
Setelah membantu menyeka Pak Pram, Freya bergegas keluar dan menghubungi Bayu. Ia meminta pria itu untuk datang ke kamar pengantin dan menemani suaminya.
Bayu mengumpat dan memarahi Pramudya tidak tahu diri. Ia terpaksa harus menghabiskan malam bersama sahabatnya itu di dalam kamar yang dihiasi begitu banyak rangkaian bunga.
Jangan ingatkan tentang ratusan kelopak bunga yang berhamburan di atas ranjang dan aroma terapi yang membuat suasana semakin terasa romantis. Tidak masalah jika kamar itu ditempati oleh para wanita.
Namun, ketika dua orang pria bertubuh tegap dan berotot yang tidur di dalamnya—satu dalam keadaan mabuk, dan satunya lagi setengah mabuk—maka itu terasa sangat menjijikkan. Ia merasa seperti sedang menjual diri dengan seorang pria yang tidak lurus untuk mendapatkan uang.
Mengabaikan Bayu yang masih sibuk memaki, Freya pergi ke kamar yang tadinya digunakan oleh Pramudya dan Bayu. Kamar itu terletak persis di seberang kamar pengantin. Freya menatap pintu dengan ekspresi tak percaya. Untuk apa suaminya menyewa kamar di depan kamar pengantin mereka dan mengajak Pak Bayu untuk mabuk-mabukan di sana? Bukankah ini sedikit mencurigakan?
Freya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras dan menggunakan kunci yang diberikan oleh Bayu untuk membuka pintu. Ruth dan Lisa langsung menyambutkan begitu ia melangkah masuk.
“Bagaimana? Kenapa kamu ke sini?” tanya mereka berdua serempak.
Freya memutar bola matanya dengan kesal. Apanya yang bagaimana? Dua orang teman yang tidak dapat diandalkan ini mengharapkannya untuk tidur bersama pria mabuk? Sungguh tidak berperasaan!
Ia terlalu malas untuk mengurusi mereka berdua. Tanpa mengatakan apa-apa, ia berjalan menuju kamar utama, menutup pintu tepat di depan hidung kedua pengkhianat itu dan menguncinya sebelum mereka sempat bereaksi.
Rasakan! Siapa suruh tidak setia kawan? Huh!
“Freya! Buka pintunya! Kenapa kamu mengunciku di luar? Di mana aku harus tidur?”
Freya mengabaikan teriakan Lisa dan pergi ke kamar mandi. Mau tidur di mana, terserah padamu saja. Toh, kamar VVIP ini memiliki lebih dari satu ruang tidur. Ia tahu karena modelnya sama dengan kamar yang digunakan sebagai kamar pengantin.
__ADS_1
Ada satu kamar yang ukurannya lebih kecil dengan ranjang single di seberang kamar utama yang lebih luas. Selain itu masih ada sofa yang cukup panjang di ruang tamu. Mereka bisa memutuskan siapa yang akan tidur di kamar samping dan siapa yang akan tidur di sofa. Atau apakah mereka ingin tidur bersama, apa pun itu ... ia tidak peduli.
Untung saja suara teriakan Lisa tidak terdengar lagi. Mungkin Ruth mengingatkannya agar tidak berisik sehingga akhirnya dia diam. Baguslah. Ternyata Ruth sangat membantu dan pengertian dalam situasi seperti ini. Freya benar-benar mempertimbangkan untuk meminta kenaikan gaji bagi pelayan yang sudah dianggapnya sebagai teman itu.
Freya lalu menyimpan ponselnya di atas meja dan berbaring di atas kasur dengan sangat nyaman. Ia meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa pegal dan kaku. Berdiri dan dipajang seharian ternyata sangat melelahkan.
Ia mencoba untuk memejamkan mata dan beristirahat, tapi kata-kata Pramudya terus bergema di dalam gendang telinganya. Ia yakin ada banyak kalimat yang telah diucapkan oleh Pramudya, tapi hanya kalimat satu ini yang diingat olehnya.
