
Pramudya menyugar rambutnya dengan kasar. Laporan bulanan yang diberikan oleh Kikan membuatnya sakit kepala. Pemasukan dari semua sektor mengalami penurunan. Selain itu, harga saham perusahaan anjlok 0,2 persen.
Meski perubahan itu tidak drastis, tapi cukup signifikan. Rapat dengan investor akan diadakan pekan depan. Ia harus melakukan sesuatu sebelum nilai saham terus merosot ke bawah.
Hanya sebentar ia tidak mengontrol perusahaan, semuanya langsung kacau balau seperti ini. Sepertinya Tommy dan Yoga Pratama benar-benar telah memanfaatkan kesempatan dengan sangat baik untuk menjatuhkan dirinya.
Belum lagi Carissa dan mungkin Tari yang mengincar Freya dengan mengirim orang-orang untuk merundungnya di kampus.
Cih.
Benar-benar cara yang murahan dan licik.
Ia melihat kembali rekaman video yang dikirimkan oleh Bayu kepadanya. Melihat bagaimana istrinya memberi pelajaran kepada keempat perempuan tidak tahu aturan itu membuat sudut-sudut bibir Pramudya berkedut.
Ia merasa bangga. Istrinya memang sangat bisa diandalkan, seorang gadis tangguh yang tidak mudah ditaklukkan. Perempuan seperti inilah yang pantas dan layak untuk menjadi pendampingnya, bukan perempuan yang suka bermain trik murahan dan bersikap palsu setiap saat.
“Pram!” Bayu menyerbu masuk ke kantor Pramudya hingga pintu terempas dengan kuat.
“Istrimu diculik lagi!” serunya sebelum Pramudya sempat bereaksi.
“Diculik lagi?” Pramudya menaikkan alisnya. Ia bangkit dari kursi dan menghampiri Bayu yang berdiri di depan meja kerjanya.
“Ya. Lisa yang mengabariku. Ruth juga menghilang. Padahal aku memintanya untuk mengantarkan pakaian ganti, tapi entah bagaimana nomor ponselnya digunakan oleh para berandalan itu untuk menjebak Lisa dan Freya pergi ke seberang kampus. Sekarang Lisa masih menunggu di sana,” jelas Bayu dalam satu tarikan napas.
Kening Pramudya berkerut. Alisnya hampir bertaut. Ruth adalah orang yang dipilih dan diseleksi oleh dirinya sendiri. Ia sangat yakin tidak melakukan kesalahan ketika memeriksa latar belakangnya. Tidak mungkin Ruth berkhianat, kecuali ... mungkinkah dia diancam?
“Suruh orang untuk melacak di mana lokasi ponsel milik istriku dan Ruth,” perintahnya.
“Aku sudah melakukannya. Aku juga sudah mengirim orang untuk memeriksa rekaman CCTV yang ada di sekitar lokasi kejadian.”
“Hm.” Pram mengangguk. Tatapannya menerawang, melewati jendela kaca yang diterpa cahaya matahari.
“Ada apa?” tanya Bayu melihat sikap sahabatnya yang sedikit aneh.
“Mereka pasti akan menggunakan Freya untuk memintaku mundur dan menyerahkan semuanya.”
“Tidak boleh!” Bayu berseru dengan lantang. Sekujur tubuhnya gemetar karena amarah.
Tommy Antasena memang baji ngan! Juga Yoga Pratama si berandalan kecil itu!
“Kamu tahu hal itu tidak bisa ditawar, hanya itulah satu-satunya yang diinginkan oleh mereka,” ucap Pramudya setelah terdiam cukup lama.
“Tapi, Pram, ini hasil kerja kerasmu. Aku tidak—“
“Nyawa istriku lebih penting.”
Bayu terdiam. Itu memang benar. Biar bagaimana pun, nyawa Freya lebih penting.
“Jadi ....”
“Siapkan semuanya. Turuti apa pun yang mereka minta sebagai syarat pertukaran.”
__ADS_1
“Bagaimana kalau bukan itu yang mereka inginkan?”
“Apa maksudmu?”
“Carissa ... bisa jadi dia yang—“
“Tenang saja, aku sudah mengatur orang untuk mengurusnya,” sela Pramudya. Ia bukannya tidak memikirkan kemungkinan ini. Sejak jauh-jauh hari, ia telah mengirim orang untuk memantau semua gerak-gerik wanita itu.
Pramudya tahu, Carissa Winata bukan orang yang menyerah dengan mudah. Wanita itu tidak muncul belakangan ini bukan karena sudah menyerah, tapi pasti karena sedang merencanakan sesuatu.
“Mereka sudah mendapatkan lokasinya. Aku kirimkan kepadamu,” ucap Bayu sambil mengetik di ponselnya.
Pramudya menyambar ponsel dan bergegas menuju pintu. Jika sampai terjadi sesuatu kepada Freya karena perbuatan Carissa, ia bersumpah tidak akan melepaskan wanita itu dengan mudah.
**
Freya mengerang ketika mobil yang membawanya tiba-tiba berhenti entah di mana. Karena penutup kepala yang dipakaikan kepadanya, ia tidak bisa melihat keadaan di sekitar. Satu hal yang ia tahu, orang-orang itu pasti telah membawanya ke sebuah tempat yang sepi karena tidak terdengar lagi suara-suara kendaraan yang lalu-lalang sejak beberapa waktu lalu.
