
Tommy membaca pesan yang masuk ke ponselnya dengan mata memicing. Ia tidak bisa melihat isi pesan itu dengan jelas. Pandangannya berbayang, huruf-huruf yang terlihat olehnya saling menumpuk membentuk gumpalan hitam yang menggelinding ke sana kemari.
Ia melempar ponselnya ke atas meja dengan asal-asalan, lalu menarik gelas wiski dengan tangannya yang sudah hampir mati rasa.
Cairan cokelat keemasan itu tumpah dan berceceran, mengenai celana dan kemejanya, tapi Tommy peduli. Ia menenggak habis minuman itu dengan mata terpejam.
Kepalanya terasa berat dan membesar puluhan kali. Matanya perih dan merah, tapi ia tidak bisa beristirahat, apalagi tidur.
Sudah bermalam-malam ia tidak tidur.
Setiap kali ingin memejamkan mata, laporan yang diberikan oleh sekretarisnya akan kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Pemilik perusahaan yang ingin menyuntikkan dana dan “menyelamatkan” Permata Buana dari kehancuran adalah Pramudya Antasena.
Tommy hampir terkena serangan jantung ketika mendengar laporan itu.
Berkali-kali ia bertanya, berkali-kali pula sekretarisnya menjawab bahwa dia tidak salah menyebutkan nama.
Seperti sedang dipermainkan oleh seisi dunia, Tommy merasa dirinya adalah lelucon.
Terlahir sebagai anak har*m dari seorang wanita simpanan, tidak diakui dan diberi tatapan yang merendahkan setiap waktu sampai-sampai sudah terbiasa dengan semua itu.
Ia berjuang seumur hidupnya untuk menjadi nomor satu, menggunakan segala cara untuk mengalahkan adik tirinya, tapi pada akhirnya dirinyalah yang selalu menjadi pecundang.
Sudut bibir Tommy berkedut. Ia mendongak dan tertawa kencang.
Pramudya Antasena ....
Tommy bangkit dari kursi, berjalan sempoyongan keluar dari kantornya yang temaram. Ia mengabaikan sapaan sekretaris dan karyawan yang menatapnya dengan heran. Orang-orang itu tidak terlihat nyata di matanya.
Kakinya melangkah secara otomatis, membawa tubuhnya yang separuh tak bernyawa sampai di tempat parkir.
Sekretarisnya mengikuti dari belakang melompat maju dengan panik, mengadang di depan mobil dan melarangnya pergi.
“Enyah!” Tommy mendesis marah, menarik tubuh gadis yang telah mengikutinya selama hampir empat tahun sebagai sekretarisnya dan mendorongnya menjauh.
Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin dan menginjak pedal dalam-dalam.
Mobil itu melaju turun dengan kecepatan tinggi.
Tommy tidak memedulikan apa pun lagi. Suara klakson dan umpatan dari pengendara lain tidak dihiraukannya. Kecepatan mobilnya sama sekali tak berkurang.
Ia hanya ingin segera menemui Pramudya.
Untuk apa menemuinya?
Ia tidak tahu. Ia belum memikirkannya sekarang. Mungkin ia akan tahu apa yang akan dilakukannya setelah mereka bertemu.
Dalam pandangannya yang berbayang, Tommy melihat sebuah gerobak bakso menyeberang sekitar 500 meter di depan. Orang yang mendorong gerobak itu melambai-lambaikan tangan agar para pengemudi yang lewat melambatkan laju kendaraan mereka.
Tommy tidak sempat berkedip. Ia menginjak pedal rem dalam-dalam, lalu menyadari bahwa ia tidak akan berhasil berhenti tepat waktu.
Refleks ia membanting setir ke kanan.
__ADS_1
Mobil melompati pembatas jalan.
Suara benturan yang sangat keras bergaung di udara ketika bagian depan mobil Tommy menghantam moncong truk dari arah berlawanan.
Safety bag mengembang dan menghantam wajahnya dengan keras. Kelembaman membuat tubuhnya terdesak maju dan mundur hampir bersamaan.
Melayang.
Berputar.
Langit terbalik di bawah kepalanya.
Brak!
Hantaman yang keras disertai suara tulang berderak terdengar dengan jelas di telinga Tommy.
Sepersekian detik kemudian, rasa sakit yang sangat menjalar dari tulang belakang hingga lehernya.
Rasa sakit yang tak tertahankan.
Ia tidak bisa menggerakkan kepalanya. Seperti ada seutas benang di batang lehernya yang akan putus kapan saja ketika ia mencoba untuk menoleh.
Matanya nyalang menatap melewati kaca jendela yang pecah.
Suara teriakan orang-orang berdengung di telinganya. Pandangannya semakin buram oleh cairan merah yang mengalir entah dari mana—amis dan anyir.
Sakit.
Sakit sekali.
Napas terakhir yang keluar dari hidungnya menguap di udara bersama aroma debu dan aspal.
Cahaya kehidupan yang sejak berminggu lalu meredup akhirnya benar-benar padam.
