Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Jebakan


__ADS_3

“Di mana Ruth?” tanya Freya ketika melihat Lisa berhenti berjalan beberapa langkah di depannya.


Lisa menatap ponselnya dengan kening berkerut.


“Dia ada di toko kue. Katanya Pak Bos memintanya untuk membelikan camilan untuk kita,” ucapnya sambil mendongak, menoleh ke kanan dan kiri.


“Toko kue? Toko kue yang mana?” Freya ikut berputar dan mencari toko kue yang dimaksud. Ada beberapa kafe dan toko kue yang berjajar di dekat kampusnya, baik yang yang lokasinya sederet atau di seberang jalan.


“Sebentar.” Lisa menunduk dan membaca pesan yang baru saja dikirimkan oleh Ruth.


“Sebelah kanan gerbang, seberang jalan, di dekat Mixue,” gumamnya.


“Di sana!” seru Freya seraya mengacungkan telunjuknya ke balik tubuh Lisa.


Lisa berputar, mencari lokasi yang ditunjuk oleh Freya.


“Kamu mau ke sana?” tanyanya. “Ruth masih mengantri.”


Freya mendesah, menatap bajunya yang sudah hampir kering dengan noda cokelat tua yang lengket. Ia meringis. Rasanya sangat tidak nyaman.


“Freya?” panggil Lisa. “Mau ke sana?”


“Ya sudah, ayo. Sekalian numpang ganti di toiletnya.” Freya menggandeng tangan Lisa dan menyeberang.


“Aku sudah tertinggal kelas pertama. Mau belajar saja susah, ” gerutu Lisa sambil memonyongkan bibirnya. Plang toko Mixue masih sekitar 50 meter di depan sana.


Tawa Freya menyembur. Pasalnya ia juga merasakan hal yang sama. Ada saja cobaan yang harus ia hadapi sejak mengenal suaminya. Kalau diingat-ingat, sudah cukup banyak hambatan yang harus ia hadapi. Dulu, sebelum ia menyukai suaminya, ia menganggap itu semua adalah kesialan, semacam hal buruk yang sangat mengganggu.


Tapi sekarang baginya semua halangan dan rintangan itu biasa saja. Tidak ada beban yang mengganjal di hatinya. Baginya, asal bisa bersama Pak Pram, menghadapi apa pun ia rela. Mungkin inilah yang dinamakan buta karena cinta.


“Heh, cengar-cengir sendiri. Hayo, mikir siapa?” goda Lisa seraya mencubit pinggang Freya.


Freya memekik karena terkejut, tapi bukan karena cubitan Lisa. Pintu mobil Alphard yang parkir di depan tempat fotocopi tiba-tiba terbuka, lalu tubuhnya ditarik dengan kuat, melayang sepersekian detik sebelum terempas di atas jok.


Ia bahkan tidak sempat bereaksi, seseorang telah menempelkan lakban ke mulutnya, lalu kepalanya ditutup dengan kain hitam. Bersamaan dengan suara mesin yang meraung sebab pedal gas diinjak maksimal, tangan dan kakinya dililit dengan tambang dan diikat kencang.


Brengsek!


Freya menyumpah dalam hati. Jangan bilang kalau dirinya diculik lagi!


Di pinggir jalan, di antar kepulan debu dan asap kendaraan yang lalu lalang, Lisa akhirnya menemukan kembali kesadarannya. Serentetan kejadian barusan terlalu cepat.


Orang-orang di lokasi kejadian terbengong menatap peristiwa yang tidak terduga itu, sama seperti Lisa yang hanya bisa menatap mobil yang sudah melaju dan berbaur dengan kendaraan lain di jalanan.


Plat nomor mobil itu mengecil dengan cepat. Lisa berusaha mengingat sebisanya. Ia tahu berteriak minta tolong pun percuma. Orang-orang di sekitarnya tidak tahu apa-apa dan tidak bisa melakukan apa-apa. Jadi dengan tangan yang gemetar, ia menghubungi nomor Bayu.

__ADS_1


“Halo, Pak Bayu. Freya diculik lagi.” Suara Lisa terdengar sedikit serak karena menahan isak tangis. Ia merasa bersalah karena tidak memiliki respons yang cepat.


“Apa?!” Suara teriakan dari ujung telepan membuat Lisa terpaksa menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Barusan Freya ditarik masuk ke dalam mobil Alphard. Platnya B 4559 ... belakangnya saya tidak tahu. Maaf.” Lisa berputar dengan cepat dan mengamati kondisi di pinggir jalan.


“Ada beberapa toko yang memiliki CCTV, mungkin kita bisa meminta rekaman kepada mereka untuk melacak mobil itu, Pak.”


