Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bertemu Pak Tua


__ADS_3

Tommy duduk dengan tenang, menyesap wine yang khusus dimintanya dari pelayan sambil menatap sejoli yang sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Harus ia akui, istri Pramudya terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan penampilannya tadi siang. Malam ini gadis itu terlihat lebih bersinar dan bersemangat. Interaksinya dengan Pramudya pun sangat berbanding terbalik dnegan kekakuan yang dilihatnya tadi pagi.


Seringai tipis muncul di wajah Tommy. Dalam hati ia memuji dua orang yang sangat pandai bersandiwara itu. Mereka beralih peran dengan sangat lihai, persis aktris profesional. Ia hampir mengangkat tangan dan mengacungi keduanya jempol.


“Rupanya Pram sudah datang. Bagus sekali ... akhirnya semua bisa berkumpul bersama ....”


Freya menoleh ke arah sumber suara yang datang dari balik tubuhnya. Seorang pria paruh baya tampak masih segar, berjalan dengan penuh semangat menuruni anak tangga. Seorang pria yang tampaknya merupakan asisten berjaga di sisi pria tua itu dengan hati-hati,


“Tuan Besar, hati-hati,” ucap asisten itu ketika melihat si pria tua hampir melompati dua anak tangga sekaligus.


Tommy langsung bangkit berdiri dan menghampiri pria tua itu. Sementara Freya melirik ke arah Pramudya untuk meminta bantuan. Apa yang harus dikatakannya kepada pria tua itu?


“Kakek, pelan-pelan sedikit. Pramudya tidak akan pergi ke mana-mana hari ini. Lihatlah, dia membawa istrinya datang untuk memberi penghormatan kepada Kakek,” ucap Tommy seraya memapah si pria tua dengan sangat perhatian.


Langkah pria tua itu tiba-tiba terhenti. Ia terlihat terkejut, seolah baru menyadari kehadiran Freya yang berdiri dengan canggung di samping Pramudya yang masih tetap duduk dengan santai.


“Anak nakal! Kapan kamu menikah? Kamu bahkan tidak mengundang Kakek?” Pria tua itu membuka mulut dan mulai memarahi Pramudya tanpa henti.


Freya sedikit tercengang melihat Pramudya tidak membalas sepatah kata pun untuk membela diri. Pria itu bahkan tetap diam ketika kakeknya menyentil dan memukuli punggung tangannya beberapa kali.


“Kakek, sudahlah ... kalau Kakek terus memarahinya, mungkin dia akan membawa istrinya pergi,” tegur Tommy sambil tertawa.


Pria tua itu melambaikan tangannya dan mengomel, “Dia berani? Bocah tengik ini tidak berkunjung ketika tahun baru. Dia bahkan melupakan hari ulang tahunku! Lalu tiba-tiba datang membawa istri. Hari ini aku akan memukulinya sampai minta ampun!”


“Kakek, aku tahu aku salah ... aku minta maaf ...,” ucap Pramudya dengan rendah hati.


Freya sedikit terkejut melihat Pak Pram bisa bersikap lembut dengan tulus, tanpa berpura-pura. Ia masih sedikit linglung ketika Pramudya menarik tangannya dan memperkenalkannya kepada pria tua itu.

__ADS_1


“Kakek, ini istriku. Namanya Freya. Kami berencana untuk mengadakan resepsi dua hari lagi. Kakek harus datang untuk memberi restu,” ucap Pramudya. Ia menoleh ke arah Freya dan mengimbuhkan, “Freya, ini kakekku, mulai sekarang adalah kakekmu juga.”


Sepasang mata Pak Tua itu berbinar seperti anak kecil yang diberi permen, tapi dia masih tetap berpura-pura marah. “Mulutmu sangat manis! Mengatakan omong kosong itu agar aku tidak marah, huh?”


Ia lalu beralih kepada Freya dan bertanya, “Benar kamu istri Pram?”


Freya mengangguk dan membungkuk dengan sopan. “Halo, selamat malam, Kakek. Benar, saya istri Pram. Senang bisa bertemu dengan Kakek.”


Dalam sekejap pria tua itu sudah tiba di samping Freya, memandangi gadis itu dengan teliti.


“Kamu begitu muda dan cantik. Kenapa mau menikah dengan bocah busuk ini? Sifatnya tidak baik. Dia akan membuatmu menderita seumur hidup,” ucap Pak Tua Antasena sambil memelototi cucunya yang masuh duduk dengan tenang.


Freya tertawa dengan canggung. Kenapa mau menikah dengan bocah busuk ini? Tentu saja karena dia memberikan uang yang sangat banyak. Selain itu, pernikahan mereka tidak akan bertahan seumur hidup, tapi hanya enam bulan saja. Namun, tentu saja Freya menyimpan jawaban itu di dalam hati.


