Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Bernasib Sial?


__ADS_3

Ucapan itu membuat Freya hampir tersandung kakinya sendiri. Untung saja tangan Pramudya menahan pinggangnya dengan sigap. Kalau tidak, mungkin ia sudah akan mencium lantai marmer yang mengilap di bawah sana.


Freya melirik sekilas ke samping. Mungkin karena Pak Tua sudah menaiki anak tangga dan berjarak cukup jauh dari diriya dan Pak Pram, suaminya itu tidak lagi bertingkah aneh dan macam-macam. Pria itu hanya menopang pinggangnya dengan stabil dan membantunya berjalan menaiki anak tangga.


Mereka berdua berbelok ke arah yang berbeda dari Pak Tua, ke sisi kiri dari tangga, menyusuri lorong yang dipenuhi pajangan barang-barang antik dan mahal, lalu berhenti di depan pintu.


Pramudya mengulurkan tangan dan memunar kenop, lalu memberi jalan kepada Freya untuk lebih dulu masuk.


"Lepaskan dulu, Pak" pinta Freya dengan kaku.


Tatapan Pramudya turun ke pinggang Freya. Rupanya tangan kanannya masih menempel di sana. Ia berdeham dua kali dan menarik tangannya ke belakang punggung.


“Maaf,” gumamnya sebelum menyusul berjalan masuk.


Freya tidak menanggapinya. Ia sedang sibuk mengamati ukuran kamar yang sangat luas. Langit-langit kamarnya sangat tinggi. Juga ada sebuah TV layar datar yang ukurannya hampir memenuhi seluruh dinding. Kasur yang berada di tengah ruangan itu bahkan bisa ditiduri oleh sepuluh orang.


Gila. Untuk apa memiliki ranjang seluas itu? Ingin bermain sepak bola sebelum tidur kah?


Freya menghitung dalam hati. Sepertinya harga semua perabot yang ada di dalam kamar itu mungkin dapat digunakan untuk membeli 1000 unit rumah subsisi.


“Seharusnya pelayan sudah menyiapkan pakaianmu. Kamar mandi ada di sebelah sana,” ujar Pramudya seraya menunjuk ke sisi kiri tempat kamar mandi berada. Ruang ganti berada tepat di sebelahnya.


Freya menatapnya dengan ekspresi aneh. Untuk apa Pak Pram menyuruhnya mandi dan berganti pakaian begitu memasuki kamar? Pria ini bukannya sedang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak, ‘kan?


Ia mengerutkan kening dan menatap curiga ke arah Pramudya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Aku hanya ingin menyuruhmu mandi dan istirahat. Aku akan tidur di sofa,” ucap Pramudya seraya memberikan tatapan mengejek.


Freya langsung tersadar. Penampilan manis dan menggebu-gebu sepanjang makan malam barusan hanya akting. Kenapa ia bisa lupa? Sekarang Pak Pram sudah kembali ke setelan pabrik: bermulut tajam, arogan, dan menjengkelkan.


Ia memutar bola matanya sebelum berbalik dan pergi ke kamar mandi. Terlalu menguras tenaga untuk berdebat dengan pria itu. Hanya akan menyia-nyiakan makanan yang sedang dicerna di perutnya.

__ADS_1


Ketika memasuki kamar mandi, Freya menghela napas lagi. Kamar mandi itu bahkan terlihat lebih mewah dari ruang tamu Bu Erna, pemilik kontrakannya.


Padahal di matanya, Bu Erna yang selalu kondangan dengan memakai emas lima kilo itu sudah sangat kaya. Biasanya, ketika lebaran tiba, Bu Erna akan mengundang para anak semangnya dan mengadakan acara syukuran, membagikan sembako dan amplop berisi lembaran merah.


Tentu saja Freya tahu hal itu juga merupakan pamer dalam bentuk terselubung. Bu Erna akan menceritakan betapa mahal dan berharganya benda-benda yang ada di ruang tamunya.


Akan tetapi, ternyata memang benar, di atas langit masih ada langit. Semua benda yang ada di dalam kamar mandi pribadi Pak Pram hanya bisa digambarkan dengan tiga kata: kemewahan tiada tara. Freya bahkan tidak akan merasa keberatan jika Pak Pram memintanya untuk tidur di dalam bathtub saja malam itu.


