Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Berseteru Demi Seorang Gadis


__ADS_3

“Gadis itu tidak bersalah,” ucap Tommy dengan tenang.


“Heh. Tidak bersalah? Matamu buta? Kamu tidak melihat bagaimana dia bersandiwara dengan Pramudya di depan Pak Tua? Aku tidak percaya dia tidak mengetahui apa pun. Dia pasti melakukan ini demi uang. Asal kita bisa menyingkirkannya, Pramudya pasti akan kewalahan. Setidaknya bisa memberi waktu kepada kita untuk menyerang balik.”


“Bu ....” Tommy sedikit terhuyung ketika hendak duduk di kursinya.


Ia menghela napas sebelum berkata, “Jangan sentuh gadis itu. Dia tidak ada hubungannya dalam perseteruan ini.”


Tari bangun dan kembali menghampiri putranya dengan langkah panjang-panjang.


“Kamu menyukainya?” tuding Tari dengan jari telunjuk mengarah tepat ke wajah Tommy.


“Katakan, apa kamu menyukainya?” cecarnya ketika putra semata wayangnya itu hanya terdiam dan membisu.


Tommy tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi balik bertanya, “Tidak bisakah Ibu puas dengan hasil kerja kerasku ini?”


Tari mengedarkan pandangannya dan mengamati ruang kerja putranya. Meski gedung perusahaan yang dirintis oleh Tommy dengan kekuatannya sendiri itu cukup berhasil, tapi masih kalah jauh dari seluruh aset Antasena Grup. Sampai mati pun ia tidak rela membiarkan Pramudya mendapatkan semuanya.


“Kenapa kita tidak hidup dengan tenang saja?” tanya Tommy lagi. Sejujurnya, ia merasa sedikit lelah terus bersaing dengan Pramudya. Seolah ia dilahirkan dengan takdir untuk bertarung dengan adik tirinya itu tanpa akhir.


Tari mencibir. “Hidup dengan tenang?”


Ia menatap lekat ke arah putranya dan mengimbuhkan, “Aku baru bisa hidup tenang jika semuanya telah menjadi milik kita.”


“Kita tidak kekurangan apa pun. Jangan ganggu gadis itu.” Tommy bersikeras. Teringat wajah yang polos dan lugu itu membuatnya merasa tidak tega.

__ADS_1


Sudah ada terlalu banyak orang yang menjadi korban atas perseteruan tanpa ujung ini, tapi gadis itu tidak akan menjadi salah satu di antaranya. Untuk kali ini, ia akan bertarung dengan ibunya jika tetap memaksa untuk menyingkirkan istri Pramudya.


“Dasar bocah brengsek! Kenapa kamu membelanya? Jangan bilang kamu jatuh cinta pada pandangan pertama! Itu bullshit! Omong kosong! Cinta hanya akan membawamu kepada kehancuran!” Tari meraung marah. Ia tidak pernah melihat putranya melawan keinginannya seperti ini, apalagi hanya demi seorang gadis kampung!


Tommy merasa kepalanya berputar dan ia tidak tahan lagi. Semua keluhannya tumpah begitu saja, seperti bendungan yang telah lama menahan aliran air dan telah melampaui kapasitasnya.


Ia berkata, “Tapi, Bu ... bukankah kita masih tetap tinggal di kediaman utama, aku masih seorang Direktur Utama di Antasena Grup. Selain itu, aku adalah CEO di perusahaanku sendiri. Apakah semua ini masih kurang baik?”


Selama dua tahun terakhir, ia belajar dengan sangat giat, menyerap ilmu dari rekan bisnisnya, bahkan dari Pramudya. Ia merintis usahanya sendiri dan mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi.


Ia harus membagi waktu dengan sangat ketat untuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai Direktur Utama di Antasena Grup dan pemilik perusahaannya sendiri. Ia harus lembur siang dan malam agar tidak ada pekerjaan yang terlewat.


Meskipun belum sehebat Antasena Grup, perusahaannya berkembang cukup pesat. Hanya dalam waktu dua tahun, ia telah mendapatkan kepercayaan dari klien-klien besar, bahkan bulan lalu ia baru saja menandatangani kerja sama dengan pihak pemerintah Kabupaten Bandung. Sayangnya, semua pencapaian itu masih kurang di mata ibunya.


Mendengar keluhan dalam nada suara Tommy, Tari akhirnya melunak. Pundaknya merosot dan tatapannya tidak lagi menuduh dan menuntut.


Tommy menelan ludahnya yang terasa getir dan tersenyum canggung.


Semua untuk dirinya? Tapi mengapa ia tidak merasa bahagia sama sekali?


Ia hanya ingin hidup normal, tidak perlu bersaing dengan siapa pun, atau harus menghancurkan orang lain. Ia sudah terlalu lelah untuk berpura-pura kuat dan menantang dunia.


Ia sudah muak harus berakting sepanjang waktu di depan Pramudya. Saat ini, satu-satunya keinginan terbesarnya adalah dapat hidup dengan tenang.


“Apa kamu mengerti apa yang Ibu katakan?” desak Tari ketika putranya tidak memberi respons seperti yang ia inginkan.

__ADS_1


“Tommy, Ibu akan mati di hadapanmu kalau kamu menyerah sekarang. Ibu akan melompat dari sini dan membiarkanmu melihat mayat Ibu hancur di depan matamu!” Tari bangkit berdiri dan menerjang ke jendela.


“Ibu!” Tommy sangat terkejut melihat tindakan ibunya yang melampaui logika. Tapi satu hal yang pasti, ia tahu ibunya tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


Tommy melompat bangun dan menangkap tangan ibunya sebelum tiba di jendela.


“Ibu, aku akan mendengarkanmu. Akan kupastikan Pramudya Antasena hancur berkeping-keping. Aku berjanji, Bu. Maaf, aku sudah mengecewakan Ibu. Jangan marah, ya.” Tommy menahan lengan ibunya dan membujuk dengan hati-hati.


Biar bagaimana pun juga, wanita inilah yang telah melahirkan dan membesarkan dirinya. Ia tidak sanggup melihat ibunya melompat dan mati di hadapannya.


Mendengar janji itu, Tari tersenyum lebar. Matanya bercahaya seperti bintang.


Ia menatap Tommy dan berkata, “Bagus. Ibu tahu kamu tidak akan mengecewakan Ibu.


Ia tersenyum lebar dan memeluk putranya sekilas seraya berkata, “Kamu harus berusaha lebih keras. Ibu akan selalu mendukungmu. Mengenai gadis kampung itu, tidak usah pikirkan dia. Ibu yang akan menanganinya. Kamu fokus saja pada rencana sebelumnya.”


Setelah itu, ia melepaskan tangannya dan berbalik pergi dengan seringai lebar masih terpatri di wajahnya. Semuanya amarahnya sebelumnya entah menguap ke mana.


Tommy menatap kepergian ibunya tanpa mengucapkan apa-apa. Sampai pintu ruang kerjanya kembali tertutup dan sosok ibunya tidak terlihat lagi, ia baru melangkah tertatih-tatih kembali ke kursinya.


Sekejap kemudian, suara tawa yang mengerikan menggema dalam ruangan itu. Tommy terus tertawa hingga air mata mengalir di pipinya. Ia mengangkat gelas wiski tinggi-tinggi sebelum menenggak minuman itu sampai tandas dalam satu tarikan napas.


Sepertinya kehidupannya memang sudah ditakdirkan seperti ini dari awal sampai akhir.


Apa lagi yang dapat dilakukannya?

__ADS_1


Apa ....


***


__ADS_2