**
Tari Antasena duduk di ruang tamu bersama delapan orang wanita lainnya. Semuanya mengenakan pakaian bermerk dan perhiasan dari brand-brand terkenal yang harganya sebanding dengan dua mobil Mercedes keluaran terbaru.
Ia bukannya tidak tahu kalau perusahaan anaknya sedang berada di ujung tanduk. Ia hanya tidak ingin ditendang dari dunia sosialita yang baru dikecapnya sebentar. Oleh sebab itulah ia berinisiatif untuk menjadi tuan rumah dan mengadakan jamuan.
Tentu saja makanan yang dihidangkan adalah yang terbaik. Ia bahkan tidak berat hati mengeluarkan seluruh sisa tabungannya demi mengundang koki kondang yang katanya kerap dipakai oleh kalangan atas ketika sedang menjamu tamu.
Ia berharap dengan adanya jamuan kali ini, istri-istri konglomerat yang datang bisa membujuk suami mereka untuk menanamkan modal di perusahaan milik putranya. Dengan begitu kehidupan nyaman yang ia nikmati ini bisa bertahan selamanya.
“Nyonya!” Seorang pelayan berlari menghampiri Tari dengan wajah panik, melupakan semua sikap sopan santun dan tata krama di hadapan semua orang.
“Ada apa? Kenapa kamu tidak sopan di depan tamu-tamuku?” tanya Tari, masih berusaha berbicara dengan nada rendah meski senyuman di wajahnya terlihat sangat kaku.
“Tu ... Tuan Muda ... Tuan Muda kecelakaan. Ada polisi di depan.”
“Apa?!” Tari melompat bangun, melupakan sikap anggun yang sejak tadi dipertahankannya dengan susah payah.
Ia berlari tersandung-sandung melewati ruang tamu, hampir menabrak troli berisi minuman dan camilan.
__ADS_1
Dua orang pria berseragam polisi menyambutnya di depan.
“Selamat sore, Ibu. Kami dari unit lakalantas. Betul ini kediaman Tommy Antasena?” tanya salah seorang anggota polisi itu.
Wajah Tari pucat pasi. Ia mengangguk tanpa bersuara. Telapak tangannya dingin. Apa yang terjadi dengan putranya?
“Maaf, apakah Ibu anggota keluarga almarhum?”
Almarhum?
Tubuh Tari goyah. Rasa dingin merambat hingga ke puncak kepalanya.
Pelayan yang mengikuti dari belakang segera menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
“Ibu, kami ingin mengabarkan bahwa putra Ibu mengalami kecelakaan. Silakan Ibu ikut dengan kami untuk mengindentifikasi jenazah putra Ibu.”
Bibir Tari gemetar, bergerak-gerak tanpa ada suara yang terdengar. Tubuhnya seolah tak bertulang.
Tidak.
Putranya tidak mungkin mati.
Tidak mungkin!
Tommy tidak mungkin mati!
Orang-orang ini pasti hanya datang untuk menipunya.
Tiba-tiba kekuatannya kembali. Ia mendorong sang pelayan hingga hampir tersungkur, lalu berteriak dengan lantang di hadapan kedua anggota polisi itu.
“Pergi! Pergi kalian dari rumahku! Dasar penipu! Ha-ha-ha! Kalian tidak akan mendapatkan sepeser pun dariku! Pergi!”
Kedua polisi itu saling berpandangan. Mereka bukannya tidak pernah menghadapi sikap penolakan seperti ini dari keluarga korban. Tapi tidak ada yang pernah menuduh mereka ingin menipu.
“Ibu bisa ikut dengan kami untuk memastikannya. Saat ini jenazah masih berada di kamar mayat Rumah Sakit Insan Permata.”
Tari mematung mendengar ucapan itu, menatap satu titik tidak nyata yang tidak bisa dilihat orang lain.
Ia hanya berdiri seperti itu selama hampir lima menit, tidak merespons panggilan dan ucapan siapa pun.
Lalu tiba-tiba ia tertawa keras dan mengejutkan semua orang. Di depan rekan-rekan sosialitanya yang mulai berkerumun dan berbisik-bisik, ia menjambak rambutnya dan meracau sembarangan.
Beberapa detik kemudian, tawanya tiba-tiba terhenti. Ia mengangkat kedua tangannya, membuat gerakan seolah sedang menimang bayi.
Putranya tidak mati, dia ada di sini. Di dalam pelukannya yang hangat, tersenyum dan menatapnya dengan sepasang mata yang polos dan murni.
Ia bersenandung pelan, “Nina bobo, oh, Nina bobo ... kalau tidak bobo, digigit nyamuk ....”
“Ibu—“
“Ssst, jangan berisik, bayi saya mau tidur.” Tari menempelkan telunjuknya di bibir dan memelototi pria di depannya.
Ia kembali bersenandung sambil mengayunkan tangannya ke depan dan belakang.
__ADS_1
Sesekali tertawa, lalu menangis ... tertawa ... dan menangis ....
***