Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bali, Pulau Dewata


__ADS_3

Ketika tiba di bandara internasional Ngurah Rai, Lisa hampir melompat dan bersorak karena kegirangan. Ini adalah liburan pertama yang paling jauh dalam hidupnya. Ini juga pertama kalinya ia naik pesawat. Seumur hidup, ia hanya pernah pergi Ragunan satu kali, itu pun saat karyawisata ketika SD. Ia pergi dengan naik bus bersama teman-teman sekelasnya.


Liburan kedua yang murah meriah adalah pergi ke Monas dengan naik kopaja, berdesakan dengan penumpang di dalam kendaraan umum yang sempit dan sama sekali tidak nyaman. Tapi kali ini, ia naik pesawat kelas bisnis, bahkan akan menginap di villa bintang lima! Ia tidak pernah merasa seantusias ini sebelumnya.


“Kamu senang?” goda Freya di samping Lisa. Mereka sedang berjalan menuju pintu ke luar. Pak Pram telah mengatur orang untuk membantu membawakan barang-barang mereka lebih dulu sehingga mereka bisa berjalan dengan leluasa.


Lisa mengangguk seperti anak ayam yang sedang mematuk beras. Ia memang sangat senang. Ia merasa seperti dirinyalah yang sedang pergi untuk bulan madu. Jantungnya berdebar-debar karena terlalu bersemangat.


“Terima kasih. Karena kamu, aku bisa menikmati semua fasilitas mewah ini,” ucap Lisa dengan sungguh-sungguh. Ia memang benar-benar merasa berterimakasih kepada Freya.


“Hm. Berterimakasihlah kepada Kakek. Beliau yang menyiapkan semua ini ... demi mendapatkan cicit ....” Suara Freya berubah menjadi lebih pelan. Sejujurnya ia merasa bersalah kepada Kakek. Ia telah bersekongkol dengan Pak Pram untuk membohongi pria tua yang baik hati itu.


“Ehm. Kalau aku tidak salah ingat, kamulah yang harus berterimakasih kepada Pak Tua. Yang membelikanku tiket adalah Pak Bos, itu karena dia ingin aku menemanimu. Maka tentu saja aku harus berterimakasih kepadamu.”


“Ya ... ya ... ya ... terserah kamu saja.” Freya tidak ingin berdebat lagi. Mereka sudah hampir tiba di pintu keluar. Ia senang karena kali ini tidak ada pengawal yang mengikuti ke mana pun mereka pergi.


Freya merasa lebih bebas karena seharusnya tidak ada orang yang mengenali mereka. Selain itu, tidak ada Pak Tua yang harus dibohongi sehingga ia tidak perlu berakting mesra dengan Pak Pram. Sepertinya liburan kali ini akan cukup menyenangkan.


Sekitar lima meter di depan mereka, Pak Pram berjalan bersisian bersama Pak Bayu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, suara mereka tidak terdengar. Namun, aura dan ketampanan mereka menarik perhatian beberapa turis asing yang berpapasan.


“Jaga suamimu baik-baik, jangan sampai dia kepincut gadis bule dari luar negri,” bisik Lisa seraya terkikik geli membayangkan Pak Pram kabur bersama turis asing.


Freya mencibir dan menjitak kepala Lisa.


“Imajinasimu terlalu liar. Kenapa tidak menjadi penulis novel romantis saja?” sindirnya.

__ADS_1


Lisa terbahak. Ia memang ingin menjadi penulis, tapi belum ada waktu untuk mewujudkan keinginannya itu. Mungkin suatu saat nanti, saat uangnya sudah terkumpul banyak dan ia tidak perlu bekerja keras, ia akan bersantai setiap sore di depan halaman yang dipenuhi rumpun mawar dan anggrek, menuangkan semua ide gila di kepalanya sambil sesekali menyeruput teh hangat dan camilan kesukaannya.


“Ketika aku menjadi penulis, cerita pertama yang akan aku buat adalah kisah cintamu dengan Pak Pram.”


“Omong kosong! Kisah cinta apa?” Freya mendelik, berpura-pura marah untuk menutupi getaran di jantungnya yang melonjak-lonjak tak beraturan.


Ia tidak berani bermimpi akan memiliki kisah cinta dengan Pak Pram. Meski pada akhirnya ia mungkin akan benar-benar jatuh cinta kepada pria itu, ia sungguh tidak berani memikirkan akan memiliki hubungan khusus dengannya.


Lisa terkikik cukup keras sehingga menarik perhatian kedua pria yang berjalan di depan. Pramudya dan Bayu menoleh bersamaan, membuat Lisa buru-buru menutup mulutnya dengan tangan.


Sangat memalukan!


“Rasakan!” Freya menahan tawa dan menggoda Lisa, membuat temannya itu memelototinya dengan kesal.


Seorang sopir menyambut mereka di dekat pintu keluar, membukakan pintu mobil dan mempersilakan mereka untuk masuk. Pramudya dan Bayu duduk di tengah, sedangkan Lisa dan Freya duduk di kursi belakang.


Bisa menikmati fasilitas mewah seperti ini patut disyukuri. Bahkan jika ia diminta untuk tidur di dalam mobil itu dan tidak usah menginap di villa pun ia rela. Kursinya sangat empuk dan nyaman. Ia tidak merasakan goncangan sama sekali ketika mobil itu melaju keluar dari bandara.


Karena berada satu mobil dengan Pak Pram, Lisa tidak banyak bertingkah di sepanjang perjalanan. Ia menoleh ke luar jendela dan mengamati jalanan yang mereka lewati. Sementara di sisinya, Freya mengeluarkan ponsel dan memeriksa apakah ada pesan masuk.


Sayangnya tidak ada apa pun di sana.


Yoga tidak membalas pesannya lagi.


Freya merasa sedikit gelisah. Apakah Yoga marah karena ia mengingkari janji?

__ADS_1


Tapi kenapa dia harus marah?


Mereka tidak memiliki hubungan apa pun.


Yah, harus ia akui ia salah karena melupakan janjinya dan tidak mengabari pria itu. Tapi ....


Aish, sudahlah. Kalau mau marah, ya, marah saja. Apa peduliku?


Freya memasukkan kembali ponselnya ke saku celana. Ketika mendongak, matanya bersitatap dengan mata Pak Pram yang sedang memperhatikannya dari cermin yang ada di atas dashboard. Ia terdiam dan mematung. Apakah Pak Pram telah mengawasinya sejak tadi?


Sepasang mata yang tenang dan tajam itu menghunjam jantungnya, membuat debaran-debaran aneh itu datang lagi. Freya merasakan perutnya seperti sedang diaduk dan membuatnya merasa sedikit mual. Bukan mual seperti ingin muntah, tapi lebih seperti perasaan tidak tenang dan cemas yang membuatnya gelisah.


Freya lebih dulu mengalihkan pandangannya dengan gugup.


Perasaan semacam ini ... dulu hanya Yoga yang bisa membuatnya merasa seperti ini.


Gawat.


Benar-benar gawat.


***


uhuk, yang udah berani curi-curi pandang...


Jangan lupa komen dan like yaa...

__ADS_1


makasiiih...💙


__ADS_2