Tangannya tiba-tiba ditarik dengan kasar, dipaksa keluar dari dalam mobil itu dan diseret pergi entah ke mana. Tidak ada satu orang pun di antara para penculiknya yang bersuara.
Dari langkah kaki mereka yang kuat dan mantap, Freya yakin orang-orang ini bukanlah orang sembarangan. Ia bisa mengenali gerakan orang-orang yang memiliki kemampuan bela diri: seirama dan mantap, tidak ada keragu-raguan.
Ada berapa jumlah mereka?
Freya tidak tahu. Padahal ia bisa mengkalkulasikan kemungkinan untuk melawan orang-orang ini jika mengetahui jumlah mereka.
Suara derit pintu terbuka disusul tubuhnya didorong dengan keras memasuki sebuah tempat yang ia tidak tahu bagaimana bentuknya. Tubuhnya sempoyongan dan limbung, jatuh menghantam benda-benda di atas lantai hingga menimbulkan bunyi berkelontang.
Sedikit perasaan was-was muncul di dalam hati Freya. Ia tahu lawan kali itu tidak akan mudah diatasi. Bagaimana kalau kali ini pertolongan datang terlambat?
“Umh!” Freya memekik ketika seseorang menarik kerah bajunya. Ia mencoba menggeliat untuk melepaskan diri, tapi beberapa orang lainnya memegang kedua tangannya dan menahan dengan kuat.
Sebuah benda yang terasa dingin menyentuh kulit lehernya, lalu suara sobekan terdengar di dalam ruangan itu.
Srek!
Freya panik. Pakaiannya disobek hingga angin yang berembus menerpa kulitnya. Orang-orang ini bergerak cepat, tanpa basa-basi, tidak seperti orang-orang sebelumnya yang banyak omong dan mudah dibodohi.
Freya mengumpulkan tenaga dan mengayunkan kedua kakinya ke depan dengan kekuatan penuh, membuat siapa pun yang berada di depannya terpelanting dan jatuh dengan keras.
Terdengar erangan kesakitan disertai umpatan datang dari depan. Tak lama kemudian, sebuah tamparan mendarat di wajah Freya dengan kuat, membuat telinganya berdenging dan pipinya panas.
Sialan. Freya mengumpat dalam hati. Rahangnya sakit sekali.
Kedua tangannya ditarik hingga tubuhnya terbaring telentang. Seseorang meraba-raba kait celananya.
“Hmph!” Freya menggeram dan menggeliat sekuat tenaga. Kakinya menendang ke segala arah, tapi dengan cepat orang-orang itu menahannya hingga tidak bisa meronta.
Tidak.
Tidak.
__ADS_1
Siapa pun, tolong!
Brak!
Freya sudah hampir putus asa ketika mendengar suara benturan yang sangat keras. Tampaknya benturan itu tidak hanya mengejutkan dirinya, tapi juga mengangetkan semua orang.
Cekalan-cekalan di tangan dan kakinya terlepas. Ia bisa mendengar suara langkah kaki di sekitarnya berlarian, mungkin pergi mencari tempat berlindung atau mencari senjata, tapi masih tidak terdengar suara percakapan di antara mereka.
Apakah mereka menggunakan isyarat tertentu untuk berkomunikasi?
Siapa orang-orang ini sebenarnya?
Apakah pasukan yang dilatih khusus?
“Freya!”
Suara panggilan yang lantang itu membuat tubuh Freya menegang.
Itu suara Yoga!
“Emph!” Freya berguling menuju arah suara Yoga barusan, tapi seseorang tiba-tiba mencekal pergelangan kakinya dengan kuat dan menyeretnya kembali.
“Lepaskan dia!”
Bugh!
Krak!
Duk!
“Argh!”
Suara pukulan dan tendangan yang diselingi teriakan datang dari sekitar tubuhnya, membuat Freya meringkuk seperti udang, jangan sampai ada yang menjatuhkan benda berat di atas tubuhnya yang separuh tel*njang.
“Freya!” Yoga berlutut di dekat Freya, menggunakan jasnya untuk menutupi tubuh gadis itu. Ia lalu melepaskan penutup kepala Freya dengan tangan yang gemetar.
“Kamu baik-baik saja?” tanyanya. Ia melepaskan perekat di mulut Freya dengan sangat hati-hati.
Sepasang mata Freya yang merah dan berkaca-kaca bersitatap dengan Yoga. Ia mengangguk pelan, lalu menyusukkan wajahnya ke dada pria itu.
Freya terisak dalam pelukan Yoga. Ia sangat takut. Bohong kalau ia bilang tidak takut. Seumur hidup, ia belum pernah merasa setakut ini. Benar-benar takut sampai otaknya membeku.
“Tuhan, syukurlah kamu baik-baik saja ... syukurlah ....” Yoga mengusap rambut Freya dan mencium puncak kepalanya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia menerjang datang seperti orang gila.
Untung saja Tuhan masih berbelas kasihan dan memberinya kesempatan.
Hampir saja ...
Sedikit saja ia terlambat, tidak tahu apa yang akan terjadi kepada gadis yang sangat dicintainya ini.
***
__ADS_1