
“Sampai kapan kamu ingin bersembunyi di sini?” tanya Bayu sambil berkacak pinggang.
Ini hari Minggu, tapi aura di dalam apartemennya begitu suram. Seolah-olah ada berlapis awan mendung yang bergayut di atas langit-langit ruang tamunya, membuatnya merasa sesak napas sekaligus suram.
Ia menatap Pramudya yang sedang berbaring telentang di atas sofa, tidak menjawab pertanyaannya.
Tubuh Pramudya melebihi panjang sofa sehingga satu kakinya naik di atas sandaran, sedangkan kaki yang lainnya menjejak ke lantai. Tangan kanannya menekuk di atas kening menutupi separuh wajahnya, membuat Bayu tidak bisa melihat matanya.
Orang ini sedang tidur atau bagaimana?
“Hei, aku sedang berbicara denganmu,” ucap Bayu seraya menyenggol siku Pramudya.
Masih tidak ada respons.
Bayu menghela napas dan mengusap wajahnya dua kali.
Sial. Ini kisah cinta orang lain, kenapa dirinya yang bersusah payah sejak awal? Mulai dari memberikan saran dan mendengarkan curhatan Pramudya setiap hari. Setelah berhasil pacaran dan pamer dengan sombong di hadapannya, sekarang malah berpisah tanpa alasan yang jelas. Benar-benar membuatnya sakit kepala.
Oke lah kalau tidak ingin bertemu dengan istri, kenapa pula harus melibatkan dirinya dan Kikan yang ikut kucing-kucingan? Belum lagi sahabatnya ini sudah menumpang makan dan tidur di apartemennya selama hampir satu minggu.
Bukannya ia perhitungan, tidak. Ia hanya tidak terbiasa terbangun dan mendapati Pramudya sedang mandi atau membuat sarapan di dapur. Rasanya sedikit aneh.
Selain itu, Pramudya yang sudah sangat lama tidak pernah merokok sekarang kembali kepada kebiasaan buruk itu. Ada bau asap di mana-mana. Di kamar, di dapur, di kamar mandi. Entah itu pagi, siang, atau tengah malam, di jari Pramudya selalu terselip sebatang rokok yang membuat Bayu sangat kesal.
Akan tetapi, ketika melihat Pramudya menyesap asap nikotin itu dalam-dalam sambil memejamkan mata dan terlihat sangat tersiksa, ia tidak bisa memarahinya.
Ia tidak bisa menebak apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh sahabatnya itu, tapi juga tidak bisa melihatnya terus seperti ini.
Bayu menghela napas dan mencoba berbicara lagi, “Pramudya. Kalau kamu terus begini, bisa-bisa istrimu akan dibawa kabur oleh Yoga Pratama. Kamu mau hal itu terjadi?”
Pramudya masih bergeming. Berbaring seperti sepotong kayu yang tak bernyawa.
__ADS_1
“Terserah kamu saja lah. Aku tidak akan ikut campur lagi,” ucap Bayu sambil berbalik, hendak pergi ke kamarnya. Menghadapi Pramudya sungguh menguras semua kesabarannya dan membuat frustasi.
“Ini demi kebaikannya.”
Suara Pramudya yang terdengar serak membuat Bayu menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap sahabatnya yang masih berada dalam posisi yang sama, berbaring seperti sepotong kayu.
“Kebaikan? Kebaikan apa? Coba kamu jelaskan kepadaku,” cecar Bayu seraya bersedekap. Ia menahan diri untuk tidak memukul kepala Pramudya dengan asbak di atas meja agar otaknya bisa kembali normal.
“Dia bisa benar-benar mati jika terus bersamaku.” Pramudya bergumam lagi. Kali itu suaranya terdengar rendah dan penuh kepahitan.
Bayu diam, menunggu ucapan Pramudya selanjutnya.
“Aku terlalu sombong. Aku merasa bisa melindunginya, tapi nyatanya dia selalu hampir celaka karena diriku. Dan aku adalah orang terakhir yang datang untuk menolongnya,” ucap Pramudya lagi.
