Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Perselisihan


__ADS_3

Untung saja sebelum Pramudya semakin menggila, suara ketukan terdengar di pintu. Freya menghela napas lega ketika melihat Wakil CEO Bayu masuk bersama Sekretaris Kikan. Setidaknya kedua orang itu tahu harus melakukan apa untuk menghadapi Pak Pram yang sedang mengamuk.


“Kudengar Tommy ke sini. Apa yang dia lakukan?” tanya Bayu.


Ia mengernyit melihat barang-barang yang berhamburan di atas lantai, tapi tidak mengomentarinya. Ia sudah bisa menebak bahwa Pramudya yang melakukannya.


Pramudya tidak menjawab, tetapi amarah di matanya sedikit mereda. Ia melirik Freya diam-diam dan menyadari bahwa ia telah menakuti gadis itu lagi. Ia menghela napas dan berjalan menuju tempat duduknya.


Melihat Pramudya telah pergi, Freya menunduk dan diam-diam memunguti barang-barang yang berserakan di atas lantai, kemudian menyusunnya kembali di atas meja. Kikan membantunya tanpa diminta, lalu mengajak Freya keluar untuk berganti pakaian.


Pramudya mengamati semua itu dari meja kerjanya. Ia sedikit merasa menyesal karena telah lepas kendali. Namun, Tommy memang telah membuatnya kesal setengah mati.


Bajingan itu sengaja mengundang kakeknya yang sudah lama tidak ikut campur dalam urusan keluarga, pasti ada alasan khusus di baliknya. Kakak tirinya itu tidak pernah bermurah hati tanpa alasan.


“Bagaimana hasil penyelidikan tentang serangan waktu itu?” tanya Pramudya setelah terdiam cukup lama.


“Tidak ada bukti langsung yang mengarah kepada Tommy, tapi aku cukup yakin dialah pelakunya. Dia semakin lihai bermain dengan bersih.” Bayu menggerutu kesal. Tommy Antasena selicin belut, sangat sulit menangkap ekornya.


“Cari pengawal bayaran terbaik untuk mengawal gadis itu. Awasi persiapan resepsi pernikahan dengan ketat. Jangan sampai ada yang menyusup dan membuat kekacauan,” perintah Pramudya.


“Baik. Aku mengerti. Aku akan mengurusnya dengan hati-hati.”


“Bagaimana persiapan pembukaan cabang di London?”


“Sudah 95 persen. Kalau semuanya berjalan lancar, minggu depan sudah bisa melakukan peresmian.”


“Bagus. Terus kabari aku perkembangannya.”


“Baik.” Bayu mengangguk dengan patuh. Tidak ada lagi kesan main-main atau iseng di wajahnya.


“Oh, ya. Satu lagi. Tolong acak semua informasi tentang Freya. Jangan biarkan Tommy mendapatkan informasi apa pun, termasuk kemampuannya dalam bertarung dan pria yang pergi tanpa kabar itu.”


“Baik.” Sekali lagi Bayu menjawab dengan patuh. Ia tidak pernah meragukan keputusan Pramudya.


Setelah bekerja bersama selama bertahun-tahun, pemikiran mereka menjadi selaras dalam segala hal. Oleh sebab itulah tanpa diberitahu pun, ia sudah paham apa yang dipikirkan oleh Pramudya.


Sahabatnya itu ingin berjaga-jaga jika suatu hari mereka lengah dan terjadi sesuatu kepada Freya, maka gadis itu memiliki peluang lebih besar untuk menyelamatkan diri karena musuh tidak mengetahui kemampuannya.


Mengenai pria yang pergi tanpa kabar itu, Pramudya pasti khawatir musuh akan mencari pria itu dan memanfaatkannya sebagai kelemahan istrinya.


Pramudya pun mengangguk puas. Bayu selalu dapat menempatkan diri dalam situasi, dia akan bercanda ketika perlu bercanda, tapi juga akan sangat serius jika menyangkut pekerjaan. Hal itulah yang membuatnya merasa sangat cocok dengan sahabatnya itu.


"Um ... istrimu mematahkan satu jari karyawan cleaning service dan menyiramkan air panas kepada dalang yang menyebabkan insiden di pantri. Oh, ya, satu lagi ... Kikan sudah memeriksa pekerjannya di komputer, semuanya oke," lapor Bayu.


"Hm. Bayarkan saja biaya pengobatannya." Pramudya bergumam sambil membaca kembali dokumen di atas meja. Ia tidak terlihat terkejut ketika mendengar laporan itu.

__ADS_1


Bayu terdiam cukup lama. Respon Pramudya di luar perkiraannya. Dia tidak membahas soal pekerjaan Freya.


Ia sedikit penasaran, apa yang sedang sahabatnya itu rencanakan untuk istrinya?


***


Setelah membantu Freya berganti pakaian, Kikan bersikeras untuk mengantarnya pulang.


Bukan apa-apa, tapi CEO Pram sudah memerintahkan seperti itu. Ia tidak berani membatah perintah atasannya.


Ia memasukkan pakaian kotor Freya ke dalam kantong plastik dan meminta kepada salah satu office girl untuk membawanya ke tempat laundry.


