
Ketika membaca judul berita yang berada di urutan paling atas, tiba-tiba Lisa terkesiap hingga mulutnya terbuka lebar.
Ia menunjuk-nunjuk ponselnya dengan panik sambil berkata, “Ada kecelakaan di Antasena Grup. Lihat, jadi trending topik di forum berita bisnis.”
Freya tersedak. Ia menepuk-nepuk dadanya dan menggapai gelas air minum di atas meja multifungsi khusus pasien yang ada di sisi kanan ranjang.
Lisa membantu mengambil air itu dan menyerahkannya kepada Freya. “Pelan-pelan ... maaf, aku membuatmu terkejut.”
Freya menghabiskan air di dalam gelas, menekan-nekan dadanya yang masih sedikit nyeri dan mengatur napas.
Ia lalu menatap Lisa dan bertanya, “Kecelakaan kerja apa?”
Lisa mengambil ponselnya dan membaca lanjutan berita yang baru dilihatnya separuh.
“CEO Antasena Grup beserta jajaran dewan direksi yang hendak melakukan rapat menaiki lift yang masih dalam maintenance. Tidak ada tanda yang dipasang di depan lift sehingga mereka tidak tahu bahwa benda itu masih belum selesai diperiksa. Lift jatuh dari lantai 23. Belum dipastikan apakah ada korban jiwa karena insiden ini ....” Tangan Lisa yang memegang ponsel gemetar. Ia lalu menoleh dan mendapati wajah Freya memucat.
Sial.
Lisa menggigit bibir dan tidak berani bicara lagi. Seharusnya tadi ia tutup mulut saja. Mulutnya ini memang benar-benar pembawa masalah. Bagaimana kalau Freya memaksa ingin pergi melihat kondisi Pak Bos dan Pak Bayu?
Akan tetapi, setelah sama-sama terdiam beberapa saat, Freya hanya duduk dengan tenang dan tidak berkomentar apa-apa. Dia bahkan kembali menusuk buah naga dan melanjutkan makan seperti barusan tidak terjadi apa-apa.
Tadinya Lisa mengira Freya akan panik dan memintanya untuk menghubungi Pak Bos atau Pak Bayu, tapi ternyata dugannya itu salah.
Apakah Freya benar-benar sudah move on? Tapi tadi kenapa dia tersedak ketika mendengar berita itu?
Ponsel Lisa berdering, membuatnya terkejut hingga hampir menjatuhkan ponsel itu dari tangan.
Ada pesan masuk berturut-turut dari nomor tak dikenal.
[Ini Ruth. Tuan mengatakan Keluarga Wijaya mulai bertindak.]
[Pak Bayu sedang dirawat di rumah sakit Premiere, cedera berat karena melindungi Tuan]
[Tiga rusuknya patah, pergelangan kakinya bergeser, dan mungkin gegar otak]
[Tuan Pram retak pada telapak tangan kiri dan lutut]
[Tidak usah membalas pesan ini. Aku akan mengabari lagi nanti. Pastikan Nyonya aman dan baik-baik saja]
Lisa menggigit bibirnya keras-keras setelah membaca serentetan pesan itu. Jangan sampai keceplosan lagi.
“Ada apa?” tanya Freya yang sedikit curiga melihat gelagat aneh gadis konyol yang sudah ia anggap sebagai sahabatnya itu.
“Tidak ada. Hanya nomor tidak dikenal yang menawari pinjol. Gila, ya. Sekarang aku sudah kaya, siapa butuh pinjol?” jawab Lisa seraya menghapus pesan-pesan di ponselnya dengan cepat. Jangan sampai Freya tidak sengaja membacanya. Bisa gawat. Semua rencana bisa berantakan.
__ADS_1
“Oh ....” Freya kembali fokus pada buah naga yang tersisa.
“Lisa, bisa tolong belikan aku minuman dingin? Aku haus,” ucap Freya setelah menghabiskan buah di piring.
“Bukankah ada banyak minuman dingin di sini?” tanya Lisa seraya menunjuk kulkas satu pintu di dekat wastafel.
“Eng ... aku mau es campur. Bisa tolong carikan?”
“Oke. Tunggu sebentar, ya.” Lisa memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berjalan keluar. Jangan sampai ada pesan lain yang masuk ketika ia sedang pergi.
Setelah melihat Lisa menutup pintu, Freya mengambil ponselnya dan menatap lama pada aplikasi WhatsApp. Jari-jarinya bergerak mengetik di kolom chat. Ada pertentangan batin yang cukup lama sebelum akhirnya ia mengirimkan pesan yang hanya terdiri dari tiga kata itu.
[Kamu baik-baik saja?]
Freya mendesah pelan, membaringkan kepalanya di atas bantal dan memejamkan mata.
Apakah dia baik-baik saja?
Lantai 23 itu sangat tinggi ....
