Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Nyonya Masih Mau Pingsan?


__ADS_3

Satu pria yang tersisa meraung marah sambil menerjang ke arah Freya.


"Dasar ******! Aku akan—"


“Berisik!” Freya meraih potongan jangkar berkarat yang berada di ujung kakinya, kemudian salto dan menyambut pria itu di udara. Kakinya berputar dan menghantam betis pria itu dengan kuat.


Pria itu jatuh terlempar di atas lantai.


Dengan kecepatan yang masih tidak terbaca, Freya menancapkan potongan jangkar tepat di paha pria itu.


Lolongan kesakitan kembali terdengar di udara.


Prang!


Suara kaca jendela yang pecah menarik perhatian semua orang. Suara teriakan kesakitan berhenti bersamaan. Mereka semua serempak menoleh ke asal suara.


Satu-satunya jendela yang ada telah pecah. Sebuah bulatan besi seukuran telapak tangan terlempar masuk dari lubang itu, menggelinding dan berhenti tepat di tengah ruangan.


Serpihan kaca dan kayu berserak di atas lantai.


Freya yang menyadari benda apa itu segera berlari menjauh, melompat dan tiarap di atas lantai sambil menutup kedua telinganya.


Pssst!


Suara desisan yang terdengar seperti balon kempis terdengar dalam ruangan itu. Kepulan asap dan debu bercampur di udara. Satu detik kemudian, kepulan asap yang sangat tebal membumbung keluar dan memenuhi ruangan dengan cepat.


Sial. Rupanya bukan bom.


Itu gas air mata!


Freya memaki dalam hati sambil menumpu tubuhnya dengan lutut dan siku. Ia mencoba untuk merangkak menuju pintu, tidak memedulikan kelima pria bajingan yang ada dalam ruangan itu.


Biarkan mereka mencari jalan keluar sendiri. Lagi pula, siapa yang tahu orang yang melempar bom asap itu teman atau musuh?


Freya mengabaikan lutut dan telapak tangannya yang perih. Ia mencoba bangun dengan berpegangan pada dinding yang berkarat dan mengelupas di sana-sini.


Ia masih dapat mendengar caci maki bercampur erang kesakitan dari dalam ruangan, tapi suara-suara itu telah sedikit menjauh. Sepertinya para penculiknya terluka cukup parah sehingga tak ada satu pun yang datang untuk mengejarnya. Termasuk si bos yang tukang omong besar itu.


Ingin tidur denganku? Heh. Pergi mati saja!


Tinggal beberapa langkah lagi Freya akan mencapai pintu, tapi satu pasukan pria berpakaian serba hitam telah menyerbu masuk ke dalam ruangan itu.


Tubuh Freya membeku. Para pria itu memakai rompi anti peluru dan membawa senjata laras panjang yang biasa ia lihat di film-film aksi laga.


Ia terpana dan sedikit merapatkan tubuh ke tembok ketika para pria itu mendekat ke arahnya.


Apakah mereka orang-orang suruhan dari bos gila itu? Tapi kenapa mereka menyerang dengan granat? Ingin membunuh bos sendiri?

__ADS_1


“Nyonya!” Salah seorang dari pria berpakaian hitam itu bergegas maju seraya memegang sebuah masker khusus.


“Silakan pakai ini,” ucapnya seraya membungkuk dan menyodorkan masker itu ke arah Freya.


Akhirnya Freya bisa mengembuskan napas lega. Ia melambaikan tangan dan menolak masker itu.


Orang-orang ini bodoh atau bagaimana? Bisa-bisanya melempar bom asap kepada sandera? Mereka mengambil pelatihan di mana?


Benar-benar amatir!


Sudahlah. Karena mereka tidak termasuk orang-orang yang ingin membunuhnya, maka itu sudah lebih dari cukup. Freya tidak ingin mempermasalahkannya. Lagi pula pintu hanya tinggal berjarak beberapa langkah lagi.


“Di dalam ada lima orang,” jelasnya.


Ia lalu berpegangan pada dinding dan terus berjalan ke luar. Cahaya matahari yang panas menyambutnya dan udara yang kering merangsek masuk ke dalam paru-parunya.


Freya memejamkan mata dan menikmatinya. Setidaknya itu lebih baik dari pada udara lembap berbau apek dan kotoran tikus di dalam gudang busuk itu.


