Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Itu Namanya Cemburu


__ADS_3

Bayu menyambut Pramudya di depan pintu kamar mereka. Melihat seringai lebar di wajah sahabatnya, ia pun tidak bisa menahan tawa.


“Kulihat sepertinya hubungan kalian semakin baik. Kalau begini sepertinya Pak Tua benar-benar akan segera mendapatkan cicit,” ucapnya dengan suara yang cukup keras.


Pramudya menarik semua pujiannya untuk Bayu tadi dan mendesis marah. “Tutup mulutmu!”


Ia menoleh ke samping, menatap pintu kamar sebelah yang tertutup rapat.


Untung saja kedua gadis itu tidak ada di sana.


Kalau tidak, mau ditaruh di mana wajahnya jika kedua gadis di seberang mendengar ucapan sembrono Bayu barusan. Bisa-bisa ia dikira seorang pria mesum oleh kedua gadis itu.


Mulai sekarang ia harus menjaga imej dengan baik.


Pramudya menarik kerah baju Bayu dan menyeretnya ke dalam kamar. Untung saja karena merupakan kamar yang dipesan belakangan, tidak ada kelopak bunga yang bertebaran dan lilin aroma terapi yang membuat orang bisa salah paham karena yang mendiami kamar itu adalah dua orang laki-laki dewasa.


“Berhenti mengatakan omong kosong tentang Kakek ingin memiliki cicit.” Pramudya menggeram dengan nada rendah.


“Hei, santai, Bro.” Bayu mendorong tangan Pramudya yang masih menempel di kerah bajunya dan mundur dua langkah.


“Aku hanya bercanda. Kenapa kamu tegang sekali?” tanyanya dengan heran. Biasanya Pramudya tidak akan memberikan reaksi apa pun meski ia bertingkah konyol dan menjengkelkan.


Pramudya mengangkat kedua tangannya di udara, menyugar rambutnya dan pergi duduk di sofa.


“Maaf ... aku hanya tidak ingin gadis itu salah paham dan mengira aku mengajaknya ke tempat ini dengan tujuan tertentu,” jelasnya, masih dengan suara yang rendah, hampir menyerupai bisikan.


“Apa?” Bayu menunduk dan berjalan mendekat ke arah Pramudya.

__ADS_1


“Katakan sekali lagi,” pintanya seraya mengarahkan daun telinga ke dekat wajah Pramudya.


“Menyingkir!” Pramudya meninju bahu Bayu karena kesal. Kenapa ia harus memiliki sahabat yang absurd seperti ini?


Bayu mengaduh dan mengusap-usap bahunya, tapi alih-alih menjauh, ia justru menyusupkan diri di antara lengan sofa dan Pramudya.


“Apa yang kamu lakukan?” Pramudya mulai emosi. Ada begitu banyak tempat duduk, kenapa harus berdesakan di sisinya?


“Sekarang kamu mulai mempertimbangkan apa yang istrimu pikirkan tentang dirimu?” tanya Bayu, mengabaikan tatapan mengintimidasi yang mampu membunuhnya.


Pramudya mendengkus dan bangun dari sofa. Rasanya seperti mereka sedang bermesraan jika berbicara dengan jarak sedekat itu.


Ia pindah ke sofa di seberang meja sambil mencibir, “Memangnya aku harus mempertimbangkan isi pikiran siapa? Kamu?”


Bayu mengabaikan sindirian kejam yang dilontarkan kepadanya. Ia tertawa dan menepuk pahanya dengan keras. Akhirnya ada sedikit perubahan setelah ia hampir merasa putus asa mengajari si balok es itu bagaimana cara berintekasi yang benar.


“Pramudya, apa kamu menyadarinya? Kamu berubah total karena istrimu itu. Dirimu yang seperti ini ... aku bahkan tidak pernah membayangkan kamu akan kelimpungan hanya karena takut seorang gadis akan salah paham,” ujar Bayu setelah tawanya mereda.


Pramudya ingin memarahi Bayu, tapi ia tahu ucapan sahabatnya itu benar. Ia sendiri hampir tidak percaya jika dirinya akan menganggap penting apa yang istrinya pikirkan tentang dirinya.