“Apa aku tidak boleh menyukaimu?”
Tiba-tiba ia tidak bisa tidur lagi. Semua rasa kantuknya lenyap begitu saja karena memikirkan jawaban atas pertanyaan ini.
Dari posisi yang semula telentang, Freya memiringkan tubuhnya sambil memeluk bantal guling. Tak lama kemudian, ia tengkurap dan menyumpal mulutnya dengan segulung bed cover yang telah diremas-remasnya lebih dulu.
Sial. Mengapa pula pria itu harus mengucapkan kalimat ambigu seperti itu kepadanya?
Apakah semua itu penting?
Apakah semua ucapan itu adalah kebenaran yang terungkap dari dasar hatinya, atau hanya sebuah kepura-puraan belaka, sama seperti status pernikahan mereka.
Freya terguling dan hampir jatuh dari ranjang. Untung saja tangannya menggapai dan mencengkeram bagian tengah kasur dengan cepat sebelum tubuhnya benar-benar jatuh.
Ia merangkak dan duduk bersandar di kepala ranjang. Rambutnya acak-acakan dan bibirnya mengerucut karena kesal. Kenapa hatinya mendadak galau hanya karena sebuah pertanyaan asal yang dilontarkan oleh suami kontraknya itu? Apa urusannya untuk peduli?
__ADS_1
Akan tetapi, meski telah berupaya untuk terus bersikap tidak peduli, hati kecilnya terus bertanya-tanya, mengapa Pramudya bisa menyukainya?
Ia tidak terlalu cantik. Kulitnya bahkan tidak sebening sekretaris Kikan.
Ia tahu Pak Pram pasti sering dikelilingi oleh putri rekan bisnisnya yang ingin mengejarnya sampai ke atas ranjang. Atau para model dan aktris yang rela melakukan apa saja demi seorang pria kaya dan tampan seperti diri Pak Pram.
Penampilan wanita-wanita kaya itu, sudah pasti seperti bumi dan langit jika dibandingkan dengan dirinya. Wanita-wanita itu pastilah terlihat seperti aliran air yang jernih. Jika disandingkan dengan dirinya, ia hanya seperti gundukan tanah longsor, kotor dan berlumpur.
Apakah Pak Pram terlalu bosan dengan tipe perempuan seperti itu dan ingin mencoba yang baru? Yang jelek dan bodoh seperti diriku.
Freya semakin cemberut memikirkan kemungkinan jawaban itu. Ia merasa hanya menjadi sebuah objek pelampiasan rasa bosan seorang pria kaya yang menjengkelkan.
Atau, mungkinkah pria kaya dan mendominasi memiliki selera yang unik?
Mungkin suaminya itu telah terbiasa melihat hal-hal yang sangat indah sehingga ketika seekor katak kecil melompat di depannya, dia akan menganggap katak itu sangat indah dan ingin memilikinya sejenak. Maka dari itu dia menangkap katak buruk rupa itu dan menyimpannya di dalam kotak emas selama enam bulan.
Ya, sepertinya memang begitu. Itu adalah alasan lain yang paling masuk akal. Itu juga kalau ucapannya bisa dipercaya. Kalau dia hanya sedang mengigau karena mabuk, maka ....
“Ingat baik-baik siapa dirimu sebenarnya, katak jelek. Enam bulan kemudian, kamu akan dilemparkan kembali ke dalam lumpur.” Freya bergumam pelan kepada dirinya sendiri.
Suaranya terdengar tenang dan jernih, tapi nada penghinaan yang dilontarkannya kepada diri sendiri itu membuat orang ikut sakit hati jika mendengarnya.
Freya kembali berbaring di atas kasur, menarik bed cover untuk menutupi seluruh tubuhnya, mulai dari ujung rambut sampai ujung kepala, tidak ada celah yang terlihat.
__ADS_1
“Hm. Seharusnya di tempat seperti inilah dirimu berada. Gelap dan suram. Bukan siapa-siapa ... tidak memiliki siapa-siapa ... jangan pernah lupakan itu ....”
***