
Sepasang suami istri itu duduk diam dan saling berhadapan untuk beberapa saat. Freya berusaha menata kembali hati dan perasaannya yang sempat terbawa suasana dan menjadi melankolis. Ia merasa sedikit malu karena hampir menangis di depan Pak Pram.
Sementara itu, di seberang meja, Pramudya menekur seraya memutar-mutar pulpen di tangannya. Isi kepalanya berantakan.
Ia tidak tahu harus memulai dari mana untuk membalas semua ucapan gadis di hadapannya itu. Ia tidak pandai mengungkapkan perasaan. Baginya, perasaan hanyalah hal yang tidak penting. Lagipula, perasaan manusia terlalu mudah berubah.
Meski begitu, sejujurnya ia sedikit tidak menyangka di balik sifat keras kepala dan kelakuannya yang kadang menjengkelkan, gadis konyol ini bisa berbicara dengan serius. Di usianya masih begitu muda, keberaniannya untuk berbicara jujur dan menyatakan perasaannya dengan lantang layak untuk dipuji.
Sayangnya ia tidak bisa melakukan hal yang sama. Terutama karena ia sendiri tidak bisa memahami perasaan di dalam dadanya saat ini. Bagaimana bisa ia meminta orang lain untuk mengerti jika ia sendiri tidak yakin dengan apa yang ia rasakan.
Pada akhirnya ia hanya membuka mulut dan bertanya, “Sudah bicaranya?”
Freya terlihat menimbang-nimbang sejenak. Haruskah ia membahas mengenai percakapan di malam pertama mereka? Rasanya ia sudah terlalu banyak bicara. Takutnya Pak Pram justru akan kesal dan menendangnya ke luar.
“Katakan saja, apa lagi yang ingin kamu bicarakan,” ucap Pramudya ketika melihat keragu-raguan di wajah istrinya.
“Eng ... itu, Pak, tentang apa yang Bapak ucapkan ketika malam pernikahan kita, saya akan anggap itu hanya ucapan asal Bapak karena sedang mabuk. Saya tidak akan memasukkannya ke dalam hati. Mengenai apa yang saya ucapkan mengenai biaya ciuman itu, saya harap Bapak juga tidak menganggapnya serius. Jadi, mari jalani pernikahan ini dengan baik dan akhiri dengan baik, jangan sampai ada yang terluka. Saya berjanji tidak akan membuat Bapak malu atau kehilangan muka di depan orang lain.”
Sekali lagi Pramudya tertegun. Selama hidupnya, semua orang selalu berusaha menyenangkan dirinya untuk mendapatkan keuntungan. Tidak ada yang pernah menarik batas dengan jelas seperti gadis ini.
Untuk pertama kalinya, ada perasaan asing yang terus bergejolak di dalam dadanya. Semacam perasaan tidak rela yang bercampur dengan emosi yang kompleks, berakumulasi dan menggerogotinya dari dalam sehingga membuatnya bingung dan tidak nyaman. Akan tetapi, ia mengetatkan kepalan tangannya, menekan semua perasaan itu agar tidak mencuat ke permukaan.
Tidak mau dianggap serius ya, sudah. Siapa juga yang mau memaksa.
Ekspresi wajahnya terlihat datar dan dingin ketika menatap Freya sambil bertanya, “Ada lagi?”
__ADS_1
Freya menggeleng pelan. Semua yang ingin disampaikan olehnya telah ia katakan. Masalah bagaimana Pak Pram akan menanggapinya, itu sudah di luar kekuasaannya.
“Baiklah kalau begitu. Karena kamu sudah menjelaskannya, aku tidak akan melarang kamu bertemu dengan pria mana pun lagi, asal jangan sampai ketahuan oleh Kakek atau dilakukan di tempat umum, tidak masalah kamu ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku juga tidak akan memeluk atau mencium dengan asal. Apa begini sudah cukup?” tanya Pramudya.
Freya mencoba mengulas senyum. “Ya, terima kasih, Pak.”
Pramudya menghela napas, memijit alisnya dan berkata, “Berhenti memanggilku ‘Pak’. Kamu membuatku sakit kepala. Pergilah.”
“Em ... baik, Pram. Terima kasih.” Freya bangkit dari kursi dengan perasaan yang lega. Karena semuanya sudah jelas, sekarang ia tinggal mengurusi kesalahpahaman di antara dirinya dan Doni, juga Yoga ....
Ia berjalan menuju pintu dengan langkah yang ringan, tidak menyadari perasaan seseorang di belakangnya justru menjadi berat.
Aura suram berkumpul di atas kepala Pramudya ketika melihat punggung Freya menghilang di balik pintu.
Gumpalan awan hitam berkumpul semakin banyak, bahkan terlihat seperti akan menghasilkan petir yang siap menyambar kapan saja.
Pramudya memutar tubuhnya dan menghadap ke kaca di lemari buku, menatap pantulan wajahnya di sana.
Itu ... er, wajahnya memang terlihat seperti ingin menagih utang. Kaku sekali.
Pelan-pelan ia menarik garis bibirnya sehingga terbentuk sebuah senyuman.
Sial.
Jelek sekali.
__ADS_1
Pramudya cemberut. Ia berdeham dan membetulkan posisi duduknya. Kata Bayu, seharusnya ia lebih banyak tersenyum, tapi senyumannya itu lebih terlihat seperti seringaian seekor anjing cihuahua.
Lupakan saja!
Ia memutar tubuhnya dan kembali memeriksa laporan yang menumpuk di atas meja. Ada banyak sekali dokumen yang harus ia tandatangani. Semuanya harus diperiksa lagi lembar demi lembar dengan teliti. Satu kesalahan saja bisa membuatnya rugi sedikitnya ratusan juta rupiah.
Namun sayangnya setelah duduk beberapa saat dan berusaha untuk berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaan, pikirannya hanya terpusat pada kata “tampan” yang diucapkan oleh istrinya tadi. Meski ada banyak kalimat lainnya yang sangat menjengkelkan yang diucapkan oleh gadis itu, tapi entah kenapa pujian yang terdengar cukup tulus itu sedikit menggelitik hatinya.
Ia melirik laci meja kerjanya, terdiam beberapa saat sebelum menariknya hingga terbuka dan mengeluarkan kotak kacamata dari dalamnya. Itu adalah sebuah kacamata untuk terapi yang hanya dipakainya jika matanya mulai terasa lelah. Bagaimana gadis konyol itu bisa mengatakan ia terlihat hangat dan tampan ketika memakainya?
Sedikit ragu-ragu, Pramudya mengeluarkan kacamata berbingkai hitam dari kotak itu dan memakainya. Kemudian, ia berbalik menghadap lemari buku dan mencoba sekali lagi untuk tersenyum.
Hasilnya ... masih saja tetap jelek!
Dari mananya tampan?
Apakah gadis itu sengaja mempermainkannya?
Sialan!
Persetan dengan ini semua!
Pramudya membanting tumpukan dokumen di atas meja dan kembali bekerja. Kenapa hatinya harus jungkir balik hanya kata-kata dari seorang gadis ingusan?
Memang seharusnya ia tidak membiarkan perasaan ikut terlibat dalam urusan ini. Sama seperti ucapan gadis itu, jalani dan akhiri dengan baik, jangan sampai ada yang terluka karena perasaan.
__ADS_1
***