Melihat tampang kusut Pramudya, Bayu merasa sangat bahagia. Akhirnya ada masa di mana seorang Pramudya Antasena benar-benar tidak berdaya dan tidak dapat membalas ucapannya. Mungkin ia harus keluar dan berterima kasih kepada Freya. Gadis itu sungguh membawa perubahan besar terhadap diri Pramudya.


Untungnya, dalam kasus ini perubahan yang terjadi adalah perubahan positif. Ia sangat senang karena Pramudya telah bisa menerima apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang lain, bukan hanya berpatokan kepada sudut pandangnya saja.


“Terus menyeringai seperti itu sampai jadi bodoh.” Pramudya menggerutu kesal. Bayu terlihat sangat senang dengan dirinya yang tidak bisa berkutik.


Bayu melambaikan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


“Tidak, Pramudya, kamu salah paham. Aku sangat senang melihatmu seperti ini. Melihatmu yang terus-menerus kesal karena istrimu didekati oleh Yoga Pratama. Melihatmu yang tidak rela berbagi kecantikan istrimu dengan pria lain. Apa ada perasaan lain selain tidak rela?” tanyanya dengan memasang ekspresi penuh minat.


Pramudya mengernyit. Kenapa ia merasa seperti sedang berada dalam sesi konseling? Bayu hanya perlu memegang kertas dan pena saja, maka situasinya sudah 99 persen mirip.


“Cepat katakan, perasaan apa lagi yang kamu rasakan ketika memikirkan istrimu akan berdekatan dengan Yoga Pratama, atau ketika kecantikannya akan dilihat oleh pria lain?” desak Bayu.


Ia mengakui bahwa keunggulan Pramudya dalam segi akademik tidak perlu diragukan lagi, tapi dari sisi kecerdasan emosional, sahabatnya itu masih sama seperti bocah berusia lima tahun yang perlu diberi bimbingan.


Pupil Pramudya bergerak tidak beraturan. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman jika harus membahas apa yang ia rasakan kepada orang lain. Tapi dalam kasus ini, Bayu bukanlah orang lain baginya.


Selain itu, ia juga tahu semua yang dilakukan Bayu adalah untuk kebaikannya sendiri. Buktinya dengan beberapa kali “sesi terapi” seperti ini, hubungannya dengan Freya menjadi sedikit lebih baik.


Akhirnya ia berdeham beberapa kali, meluruskan punggungnya dan menyilangkan kakinya sebelum berkata, “Aku kesal. Aku sangat kesal jika membayangkan dia akan kembali kepada Yoga Pratama, atau ketika memikirkan dia akan dilihat oleh pria lain karena berpakaian yang terbuka. Kenapa bisa begitu?”


Bayu mendesah dan memasang eskpresi tak berdaya yang sedikit dilebih-lebihkan. Ia lalu menggeleng pelan seperti seorang dokter yang baru keluar dari ruang operasi dan akan memberikan kabar buruk kepada keluarga pasien.


“Pramudya Antasena, dalam kamus manusia normal, itu disebut rasa cemburu,” ucap Bayu masih sambil terus menggelengkan kepalanya, seolah-olah memberi kalimat tambahan kepada Pramudya bahwa dia sudah tidak tertolong lagi.


“Cemburu?” Pramudya menatap curiga ke arah Bayu. Sahabatnya itu tidak sedang mempermainkan dirinya, kan?


Bayu mengangguk dengan cepat. “Itu memang disebut cemburu. Kamu merasa marah dan kesal karena kekasihmu dekat dengan orang lain, atau takut kekasihmu direbut oleh orang lain. Itu karena kamu merasa tidak aman dalam suatu hubungan."


Pramudya mengernyit. Ia pernah mendengar kata itu ketika duduk di bangku SMP dan SMA, bahkan ketika kuliah, teman-temannya yang memiliki kekasih selalu mengatakan “cemburu” karena kekasih mereka dekat dengan orang lain.


Bahkan ketika Carissa masih menjadi kekasihnya, wanita itu selalu mengatakan cemburu kepada Bayu yang lebih sering berada di dekatnya. Tapi ia sendiri tidak pernah merasakan apa itu cemburu. Ia tidak mengenali perasaan itu sampai saat ini.


Jadi perasaan asing itu namanya cemburu ....

__ADS_1


***


__ADS_2