
Dengan kedatangan sang Kakek yang tiba-tiba di rumahnya, Pramudya benar-benar tak berkutik. Pada akhirnya hanya bisa balas tersenyum dan menggandeng tangan Freya, menuntunnya untuk duduk di depan Kakek.
Tubuhnya yang tegang dan napasnya yang tertahan akhirnya relaks ketika Freya tidak menolaknya secara terang-terangan. Sepertinya gadis itu benar-benar bersedia berakting demi Kakek. Pramudya merasa level rasa sukanya naik satu tingkat, tapi kali itu ia tidak melepaskan tangan istrinya dan melarikan diri lagi.
Ia sudah bertekad dalam hati, apa pun yang terjadi, ia tidak akan menjadi pengecut dan terus melarikan diri, selamanya bersembunyi dari perasaan asing yang membuatnya merasa tidak nyaman.
“Kakek bisa lihat, kami sudah berbaikan,” ucapnya tanpa melepaskan tangan Freya.
“Omong kosong!” Pak Tua menggebrak meja dengan kesal. Jelas-jelas tadi membuka pintu dengan ekspresi seperti akan memarahi orang, lalu dalam sekejap mata berubah manis dan lembut seperti ini untuk mengelabui siapa?
“Kakek, sudahlah ... aku memang sudah memaafkan Pram. Kakek jangan marah lagi, ya. Emosi yang tidak stabil tidak baik untuk kesehatan Kakek,” bujuk Freya. Ia benar-benar mencemaskan kesehatan pria tua itu.
“Berhenti membelanya. Aku benar-benar sudah gagal mendidiknya. Cucu menantuku yang baik, kamu jangan ambil hati semua sikapnya yang menjengkelkan itu, ya.” Nada suara Pak Tua melembut ketika berbicara dengan Freya. Bahkan tatapan matanya terlihat sangat penuh perhatian sekaligus permohonan.
Freya hampir meleleh. Demi pria tua yang baik hati itu, ia bersedia melakukan apa saja, termasuk bertahan sedikit lebih lama menghadapi temperamen Pak Pram yang sangat buruk.
Pak Tua menoleh kepada cucunya dan berseru,”Masih diam saja? Cepat minta maaf dengan benar!”
Pramudya Antasena tidak pernah dimarahi seperti anak kecil di depan orang lain. Apalagi ini bukan pertama kalinya kakek memarahinya karena istrinya. Hal itu membuatnya sedikit merasa malu, tapi tidak ada yang dapat dilakukan olehnya selain mematuhi semua perintah yang diberikan oleh kakeknya.
Lagipula ... kali ini ia memang harus meminta maaf dengan benar ....
Ia menatap istrinya denga sungguh-sungguh dan berkata, “Freya, aku benar-benar minta maaf. Aku sudah keterlaluan. Aku berjanji lain kali tidak akan seperti itu lagi ... tadi aku hanya ... aku ....”
Wajah Pramudya menegang. Ia tidak dapat melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Bagaimana menjelaskan bahwa tadi ia hanya ketakutan karena pemikirannya sendiri? Ia takut akan benar-benar jatuh cinta kepada gadis di sampingnya ini ....
Untung saja Freya tidak menunggu Pramudya menyelesaikan perkataannya. Ia menebak mungkin ada alasan khusus di balik sikap suaminya yang tidak masuk akal itu.
“Kakek, mungkin Pram tidak terbiasa bersikap mesra di depan umum. Aku yang salah karena sudah banyak menuntut. Kelak aku akan lebih berhati-hati dan tidak membuatnya malu lagi. Kakek jangan khawatir, ke depannya kami akan hidup dengan baik,” janji Freya kepada Pak Tua.
Pramudya menatap ke samping dan tidak bisa berkata-kata untuk waktu yang cukup lama. Di dalam hati, ia menarik semua penilaian negatif yang ia berikan kepada istrinya. Meski pemarah, tapi gadis ini juga sangat bermurah hati dan menyayangi kakeknya dengan tulus. Ia bisa melihat dan mendengar itu dari sikap dan nada bicaranya yang apa adanya, semuanya sangat alami, tidak ada yang dibuat-buat.