Ada jeda dan keheningan yang panjang di udara. Bayu tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Ia belum pernah melihat Pramudya yang begitu rendah diri dan sangat tertekan. Ia bahkan bisa ikut merasakan sakit hati hanya dengan mendengar suaranya yang pelan, tidak ada ketegasan dan kepercayaan diri yang selalu ada dalam diri seorang Pramudya Antasena.
Setelah beberapa waktu, Pramudya menghela napas dan menurunkan tangannya. Ia bangun dan bersandar di sofa. Penampilannya itu terlihat seperti seorang dewa yang baru saja dilemparkan ke bumi, merana dan kesepian.
Bayu menghela napas dan duduk di seberang sahabatnya. Itu adalah penjelasan terpanjang yang pernah diucapkan Pramudya kepadanya.
“Bagaimana kalau kondisi ini tidak membaik? Atau bahkan semakin buruk. Kamu akan terus membiarkannya bersama Yoga Pratama?”
“Tidak. Aku akan membereskan semuanya secepat mungkin dan membawanya kembali.”
“Bagaimana kalau dia jatuh cinta lagi kepada mantan cinta pertamanya itu?”
Pramudya terdiam beberapa saat. Jantungnya seperti sedang diremas oleh tangan tak kasat mata, berdenyut nyeri.
Ia menelan ludah yang terasa getir sebelum menjawab, “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”
Bayu tiba-tiba merasa sakit kepalanya semakin parah. Ia berusaha memahami jalan pikiran Pramudya dan mencoba berdiri di posisi sahabatnya itu.
__ADS_1
Mungkinkah ia akan melakukan hal yang sama? Menjauhi wanita yang ia cintai dengan dalih demi keselamatannya. Lalu berusaha mendapatkannya kembali setelah semuanya tenang. Apakah hal seperti itu bisa dilakukan?
Meski saat itu hanya memakai sebuah kaos oblong yang nyaman, Bayu merasa tercekik. Situasi ini sungguh membuatnya ikut merasa tertekan
“Pramudya, istrimu bukan robot. Dia memiliki perasaan dan pemikirannya sendiri. Setidaknya temui dia dan beritahukan alasanmu. Jangan seperti ini. Kamu akan menyakitinya dan menyesal nantinya,” ucap Bayu sebelum bangkit dan pergi. Bagaimana keputusan Pramudya nanti, ia tidak bisa ikut campur di dalamnya.
Pramudya mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Ia mengisapnya dalam-dalam, membiarkan paru-parunya dipenuhi oleh asap putih pekat yang bergulung seperti awan ketika ia mengembuskan napas.
Menemui istrinya ... bagaimana cara memberitahukan kepada Bayu bahwa ia tidak memiliki keberanian itu?
Kalau ia berani, ia tidak akan melarikan diri ke sini, tidak akan bersembunyi selama ini.
Ia takut semua keteguhan hatinya akan goyah ketika melihat sepasang mata jernih yang cemerlang seperti bintang itu.
Ia takut pertahanan dirinya akan runtuh ketika istrinya mengatakan bahwa mereka bisa menghadapi semua ini bersama-sama. Ya, ia sangat yakin itulah yang akan dikatakan oleh istri kecilnya yang keras kepala itu.
Namun, bagaimana bisa ia menempatkan gadis itu dalam posisi berbahaya setiap saat. Bagaimana bisa ia merelakan gadis itu menjadi incaran orang-orang yang ingin menjatuhkannya?
Setidaknya, dengan berada di sisi Yoga Pratama, tidak akan ada yang akan mengganggu Freya untuk sementara waktu. Jadi, untuk sementara biarkan saja pria itu merasa menang. Biarkan saja dia merasa berada di atas awan. Pada waktunya nanti, ia pasti akan merebut istrinya kembali.
Mengenai Freya, istri kecilnya itu ...
Pramudya menyugar rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Bagaimana cara menjelaskan kepada gadis keras kepala itu?
Bayu benar, ia mungkin memang harus menemui istrinya, tapi bukan untuk menjelaskan.
Tidak ada cara lain lagi ....
***
__ADS_1