
"Cukup pemberani, pantas menyandang gelar Nyonya Muda Antasena."
Suara itu datang dari belakang, tempat tikus raksasa tadi pergi. Freya memicing dan berusaha melihat dalam pencahayaan yang remang-remang. Suara itu terdengar asing. Ia tidak bisa mengenalinya.
Tak lama kemudian, sebuah siluet hitam perlahan menjadi jelas. Seorang pria yang memakai kaus oblong hitam dan celana jeans biru tua berjalan ke arah Freya. Pria itu memakai penutup wajah seperti para penculik yang lain.
Freya mencibir. Ia menatap pria itu tanpa rasa takut. Hanya berani bersembunyi dalam kegelapan, tapi sok bersikap misterius.
Puih!
Sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan Pramudya Antasena. Bahkan dengan Pak Bayu pun tidak layak dibandingkan.
Pria itu berhenti tepat di depan Freya. Selisih tinggi mereka lumayan banyak. Freya harus mendongak untuk menatap mata pria itu.
Pria itu menunduk, lalu mencubit dagu Freya dengan tangan kanannya.
“Tidak terlalu cantik, biasa-biasa saja, tapi keberanianmu patut diacungi jempol. Wanita lain pasti sudah menangis histeris sejak ditarik masuk ke dalam mobil," ucapnya.
Freya meronta hingga cekalan pria itu terlepas. Jadi masalah dirinya yang dipaksa masuk ke dalam mobil dan diapit dua bajingan yang berbau badan, lalu dioper ke dalam mobil box yang panas dan gelap itu adalah ide bajingan ini?
He-he ....
Freya menyeringai, kemudian dalam satu gerakan yang sangat cepat ia mengangkat kaki dan tangan kanannya bersamaan.
“Ugh!” Pria itu tersedak dan meringkuk menahan sakit.
Dalam sekejap butir keringat sebesar jagung menetes dari keningnya. Ia berlutut dan mencengkeram selangka*ngannya untuk meredam nyeri yang menusuk. Ia ingin membuka mulut untuk berbicara, tapi pukulan di lehernya menghantam jakunnya dengan telak. Rasanya sangat sakit hingga ia ingin mati.
“Bos!” si tukang dorong maju dengan panik, ia ingin membantu bosnya itu, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia berbalik dan memelototi Freya dengan ganas.
“Kamu! Dasar ja*lang! Berani sekali kamu?!”
Freya hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi tak berdaya. Pukulannya tidak pernah meleset. Kaki dan tangannya mendarat di tempat yang seharusnya dengan sangat presisi. Ia merasa sangat bangga dan puas, tapi hanya bisa menyembunyikannya dengan sebuah senyuman yang terlihat polos dan lugu.
Si tukang dorong itu bangkit dan emosi, mengangkat tangan dan ingin memukul Freya.
__ADS_1
"Jangan!” Si Bos yang masih berlutut membuka mulut dengan susah payah dan bersuara. “Aku suka gadis seperti ini. Bawa dia ke tempatku. Aku ingin bermain-main dengannya sebelum bernegosiasi dengan suaminya."
Freya memutar bola matanya dan mencibir dalam hati.
Bos, dua telurmu sudah hampir pecah. Apa sosismu juga mau dipatahkan?Aku akan mematahkan dan mencincangnya dengan senang hati.
Mendengar perintah bosnya, dua orang pria yang berada paling dekat dengan Freya segera mengepung. Si tukang dorong adalah salah satu di antaranya. Ia yang terlihat paling bersemangat. Entah dendam pribadi apa yang dimilikinya sehingga begitu senang menyiksa Freya.
“Ja*lang kecil, setelah bos puas bermain denganmu ... maka giliran kami ....” Pria itu mengulurkan tangan dan mencekal lengan Freya. Ucapannya itu disambut tawa berderai dari rekan-rekannya, tawa yang mesum dan tidak senonoh.
"Jangan sentuh aku! Brengsek!" Freya mengumpat. Dengan gerakan secepat kilat, ia menjejakkan kaki ke lantai, kemudian berputar di udara sambil memuntir tangan pria busuk itu.
Suara raungan yang memekakkan telinga bergema di dalam ruangan pengap itu. Si tukang dorong jatuh dan terduduk di lantai begitu Freya melepaskan tangannya yang sudah patah, tergantung dengan posisi terbalik.
Gerakan Freya terlalu cepat sampai-sampai rekan pria itu tidak sempat memberikan reaksi. Ketika mereka sadar, Freya sudah memegang balok kayu dan berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh.
