Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Terpesona


__ADS_3

Freya mandi dan berganti pakaian dengan cepat. Ia menatap pantulan tubuhnya di cermin.


Gaun malam yang dipilihkan oleh Ruth sangat indah. Potongan gaun berwarna biru tua itu anggun dan menegaskan bentuk tubuhnya, tapi tetap terlihat anggun dan berkelas.


Dengan kerah berbentuk V-neck, leher jenjang Freya terlihat menonjol. Garis tulang selangkanya yang ramping menambah kesan cantik dan seksi.


Freya sedikit terpana melihat penampilannya sendiri. Meskipun tanpa riasan, ia sudah terlihat sangat berbeda hanya karena gaun yang dikenakannya.


Untung saja bekas luka di kepalanya dan memar di pelipisnya sudah menghilang. Bahkan jahitan di betisnya tidak meninggalkan bekas sama sekali.


Harus ia akui, Pramudya Antasena benar-benar hebat. Dokter dan obat-obatan terbaik membuat luka-luka di tubuhnya sembuh hanya dalam hitungan hari.


Ia mendesah pelan dan bergumam pelan untuk mengejek dirinya sendiri, “Memang uang bisa mengubah segalanya. Bahkan itik buruk rupa pun bisa terlihat seperti angsa yang cantik.”


Ruth yang masih berdiri di sisinya tidak bisa menahan diri untuk tersenyum.


“Nyonya, Anda memang cantik. Anda hanya tidak menyadarinya saja. Penglihatan Tuan lebih bagus, maka dari itu Tuan memilih Nyonya sebagai pasangan.”


Freya memutar bola matanya dan mencibir. Penglihatan siapa yang bagus? Pria itu hanya memilih secara acak saja. Jika yang masuk ke kantornya hari itu adalah gadis lain yang menjadi office girl, mungkin Pramudya Antasena akan tetap memilih gadis itu.


“Mulutmu sangat manis. Apakah ingin aku meminta Tuan untuk menaikkan gajimu?” Freya balik menggoda Ruth.


“Tidak! Jangan, Nyonya! Saya hanya bercanda.” Ruth menggeleng dengan panik, membuat Freya menertawainya dengan puas.


“Sudahlah, tolong bantu aku kancingkan ritsleting ini.” Freya memutar punggungnya ke arah Ruth. Tangannya tidak sampai.


Ruth segera menarik ujung ritsleting dengan hati-hati dan memastikannya terkunci dengan benar.


“Sudah, Nyonya.”


“Terima kasih.”


Ruth mengangguk dengan sopan. “Ada lagi yang bisa saya bantu? Saya bisa sedikit merias wajah.”


“Apakah kamu mengikuti kursus atau semacamnya?” selidik Freya.

__ADS_1


“Ya. Itu salah satu syarat yang ada ketika saya melamar di sini.”


“Kamu baru di sini?” tanya Freya lagi.


“Ya. Saat Anda tiba di rumah ini, saya juga baru datang,” jawab Ruth dengan jujur.


“Apa lagi yang kamu bisa?” Freya menatap Ruth dengan tatapan menyelidik.


“Saya bisa massage, lulur, dan totok wajah, itu semua akan membantu membuat tubuh Anda lebih relaks, Nyonya. Silakan katakan saja kapan Anda menginginkannya.”


Freya terdiam. Sepertinya Pak Pram sengaja memilih Ruth untuk khusus melayaninya. Kualifikasi yang dimiliki Ruth tidak biasa. Ia seperti memiliki asisten pribadi yang siap melayaninya kapan saja dan di mana saja.


“Sudahlah, kamu boleh keluar. Aku akan merias wajah sendiri.”


“Baik, Nyonya.” Ruth menjawab dan keluar dengan patuh. Kepala pelayan sudah berpesan, ia harus menuruti semua perkataan Nyonya.


Freya menatap kotak make-up di atas meja yang tadi dibawakan oleh Ruth. Ia hanya memakai sedikit fondation, memoles wajahnya dengan bedak tipis-tipis, dan membubuhkan perona bibir dengan warna yang natural.


Ia menyisir rambut dan memakai jepit kecil untuk menahan poninya, lalu memakai heels 5 senti yang dipilihkan Ruth. Ia mencoba berjalan dan berputar sebentar di dalam kamar. Rasanya cukup nyaman.


Gadis itu mengangguk puas dan menyambar tas tangan berisi ponsel dan dompet yang ada di atas kasur. Ia berjalan keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan hati-hati. Meskipun alas kakinya terasa cukup nyaman dipakai, ia tetap takut tersandung dan terguling ke bawah.


