
[Freya, ini aku. Tolong angkat telepon sebentar, aku ingin bicara]
[Freya, aku mohon, sebentar saja]
[Freya ....]
[Freya, kamu sangat membenciku, ya? Aku bisa menjelaskannya. Tolong ....]
[Freya ... aku merindukanmu, merindukanmu sampai dadaku sesak]
[Tolong, sebentar saja ... aku ingin mendengar suaramu ....]
Freya menatap panggilan masuk di sela pesan yang terus terkirim satu demi satu itu dengan perasaan campur aduk. Ia bisa merasakan betapa putus asanya pria itu, pria yang telah lama dirindukannya, lalu ia kira telah dilupakannya, tapi sekarang rasa rindu itu mengambang ... melayang di permukaan hatinya dan berayun dengan tidak stabil.
Tangannya terangkat di udara, bimbang memutuskan apakah harus menerima panggilan itu atau tidak, tapi sedetik kemudian keraguan itu hilang, rasa rindu pun kembali tenggelam. Ia tidak menatap layar ponsel lagi dan meletakkannya di atas meja yang berada persis di sebelah tempat tidur.
Freya berbaring di ranjang, tapi tidak bisa tidur. Ia berguling ke kanan dan kiri, sesekali bergumam dengan tidak jelas. Entah dari mana Yoga mendapatkan nomor teleponnya, pria itu terus menghubunginya tanpa lelah meskipun ia selalu menolak panggilan yang masuk dan pesan yang terkirim.
“Siapa dia? Kenapa kamu tidak menanggapinya?” tanya Lisa dengan penasaran. Mata bulatnya menatap Freya dengan penuh rasa curiga, dan ia kembali bertanya, “Kamu tidak berselingkuh dari Bos, ‘kan?”
Jangan salahkan dia yang lebih mementingkan Bos daripada teman. Siapa suruh bosnya sangat royal, menyogoknya dengan biaya pendaftaran kuliah. Katanya untuk menemani Freya agar tidak kesepian. Coba lihat, mana ada suami dan Bos sebaik itu? Sayang sekali kalau sampai Freya berselingkuh darinya.
Freya memutar bola matanya dengan kesal. Mana ada teman yang begitu mata duitan? Dengan terang-terangan membela orang yang memberi uang. Huh!
“Freya, cepat katakan. Siapa yang menganggumu? Apakah seorang penguntit? Aku akan melaporkannya kepada Bos!” sergah Lisa lagi.
Ruth yang sejak tadi hanya duduk diam di ujung sofa mau tidak mau menahan senyum. Nona Lisa sangat bertolak belakang dengan Nyonya Muda yang tenang dan kalem. Sifatnya itu memang telihat sedikit mirip dengan Tuan Bayu.
__ADS_1
Suara panggilan terdengar lagi. Freya hendak meraihnya dan menyalakan mode hening, tapi Lisa lebih cepat bergerak. Gadis itu melompat ke depan dan mengangkat telepon itu.
Sebelum orang yang melakukan panggilan menyapa atau memperkenalkan diri, Lisa lebih dulu berseru, “Siapa orang tidak tahu malu yang sejak tadi mengganggu pengantin baru tengah malam begini? Temanku sedang bermesraan dengan suaminya! Kalau ada perlu, hubungi satu minggu lagi! Itu juga kalau bosku mengizinkannya turun dari ranjang!”
Setelah melampiaskan amarahnya seperti petasan yang meledak-ledak, Freya menekan tombol daya sehingga ponsel Freya mati.
Freya masih tercengang dan belum dapat merespon. Lisa bukan hanya handal dalam merangkai kebohongan, tapi juga melakukannya dengan sangat baik. Dia bahkan tidak mengambil napas dan tidak berkedip ketika berkata dusta seperti itu. Sedikit menakutkan ....
Sebelum Freya sempat bereaksi dan memarahi Lisa yang mengambil ponselnya tanpa izin, telah terdengar suara bel pintu berbunyi.
Ruth yang lebih dulu melompat bangun dan mengintip dari lubang khusus. Sepersekian detik kemudian, ia membuka kunci dengan tergesa dan membuka pintu lebar-lebar.
