Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bertengkar (2)


__ADS_3

Begitu mobil berhenti, Freya langsung membuka pintu dan melompat keluar. Ia berderap pergi seperti seekor banteng yang terluka. Lebih tepatnya, harga dirinya yang terluka. Ia semakin merasa bahwa pernikahan ini salah. Sejak awal seharusnya ia tidak tergiur dan terjebak dalam permainan ini.


Di belakangnya, Pramudya menatap kepergian Freya dengan wajah masam. Apa lagi yang salah dengan gadis itu? Apakah ia telah menyinggungnya lagi?


Dia marah karena aku memberinya uang?


Aku hanya melakukan apa yang telah kami sepakati bersama. Kenapa harus marah?


Ia turun dan menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke rumah.


“Nyonya, Anda sudah pulang,” sapa Pak Anton dengan sopan.


Freya memaksakan diri untuk tersenyum dan membalas sapaan pria itu. Ia hanya kesal kepada Pramudya, bukan kepada semua orang yang ada di rumah itu. Ia naik ke lantai dua dan langsung bergegas menuju kamarnya.


“Nyonya,” sapa Ruth yang berpapasan dengan Freya di ujung lorong.


“Aku ingin sendiri, pergilah,” pinta Freya masih tetap berusaha ramah meski ia sedang malas untuk berbasa-basi.


“Baik, Nyonya.” Ruth membungkuk dengan sopan untuk memberi hormat sebelum pergi dari sana.


Astaga, sepertinya Tuan dan Nyonya bertengkar lagi. Ia harus turun dan melaporkannya kepada Pak Anton.


“Di mana Nyonya?” tanya Pramudya yang baru sampai di ruang tamu.


“Sepertinya Nyonya langsung ke kamar, Tuan,” jawab Pak Anton.


Tanpa mengatakan apa-apa, Pramudya segera naik, tapi bukan ke kamar Freya. Ia pergi ke ruang kerjanya. Masih ada banyak dokumen yang harus diperiksa. Ia melonggarkan ikatan dasinya dan membanting pintu dengan kesal. Tidak ada waktu untuk mengurusi gadis pemarah itu.


Dari lantai bawah, melihat sang majikan yang tidak pergi membujuk istrinya membuat Pak Anton menghela napas pelan. Ego dan gengsi majikannya terlalu besar. Kalau terus seperti ini ... bagaimana mereka bisa lekas memberi Tuan Besar cicit yang lucu dan menggemaskan?

__ADS_1


Ruth mendekat ke arah Pak Anton dan berbisik, “Tuan Muda dan Nyonya bertengkar lagi.”


“Hm.” Pak Anton menggangguk dengan perasaan tak berdaya. Ia mendesah pelan. Seandainya saja ada yang bisa dilakukannya untuk membantu mengatasi ketegangan di antara Tuan dan Nyonya.


Di dalam kamar, Freya berjalan mondar-mandir sambil memaki seluruh leluhur Pramudya Antasena. Ia sangat kesal sampai rasanya ingin mengamuk.


Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik tadi ia menerima bunga pemberian Yoga saja! Setidaknya pria itu tidak pernah memandang rendah dirinya dan mengukur segalanya dengan uang. Yoga selalu memperlakukannya dengan tulus, tidak pernah bertindak macam-macam, apa lagi berbuat sesuka hati terhadapnya. Satu-satunya kesalahan pria itu adalah pergi begitu saja. Jika dipikir-pikir, itu tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan sikap arogan dan menjengkelkan Pramudya Antasena.


Freya berhenti melangkah dan terduduk di atas kasur. Mengingat Yoga membuat hatinya terasa sakit. Seandainya pria itu tidak meninggalkannya tanpa berpamitan, apakah keadaan masih akan sama seperti sekarang?


Matanya terasa panas. Ia mendongak untuk menahan air mata yang akan bergulir turun.


