Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Karma?


__ADS_3

Tommy berjalan mondar-mandir di dalam kantornya, gedung Antasena Grup yang kini telah menjadi miliknya sepenuhnya. Ruangan yang biasanya ditempati oleh Pramudya, kini akhirnya berada dalam kekuasaannya.


Sayangnya, rasa puas dan berbangga diri itu tidak lama. Hanya dalam waktu empat bulan, semuanya menjadi tak terkendali.


Satu per satu musibah dan kecelakaan kerja terus terjadi. Ada begitu banyak anak cabang Antasena Grup yang tersebar di seluruh Indonesia, semuanya mengalami masalah yang hampir sama.


Entah berapa banyak produk gagal yang ditarik dari pasaran. Entah berapa banyak kerusakan konstruksi akibat kelalaian kerja yang menimbulkan korban jiwa.


Kontraktor dan sub-kontraktor yang menangani pembangunan jalan tol yang baru saja dimulai melarikan diri bersama dana yang nilainya tidak sedikit. Beritanya disiarkan di mana-mana. Nama Permata Buana yang semula dielu-elukan kini dicibir semua orang.


Dalam rapat internal tadi pagi, hampir semua investor menarik suntikan dana sebab harga saham yang terus merosot. Ditambah lagi nominal rupiah yang harus ia keluarkan untuk membayar ganti rugi. Semua kekacauan ini benar-benar sudah di luar kendalinya.


Tommy merasa tercekik oleh ikatan dasinya. Ia membanting dokumen yang baru saja diberikan oleh sekretarisnya dan mengempaskan bokongnya di atas kursi kerja. Kepalanya mendongak. Matanya terpejam dengan alis yang hampir saling tertaut.


Pramudya Antasena.


Entah kenapa nama itu melintas di kepalanya. Inikah yang Pramudya rasakan ketika ia bersekongkol dengan Yoga dan Wisnu Aditama untuk menjebak dan menghancurkannya?


Bagaimana kabar Pramudya sekarang?


Tommy sadar, apa yang ia dapatkan sekarang adalah hasil setelah ia memeras darah dan keringat saudaranya dengan sangat kejam. Apakah ini karma untuk dirinya?


Tommy membuka mata ketika mendengar suara ketukan di pintu. Asisten pribadinya masuk dengan air muka yang terlihat keruh.


“Pak Tommy, ada utusan dari perusahaan di Rusia yang ingin bertemu. Katanya atasannya tertarik untuk menanamkan modal untuk perusahaan,” lapor sang asisten seraya menyerahkan sebuah map.


“Apa syaratnya?”


“Mereka meminta saham sebesar 60 persen. Keuntungan akan dibagi sesuai kesepakatan bersama. Kapan Bapak ada waktu untuk bertemu dengan perwakilan mereka? Kebetulan katanya mereka sedang berkunjung di Indonesia untuk melihat pangsa pasar sampai bulan depan.”


Kebetulan?


Tommy mencibir sinis. Kedua tangannya terkepal erat.


Tidak ada yang namanya kebetulan di dalam dunia bisnis.


Lihat saja apakah Yoga Pratama dan Wisnu Aditama yang mendadak tidak bisa dihubungi itu kebetulan atau bukan?


Kedua manusia sialan itu langsung menghilang tanpa jejak ketika mengetahui berita Permata Buana yang terlilit utang milyaran dollar.

__ADS_1


“Pak?” tegur sang asisten dengan hati-hati. Akhir-akhir ini mood sang atasan sedang sangat buruk. Hampir setiap hari ada saja karyawan yang menjadi sasaran kemarahannya.


“Bawakan aku wiski.”


“Tapi, Pak—“


“Cepat ambilkan!”


“Baik.” Sang asisten pergi mengambilkan minuman beralkohol yang kini menjadi minuman utama sang CEO.


Ia membawakan botol wiski beserta gelas dan potongan es batu, lalu keluar dari ruangan itu tanpa berkomentar apa-apa lagi. Situasi di kantor semakin gawat. Ia mempertimbangkan dalam hati, mungkin sebaiknya ia mempersiapkan diri untuk resign sebelum perusahaan benar-benar ambruk.


Tommy tidak menuangkan wiski ke dalam gelas seperti biasanya. Ia melonggarkan ikatan dasi, melepaskan dua kancing kemejanya yang paling atas, lalu menenggak langsung cairan berwarna kuning kecokelatan itu dari botolnya.


Ia menghabiskan hampir separuh isi botol hanya dalam satu tarikan napas.


Kerongkongannya terasa seperti sedang dijalari api. Panas yang sangat menyengat, tapi ia tidak peduli.


Ia mengangkat kepala dan menandaskan isi botol dalam satu tegukan besar.


Jika saja ia tidak menuruti keinginan ibunya dan fokus mengembangkan Permata Buana, mungkin hasil akhirnya tidak akan seperti ini. Sekarang ia tidak hanya akan kehilangan Antasena Grup, tapi juga Permata Buana.