Freya mengisi bak mandi itu dengan air hangat, lalu masuk dan berendam dengan nyaman. Ketegangan di seluruh tubuhnya memudar. Ia memejamkan mata dan bersandar dengan santai. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Perubahan kehidupan yang tiba-tiba ini ternyata cukup menyenangkan juga.


Sepasang matanya terpejam erat. Pikirannya berkelana, mengingat kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu dan masa sekarang. Lalu tiba-tiba ia teringat akan ucapan Pak Pram mengenai kunci motornya yang diambil diam-diam.


Kedua tangan mungil Freya terkepal erat. Ia akan menuntut kembali sepeda motor yang dicuri itu. Kekayaan yang diperoleh sebelum menikah tidak tercatat dan pembagian harta gono-gini! Huh!


Tapi ... Freya mendesah pelan dan membenamkan kepalanya ke dalam air.


Sudahlah, ikhlaskan saja. Sepertinya biaya hidupnya yang ditanggung oleh Pak Pram sudah lebih dari cukup untuk membayar sepeda motor itu.


Kalau saja Bayu mempekerjakan orang-orang yang lebih kompeten, mungkin ia bisa menemukan kebenaran mengenai lima bulan lalu lebih cepat. Dengan begitu, mungkin ia ... apa?


Apa yang akan ia lakukan?


Bersikap lebih baik kepada gadis itu?


Huh. Konyol sekali.


Apa hubungannya?


Cukup berikan kompensasi yang sepadan saja, tidak perlu libatkan emosi apa pun di dalamnya.


Cahaya di mata Pramudya yang semula sedikit lembut perlahan memadat.

__ADS_1


Benar, tidak perlu melibatkan perasaan apa pun. Jika ia bisa memilih gadis itu sebagai pengantinnya, itu hanya kebetulan semata, bukanlah takdir yang tidak masuk akal.


Pramudya mencibir. Sejak kematian ibunya, ia tidak percaya takdir. Lebih tidak percaya lagi kepada janji sehidup semati yang diucapkan di altar. Buktinya, ayahnya mampu mengingkari ikrar itu dengan mudah, semudah kematian yang menghampiri ibunya.


Entah berapa lama Pramudya duduk dengan postur tubuh seperti itu, ia tidak menyadarinya. Hingga ketika pintu kamar mandi bergerak terbuka, kelopak matanya terangkat naik. Sepasang mata bulat itu sedang menatap ke arahnya dan tampak seperti sedang menuduhnya.


Apa yang ....


Pramudya mendengkus dan membuang muka. Tubuh gadis itu lumayan juga, tidak terlalu rata seperti yang dipikirkannya.


Di ujung sana, Freya sudah hampir mati karena malu. Ia tidak menyangka sama sekali jika Pramudya sedang duduk di sofa dan menghadap tepat ke arahnya. Ia membeku di tempat.


Sialan! Pelayan sialan mana yang menyiapkan baju tidur seperti ini untuknya? Benar-benar minta dihajar!


Hanya berupa tiga bulatan kecil yang tidak dapat menutupi bagian sensitif di tubuhnya, lalu dijalin dengan serat transparan yang sewarna kulit. Bahkan setelah dilapisi handuk pun ia masih merasa seperti tidak memakai apa-apa.


Suara dengkusan yang keluar dari mulut Pramudya menyadarkan Freya. Hampir seperti seekor kelinci yang melarikan diri dari cakar serigala, ia berlari memasuki ruang ganti sambil mengamuk dalam hati.


Bajingan! Pria tua mesum yang duduk dengan santai di sofa, untuk apa menatapi pintu kamar mandi seperti itu? Benar-benar seorang bajingan, mesum,penjahat ... argh! Dasar paman tua mesum!


Freya menutup mulutnya dengan handuk, lalu meninju udara dan terus memaki Pramudya dalam hati.Tubuhnya yang suci sudah dilihat oleh bajingan mesum ... hiks ....


“Salah sendiri mencuci bajumu di wastafel, gadis bodoh!”


Freya memarahi dirinya sendiri sembari menuding ke arah cermin besar yang ada di tengah ruangan itu. Kalau saja tadi ia tidak gegabah dan sok ingin mencuci pakaiannya sendiri, ini semua tidak akan terjadi. Benar-benar bernasib sial.


***


Kalo gini impas, gak, Fre? 😁


__ADS_1


__ADS_2