“Kakek jangan khawatir, Pram sangat bertanggung jawab. Dia merawat saya dengan sangat baik. Maaf, kami baru sempat datang untuk meminta restu Kakek,” ucap Freya dengan sangat manis. Ia menggunakan semua pesona imut yang dimilikinya untuk merayu Pak Tua.


Ia membuka mulut dan bertanya dengan nada main-main, “Benarkah Pram memperlakukanmu dengan baik? Kudengar kalian baru bertemu empat hari yang lalu. Tiba-tiba menikah seperti ini, apakah ada sesuatu yang kalian rahasiakan?”


Tari Antasena yang mendapatkan celah untuk menusuk seketika langsung menyambar, “Siapa yang tahu pernikahan ini sungguhan atau tidak. Mungkin hanya kamuflase agar dia bisa menguasai semua peninggalan ayahmu.”


Tidak disangka, orang pertama yang merespon sindiran itu adalah Pak Tua. Pria itu memelototi Tari dengan ganas dan mengentakkan tongkat ke lantai dengan sangat keras.


“Tutup mulutmu! Untuk apa bicara omong kosong seperti itu?” bentaknya.


Tari terkejut setengah mati. Meskipun selama ini hubungannya dengan ayah mertuanya tidak terlalu baik, tapi pria tua itu tidak pernah memarahinya di depan pelayan seperti ini. Ia sangat malu sampai rasanya ingin menggali tanah dan masuk ke dalamnya. Meski begitu, ia tidak berani membantah atau mengeluh.


Melihat ibunya berada dalam posisi yang sulit, Tommy turun tangan dan membujuk Pak Tua itu.


“Kakek, tolong maafkan Ibu. Dia hanya kecewa karena aku tidak segera menikah seperti adik,” ujarnya seraya memapah kakeknya untuk duduk di kursi utama.

__ADS_1


“Ayolah, Kakek akan menakuti adik iparku kalau bersikap galak begini. Bagaimana kalau dia tidak mau datang berkunjung lagi,” imbuhnya ketika melihat Pak Tua masih bergeming.


Pak Tua itu akhirnya mengalah. Ia duduk di kursi sambil bergumam, “Hm. Kamu juga harus segera menikah. Lihat adikmu itu, dia menjadi lebih terlihat manusiawi setelah menikah.”


Tari mencela lagi, “Bagaimana dia bisa menikah kalau Pramudya menghalangi semua jalannya.”


“Ibu.” Tommy menatap ibunya dengan penuh peringatan, meminta kepada ibunya untuk menutup mulut.


Akan tetapi, perhatian Pak Tua kembali teralihkan kepada menantunya itu. Ia menoleh dan bertanya. “Apa maksud ucapanmu itu?”


“Apa lagi ... tentu saja Pramudya memblokir semuanya agar Tommy tidak dapat menikah sebelum dia. Dengan begitu, semua harta warisan dari ayah mereka akan dikuasai olehnya seorang.”


Pak Tua terdiam dan menatap Pramudya lekat-lekat. Ia tahu masalah surat wasiat yang ditinggalkan oleh anaknya yang tidak berguna itu. Untuk apa meninggalkan wasiat yang tidak masuk akal seperti itu? Bukannya meminta kedua putranya untuk bersaing secara sehat, dia malah ingin menyerahkan warisannya kepada anak laki-lakinya yang lebih dulu menikah.


Apakah dia ingin anak-anaknya berakhir seperti dirinya? Membawa pulang wanita ketiga sehingga istrinya yang baik dan rendah hati itu meninggal karena depresi, lalu membiarkan wanita sampah ini memegang kendali di Keluarga Antasena.


Puih!


Sudah mati pun masih merepotkan.


Untung saja putranya yang tidak berguna itu memiliki anak laki-laki secakap Pramudya. Kalau tidak, entah bagaimana nasib Antasena Grup yang telah dirintisnya dengan susah payah.


Darian Antasena tahu semua kemajuan yang diperoleh Antasena Grup adalah hasil kerja keras Pramudya siang dan malam. Mengenai Tommy, ia juga tahu anak itu sudah berusaha keras, tapi kemampuannya tetap tidak sehebat Pramudya. Oleh karena itu ...


Pak Tua menatap Pramudya dan berkata, “Katakan, apakah kamu menikahinya hanya karena wasiat ayahmu?


Pertanyaan itu membuat semua orang terdiam. Mereka ingin mendengar apa jawaban Pramudya Antasena.


***

__ADS_1


__ADS_2