Tidak boleh menangis. Saat ini yang harus ia lakukan adalah membereskan masalah dengan Pak Pram.


Masalah di antara mereka ....


Ia sedikit ragu-ragu, apakah perlu mengirimkan kembali dana yang masuk kepada pengirim atau tidak?


Freya terdiam beberapa saat dan merenung. Malam itu, ia memang asal bicara karena kesal, meminta agar dibayar 200 juta setiap kali dicium tapi ia tidak bersungguh-sungguh dengan ucapan itu. Ia kesal karena Pak Pram menganggap ucapannya itu serius.


Tapi .. kenapa aku marah?


Mungkinkah karena ia tidak ingin Pak Pram menganggap dirinya mata duitan? Tapi kenapa? Bukankan seharusnya ia tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh pria itu tentang dirinya?


Freya mengacak rambutnya dengan kesal. Kenapa emosinya selalu kacau balau ketika berhubungan dengan Pak Pram?


Sudahlah. Kembalikan saja. Tapi lain kali ia tidak akan membiarkan pria itu menciumnya dengan sembarangan. Itu terlalu berbahaya. Jantungnya tidak bisa menahan godaan sebesar itu.


Freya membuka kembali ponselnya dan menggunakan fitur m-banking. Uang 200 juta yang baru saja masuk ke rekeningnya, semuanya ditransfer kembali tanpa dikurangi sedikit pun.

__ADS_1


Setelah itu, ia membongkar tasnya dan mengeluarkan akta jual beli Kafe Mapple. Benda itu pun harus dikembalikan kepada pemiliknya.


Ia memegang berkas-berkas itu di tangan kanan dan berjalan keluar. Mengabaikan tatapan ingin tahu dari para pelayan, ia berjalan menuju ruang kerja Pak Pram. Ia sangat yakin pria itu pasti berada di sana.


Benar saja, ketika tiba di sana, Freya melihat lampu di ruang kerja Pramudya menyala. Ia mengetuk pintu tiga kali dan menunggu.


Tidak terdengar jawaban dari dalam.


Freya mengangkat tangan lagi dan ingin mengetuk pintu, tapi tiba-tiba benda itu terbuka lebar dan wajah tampan Pak Pram muncul di hadapannya.


Pria itu hanya mengangkat alis dan menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.


“Saya ingin bicara dengan Bapak, apakah bisa?” tanya Freya.


Wajah Pram berubah masam mendengar panggilan “Bapak” itu lagi. Meski begitu, ia tetap membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Freya masuk.


Freya berdiri di tengah ruangan dan menunggu Pramudya. Setelah pria itu kembali ke kursi dan duduk, ia baru ikut duduk di kursi yang ada di hadapannya.


Pramudya menatap gadis di hadapannya tanpa ekspresi. Ponselnya baru menerima notifikasi transfer masuknya dana sebesar 200 juta rupiah. Gadis bodoh ini mengembalikan uangnya. Sekarang datang mencarinya dengan wajah serius seperti itu, ia ingin tahu omong kosong apa lagi yang ingin disampaikannya.


“Saya tidak bisa menerima ini, Pak,” ucap Freya seraya menyodorkan berkas akta jual beli ke hadapan Pramudya.


“Itu bernilai terlalu besar, saya tidak berani. Masalah mengenai sepeda motor saya, lupakan saja ... harganya tidak sepadan. Anggap saja sudah lunas dengan biaya kuliah yang Bapak bayarkan,” imbuhnya lagi ketika melihat Pramudya tidak bereaksi sama sekali.


Pramudya tidak melirik tumpukan kertas yang disodorkan di hadapannya. Ia sangat penasaran, sebenarnya bagaimana cara berpikir gadis di hadapannya itu.


Rasanya ia sangat ingin membongkar kepalanya dan melihat apa yang ada di dalamnya. Mungkin dengan begitu ia bisa mengerti jalan pikiran dan isi hatinya.


**

__ADS_1


__ADS_2