Pramudya mendongak ketika mendengar langkah kaki di anak tangga. Ia sudah siap dengan setelan kemeja biru dongker yang warnanya satu tone lebih gelap dari warna gaun Freya.


Ketika melihat istrinya itu berjalan turun, Pramudya sedikit terkesima. Penampilan gadis terlihat sangat berbeda, seperti bermetamorfosis dari seekor ulat menjadi kupu-kupu yang anggun dan memikat. Wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa, mungkin karena pengaruh gaun malam yang dikenakannya.


Selain itu, bahkan dengan riasan yang sangat sederhana, penampilan istrinya terlihat cukup menawan.


Tiba-tiba Pramudya sadar, istri palsunya ini lumayan cantik. Tipe kecantikannya bukan seperti bunga mawar yang menawan dan membuat orang terpikat dalam sekali pandang, tapi lebih seperti sekuntum anggrek liar yang tidak akan membuat orang lekas bosan. Semakin dilihat semakin tidak bisa teralihkan. Semakin dilihat semakin penasaran.


Pak Anton menunduk dan terbatuk pelan untuk menahan tawanya, membuat Pramudya tersadar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ekspresi wajah Pramudya kembali seperti semula: tenang dan dingin, seolah-olah kekaguman yang melintas di wajahnya tadi hanya ilusi.


“Tuan, saya harap saya tidak akan mempermalukan Anda. Kalau penampilan ini masih kurang baik, katakan saja. Saya akan pergi untuk memperbaikinya,” ucap Freya dengan sopan. Senyuman yang sangat lembut tersungging di wajahnya.


Pramudya menoleh dengan kaku. Gadis sialan ini masih marah? Perhitungan sekali! Ia hanya menegur satu kali dan gadis menjengkelkan ini terus menyimpannya dalam hati. Apakah ia bahkan tidak boleh menegur kesalahannya?

__ADS_1


Freya membalas tatapan Pramudya yang menyeramkan itu tanpa rasa takut. Ia sudah bersumpah tidak akan mengalah lagi. Ia tidak akan membuat pria itu menindasnya dengan semena-mena tanpa mendapatkan balasan.


Um, tapi ngomong-ngomong, kenapa suaminya tidak memakai kacamata lagi? Ia lebih menyukai penampilan pria itu saat memakai kacamata ....


Freya berkedip untuk memulihkan fokusnya.


Melihat Pramudya yang hanya terdiam, ia menurunkan tatapan matanya dan berkata, “Anda tidak puas? Kalau begitu saya akan pergi ... ah!”


Tubuh Freya terhuyung ke depan ketika Pramudya menarik lengannya dengan tiba-tiba dan menyeretnya pergi.


Pramudya berjalan keluar seperti akan pergi berperang, penuh semangat dengan tatapan berapi-api. Gadis ini memang perlu diberi pelajaran!


"Masuk!" perintah Pramudya seraya membukakan pintu mobil.


"Terima kasih, Tuan," ujar Freya, masih dengan intonasi yang sangat sopan.


Pramudya mengabaikan sikap menjengkelkan Freya dan memutar, masuk dan duduk di kursi penumpang dari sisi lain.


“Jalan,” perintahnya kepada sopir.


“Baik, Tuan.”


Mobil Lexus edisi terbatas itu segera meluncur keluar dari pekarangan, meninggalkan Pak Anton dan Ruth yang saling menatap dengan ekspresi tidak berdaya.


Pak Anton yang melihat interaksi Tuan dan Nyonya Muda hanya bisa mendesah pelan. Puluhan tahun melayani di Keluarga Antasena, ia tidak pernah melihat penampilan Tuan Muda Antasena yang seperti ini.


Ia telah mengikuti pertumbuhan Tuan Muda Pram sejak masih kecil, bahkan sejak baru dilahirkan. Pramudya Antasena adalah seorang anak laki-laki yang manis dan penurut, tapi semuanya berubah ketika Tuan Besar Antasena membawa wanita lain ke rumah, lalu Nyonya Besar tidak bisa menahan pukulan itu dan meninggal.


Sejak itu Pramudya kecil mulai menjaga jarak dari semua orang, terutama dari ayahnya. Dia selalu menunjukkan cakar dan durinya setiap kali berinteraksi dengan orang lain.


Oleh karena itulah, saat ini meskipun reaksi yang diberikan Tuan Muda kepada Nyonya Muda, walau sekecil apa pun, ia merasa sangat senang. Itu artinya masih ada harapan untuk mencairkan hati yang sudah lama membeku itu.


***


Yuhu, jangan lupa komen, like, dan vote yaa

__ADS_1


thank you💙


__ADS_2