
Pak Brata berdeham dengan canggung. Ia menatap ponselnya dan Pramudya yang duduk di depannya bergantian, tidak tahu bagaimana cara menyampaikan pesan yang baru saja masuk kepada pria muda itu.
Pramudya yang sedang fokus memeriksa dokumen yang menumpuk di atas meja akhirnya tidak tahan lagi. Surat-surat penting yang dibawa Pak Brata sudah ia tanda tangani. Seharusnya pria itu sudah pergi sejak tadi.
Ia mendongak dan menatap pria tua yang tampak serba salah itu dan bertanya, “Ada apa, Pak Brata? Apakah ada hal lain yang perlu dibicarakan?”
Pak Brata menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara dengan hati-hati, “Nyonya Freya sudah tiga kali bertanya kapan surat cerai dikirimkan ke alamatnya. Saya sudah kehabisan alasan untuk mengulur waktu. Nyonya bilang kalau saya tidak ada waktu, serahkan saja berkas-berkas kepadanya, dia yang akan pergi mengurus ke Kantor Catatan Sipil.”
“Kapan dia mengirimkan pesan itu?” tanya Pramudya.
“Pesan pertama dikirimkan satu minggu setelah Nyonya keluar dari rumah. Pesan kedua dikirim satu bulan setelahnya. Pesan ketiga baru masuk lima menit lalu.”
Pramudya terdiam untuk waktu yang sangat lama. Rahangnya mengeras. Genggaman tangannya mengetat sehingga kertas yang ia pegang menimbulkan bunyi bergemerisik.
Istri kecilnya itu benar-benar sudah tidak sabar untuk “berpisah” secara resmi?
Ia teringat laporan yang diberikan oleh Lisa bahwa Freya semakin dekat dengan Yoga. Apakah karena pria itu? Istrinya ingin kembali dengan mantan kekasihnya?
Pak Brata terbatuk pelan.
Pramudya menoleh ke arahnya.
“Anak muda, izinkan saya berbicara sebagai orang tua. Menurut saya, sebaiknya kamu memberitahukan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Jangan sampai menyesal nanti ... wanita seperti Nona Freya, belum tentu kamu temukan lagi di masa depan,” ucap Pak Brata.
Pramudya termenung. Ia tahu ucapan itu benar adanya. Mungkin keberuntungan seumur hidupnya telah ia habiskan untuk menemukan wanita seperti istrinya.
Pak Brata mendesah pelan, berdiri dari tempat duduknya sambil berkata, “Pikirkan lagi baik-baik. Jangan sampai menyesal. Saya pamit dulu.”
Pria tua itu berbalik dan pergi, meninggalkan Pramudya yang masih termangu sambil menatap foto istrinya di atas meja kerja.
Setelah terdiam cukup lama, Pramudya mengambil ponselnya dan menelepon Bayu. Nada sambung terdengar dua kali sebelum panggilan itu diangkat.
__ADS_1
“Ada apa, Pram?”
“Apakah semua sudah dijalankan sesuai rencana?”
“Ya. Kamu tenang saja. Aku pastikan kali ini tidak ada celah untuk bagi mereka lolos.”
“Terima kasih. Maaf sudah merepotkanmu.”
“Tidak masalah, asal setelah ini aku bisa cuti satu bulan.”
“Setelah ini kamu boleh cuti tiga bulan dengan gaji dibayar penuh.”
“Yes! Ouch! Aaah ... sial ... sakit ....”
Suara teriakan dan erangan Bayu dari seberang sana membuat sudut bibir Pramudya berkedut. Ia bisa membayangkan apa yang dilakukan oleh si ceroboh itu ketika mendengar akan mendapatkan cuti tiga bulan.
Sahabatnya itu memang layak mendapatkan cuti panjang.
Selain menjadikan dirinya sebagai tameng saat kecelakaan lift dua bulan lalu, Bayu juga sudah bekerja sangat keras untuk membantu meski dalam keadaan terluka. Cuti tiga bulan tidak sebanding dengan semua pengorbanannya.
“Oke. Kamu juga istirahatlah sedikit. Jangan sampai sakit.”
“Hm.” Pramudya memutuskan sambungan telepon dan kembali menatap foto di atas meja.
