meledak keluar. Lisa benar-benar konyol.


“Kamu lupa kalau suamiku yang brengsek itu adalah tambang emasmu?” goda Freya setelah tawanya mereda.


Lisa mencibir, “Tambang emas apa’an? Aku akan mengirimkan surat pengunduran diri.”


Siapa yang mau bekerja bersama pria tak bermoral seperti itu? Cih!


“Kamu yakin?” tanya Freya seraya memberikan tatapan main-main. “Gajinya besar, loh ... kerjanya gampang ....”

__ADS_1


Lisa menelan ludah.


Sial. Ucapan Freya benar, tapi ia lebih memilih untuk setia kawan.


“Sepertinya mantan pacarmu itu juga tidak miskin-miskin amat. Aku bisa—“


“Hei!” Freya melotot. “Jangan bicara omong kosong lagi!”


Lisa langsung menutup mulut dengan kedua tangannya, tapi tidak tahan dan tetap memutar bola matanya ke arah Freya.


Oke ... oke ... suami brengsekmu itu masih menjadi juara satu di hatimu ....


“Apa yang sedang kalian ributkan?”


Lisa dan Freya sama-sama menoleh ke arah pintu.


Yoga Pratama bersandar di sana, dengan satu tangan di dalam saku celana dan siku menahan sisi pintu. Pria itu tersenyum lebar, memberikan ilusi tentang bad boy yang selalu menjadi rebutan cewek-cewek di dalam komik.


Lisa terpana sampai hampir lupa menutup mulutnya. Setelah dilihat baik-baik, ternyata memang berandalan kecil itu tidak kalah tampan jika dibandingkan dengan Pak Bos.


Tunggu.


Sejak kapan dia berdiri di sana?


“Kapan kamu datang?” Freya yang lebih dulu membuka suara dan bertanya.


“Baru saja,” jawab Yoga seraya berjalan masuk.


Freya memberi tatapan tak percaya. Dari raut wajah dan cara bicaranya, sepertinya Yoga sudah cukup lama berdiri di depan pintu. Mungkin pria itu juga telah mendengar separuh percakapannya dengan Lisa. Ia diam-diam membuang napas lega. Untung saja tadi ia tidak menjawab sembarangan sehingga bisa membuat Yoga berpikiran macam-macam.


“Um, aku pergi cari makan dulu. Kalian ngobrol lah,” ucap Lisa sambil buru-buru melarikan diri dari ruangan itu. Ia tidak ingin menjadi nyamuk pengganggu. Siapa tahu kehadiran Yoga Pratama bisa sedikit mengobati luka di hati Freya.


Yoga tersenyum dan mengangguk. Ia merasa sangat senang karena teman dekat Freya sudah tidak menjaga jarak dengannya. Gadis itu juga sudah tidak memberikan ucapan dan sindiran pedas yang selalu dilontarkannya ketika mereka bertemu.


Apakah itu artinya ia sudah direstui untuk mendekati Freya? Aduh, memikirkannya saja sudah membuatnya merasa sangat bersemangat.


Freya menekan pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. Lisa memang benar-benar ... ah, sudahlah. Mau bagaimana lagi, salahkan dirinya yang terlalu memanjakan temannya yang konyol itu.


“Kamu ingin makan sesuatu?” tawar Yoga. Ia sedikit trenyuh melihat kondisi Freya, tapi juga merasa sedikit senang karena gadis itu bermasalah dengan suaminya. Kontradiksi di dalam hatinya membuat Yoga merasa bersalah. Ia tidak berani menatap mata Freya.


“Masih belum lapar.” Freya menunduk dan lanjut mengerjakan sketsa gaun yang di bukunya.

__ADS_1


“Tapi tadi kudengar kamu belum makan sejak siang,” ucap Yoga. Setelah mengantarkan Freya ke kafe tadi pagi, ia langsung kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk.


Selain itu, ia baru saja bertemu dengan Tommy Antasena dan Wisnu Aditama sebelum datang ke sini. Semakin sibuk Pramudya Antasena, semakin kecil kemungkinannya untuk menemui Freya. Rahasia kecil itu membuat Yoga merasa semakin bersalah dan ingin menebusnya dengan memberikan perhatian ekstra untuk Freya.


“Kamu menguping?” tanya Freya.


Wajah Yoga memanas mendengar pertanyaan itu, tapi ia tetap mengelak, “Tidak sengaja menguping, aku kebetulan baru sampai ketika mendengar kalian sedang berbicara dengan serius.”


“Benarkah?” Freya memutar pensil di tangannya. Dari wajahnya terlihat jelas kalau ia tidak percaya dengan pengakuan Yoga barusan.


“Ya. Aku tidak berbohong. Tadinya aku ingin mengajakmu makan di luar. Bagaimana kalau kita—“


“Tidak. Aku makan di rumah saja.” Freya bangkit berdiri dan mulai membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja, lalu membuka ponsel dan memesan taksi. Semakin lama di sini bisa gawat.


Lisa yang baru melangkah masuk tertegun di depan pintu. Ada dua piring spageti di tangannya.


“Kamu mau ke mana?” tanyanya.


“Pulang.”


“Pulang? Tapi ini ....” Lisa menatap dua piring di tangannya dengan tidak berdaya. Sia-sia ia meminta sang koki tampan untuk memasak dengan cepat.


“Kalian makan berdua saja,” pungkas Freya. Ia memakai tas ranselnya dan bersiap untuk ke luar.


“Aku antar.” Yoga buru-buru bangun dan hendak menyusul.


“Tidak usah. Aku sudah memesan taksi online. Kasihan kalau dibatalkan.”


“Hei, aku bagaimana?” protes Lisa.


“Yoga bisa mengantarmu pulang.” Freya menoleh ke arah Yoga dan mengimbuhkan, “Tolong, ya. Terima kasih.”


Ia lalu kabur sebelum kedua orang di belakangnya membalas ucapan itu. Biarkan saja mereka berduaan di dalam sana. Siapa tahu bisa jatuh cinta, lalu saling menyakiti dan patah hati ... dengan begitu, ia ada teman patah hati.


Freya menahan tawa karena pemikiran itu, lalu buru-buru ke depan untuk menunggu taksi online yang dipesannya.


Ketika berdiri di pinggir jalan, jantung Freya mendadak berdebar-debar dan perutnya sedikit mual.


Ia sangat gugup, sedikit berharap tapi juga tidak berani berharap terlalu banyak.


Pram, aku mohon, pulanglah ....

__ADS_1


*


__ADS_2