“Tuan, Anda datang mencari Nyonya?” sapanya sambil membungkuk sopan.
Bayu yang berdiri di samping Pramudya lebih dulu menerobos masuk dengan sempoyongan sambil berseru dengan marah, “Siapa yang mengganggu Nyonya Muda? Cepat katakan, siapa orangnya?!”
Lisa terdiam dan memeriksa riwayat panggilan barusan dengan gerakan yang sangat kaku dan pelan.
Rupanya yang barusan menelepon adalah wakil CEO. Kenapa ia begitu ceroboh dan tidak memeriksa nama pemanggil lebih dulu. Mati sudah. Ia sudah mempersiapkan diri untuk dipecat malam itu juga.
“Cepat katakan, siapa yang berani menggangu istri Pramudya?” ulang Bayu seraya melangkah mendekati Lisa.
Dari aroma alkohol yang menguar dari tubuh pria itu, Lisa bisa menebak bahwa wakil CEO sudah mabuk, jadi dia mundur dua langkah dengan hati-hati sambil menjawab, “Wakil CEO, maaf, saya tidak tahu yang barusan menelepon Anda. Pria ini, tidak tahu siapa, dia terus menelepon tanpa henti dan mengirim ratusan pesan. Saya kesal jadi langsung mengangkat telepon yang masuk dan marah, mengira itu adalah telepon dari pria yang sama. Saya benar-benar tidak membaca nama pemanggil. Mohon Anda maafkan saya.”
Bayu terdiam dan memicing. Siapa gadis ini?
Oh, inikah teman Freya yang dimaksud oleh Pramudya? Hm, sepertinya dia adalah gadis cleaning service itu bukan?
__ADS_1
Sikap Lisa saat meminta maaf benar-benar terlihat tulus dan rendah hati, Freya tidak tahan untuk memutar matanya sekali lagi. Temannya ini benar-benar sangat hebat mengambil hati orang.
Ketika Freya masih sibuk mencibir Lisa dalam hati, Pramudya telah tiba di sampingnya. Pria itu meraih tangannya dan bertanya kepadanya, “Siapa yang menelepon? Apa itu Yoga?”
Freya memiringkan kepalanya dan menatap Pramudya. Sepasang mata yang biasanya hitam dan bersinar itu kini sedikit memerah. Apakah dia juga mabuk?
“Anda mabuk?” Freya balik bertanya.
“Tidak.” Suara Pramudya dalam dan rendah. Ia tidak mengalihkan pandangan dari wajah Freya.
“Siapa yang menelepon?” desaknya.
“Itu ....” Freya menunduk dan tidak berani membalas tatapan Pramudya. Bagaimana menjelaskannya? Ia takut pria itu akan salah paham.
Melihat situasi, Ruth segera maju dan menjelaskan, “Tuan, Nyonya tidak mengangkat telepon atau membalas pesannya, tapi orang itu terus menganggu, jadi Nona Lisa mengangkat telepon Nyonya dan memarahi orang itu.”
Seketika ruangan menjadi hening. Bayu yang mendengar penjelasan dari Ruth akhirnya bisa mencerna ucapan gadis di hadapannya tadi. Jadi begitu ceritanya. Gadis cleaning service ini sangat hebat. Tidak sia-sia Pramudya membawanya ke sini.
“Kerja bagus,” pujinya. “Lain kali kalau ada yang menganggu temanmu lagi, langsung patahkan kaki dan tangannya saja. Kirimkan tagihan biaya pengobatannya ke perusahaan.”
Freya dan Lisa sama-sama tercengang. Kesombongan ini ... tidak ada tandingannya!
Pramudya yang sudah bisa menebak siapa pengganggu yang menelepon malam-malam itu hanya berdiri dan tidak mengatakan apa-apa. Ia sendiri bingung harus melakukan apa.
Haruskah marah?
Di perjanjian jelas tertulis bahwa mereka tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing, lalu kenapa ia menurut begitu saja ketika Bayu menyeretnya ke sini? Kenapa ... ia merasa sedikit tidak senang? Kenapa .....
__ADS_1
Pramudya terus bertanya dalam hati, tapi tidak bisa menemukan jawabannya.
***