Istri Kesayangan Tuan Pram

Istri Kesayangan Tuan Pram
Jatuh Sakit


__ADS_3

Pada pertengahan bulan Agustus, Butik Fn'L resmi dibuka. Ada potongan harga 20% untuk 100 pembeli pertama. Hal itu membuat hampir 50 persen pakaian yang dipajang habis terjual.


Baju-baju atasan dan dress yang dibuat oleh Freya sangat diminati oleh para pengunjung, apalagi dengan bahan yan bagus dan harga yang ramah di kantong, ada beberapa orang yang membeli empat sampai lima potong pakaian sekaligus.


Lisa melonjak-lonjak kegirangan karena kesuksesan di hari pertama itu. Ia terlihat lebih bersemangat dibandingkan Freya yang hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya.


“Bos, traktir makan, dong!” seru Lisa sambil bertepuk tangan dengan semangat.


Freya yang sedang merekap pemasukan hari itu mengangguk. “Oke. Kamu mau makan apa?


“Ada restoran di ujung jalan yang promo all you can eat. Aku ingin ... astaga, Freya, kamu kenapa?!” Lisa terkejut, tapi lalu bereaksi dengan cepat menghampiri Freya yang sempoyongan.


“Lisa, aku ....” Freya mengerjap beberapa kali. Pandangannya berkunang-kunang.


Barusan baik-baik saja, kenapa kepalanya mendadak pusing?


Rasa hangat menjalar dari pangkal hidungnya sampai ke bawah. Freya mengangkat tangan mengusap ujung hidungnya. Ada lapisan cairan merah yang anyir di jari telunjuk dan jari tengahnya.


Ia menunduk. Darah mengalir turun, menetes di atas meja dan memercik mengenai bajunya.


Freya terhuyung ke belakang. Tangannya menggapai mencari pegangan.


"Freya!" Lisa melompat, meraih tangan Freya yang sudah kehilangan kesadaran. Ia menahan tubuh Freya erat-erat, jangan sampai jatuh menimpa kursi atau meja.


“Freya!” Yoga yang baru saja masuk membawa manekin yang dipajang di depan melemparkan benda itu dan segera membantu.


“Biar aku saja,” ucapnya seraya mengangkat tubuh Freya dalam gendongannya.


“Cepat bawa ke rumah sakit!” Lisa berseru dengan panik. Ia mengambil tas Freya dan tasnya sendiri, mengunci pintu dengan cepat, lalu segera menyusul Yoga yang sudah tiba di dekat mobil.


“Lisa, ada apa?” teriak Doni dari depan pintu kafe.


“Freya pingsan! Aku dan Yoga akan membawanya ke rumah sakit!” Lisa berseru sambil membukakan pintu mobil. Ia masuk, meminta Yoga untuk membaringkan kepala Freya di atas pangkuannya, tidak peduli dengan darah yang telah menodai baju dan celananya.


“Angkat kepalanya lebih tinggi,” perintah Yoga seraya menyalakan mesin mobilnya.


“Aku tahu. Cepat sedikit!” seru Lisa seraya menekan pangkal hidung Freya.


Sial. Kenapa darahnya tidak mau berhenti?!

__ADS_1


Lisa benar-benar panik ketika melihat darah yang masih terus mengalir keluar dari hidung Freya.


Yoga menginjak pedal gas dalam-dalam dan melaju membelah malam. Berkali-kali klakson ia bunyikan sambil menyalip kendaraan yang lalu lalang.


Jantung Lisa berdentam-dentam ngeri dengan cara Yoga mengendarai mobil, tapi ia tidak ingin meminta pria itu melambatkan laju kendaraan, hanya bisa berdoa agar mereka lekas tiba di rumah sakit dengan selamat.


Dengan kecepatan mobil itu, mereka tiba di sebuah rumah sakit umum terdekat hanya dalam waktu sepuluh menit.


Yoga memarkir mobil di depan pintu UGD, berteriak memanggil satpam dan perawat yang berjaga di depan.


“Tolong, dia mimisan dan pingsan!”


Perawat memanggil rekannya. Satpam mengambilkan brankar.


Dengan cepat tubuh Freya dipindahkan ke atas brankar, lalu didorong masuk ke dalam. Lisa dan Yoga mengikuti dari belakang, tapi perawat menahan mereka di pintu masuk ruang tindakan.


“Siapa anggota keluarganya?” tanya sang perawat.


“Saya.” Yoga menjawab tanpa berpikir dua kali.


“Baik, Bapak silakan mengurus administrasi dulu di bagian pendaftaran, ya. Dari lorong sini ke sebelah kanan, nanti di ujung belok kanan lagi.”


“Baik.” Yoga menoleh ke arah Lisa dan berkata, “Kamu tunggu di sini.”