“Maju kalian semua!” tantang Freya. Ia meludah ke lantai dengan ekspesi jijik.
Ia akan diam dan berpura-pura bodoh jika mereka hanya ingin mengancam Pramudya atau meminta uang tebusan. Tapi kalau sudah menyangkut harga diri ... jangan salahkan kalau ia bersikap kejam!
Si Bos bangkit dari lantai sambil masih memegangi selangkangannya. Ia sangat marah sampai tubuhnya gemetar. Belum pernah ada yang mempermalukan dirinya dan anak buahnya seperti ini.
Freya tertawa dan meludah ke lantai sekali lagi.
“Baumu sama seperti tikus yang berlarian di dalam ruangan ini. Apa kamu tingal di sini bersama mereka? Kenapa tidak pergi memuaskan diri dengan tikus-tikus got itu? Biarkan tikus-tikus itu bermain dengan barangmu yang tidak berguna itu,” balasnya seraya tersenyum mengejek.
Si bos meraung murka. Ia sangat ingin menghancurkan gadis tengik yang menghinanya itu. Orang-orang suruhannya yang bodoh itu, bagaimana bisa tidak memberikan informasi tentang kemampuan gadis ini? Benar-benar tidak berguna!
“Tangkap dia!” Ia berseru dengan suara serak, mengabaikan tenggorokannya yang masih terasa sakit.
Pria yang tangannya patah masih menangis di atas lantai, jadi tiga rekannya maju mengepung Freya dengan hati-hati. Kemampuan gadis itu tidak bisa ditebak. Masa depan bos hampir dihancurkan dan tangan rekan mereka patah dalam sekejap.
Bro, mereka hanya ditugaskan untuk menculik, bukan berkelahi.
Siapa yang tahu apa lagi yang bisa dilakukan oleh gadis itu. Kali ini mereka tidak berani bersikap sembrono lagi.
__ADS_1
Freya berputar pelan, mengikuti dan mengawasi gerakan tiga pria yang mengepungnya. Ketika ia sedikit lengah, dua orang menerjang maju bersamaan. Ia berkelit ke kanan, sambil mengayunkan balok di tangannya untu menghantam kepala pria yang tidak menyerangnya.
Pria itu terkejut karena tidak menyangka Freya akan menyerangnya. Ia melompat mundur dengan cepat, tapi entah bagaimana kaki Freya telah lebih dulu melayang ke kepalanya. Refleks ia menyilangkan kedua tangan di depan wajahnya.
Bugh!
Tendangan itu menghantam wajahnya dengan telak. Ia terpental dan jatuh terduduk, memegangi hidungnya yang berdenyut nyeri hingga ke ubun-ubun. Ketika menyentuh pangkal hidungnya, ia dapat merasakan tulang hidungnya bengkok dan bergeser.
Cairan yang hangat dan anyir mengalir turun dari hidungnya, membasahi telapak tangannya. Sumpah serapah keluar dari mulutnya, membuat darah semakin banyak membasahi tangannya.
Dua orang rekannya bergerak cepat dan mengejar Freya. Salah satu dari mereka melayangkan tendangan memutar yang mendarat dengan telak di punggung gadis itu.
Freya terjungkal. Balok di tangannya terlempar entah ke mana. Tidak ada waktu untuk merasa sakit, ia langsung melompat dan kembali berdiri. Sebuah tendangan langsung mengadang di depan wajahnya. Ia melenturkan tulang belakangnya sehingga kepalanya hampir menyentuh lantai, bertopang pada kedua tangannya, lalu mengangkat kaki dan mengayunkannya ke arah lawannya.
Tendangannya mengenai ujung dagu lawannya dengan telak.
Kepala pria itu terpental ke atas disertai suara berderak yang cukup tajam. Ia bisa merasakan ada beberapa gigi yang tanggal. Lidahnya hampir putus karena tergigit. Ia menangkup wajahnya dan meraung kesakitan.
Suara “krak” yang nyaring terdengar ketika Freya menendang tempurung lutut pria itu. Lutut kirinya terdorong ke belakang, membuat kakinya menyerupai huruf L dengan bentuk yang sedikit aneh.
Yeay!
Freya bersorak dalam hati. Satu lagi musuh tumbang.
Berani menendang aku? Rasakan akibatnya!
Rasanya Freya sangat ingin memuji dirinya sendiri. Tidak sia-sia ia terus berlatih meski tanpa kehadiran Yoga.
***
Yuhuu, kalau suka, jangan lupa like dan komen yaaa...
Kalian juga bisa bantu mendukung author dengan memberi rate bintang 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
dengan klik di sini
__ADS_1
thank youuu~B