Pak Tua melambaikan tangannya di udara sambil berkata, “Sudahlah. Kamu sudah sangat menderita karena harus hidup bersama bocah yang tidak tahu diri ini. Tidak perlu terus membelanya di depanku.”
Freya tertawa. Ia merasa senang ada seseorang yang memarahi Pak Pram untuknya. Tapi ia juga harus menahan diri, jangan sampai si balok es ini tersinggung dan merajuk lagi.
“Kakek sudah makan malam? Kalau belum, aku akan meminta Pak Anton untuk menyiapkannya.” Freya berusaha mengalihkan perhatian Kakek. Masalah antara dirinya dan Pak Pram, anggap saja sudah selesai. Ia telah memutuskan untuk bermurah hati dan memaafkan pria itu, tidak perlu memperpanjangnya lagi.
“Lihatlah, cucu menantuku begitu baik dan perhatian ... aku sudah makan tadi.” Pak Tua langsung tersenyum lebar. Ia sungguh merasa cucunya bisa mendapatkan istri seperti ini adalah sebuah berkah.
Pak Tua melambaikan tangannya dengan cepat.
“Aku datang ke sini bukan untuk ditemani jalan-jalan,” jelasnya. Ia menyalakan ponselnya dan menggerakkan jarinya naik turun.
Freya menoleh dan menatap Pak Pram, seolah bertanya “Apa yang sedang dilakukan oleh kakekmu?”
Pramudya hanya mengangkat alisnya. Mana ia tahu?
Tak lama kemudian, ponsel di saku celananya berdering.
__ADS_1
“Bukalah,” perintah Pak Tua ketika melihat cucunya tidak merespons ponselnya yang berbunyi.
Pramudya semakin heran, tapi ia tetap mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
“Ini adalah hadiah pernikahan dari Kakek. Kalian tidak boleh menolaknya,” ucap Pak Tua dengan sepasang mata kelabunya yang bersinar penuh semangat. Kali ini seharusnya ia akan segera menimang cicit!
“Apa ini, Kek?” tanya Freya seraya melirik pesan di ponsel Pak Pram.
Pramudya menahan dorongan untuk memijit alisnya yang bergetar.
Itu adalah sebuah kode booking paket wisata bulan madu selama lima hari empat malam di Pulau Bali!
Siapa yang mencetuskan ide ini? Ia tahu kakeknya tidak mungkin memiliki pemikiran seperti ini, apalagi sampai memesankan seluruh akomodasi dan villa di Bali. Pasti ada dalang di balik perilaku ganjil kakeknya ini.
Di dapur, Pak Anton tiba-tiba bersin. Gawat, apakah majikannya langsung tahu bahwa ialah yang memberi ide kepada Pak Tua untuk memberikan paket wisata bulan madu sebagai hadiah pernikahan? Semoga saja tidak. Ia masih ingin bekerja lebih lama di tempat itu.
Di lantai atas, Pramudya menghela napas dan berkata dengan hati-hati, “Kakek, terima kasih atas hadiah ini. Aku dan Freya pasti akan sangat menikmatinya.”
Pak Tua manggut-manggut dan tersenyum puas. “Bagus, kalau begitu kalian bisa berangkat besok. Tiket pesawat sudah dipesan.”
“Apa?” Pramudya hampir kehilangan kendali diri dan berteriak ketika sebuah pesan masuk lagi. Pesan yang dikirimkan oleh kakeknya. Kali ini adalah kode booking pesawat dengan penerbangan pukul delapan besok pagi.
“Kenapa? Bukankah kamu barusan mengatakan bahwa sangat senang? Kenapa responmu seperti itu?” Pak Tua menyeringai licik. Sepertinya cucunya ini merasa sudah lebih hebat dari dirinya.
Memangnya ia tidak tahu kalau pada hari pertama pernikahan mereka, cucunya yang tidak tahu aturan ini malah pergi bekerja, sedangkan cucu menantunya pergi ke kampus.
__ADS_1
Kalau terus begini, kapan ia akan melihat cicitnya yang lucu dan menggemaskan?
***