“Siapa nama pasien?” tanya sang perawat kepasa Lisa.


“Freya.”


“Mbak ini saudaranya juga?”


“Iya.”


“Baik. Mohon ditunggu, ya. Nanti dikabari kalau pasien sudah siuman atau dipindahkan ke kamar rawat inap.”


Lisa mengangguk pasrah. Memangnya apa lagi yang bisa dilakukannya selain menunggu?


Oh.


Lisa menepuk keningnya.

__ADS_1


Ia harus mengabari Pak Bayu!


Setelah perawat itu pergi, Lisa segera mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan langsung kepada Pak Bayu.


[Malam Pak, Freya masuk Rumah Sakit Insan Permata. Dia mimisan dan pingsan]


[Ada Yoga di sini]


[Sekarang Freya masih di UGD]


Setelah berjalan mondar-mandir sambil berpikir, ia memutuskan untuk mengirimkan pesan itu kepada Pak Bos juga.


Sudah larut malam. Bagaimana kalau Pak Bayu sudah tidur? Jangan sampai Pak Bos terlambat menerima informasi ini.


Lisa menyalin pesan yang dikirimkannya kepada Pak Bayu, kemudian mengirimkannya ke nomor yang hampir tidak pernah dihubunginya. Meski memiliki kontak Pak Bos, ia tidak berani sembarangan mengirim pesan, apalagi melakukan panggilan telepon.


Setelah itu, ia menghela napas dan mencari tempat duduk.


Kalau terjadi apa-apa kepada Freya, ia tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Pak Bos. Apakah pria itu akan langsung datang kemari? Atau tetap berpura-pura tidak peduli.


Kasihan sekali. Dua orang yang saling mencintai harus seperti ini karena urusan balas dendam yang membuat sakit kepala. Ternyata rumit sekali kehidupan orang kaya. Meski bergelimang harta, mereka tidak bisa hidup dengan tenang. Was-was dan menaruh curiga setiap saat, bahkan harus menjauhi orang dicintai demi keselamatannya.


“Di mana dia? Bagaimana kondisinya?”


Lisa mendongak ketika mendengar pertanyaan itu. Yoga sudah kembali. Pria itu sedang menatapnya dengan ekspresi yang tak kalah panik dan kacau. Tapi entah kenapa Lisa tiba-tiba justru emosi melihat Yoga seperti itu.


Ia bangun dan menghampiri Yoga, berhenti sekitar tiga langkah di depan pria itu, lalu tanpa peringatan sebelumnya, ia melayangkan sebuah tamparan yang sangat keras.


Yoga terkejut satu detik, lalu melotot marah di detik berikutnya.


“Kamu sudah gila? Kenapa memukulku?!” Rasanya tidak terlalu sakit, tapi rasa malu yang membuatnya kesal. Orang-orang di sekitar sedang menatap mereka dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.


“Tidak usah berpura-pura sok polos! Menjijikkan! Semua ini gara-gara kamu! Tahu?! Semua ini hasil perbuatanmu! Kalau saja kalian membiarkan dia dan suaminya hidup dengan tenang, Freya tidak akan seperti ini! Apa kamu tahu bagaimana dia menangis setiap hari? Kamu egois! Sekarang kamu sudah puas melihat dia menderita? Puas melihat dia seperti ini? Kamu pikir setelah semua ini, kamu bisa mendapatkannya kembali? Mimpi saja!” Lisa berteriak penuh amarah, tidak peduli jika dirinya menjadi tontonan gratis orang-orang. Wajah dan matanya terasa panas. Hatinya sakit melihat kondisi Freya seperti ini.


Amarah Yoga menyusut dengan cepat. Mulutnya terbuka beberapa kali, tapi tidak ada satu pun kalimat pembelaan diri yang keluar dari mulutnya. Ia tahu dirinya memang memiliki andil sehingga Freya seperti sekarang. Kedua tangannya terkepal erat di sisi tubuhnya, menahan gejolak perasaan yang datang silih berganti: cemas, marah, khawatir, menyesal, penuh harap, ragu-ragu. Emosi di dalam dadanya begitu kompleks. Ia tidak tahu harus memproses yang mana lebih dulu.


“Kalau sampai sesuatu terjadi kepada Freya, kamu lihat saja ... aku tidak akan tinggal diam.” Tatapan Lisa membara dan berapi-api. Ia bersungguh-sungguh dengan ucapan itu. Ia pasti akan memberi pelajaran kepada berandalan ini jika sampai kondisi Freya memburuk.


Ia memang tidak memiliki uang dan kekuasaan, tapi ada Pak Bayu dan Pak Bos di belakangnya. Ia tidak takut.

__ADS_1


Setidaknya patahkan tangan dan kakinya agar tidak mendekati Freya lagi. Benar-benar menjengkelkan.


***


__ADS_2