Kikan melakukan tugasnya dengan sepenuh hati. Ia tahu Freya cukup berarti di mata CEO Pram, kalau tidak, bosnya itu tidak akan memberikan perlakuan khusus dengan memintanya untuk mengantarkan pulang.


Selama berada di sisi CEO Pram, baru kali ini sang atasan menunjukkan perhatiannya kepada wanita. Oleh sebab itulah ia pun tidak berani lancang kepada Freya meskipun tahu pernikahan antara mantan office girl dan atasannya itu hanya pura-pura. Siapa yang tahu hubungan mereka akan berkembang seperti apa ke depannya.


Freya tentu saja menolak tawaran Sekretaris Kikan. Ia sudah berencana untuk memesan taksi online dan pulang sendiri.


Melihat sikap keras kepala sang Nyonya Muda, Kikan pun mengeluarkan jurus terakhirnya.


Ia memasang ekspresi memelas dan berkata, “Nyonya, tolong bantu saya. CEO Pram akan memecat saya jika tidak mengantarkan Anda sampai ke rumah.”


Freya terlihat terkejut. “Benarkah? Kamu tidak sedang membohongiku, ‘kan?”


“Direktur Tommy?” Kening Freya mengernyit.


Apa hubungannya dengan pria itu? Dia tidak tampak berbahaya. Justru CEO Pram terlihat lebih menakutkan.


Seolah bisa membaca isi kepala Freya, Kikan berkata, “Nyonya, kelak menghindarlah jika bertemu dengan Direktur Tommy di mana pun. Direktur Tommy bukanlah orang yang mudah diatasi. Dia tidak sebaik yang terlihat dari luar.”


“Benarkah?”


“Ya.” Kikan menjawab dengan tegas.


Menjadi sekretaris CEO Pram selama tujuh tahun membuatnya mengenal atasannya itu dengan baik, termasuk hubungannya yang tegang dengan kakak tirinya.


Hampir semua orang di perusahaan itu mengetahui perselisihan terselubung antara sang CEO dan Direktur Tommy, tapi tidak ada yang berani mengungkapnya.


Semua orang menyimpannya dalam hati, atau kadang-kadang berbisik-bisik saat kedua atasan mereka itu tidak ada. Tapi tidak ada yang berani menyinggungnya secara terang-terangan. Semua orang masih ingin hidup dengan tenang.


Freya hanya manggut-manggut dan tidak mengatakan apa-apa. Sejujurnya, penampilan Direktur Tommy cukup menarik.


Jika harus memilih, ia lebih suka memilih pria itu daripada Pak Pram yang kaku dan dingin itu.


Akan tetapi, ia juga sadar diri. Tidak mungkin pria-pria tampan dan berkelas seperti Direktur Tommy dan CEO Pram benar-benar menjadi suaminya.

__ADS_1


Ia bisa menikah dengan CEO Pram, itu hanyalah sebuah kebetulan, sebuah kebetulan yang hanya akan dinikmatinya selama enam bulan. Tidak lebih.


“Silakan, Nyonya,” ucap Kikan ketika lift telah mencapai lantai dasar.


Freya menghela napas pelan. Dirinya telah beberapa kali meminta agar Sekretaris Kikan memanggil namanya saja, seperti saat mereka baru pertama kali bertemu, tapi wanita itu menolak dengan tegas.


Sekretaris Kikan mengatakan bahwa saat ini statusnya adalah Nyonya Muda, tidak sopan untuk memanggil namanya secara langsung. Selain itu, CEO Pram pasti akan menghukumnya.


Akhirnya Freya hanya bisa belajar membiasakan diri dengan panggilan yang terlalu mencolok itu.


Mau bagaimana lagi?


Memangnya apa yang bisa ia lakukan?


Tidak ada.


Kikan berjalan di sisi Freya menuju pintu keluar. Ia telah meminta pengawal untuk menunggu di depan sehingga mereka tidak perlu pergi ke tempat parkir mobil.


Ketika melangkah melewati pintu, Freya tiba-tiba teringat seuatu. Ia segera mengambil ponsel di dalam tas dan mengetik pesan untuk Lisa. Ia hampir lupa keberadaan teman barunya karena tadi saat keluar dari kantor, Lisa sudah tidak terlihat batang hidungnya.


[Aku pulang bersama Sekretaris Kikan. Nanti aku kabari lagi.]


Tak lama kemudian datang balasan dari Lisa.


[Oke. Jaga dirimu baik-baik.]


Freya tersenyum. Si tengil itu ternyata cukup perhatian juga. Ia kembali fokus ke depan, menoleh ke arah Sekretaris Kikan yang sedang menunggunya.


“Maaf. barusan aku mengirim pesan untuk Lisa. Takutnya dia akan mencariku kalau tidak memberi kabar,” ucapnya.


“Tidak apa-apa. Silakan—“


“Freya!”


Kikan dan Freya berbalik bersamaan, mencari sumber suara yang baru saja berseru dengan lantang.


Ketika melihat pria yang hanya berjarak beberapa langkah dari sisi mereka, Sekretaris Kikan mengernyit curiga, sedangkan sepasang mata Freya melebar.


Orang itu ....


Freya tidak berkedip.


Bagaimana bisa tiba-tiba dia berada di sini?


***

__ADS_1


__ADS_2