Freya menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka. Ia mengira Lisa telah kembali.
“Kenapa cepat se ... kamu?”
Yoga berdiri di depan pintu sambil memegang satu ikat bunga mawar. Pria itu masih mengenakan pakain kantor. Tampaknya dia langsung buru-buru menuju rumah sakit setelah pekerjaannya selesai.
“Oh ... berapa biaya rumah sakit? Sekalian minta nomor rekeningmu," balas Freya.
Air muka Yoga spontan berubah. Ia tidak mengharapkan respons dan jawaban seperti itu.
“Freya, aku tahu kamu masih marah, tapi tolong jangan menarik garis pembatas seperti ini. Aku—“
“Terima kasih sudah menolongku, tapi aku tidak bisa menerima semua kebaikan itu, Tuan Yoga. Dan lagi aku sudah tidak marah. Aku sudah menganggapmu sebagai teman," ucap Freya dengan jujur. Berminggu-minggu Yoga hadir dalam kehidupannya, terus mendekat dengan gigih meski ia menolak berkali-kali, pada akhirnya tidak ada lagi amarah atau kepahitan yang tersisa di hatinya.
“Freya, dengarkan aku sebentar.” Yoga berlutut di lantai, menatap ke arah gadis yang duduk bersandar di ranjang dengan sungguh-sungguh.
“Freya, aku sudah memikirkannya baik-baik. Semua kesalahan yang kulakukan kepadamu, izinkan aku menebusnya seumur hidupku. Menikahlah denganku. Aku bersumpah akan membuatmu bahagia seumur hidup. Ikut denganku ke Singapura. Tidak akan ada yang mengganggu kita di sana. Kakekku pasti akan senang bertemu denganmu.”
Brak!
Pintu terempas dengan keras. Lisa menerjang masuk seperti banteng yang mengamuk. Ia berderap dengan langkah panjang-panjang ke arah Yoga yang masih berlutut di lantai. Bungkusan di tangannya berayun ke kanan dan kiri.
“Bocah busuk, tidak puas kupukuli tadi malam, ya?!”
Dhuak!
__ADS_1
Lisa mengerahkan seluruh kekuatannya dan menendang punggung Yoga tanpa memberi kesempatan kepada pria itu untuk menghindar.
Brak!
Yoga terjungkal. Kepalanya menghantam tepian ranjang dengan keras. Bunga di tangannya terlempar ke bawah kolong.
“Lisa! Apa yang kamu lakukan?!” Freya berteriak karena terkejut.
“Freya, kamu jangan dengarkan bajingan ini! Dia ... dia ... pokoknya jangan dengarkan dia!”
Yoga mendesis kesakitan seraya merayap bangun dari lantai. Ada benjolan sebesar telur ayam di keningnya. Ia menatap penuh amarah ke arah Lisa. Gadis sialan ini sangat lancang. Benar-benar minta diberi pelajaran!
“Apa melotot-melotot begitu? Mau dihajar lagi?!” seru Lisa seraya meletakkan bungkusan es campur di lantai. Ia lalu menyingsingkan lengan bajunya, bersiap untuk berkelahi.
Apa-apaan membawa Freya pergi ke Singapura?! Pria ini pasti sudah tidak tahan sampai otaknya korslet.
“Lisa, hentikan,” tegur Freya yang mendadak kembali sakit kepala. Kenapa Lisa selalu berulah jika bertemu Yoga?
“Freya, hati-hati. Pria busuk ini tidak sebaik yang kamu pikirkan. Dia menggunakan cara kotor untuk merebutmu dari—“
“Cara kotor apa?” seru Freya dan Yoga bersamaan. Bedanya, Freya terlihat curiga sekaligus penasaran, sedangkan Yoga tampak gugup.
Yoga mengangkat tangannya dan menyangkal, “Jangan dengarkan dia, Freya. Gadis ini pasti hanya cemburu karena—“
“Ha! Cemburu matamu! Siapa yang cemburu denganmu? Puih! Tidak punya uang untuk membeli kaca? Sini, berikan alamatmu, aku kirimkan kaca yang paling besar! Gratis!”
“Lisa ....” Freya menegur Lisa dan memberi tatapan peringatan.
“Dasar gadis sialan! Mulutmu minta dihajar!”
“Yoga! Lisa! Hentikan!” Freya berteriak kesal.
Lisa dan Yoga sama-sama bungkam, saling melirik dan melemparkan tatapan mematikan.
“Kalian berdua, keluar.”
“Tapi—“
“Freya—“
“Keluar!”
Lisa mengerucutkan bibir sambil memungut bungkusan es campur di atas lantai dan memindahkannya ke atas meja. Ia berjalan keluar dengan bahu lunglai.
Pak Bos harus segera mengetahui tindakan licik yang dilakukan oleh si brengsek Yoga Pratama ini. Lihat saja apa balasannya nanti. Huh!
__ADS_1
***