Tinggal sedikit lagi ... hanya satu langkah terakhir ....
***
Di sebuah restoran bergaya Jepang, Tommy Antasena mengangkat gelas berisi wine dan bersulang dengan Wisnu Aditama. Keduanya memiringkan gelas, menghidu aroma fermentasi anggur terbaik itu sebelum menyesapnya perlahan.
Aroma yang manis menggelitik indera penciuman, berpadu dengan rasa khas wine pilihan yang sangat nikmat, senikmat kemenangan yang tinggal selangkah lagi di depan mata.
__ADS_1
“Selamat, kamu akhirnya berhasil memenangkan tender itu,” ucap Wisnu seraya tersenyum lebar.
“Terima kasih, ini semua karena bantuan Paman,” balas Tommy dengan wajah semringah.
Permata Buana baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan nilai yang fantastis. Dengan bantuan pria paruh baya di depannya itu, Tommy berhasil memenangkan tender senilai 200 triliun untuk membangun jalan tol lintas Kalimantan.
“Ah, itu bukan apa-apa.” Wisnu melambaikan tangan dengan santai, tapi tak bisa menutupi ekspresi bangga di wajahnya. Dengan koneksi yang dimilikinya, bukan masalah sulit untuk memenangkan tender semacam itu.
“Aku dengan perusahaan Paman juga mendapat bagian dalam proyek tambang minyak lepas pantai di Timur Tengah. Selamat. Kemenangan ini memang patut dirayakan.”
“Ya, tapi kemenangan ini belum mutlak sebelum aku melihat kejatuhan Pramudya Antasena. Bajingan itu sudah membuat putriku menderita. Aku ingin dia tersungkur dan tidak bisa bangkit lagi, merayap di tanah seperti gelandangan dan tidak memiliki apa-apa.” Ada kebencian yang sangat terpancar dari sorot mata Wisnu Aditama ketika mengatakan kalimat itu.
Sampai saat ini, putri tercintanya masih belum sadar. Carissa sudah seperti mayat hidup, tidak bisa merespons apa pun. Putrinya yang malang itu terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tubuh dipenuhi alat penunjang kehidupan. Tanpa alat-alat itu, sudah pasti putrinya akan mati.
Mana bisa ia membiarkan Pramudya Antasena hidup senang sementara putrinya tidak lagi memiliki masa depan. Ia telah bersumpah akan menghancurkan Pramudya tanpa ampun, dan ia pasti akan melaksanakan sumpahnya itu.
“Kudengar dia sudah menceraikan istrinya,” ucap Wisnu tiba-tiba.
Tommy mengangguk sekilas. “Ya. Sudah lama mereka tidak bersama. Ada apa, Paman?”
“Kamu yakin itu bukan hanya akal-akalannya saja?”
Seulas senyum tipis muncul di wajah Tommy. Ia paham apa maksud pertanyaan itu.
Ia menimbang dengan hati-hati sebelum menjawab, “Gadis itu sekarang bersama Yoga Pratama. Tidak mungkin kembali dengan Pramudya. Lagi pula dia hanya seorang gadis yatim piatu yang tidak memiliki apa-apa. Selain itu, Paman pasti akan menyinggung Pratama Group jika mencelakainya. Sekarang kita fokus saja pada rencana semula.”
Wisnu menatap Tommy cukup lama, mencoba menggali kebenaran dalam kata-katanya. Ia lalu menghela napas dan mengembuskannya kuat-kuat. Ada dendam yang sangat besar di dalam hatinya. Ia ingin Pramudya tahu bagaimana rasanya melihat orang yang dia cintai terluka dan tak berdaya. Namun, menilik dari sikap dan perkataan Tommy, sepertinya gadis miskin yang sempat menjadi istri Pramudya itu tidak berarti apa-apa lagi.
“Baiklah, karena kamu sudah berkata demikian, Paman akan mendengarkanmu.” Wisnu mengangkat gelasnya dan menyodorkan ke arah Tommy.
“Bersulang untuk kehancuran Pramudya Antasena,” ucapnya.
__ADS_1
Tommy mengangkat gelasnya seraya tersenyum lebar. “Bersulang untuk kejatuhan Antasena Grup.”
***