Menyetujui proposal kerja sama yang menginginkan 60 persen saham perusahaannya? Kenapa tidak mencekiknya saja sampai mati?


Dasar brengsek!


Tommy melemparkan botol kosong ke dinding sekuat tenaga, menimbulkan bunyi bising ketika pecahan kaca terserak ke mana-mana.


Persetan dengan semua ini!


Ia sudah muak.


Hidup yang seperti ini terlalu melelahkan. Ia tidak sanggup lagi.


**


Di ruang rapat Wijaya Kusuma, Wisnu Aditama mengamuk sejadi-jadinya. Tidak ada yang luput dari kemarahannya.


Perusahaan Keluarga Winata yang telah berdiri sejak puluhan tahun tiba-tiba tertipu oleh sebuah perusahaan fiktif yang berada di Eropa.

__ADS_1


Ia telah menyuntikkan hampir seluruh dana yang dimiliki untuk proyek kerja sama tambang minyak di laut lepas daerah Timur Tengah, tapi perusahaan itu menghilang begitu saja setelah dana ditransfer.


Tidak ada jejak yang terlacak meski ia telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mendapatkan kembali semua uangnya yang hilang. Mulai dari melaporkannya ke pihak kepolisian, menyewa hacker untuk melacak jejak digital perusahaan asing itu, sampai pergi ke dukun untuk meminta petunjuk sesuai arahan dari salah satu Kepala Bagian Operasional di kantornya.


Semuanya berakhir sia-sia, tidak ada yang memberikan hasil seperti yang ia harapkan.


Selain itu, data perusahaan pun bocor. Kerugian yang dialaminya sudah melebihi ratusan triliun. Jika terus seperti ini, akar Keluarga Winata akan tercerabut dari dasar.


“Kalian semua tidak berguna! Bagaimana sampai bisa tertipu seperti ini? Memangnya tidak melacak di mana kantor itu berada? Siapa pemiliknya? Apakah kalian tidak memeriksanya lebih dulu? Dasar bod*h! Untuk apa aku membayar kalian mahal-mahal jika bekerja saja tidak becus seperti ini!” Bahu Wisnu bergetar ketika meneriakkan amarahnya yang masih belum padam. Tubuhnya yang padat dan berisi kini berubah drastis hanya dalam hitungan minggu. Ia tidak bisa makan dengan tenang dan tidur dengan nyenyak karena memikirkan nasib perusahaan yang dibangun olehnya dengan susah payah.


Tidak ada yang berani bersuara atau membantah ucapan itu. Semua orang menunduk dan memikirkan nasib mereka yang berada di ujung tanduk.


Bukannya tidak becus atau tidak teliti. Utusan mereka telah bertemu dengan pemilik perusahaan itu. Semuanya sangat nyata. Bahkan gedung kantor dan karyawan yang ada di dalamnya pun sangat nyata. Hampir seluruh pekerja di kantor itu pun merupakan warga negara asing. Tidak mungkin ‘kan mengajak orang sebanyak itu untuk bersekongkol dan menipu mereka.


Bagaimana caranya mengajak orang-orang itu untuk bekerja sama? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk berlatih sehingga semuanya terasa sangat nyata? Semua orang mendalami peran mereka dengan sangat baik.


Melihat semua anak buahnya hanya diam, amarah Wisnu mencapai ubun-ubun. Ia menggebrak meja, menunjuk-nunjuk ke depan dan membuka mulut lebar-lebar, tapi tak ada suara yang keluar. Tubuhnya jatuh menabrak kursi sebelum tumbang di atas lantai.


Semua orang mendongak serentak, terkejut melihat pria tua yang terbaring dengan mata melotot dan bibir yang bengkok ke sisi kanan.


Dalam sekejap kekacauan terjadi di ruangan itu.


“Pak Wisnu!”


“Cepat panggil ambulans!”


“Hubungi anggota keluarga Pak Wisnu!”


Semua orang berseru bersahut-sahutan, panik melihat sang atasan yang menekan dada kirinya dengan ekspresi kesakitan.


Di kursi paling ujung, seorang pria paruh baya berjalan keluar dari ruangan seolah-olah semua keributan itu tidak ada hubungannya dengan dirinya.


Setelah semua kerja kerasnya yang hampir seumur hidup, mengabdi tanpa pamrih meski selalu dipandang sebelah mata, sekarang sudah waktunya ia pensiun dengan tenang.


Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar. Jumlah yang baru saja masuk ke rekeningnya melebihi kesepakatan awal. Ia bisa pergi dengan identitas baru yang dimilikinya, membawa serta istrinya ke luar negeri, tinggal di sana tanpa memikirkan lembur dan atasan yang selalu mencaci maki dan memerintah dengan semena-mena.


Ini adalah kesepakatan yang sangat menguntungkan. Tidak sia-sia ia mempertaruhkan segalanya demi akhir yang sangat memuaskan.


***

__ADS_1


__ADS_2