“Di mana kamu sekarang?”


“Di depan kampus.”


“Jangan ke mana-mana. Aku akan segera ke sana.”


“Oke, Pak.”


Setelah memutuskan sambungan telepon itu, Lisa limbung. Lututnya gemetar. Ia mundur dan bersandar pada dinding salah satu toko.


“Mbak, barusan itu temannya?” tanya seorang pria yang memakai jaket hijau milik aplikasi ojek online.


Lisa hanya bisa mengangguk.


“Lapor polisi aja, Mbak.”


Lisa mengangguk lagi. Menghubungi polisi atau tidak, hanya Pak Bos yang berhak menentukannya.


“Ada apa’an?”


“Ada yang diculik?”


“Hah? Diculik?”


“Iya, barusan ....”


Lisa mengabaikan ocehan kerumunan orang-orang yang semakin banyak. Ia menatap ponselnya dengan nanar, berharap Pak Bayu lekas memberi kabar jika dia sudah hampir sampai.


“Minum dulu, Mbak.” Salah seorang penjaga toko fotokopi menyodorkan segelas air mineral kepada Lisa.


“Makasih.” Lisa menerima air mineral itu dan menghabiskannya dalam satu tegukan.


Jantungnya benar-benar sudah hampir copot. Ia takut sesuatu terjadi kepada Freya. Dari serangkaian kejadian barusan, sepertinya semuanya telah diatur dengan sangat rapi. Mulai dari kejadian disiram minuman oleh keempat perempuan ja lang tadi, hingga pesan dari Ruth ....


Ruth!


Lisa membuka ponselnya lagi dan menghubungi nomor Ruth.

__ADS_1


Terdengar nada sambung, tapi tidak ada yang mengangkat panggilan itu.


Jantung Lisa semakin berdentam-dentam tak karuan. Ia mengumpulkan segenap kekuatannya dan bangkit berdiri. Langkah kakinya sedikit sempoyongan ketika menghampiri toko roti yang hanya tinggal beberapa meter lagi.


Ia mendorong pintu kaca hingga terbuka, menarik perhatian lima pelanggan dan tiga pelayan di balik meja.


“Silakan, Kak. Mau pesan apa?” tanya seorang pramuniaga yang berdiri di dekat pintu masuk.


“Ruth!” Lisa memanggil dengan suara yang serak dan gemetar. Ia panik. Di antara lima orang pembeli di toko itu, tidak ada Ruth di antara mereka.


“Mbak, ada yang lagi nebeng ke toilet?” tanyanya kepada sang pramuniaga yang sedang menatapnya dengan ekspresi heran.


Pramuniaga itu menggeleng sambil mengulas senyum yang terlihat kaku.


“Nggak ada, Kak. Maaf, Kakak nyari siapa?”


Lisa mengabaikan pertanyaan itu. Ia mendorong pintu dan kembali menerobos keluar. Ini jebakan!


Sial.


Sial.


Sial.


Kenapa aku ceroboh sekali?


Seharusnya tadi langsung menelepon Ruth saja, alih-alih hanya berkirim pesan. Sekarang jadi begini. Freya dibawa pergi dan Ruth menghilang. Apa yang harus ia lakukan?


“Ah!” Lisa berteriak ketika kepalanya menghantam seseorang. Tubuhnya terhuyung dan terjajar ke belakang. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan dengan panik.


“Awas!”


Lisa mencekal tangan yang terulur ke arahnya dengan kuat. Ia mendongak. Rupanya orang yang baru saja ia tabrak yang telah menolongnya.


“Maaf, terima kasih,” ucapnya seraya membungkukkan badan beberapa kali.


“Nggak apa-apa. Hati-hati ....”


“Terima kasih,” ucap Lisa sekali lagi sebelum berputar dan berjalan ke arah tempat fotocopi. Ia harus menunggu Pak Bayu di sana.


Orang-orang yang tadi berkerumun sudah tidak terlalu banyak. Lisa mengembuskan napas perlahan. Ia sangat gugup dan cemas. Kerumunan orang hanya akan membuatnya semakin gelisah.


Lisa bersandar di tembok tempat fotokopi dan menunggu. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Semua jebakan ini dibuat dengan sangat rapi dan terencana. Ia takut kali ini Freya tidak akan mudah lolos seperti kejadian sebelumnya.


Gadis itu menatap jam di layar ponsel dan jalanan bergantian. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Entah sudah sampai di mana mobil yang membawa Freya.

__ADS_1


Pak Bayu, cepatlah datang.


***


__ADS_2