“Siapa yang mengirim kalian?” tanyanya kepada seorang pengawal yang berada di sisi kanannya.


“Tuan Pram.”


“Oh ....”


Rupanya pria itu masih punya hati nurani. Ia pikir Pramudya Antasena tidak akan peduli tentang hidup dan matinya, tapi sepertinya ia telah keliru.


Tanpa sadar ujung-ujung bibir Freya melengkung. Entah kenapa ia merasa senang dengan alasan yang tidak jelas.


“Freya!”


Suara seruan itu terpaksa membuat Freya membuka mata. Dari depan, tampak dua orang pria sedang menaiki sepeda motor dan melaju ke arahnya.


Siapa?


Mata Freya menyipit.


Ketika akhirnya mengenali kedua pengendara sepeda motor itu, bahu Freya melorot.


Itu adalah Yoga dan Pak Bayu.


Kedua pria cerewet itu ... ia tidak ingin menghadapi mereka berdua.


“Cepat papah aku!” perintah Freya kepada pengawal yang paling dekat dengannya. Ia lalu ambruk tanpa menunggu respon pengawal itu.


Untung saja pengawal itu sangat sigap. Ia menangkap tubuh Freya dan bersikap seolah-olah sang Nyonya sudah tidak sadarkan diri karena diculik.


Yoga yang melihat hal itu dari jauh segera menambah kecepatannya.

__ADS_1


Bayu tidak mau kalah. Ia menarik gas hingga maksimal.


Kepulan asap dari knalpot mengiringi kedatangan dua pengendara sepeda motor yang terlihat seperti ingin merampok bank.


“Apa yang terjadi kepadanya?” seru mereka hampir bersamaan.


Sang pengawal yang berdiri dan menopang tubuh Freya dengan sedikit canggung hanya bisa menjawab, “Sepertinya Nyonya kelelahan. Selain itu, kami tidak mengira ada Nyonya di dalam, jadi ketua melemparkan bom asap. Sepertinya Nyonya sedikit menghirup—“


“Apa?! Dasar tidak berguna!” marah Yoga.


Bayu melotot dengan kesal dan mengumpat, “Apanya yang tim elit? Dasar otak udang!”


Sang pengawal hanya bisa diam dan menerima amarah itu. Lagi pula, itu memang kesalahan tim mereka karena tidak menyadari keberadaan Nyonya di dalam ruangan. Informan mereka mengatakan bahwa Nyonya masih berada di dalam mobil pick up yang dipindahkan ke tempat parkir dermaga.


“Berikan dia kepadaku,” perintah Yoga.


“Mimpi!” Bayu mendorong bahu Yoga dengan kuat, menghalangi di depan pria itu.


“Bawa Nyonya ke mobil, antar pulang ke tempat Pram,” perintahnya.


“Baik, Tuan.”


“Minggir!” Yoga mendesak maju dan hendak merebut Freya.


Tentu saja Bayu tidak tinggal diam. Ia menahan dengan tubuhnya agar Yoga tidak bisa ke mana-mana.


Dalam sekejap, kedua pria itu terlah bertarung dan berguling di atas aspal.


Sang pengawal menahan keinginan untuk membangunkan Nyonya Muda dan menonton pertarungan itu.


Pantas saja Nyonya langsung berpura-pura pingsan ....


Pengawal itu membawa Freya ke mobil dan membangunkannya dengan hati-hati. “Nyonya, kalau Anda masih ingin pingsan maka—“


“Ya, jangan ganggu. Aku masih mau pingsan. Bangunkan ketika sampai di rumah.”


“Baik ....”


Sang pengawal menahan napas dan menutup pintu mobil, kemudian pindah ke kursi penumpang di bagian depan.


Saat ini tugas utamanya adalah menjaga dan mengantarkan Nyonya sampai di rumah dengan selamat. Masalah dua orang pria yang sedang bertengkar dan para penculik itu, biarkan rekan-rekannya yang mengurusnya.


“Ayo, antarkan Nyonya pulang,” ucapnya kepada rekan kerjanya yang bertugas sebagai sopir.


“Oke.”


Mesin mobil menyala, lalu mobil bergerak dengan stabil meninggalkan dermaga dan kekacauan di belakangnya.

__ADS_1


***


__ADS_2