Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Ajaran dari Pak Tua


__ADS_3

Sopir hanya berusaha untuk fokus menyetir dengan baik. Ia berusaha mengabaikan majikannya yang berubah dari dingin menjadi panas. Suhu pendingin mobil yang telah ia turunkan hingga paling rendah masih belum bisa menghilangkan hawa panas yang datang dari sisi kirinya.


Ia bahkan merasa sedikit berhalusinasi melihat asap yang membubung dari atas kepala Tuan Pram.


Apakah itu karena Nyonya Muda sibuk dengan ponsel sepanjang perjalanan dan mengabaikan Tuan sepenuhnya?


Sang sopir diam-diam melirik sekilas dari kaca di atas dashboard. Nyonya yang tadi masuk mobil seperti akan pergi membunuh orang kini sudah bisa tersenyum. Nyonya bahkan tersenyum dengan sangat lebar dan menatap ponselnya dengan sangat serius.


“Lihat apa?”


Teguran itu membuat sopir hampir terkena serangan jantung. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke depan dan tidak berani curi-curi pandang lagi. Suara Tuan Pram hampir saja mencabut nyawanya. Sangat menakutkan.


Untung saja jarak rumah sudah dekat. Tidak sampai lima menit, mobil sudah memasuki pelataran.


Seorang pelayan bergegas membukakan pintu mobil begitu mobil berhenti. Ia membuka pintu di bagian penumpang, sedikit terkejut ketika tidak melihat Tuan Pram di sana, lalu hendak membukakan pintu depan, tapi Pramudya sudah lebih dulu membukanya sendiri dan turun.


“Maaf, Tuan. Saya kira—“


Pramudya melambaikan tangannya dan melangkah pergi, membuat ucapan sang pelayan terpotong dan mengambang di udara.


Pelayan itu melirik sopir yang berjalan ke arahnya dan memberikan tatapan penuh tanya, tapi sang sopir hanya mengangkat bahu tanpa mengatakan apa-apa. Ia tidak mau ikut campur dalam uruan Tuan dan Nyonya. Ia masih ingin hidup sehat dan berumur panjang.


Sebelum memasuki ruang tamu, Freya terkejut karena Pak Anton tiba-tiba mengadangnya dengan wajah panik.


“Nyonya, ada Kakek di rumah. Di mana Tuan Pram?” tanya Pak Anton separuh berbisik.


Freya mendongak dengan acuh tak acuh dan menjawab, “Tidak tahu.”


Setelah itu, ia melanjutkan langkah kakinya dengan santai ke arah tangga. Ada Kakek atau tidak, apa urusannya dengannya?


Pak Anton hampir mendapatkan serangan jantung karena jawaban itu.


Ada apa lagi? Bukankah tadi sore Tuan Muda dan Nyonya berangkat dalam keadaan baik-baik saja? Kenapa setelah pulang mereka berjalan masing-masing?

__ADS_1


Nyonya Muda bahkan sudah tidak peduli ada Kakek atau tidak, benar-benar situasi yang sangat berbahaya!


Pak Anton bergegas ke depan, hendak mencari majikannya. Karena terlalu terburu-buru, ia hampir menabrak Pramudya yang baru saja melewati pintu.


“Tuan!” Pak Anton merasa hampir tercekik karena sangat tegang dan gugup.


“Ada apa?” tanya Pramudya dengan kening berkerut.


“Tuan bertengkar lagi dengan Nyonya? Gawat ... ada Kakek, tapi Nyonya tidak peduli dan sudah pergi ke kamarnya.”


“Di mana Kakek?”


“Ada di kamar tamu. Saat ini Kakek belum tahu kalau Tuan dan Nyonya sudah pulang, tapi ....” Pak Anton tidak berani melanjutkan ucapannya.


Kalau sampai Pak Tua mengetahui sesuatu yang aneh, bisa gawat. Ia bukannya tidak mendengar desas-desus mengenai pernikahan pura-pura majikannya ini, tapi tentu saja selaku pelayan, ia selalu mengharapkan yang terbaik untuk tuan mudanya ini.


Setelah terdiam sejenak, Pramudya berkata, “Katakan saja kalau Nyonya marah karena aku tidak bersikap sopan. Mungkin kami akan—“


“Siapa yang marah? Siapa yang tidak sopan?”


Pak Anton tidak bisa menahan diri dan mengusap keringat di keningnya. Ini sangat menegangkan!


Sedangkan Pramudya hanya bisa menghela napas pelan melihat sosok kakeknya yang semakin mendekat. Pada akhirnya ia hanya bisa memasang senyum palsu dan menyambut kakeknya.


“Kakek, kenapa tidak bilang kalau mau datang?” tegurnya.


Pak Tua memelototi cucunya dengan ganas dan marah. “Kenapa? Kalau aku memberitahumu, bukankah kamu akan berpura-pura bersikap baik kepada cucu menantuku? Sekarang aku bisa melihat dengan jelas sikap berandalanmu itu.”


“Kakek, bukan seperti itu. Aku—“


“Bukan seperti itu apa? Bukankah kamu yang barusan berkata bahwa kamu telah tidak sopan sehingga istrimu marah?! Masih mau menyangkalnya?”


“Tidak ... aku ....” Pramudya memijit keningnya.

__ADS_1


Sakit kepala ....


Pak Anton diam-diam mundur dan melarikan diri dari arena pertempuran. Biarkan saja Pak Tua yang mengurus semuanya. Itu akan lebih bagus. Setidaknya ada yang bisa menasihati Tuan Muda untuk bersikap lebih baik kepada Nyonya.


“Aku harus memberimu pelajaran!” Pak Tua mengangkat tongkatnya dan menyodok tulang kering cucunya.


Pramudya meringis, tapi tidak berani membantah. Ia tahu bisa segalak apa kakeknya kalau sudah mengamuk.


“Apa yang telah kamu lakukan? Kenapa istrimu bisa marah?” tanya Pak Tua seraya menyodok tulang kering Pramudya sekali lagi.


“Aku ... tadi aku buru-buru, jadi meninggalkannya di—“


“Dasar bodoh! Siapa yang mengajarimu untuk tidak tahu aturan seperti itu? Bukankah kamu sudah berjanji untuk menjaganya? Bukankah kamu berjanji tidak akan membiarkan orang lain menindasnya? Lalu kenapa kamu sendiri yang memperlakukannya dengan tidak adil seperti itu?”


Pramudya terdiam. Ucapan kakeknya benar. Kenapa ia sangat bodoh? Karena rasa takut yang tidak beralasan, ia jadi bersikap tidak masuk akal.


“Kakek, aku sudah tahu aku salah. Aku akan pergi membujuknya ...,” ucap Pramudya dengan sungguh-sungguh.


“Cepat pergi! Semakin melihat wajahmu semakin membuatku ingin memukulimu.” Pak Tua melotot, mendorong pinggang cucunya dengan ujung tongkat.


Pramudya segera pergi, melewati ruang tamu, menapaki anak tangga satu demi satu sambil berpikir dengan serius.


Bagaimana cara membujuk gadis pemarah itu?


Ia tidak memiliki pengalaman dalam membujuk seseorang yang sedang marah sebelumnya.


Biasanya, semua orang yang akan berlomba-lomba menyenangkan hatinya, meminta maaf kepadanya, dan menuruti semua perkataannya.


Tapi kali ini ....


Pramudya menghela napas, berbelok ke arah kamar Freya, berhenti di depan pintu dan terdiam di sana.


Sekarang apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


***


__ADS_2